Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
My Angel


__ADS_3

Jam makan malam di istana Angkasa...


Para koki dapur sibuk memasak banyak hidangan untuk malam hingga pagi hari. Sesuai instruksi dari Menteri Dalam Negeri, para penghuni istana tidak diperbolehkan keluar kamar setelah malam datang. Mereka diminta untuk berdiam diri hingga keesokan paginya. Hal ini bukan tanpa alasan, melainkan untuk meminimalisir rasa panik jika penyerangan benar-benar terjadi.


Dave pun memerintahkan dua prajurit untuk berjaga di setiap pintu kamar, yang mana lorong koridor lantai satu dipenuhi para prajurit yang berjaga. Lebih dari dua ratus prajurit dikerahkan hanya untuk menjaga setiap kamar yang berada di lantai satu. Sedang di lantai dua, para pasukan khusus berjaga di setiap pintu ruangan. Dikarenakan lantai dua adalah pusat operasional dan banyak terdapat dokumen berharga.


Could sendiri masih mengamati pergerakan dari teras balkon lantai tiga istana. Yang mana kini lantai khusus raja dan ratu telah dipenuhi banyak pasukan khusus yang amat terlatih. Sistem ini dipakai karena jika benar terjadi penyerangan, maka incaran negeri musuh adalah raja dan ratu Angkasa, bukan yang lain. Sehingga pasukan elite ditempatkan di lantai tiga istana ini.


Para menteri membuat pertahanan menurut bidang keahliannya masing-masing. Dan kini banyak prajurit berdatangan dari markas utama untuk membuat sistem keamanan tiga lapis pada istana. Tim pemanah handal pun mulai ditempatkan di teras atap istana.


"Cloud."


Star, sepupu Cloud datang tergesa-gesa. Ia segera menghampiri Cloud yang sedang memantau keadaan dari teras balkon lantai tiga.


"Star?" Cloud menoleh.


"Cloud, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa banyak prajurit berdatangan ke istana?"


Star belum mengetahui perihal yang sebenarnya. Ia tampak kebingungan saat melihat banyak prajurit memenuhi istana.


"Akan ada penyerangan malam ini, Star," jawab Cloud segera.


"Apa?!" Seketika Star terkejut.


"Ara yang memberi tahu saat memeriksa kondisi ibu," tutur Cloud.


"Ara? Ara tahu dari mana?" tanya Star yang heran.


"Dia bisa melihat hal besar yang akan terjadi. Katakanlah jika dia punya indera keenam."


"Hah?!" Star tak percaya.

__ADS_1


"Dia bukan gadis biasa, Star. Dia seperti dewi yang diutus untuk menjaga negeri ini," tutur Cloud lagi.


Star diam, ia tampak memahami. "Lalu di mana Rain?" tanya Star kepada Cloud lagi.


"Rain sedang pergi ke selatan negeri untuk menahan penyerangan. Dia bersama ratusan pasukan berkuda sudah pergi dari sore tadi."


"Astaga ...." Star memijat dahinya. "Cloud, apa yang bisa kubantu?" Star prihatin.


"Untuk sementara berjagalah di sisi utara istana ini. Minta kepada keluarga nenek Sun untuk tidak keluar kamar setelah jam makan malam selesai, bagaimana pun keadaannya." Could amat serius.


"Baik, aku mengerti. Kalau begitu aku akan memberi tahu mereka." Star beranjak pergi.


"Star!" panggil Cloud.


"Ya?"


"Tolong redam kepanikan pada mereka karena hal itu dapat mempengaruhi jiwa prajurit yang sedang berjaga," pesan Cloud sebelum Star benar-benar pergi.


Cloud pun hanya bisa tersenyum tipis. Hatinya sungguh gelisah menjelang jam-jam terakhir yang dikabarkan akan terjadi penyerangan ke istana. Ia lantas memutuskan untuk menemui Ara agar hatinya dapat tenang kembali. Ia segera melangkahkan kaki menuju ruangannya yang berada di lantai dua istana.


Sesampainya di ruangan...


Cloud masuk ke ruangan dan ia menemukan Ara sedang tertidur di atas sofa. Sang pangeran lantas mendekati gadisnya. Ia duduk di pinggir sofa sambil melihat wajah manis sang gadis.


Ara ....


Dibelainya lembut wajah sang gadis, tersirat kesedihan atas apa yang terjadi. Cloud merasa banyak membebani Ara dengan masalah kerajaan. Namun, ia menyadari sesuatu saat melihat sang gadis tengah memeluk pedang Rain yang berwarna putih.


Kalian ... apakah sudah sedekat ini?


Penyesalannya semakin bertambah saat melihat pedang milik Rain itu dipeluk oleh Ara. Cloud berkecil hati karena kesibukan pekerjaannya. Ia pun mengusap wajahnya sendiri.

__ADS_1


Astaga ... aku tidak boleh memikirkan hal itu dulu. Keadaan negeri sedang dalam bahaya, harusnya aku fokus untuk antisipasi bukan malah memikirkan yang lain.


Tak dapat dipungkiri jika Cloud cemburu dengan kedekatan adiknya dan Ara. Ia merasa tersaingi bahkan tersingkirkan dari hati sang gadis. Namun, pekerjaannya tidak dapat berkompromi, waktunya selalu tersita untuk pekerjaan.


Maafkan aku, Ara. Aku tidak bisa menjadi pria yang kau inginkan. Waktuku selalu habis untuk pekerjaan sehingga akhirnya kau lebih banyak bersamanya.


Diangkatnya tubuh sang gadis, digendongnya menuju kamarnya. Pedang Rain pun ikut dibawa olehnya. Ia kemudian merebahkan Ara di atas kasurnya. Cloud juga melepas jubahnya lalu diselimuti ke tubuh sang gadis.


Jika benar mimpiku terjadi, maka mereka tidak akan sampai masuk ke sini.


Cloud mengusap kepala gadisnya setelah selesai menyelimuti.


Ara, beristirahatlah. Istana telah banyak merepotkanmu. Dan maafkan juga ibuku. Mungkin dia keterlaluan, tapi aku yakin dia masih memiliki hati nurani walau sebesar biji sawi. Selamat tidur, bidadariku ....


Cloud lantas keluar dari kamar dan meninggalkan Ara yang tertidur di kasurnya. Sang pangeran bergegas keluar dari ruangan lalu berpesan kepada pasukan khusus yang berjaga untuk tidak mengizinkan siapapun masuk ke dalam ruangannya.


Di antara tugas yang menumpuk, Cloud masih sempat untuk memikirkan sang gadis. Hari ini pun jikalau tidak ada kabar seperti ini, pastinya ia sudah menghabiskan malam bersama Ara. Namun sayang seribu kali sayang, takdir tetap akan berjalan. Dan Cloud harus bekerja keras untuk mengamankan istana dari bahaya penyerangan malam ini.


Sementara itu...


Rain bersama ratusan pasukan hampir tiba di selatan negeri. Langkah kaki kuda-kuda mereka begitu cepat, para pasukan pun sudah siap bertempur dengan atribut perangnya masing-masing. Mereka bertekad menghadang pasukan musuh yang datang. Keluarga pun harus ditinggalkan demi membela negeri tercinta.


Peran keamanan sangat penting bagi sebuah negeri agar dapat berdaulat dan disegani oleh negeri lain. Dan kini saatnya Angkasa menunjukkan siapa dirinya di hadapan negeri musuh. Rain akan memimpin perang jika kabar itu benar terjadi. Sang putra mahkota turun langsung untuk menghadang pasukan musuh yang datang.


Malam ini tidak ada kata mundur bagiku. Kedaulatan negeri adalah hal mutlak. Dan aku yakin pasti bisa memenangkan pertempuran ini jika apa yang Ara ceritakan adalah benar.


Aku tidak boleh kalah sekalipun di detik-detik terakhir. Ara menungguku di istana dan aku telah berjanji padanya untuk kembali.


Ara ... kaulah penyemangat hidupku. Jiwaku berkobar karenamu. Tunggu aku di rumah, aku pasti kembali. Doakan aku ....


Sang pangeran terus melajukan kudanya menuju selatan negeri. Malam ini juga akan menjadi penentuan hidup dan matinya. Namun, Rain yakin dapat memenangkan peperangan sekalipun di waktu malam yang gelap gulita seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2