
Menjelang malam...
Senja akhirnya datang, mengantarkan kepulangan kami ke istana kerajaan negeri ini. Sebuah negeri seluas Pulau Sumatera yang diapit dua negeri berseteru.
Cloud banyak menceritakan kepadaku tentang negeri ini dan dari mana asal Mozart, yang ternyata dia adalah pengungsi dari negeri asing. Mozart datang ke negeri ini dan menyebarkan ilmu musik yang dia punya. Karenanya, aku meminta izin kepada Cloud agar Mozart dapat mengisi acara di pertunjukan peragaan busana kebaya nanti.
Cloud tidak pernah menolak permintaanku. Dia selalu mengalah. Jika menurutnya saran atau pendapatku ada yang kurang berkenan, dia memperbaikinya dengan segera tanpa menyakiti perasaanku. Cloud memang tipe suami idaman. Berada di dekatnya hati menjadi tenteram dan tenang. Sosoknya yang bersahaja membuat orang segan untuk berbalik mengkhianatinya.
Lambat laun, kupejamkan kedua mata ini karena terasa begitu lelah. Selama perjalanan, aku sibuk menyelesaikan rancangan busana kebayaku. Belum banyak yang selesai, baru lima belas rancangan busana yang mampu kuselesaikan dari target seharusnya. Sedangkan yang disetujui Cloud, baru lima rancangan busana kebaya. Sisanya, masih akan mempertimbangkan.
Biasanya jika dia sedang sibuk, dia hanya mengirimkan berkas untuk kubaca. Semoga saja yang lainnya juga disetujui oleh Cloud.
Keesokan paginya...
Tidur yang cukup kulalui semalam. Kini aku tengah berada di depan sebuah gedung konveksi yang begitu luas. Jaraknya lumayan jauh dari istana. Terletak di barat daya. Mungkin memakan waktu sekitar empat puluh menit jika berjalan kaki.
"Selamat datang, Nona Ara."
Kulihat seorang pria mengenakan syal meteran pakaian mendekatiku. Wajahnya tampak mulai menua dengan pakaian kemeja yang rapi.
"Terima kasih," ucapku seraya tersenyum.
"Silakan melihat-lihat kawasan ini. Kami sudah mempersiapkan kedatangan Nona dari kemarin. Banyak sutera berkualitas baik yang kami miliki. Mungkin Nona dapat memilih bahannya."
Aku datang bersama Mbok Asri lalu mulai melihat-lihat bahan dasar yang ada di gedung konveksi ini. Aku melihat banyak warna kain yang menarik perhatianku. Kupilih beberapa untuk dijadikan lebih awal, rencana akan kupakai di depan Cloud agar Cloud melihat sendiri hasil jadi rancangan busanaku.
"Baiklah, Nona. Akan kami selesaikan secepatnya. Mungkin setelah makan siang busananya sudah dapat dipakai. Tapi jika boleh saya memberi saran, lebih baik dicuci dan dirapikan terlebih dahulu," ucap pria itu.
"Aku mohon bantuannya."
Sedikit kutundukkan kepalaku ke arah pria tua itu saat meminta bantuannya. Pria itu tampak tertegun melihat sikapku.
"Saya yakin Pangeran Cloud akan sangat beruntung memiliki pasangan seperti Anda, Nona."
Lagi, untuk kedua kalinya aku mendengar perkataan itu. Sebuah kata yang merujuk ke suatu hubungan pasti. Aku semakin bertanya-tanya, sebenarnya apa yang Cloud katakan tentang hubunganku dengannya kepada penduduk kerajaan ini?
__ADS_1
"Baik, Nona. Jika tidak ada keperluan lagi, saya mohon pamit. Saya segera mengerjakan rancangan ini. Permisi."
Pria tua itu berpamitan. Aku pun mengangguk sambil tersenyum kepadanya. Mbok Asri lalu mengajakku keluar dari gedung konveksi menuju sebuah kebun yang berada di belakang gedung.
"Ubi ungu?"
Aku tidak percaya jika di hadapanku ini banyak sekali ubi ungu yang ditanam. Aku bertanya kepada Mbok Asri kenapa ada ubi ungu di sini. Mbok hanya menjawab jika ubi ungu adalah ubi kesukaan mendiang paduka raja. Mbok Asri bercerita, dulu mendiang paduka raja suka sekali mengunjungi pria tua tadi yang baru kuketahui bernama Rich.
"Sayang sekali ubi ini tidak dimanfaatkan lebih jauh," kataku pelan.
"Nona, setelah ini saya diminta Pangeran Cloud untuk mengantarkan Anda ke timur istana."
"Ada apa di timur istana, Mbok?" tanyaku.
"Saya tidak tahu, Non. Namun sepertinya, Pangeran Cloud menunggu Anda di sana."
"Hm, baiklah. Kita ke sana sekarang."
Tak ingin berlama-lama membuang waktu, aku bersama Mbok Asri ditemani beberapa pengawal kerajaan pergi ke timur istana kerajaan ini. Perjalanan yang kami lalui kali ini sangat jauh, tapi aku menurut saja dan tidak punya pikiran buruk sama sekali. Mungkin Cloud benar-benar menungguku di sana.
Sesampainya...
Sesampainya di sana, kulihat kuda putih kepunyaan Cloud sedang makan rerumputan. Aku jadi semakin yakin jika Cloud memang berada di sini. Mbok Asri lalu mengajakku menuruni anak tangga. Betapa terkejutnya aku di saat melihat jumlah anak tangga itu.
"Banyaknya, Mbok."
Aku bergidik jika nanti setelah turun harus menaiki anak tangga ini lagi. Tapi Mbok Asri bilang tidak akan terasa jika bersama orang yang kita cintai.
"Benarkah, Mbok?"
Aku lalu menuruni anak tangga ini. Sepatuku sengaja kulepas karena khawatir tergelincir. Mbok menemaniku sepanjang menuruni anak tangga sambil memegangi sebuah bungkusan.
"Nona, maaf. Saya antarkan sampai di sini saja. Ini pakaian ganti untuk Nona. Jika ada keperluan, Nona bisa memanggil saya. Saya tunggu di sini."
Mbok Asri menunjuk sebuah gubuk yang berada tak jauh dari kami. Aku diminta menuruni kumpulan anak tangga terakhir seorang diri. Aku pun pergi meninggalkan Mbok Asri menuju kumpulan anak tangga terakhir.
__ADS_1
"Astaga! Indahnya!"
Kulihat pemandangan begitu indah di hadapanku, beberapa saat setelah berjalan. Tersingkap sebuah air terjun menantiku di bawah sana.
"Cloud?"
Kulihat Cloud tengah berenang di dalam kolam air terjun itu. Sepertinya tempat ini memang dikhususkan untuk keluarga utama kerajaan. Batu-batu kali yang tersusun begitu sempurna, burung-burung berwarna-warni yang dibiarkan terbang begitu saja, membuat tempat ini seperti sebuah taman surga.
Rasanya ada magnet kuat yang menarikku untuk segera turun. Langkah kakiku terasa lebih cepat menuruni kumpulan anak tangga terakhir ini. Kulangkahkan kaki dengan hati riang dan gembira.
Sesampainya di bawah, Cloud menyadari kedatanganku, dia segera beranjak dari kolam lalu menemuiku.
Cloud...
Dia berjalan mendekat dan menampakkan bentuk tubuhnya dengan jelas. Dia hanya mengenakan celana pendeknya saat berenang. Aku benar-benar terpukau melihatnya. Tubuhnya yang bersih dan berisi membuatku jatuh hati.
Sekujur tubuhnya basah terkena air, menambah kesan eksotis akan dirinya. Aku jadi tidak dapat berkata-kata. Baru kali ini aku melihat Cloud berpenampilan seterbuka ini. Di depanku, dia menunjukkan sisi lain dari dirinya. Jantungku berdebar tak menentu dibuatnya.
"Ara?"
"Hm, Cloud."
Semakin mendekatiku, semakin berdebar juga jantungku. Hampir-hampir saja bungkusan berisi baju gantiku ini terjatuh karena grogi. Sungguh, aku tidak mampu melihat tatapan kedua matanya yang begitu bening, seolah menghipnotis diriku. Bibir tipisnya yang seperti terbelah di bagian tengah, membuat angan-anganku melayang jauh. Senyumnya begitu menawan. Aku tak kuasa menolak apa saja yang dia ucapkan.
"Ara, kau sudah sampai ternyata. Aku juga baru sampai."
Cloud menyapaku namun aku masih terpukau melihatnya.
Tolong, jangan lebih mendekat, Cloud...
Rasanya ingin berteriak. Sosok yang membuatku jatuh hati kini berada di hadapanku, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang menawan.
Apa yang harus aku lakukan? Kepalaku seolah berputar, tidak dapat berpikir.
"Ara ...?"
__ADS_1
Dia menatapku dalam lalu memegang kedua lenganku dengan lembut. Aku pun terdiam seperti terkena hipnotis. Rasanya seperti mimpi saja dapat melihat Cloud sedekat ini.
Dia lalu menepuk pelan kedua pipiku, menyadarkanku dari fantasi yang sedang kubangun. Wajahku jadi merah merona dibuatnya.