Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
My World


__ADS_3

Angin sore menyapaku yang sedang duduk di depan meja belajar. Suara burung nuri di halaman belakang seakan mengingatkanku untuk segera bersantai. Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Dua tahun sudah kepulanganku ke dunia ini. Dunia di mana kisah pertemuanku dengan Cloud dimulai.


Kini aku sedang sibuk menyusun skripsi, mengetik laporan akhir kuliahku di laptop kesayangan. Tampak diriku mengenakan baju rajutan berwarna merah tanpa lengan dan celana jeans biru sebatas lutut. Rambutku pun digulung seperti sanggul agar tidak terasa panas. Maklum, cuaca sedang panas-panasnya. Musim kemarau telah datang menyapa negeri ini.


"Semoga skripsi ini lulus tanpa harus revisi."


Aku simpan dokumen penting ini di laptop lalu merebahkan punggung di kursi. Mungkin karena terlalu bersemangat untuk lulus tepat pada waktunya, aku mengabaikan kesehatanku. Punggungku terasa pegal-pegal semua.


Beberapa saat kemudian, aku beranjak menuju dapur untuk mengambil air minum. Kulihat dapurku sangat bersih dan rapi karena kini aku telah memiliki kitchen set sendiri. Rumah yang kutempati sekarang pun lebih luas dan terlihat mewah. Lantainya berkeramik putih, dindingnya kokoh dengan desain wallpaper bunga sakura. Atapnya juga genting berwarna merah terang dengan lapis plafon tebal berwarna putih.


Rumahku sekarang mengunakan AC di bagian ruang tamu dan ruang tengah. Sedang untuk kamar, masih mengenakan kipas angin biasa yang berukuran kecil. Kamarnya pun sekarang ada tiga. Kamar Adit di dekat ruang tamu, di sampingnya ada kamarku yang berdekatan dengan ruang TV. Dan di dekat dapur, ada kamar ayah dan ibu yang mana ruang makan berada di depannya.


"Kak Ara, ada telepon."


Adit, adikku kini sudah mau masuk SMA. Dia sedang sibuk mempersiapkan tes masuk SMA favoritnya. Satu hal yang menyebalkan darinya, dia sering kali meminjam ponselku untuk berselancar ria di internet. Katanya sih, irit kuota. Aku mau marah juga gimana, dia adikku sendiri. Apalagi alasannya buat belajar, aku angkat tangan, deh.


Segera kuambil ponsel yang Adit berikan dan mengangkat telepon itu.


"Halo?"


"Ara, lagi di mana?"


"Di rumah. Kenapa, Baim?"


Baim, temanku menelepon seperti ada kepentingan mendesak. Aku segera memfokuskan pendengaran untuknya.


"Dosen pembimbing memintamu untuk datang besok. Katanya ada keperluan."


"Eh? Kenapa tidak langsung menghubungiku?" tanyaku heran.


"Dia bilang ponselnya sedang rusak dan ini sangat mendesak," lanjut Baim dari seberang.


"Hm, baiklah. Nanti aku akan datang. Terima kasih, Baim."


Telepon kemudian terputus. Kami memang tidak punya banyak waktu untuk mengobrol karena sedang sibuk-sibuknya menyusun skripsi. Berharap tidak ada revisi dan langsung menuju sidang akhir.


"Kenapa, Kak?" tanya Adit dari meja belajarnya, seraya menoleh ke arahku.

__ADS_1


"Biasa, Kak Baim telepon. Besok Kakak diminta ke kampus," jawabku.


"Adit ikut, ya?"


"Eh, ngapain?"


"Pengen lihat kampus Kak Ara."


"Aduh, entar saja ya, Dit. Kak Ara lagi ribet ngurusin skripsi. Kamu di rumah aja sama Anggi besok."


Mendengar jawaban dariku, Adit tampak bermasam wajah. Dia kesal karena kemauannya tidak dituruti. Tapi kini dia tak lagi mengajakku bertengkar semenjak kepergianku ke negeri Cloud. Sepertinya dia sudah mulai dewasa dan tidak ingin membesar-besarkan masalah yang tidak penting.


"Ya, sudah. Adit belajar, ya. Kakak juga mau lanjut ngetik," kataku menutup percakapan sore ini.


Malam harinya...


Kulihat rembulan bersinar terang di malam ini. Pancaran cahayanya begitu menghangatkan malam yang dingin. Sedingin hatiku yang telah lama membeku.


Semenjak kepulanganku dari sana, aku semakin menutup pintu hatiku untuk siapapun. Aku hanya fokus kuliah dan banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga. Karena entah mengapa, rasanya hati ini tidak ingin membuka selain kepada Cloud dan Rain.


Aku melihat rembulan dari balik jendela kamarku. Malam ini tepat malam ke-15 yang mana bulan bersinar sangat terang. Aku jadi ingat pertemuanku pun terjadi pada saat terang bulan. Bulan selalu saja mengingatkanku dengan kedua pangeran itu. Kedua pangeran yang mencuri hati ini lalu membiarkannya terkunci untuk siapapun.


Aku menghela napas panjang, mencoba menyingkirkan rasa rindu yang ada. Aku memang sudah terbiasa dengan rindu ini. Tapi, entah mengapa setiap bulan purnama, aku merasakan kehadiran mereka di dekatku. Aku jadi semakin rindu kepada keduanya, Cloud maupun Rain.


Kututup jendela kamarku, kutarik tirai agar jendela tertutup dengan sempurna. Aku lalu merebahkan diri di atas kasur. Menarik selimut dan mulai memejamkan kedua mata.


Sedang apa kalian di sana?


Aku ingin sekali bertemu mereka. Tapi tidak tahu bagaimana caranya. Rasanya, aku tidak mampu menyimpan rindu ini lebih lama. Aku harus melakukan sesuatu agar tenang menjalani kehidupan tanpa keduanya.


Semoga besok hari keberuntunganku.


Kututup malam ini dengan doa sebelum terlelap dalam mimpi. Tak lama, perjalanan wisata mimpiku dimulai. Dan aku mencoba untuk mengendalikannya.


Jumat, jam 9 pagi waktu setempat...


Kini aku sedang berada di ruang dosen pembimbing. Kulihat banyak map di atas mejanya. Sepertinya ini adalah map-map mahasiswa yang sedang mengajukan judul skripsi.

__ADS_1


"Oh, baik. Nanti saya kabarkan."


Kudengar dosenku sedang menelepon seseorang. Tak lama, dia pun menghampiriku.


"Oke, Ara."


"Iya, Bu."


"Langsung saja, ya?"


Akupun mengangguk.


"Wali Kota mengadakan sayembara drama antar kampus dengan mengusung tema kerajaan. Bisakah kau buatkan naskahnya?" tanya dosen pembimbingku.


Hah? Apa?!


Aku tak percaya dengan yang kudengar. Ini sesuatu yang sangat mengejutkan bagiku.


Aku kan calon lulusan tata kota, kenapa diminta untuk menuliskan naskah drama? Benar-benar membingungkan.


"Hm, maaf, Bu. Kalau boleh saya tahu, kenapa Ibu meminta saya yang menuliskan naskahnya?"


Aku mencoba bertanya. Rasa penasaranku begitu tinggi mendengar kabar ini.


"Itu karena ... kau mempunyai bakat terpendam yang tidak dimiliki orang lain. Jadi bagaimana, Ara?"


Aduh, bagaimana, ya? Aku jadi bingung. Ini mendadak sekali. "Ak-aku .. aku akan mencobanya, Bu. Tapi kuselesaikan skripsiku dahulu," pintaku.


"Sebaiknya kau jeda skripsimu sebentar untuk menyelesaikan naskah ini. Hanya sepuluh ribu kata. Mungkin dua atau tiga hari sudah selesai, kan?"


Dosen pembimbingku ini seperti memaksaku untuk memenuhi permintaannya. Mau tak mau, aku pun menurutinya. Daripada nanti berimbas kepada skripsiku.


"Baiklah, Bu."


Aku menyanggupinya. Tersirat raut wajah gembira dari dosen pembimbingku ini. Apalah daya seorang mahasiswa di hadapan dosen pembimbingnya. Aku hanya dapat berusaha melakukan yang terbaik untuknya dan untuk diriku sendiri.


Setelah semua pembicaraan selesai, aku berjalan ke luar ruangan. Mencari udara segar sambil melihat pepohonan yang menjulang tinggi di kampus. Beberapa teman lain fakultas menegurku saat kami berjalan berpapasan. Terlebih yang pernah menjabat di struktur BEM, mereka sangat mengenali diriku.

__ADS_1


"Ke taman saja."


Kulangkahkan kaki ke taman untuk mencari inspirasi di sana. Semoga saja pikiranku cemerlang hari ini.


__ADS_2