Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Flash Light


__ADS_3

Aku segera duduk bersila di tengah teras atap istana ini. Kudongakkan kepala ke langit seraya menadahkan kedua tangan. Aku berdoa kepada Tuhan agar memberiku pertolongan.


"Ya Tuhan, tolong aku agar dapat menetralkan sihir ini."


Tak lama berselang, kulihat langit seperti terbelah. Doaku dikabulkan. Langit memperlihatkan cahaya seperti kilangan minyak yang berwarna merah. Di saat seperti itulah kufokuskan pikiran dan menghadirkan hati untuk memuji-NYA. Kupejamkan kedua mata seraya menempelkan kedua telapak tanganku.


Aku menerima semua kekuatan yang Engkau beri. Tubuhku siap menerima kekuatan semesta.


Tidak lama berselang, aku merasa tubuh ini seperti tertimpa sesuatu, berat sekali. Sekujur tubuhku pun merasakan sesuatu yang melaju begitu cepat ke seluruh urat peredaran darah. Dan tak lama, aku bisa melihat apa yang ada di bawah sana.


Astaga, para prajurit kelelahan?!


Penglihatanku bisa menembus apa yang ada di lantai satu, dua dan tiga istana. Dan bahkan...


Rain!


Aku bisa melihat Rain yang sedang berperang. Dia memimpin pasukan mengepung pasukan musuh yang sudah memasuki tanah pelabuhan selatan negeri ini. Tak lama, kulihat Tetua Agung berdiri di depanku.


"Dewi ...." Dia menyapaku kembali.


"Kakek!"


"Fokuskan dirimu dalam menerima kekuatan ini. Biarkan cahaya merah masuk ke dalam tubuhmu." Dia seperti mengarahkanku.


"Baik, Kek."


Aku kemudian pasrah, menerima setiap kekuatan yang diberikan Tuhan, walaupun tubuhku ini terasa semakin lama semakin berat. Ternyata aku sedang menerima kekuatan dari langit, berupa cahaya merah yang pekat. Aku tidak tahu persis bagaimana bentuknya, tapi mungkin seperti kilangan minyak yang kulihat tadi.


"Sekarang gerakkan tanganmu seperti sedang mendorong ke samping." Tetua Agung mengarahkanku.


Aku mengangguk. Kurentangkan kedua tangan lalu mulai memutar telapak tangannya. Seketika aku bisa merasakan energi negatif menyelimuti istana ini.


"Dorong sekuat tenagamu, Dewi. Buang ke lautan!"


Sekuat mungkin aku mendorong apa yang seperti menghimpit tubuh ini. Kuambil napas dalam dan panjang lalu mendorongnya. Aku pun bisa melihat jika energi kelam mulai menjauh dariku.


"Lakukan berulang kembali." Tetua Agung terus mengarahkanku.


Aku pun terus melakukannya. Kudorong sekuat tenaga agar energi negatif ini hilang dari istana. Kutarik napas panjang lalu kuembuskan perlahan. Kuulagi lagi hingga energi negatif ini seluruhnya hilang.

__ADS_1


Aku pasti bisa. Sedikit lagi.


Ternyata aku mulai kelelahan saat terus-menerus mendorong energi negatif ini.


Terus berjuang, Ara!


Aku menyemangati diri sendiri karena masih berjuang melawan pengaruh sihir. Dan akhirnya, kuambil napas panjang lalu kuembuskan dengan kuat, sambil terus mendorong pengaruh sihir ini ke luar istana.


Pohon surga, tolong bantu aku dengan izin Tuhanmu!


Tenagaku hampir habis, namun pengaruh sihir belum mampu kudorong sepenuhnya sehingga aku meminta bantuan kepada pohon surga untuk meringankan usahaku. Dan ternyata, pohon surga mengeluarkan cahaya putihnya. Secepat kilat, sama persis dengan cahaya yang kulihat saat doa bersama dengan para penduduk di balai kota. Dan di saat itu juga aku berteriak sekencang mungkin.


"ENYAH KAU DARI ISTANAAAA!!!!"


Seketika cahaya putih melapisi cahaya merah punyaku. Tetua Agung pun memberikan cahaya birunya kepadaku. Sehingga terciptalah cahaya ungu indah yang mengusir sihir ini dari istana. Aura negatif pun lenyap, tak bersisa. Dan kini aku seperti berada di atas langit Angkasa.


Ini tanah Angkasa?


"Dewi, lapisi negeri ini dengan cahaya ungumu. Gunakan sisa kekuatanmu." Tetua Agung meminta.


Kulihat kakek tua itu seperti kelelahan setelah memberikan cahaya birunya kepadaku. Dia memegangi tongkatnya seperti tidak lagi kuat untuk berdiri.


"Tetap berada di posisimu. Aku baik-baik saja. Laksanakan tugasmu, Dewi," pintanya lagi.


"Baik, Kek." Aku mengangguk.


Aku lalu mengumpulkan sisa-sisa kekuatanku untuk melapisi negeri ini dari pengaruh sihir. Kuambil napas dalam, lalu kuembuskan perlahan. Aku mulai menyebarkan cahaya ungu yang tersisa dari tubuhku.


Tuhan, bantu aku ....


Sedikit demi sedikit cahaya ungu mulai menyelimuti negeri ini. Aku bisa melihatnya dengan jelas dari atas. Perlahan tapi pasti, cahaya ungu menyebar ke seluruh penjuru negeri. Dan akhirnya ... berakhir di lautan.


"Hah! Hah! Hah!"


Napasku amat terengah-engah. Detak jantungku pun tidak beraturan sama sekali. Setelah menyelesaikan tugas ini pandangan mataku menjadi kabur. Dan kini aku sudah kembali ke teras atap istana dalam keadaan lemah.


"Terima kasih, Dewi. Terima kasih telah menyelamatkan negeri ini. Aku harus beristirahat. Sampai bertemu kembali."


"Kakek!"

__ADS_1


Kudengar suara Tetua Agung berpamitan lalu hilang dalam sekejap setelah aku menyelesaikan tugas ini. Dia tidak berpesan apapun kepadaku. Dan kini tinggalah aku seorang diri.


"Astaga, kepalaku terasa berat sekali."


Setelah tugasku selesai. Aku tidak mampu lagi menahan kesadaran. Aku amat lemas dan tubuhku pun perlahan jatuh ke lantai. Setelahnya, aku tidak mengingat apa-apa lagi.


Ara telah menyelesaikan tugasnya untuk menyelamatkan Angkasa. Namun, setelah tugas itu selesai, tubuhnya melemah dan jatuh ke lantai teras atap istana. Ia terbaring lemas tak berdaya. Napasnya pun perlahan-lahan menghilang.


Rain bersama pasukan melihat cahaya terang dari arah ibu kota. Yang mana cahaya itu menambah semangat pasukannya untuk menggempur habis pasukan musuh yang menyerang Angkasa. Rain meyakini jika cahaya itu adalah pertanda kemenangan bagi negerinya.


"HABISI MEREKA!!!"


Sang panglima terus menyemangati pasukannya untuk terus menggempur pasukan musuh. Tidak memberi cela sedikitpun untuk melarikan diri. Sementara dirinya menujukan pandangan ke seorang pria yang mulai ketakutan di tengah lingkaran pasukan musuh.


"Land, malam ini riwayatmu akan berakhir!"


Rain mengangkat pedangnya. Ia melajukan kudanya menuju ke arah Land yang dikelilingi banyak pasukan. Ia tidak akan memberi ampun kepada siapapun yang ingin menghancurkan negerinya. Dan malam ini sang panglima mengukir sejarah baru bagi Angkasa.


Di waktu bersamaan, di kediaman Zu...


Sang putra mahkota terlihat gelisah dari tidurnya. Napasnya tidak beraturan, detak jantungnya pun melaju amat berat. Ia seperti kehilangan oksigen.


"Ar ... ara ...."


Ia amat gelisah dalam tidurnya. Ia mencoba untuk bangun. Sekuat mungkin membebaskan diri dari mimpi buruknya.


"Araaaaa!!!" Ia berteriak kencang memanggil nama seorang gadis.


"Hah, hah, hah."


Sang putra mahkota akhirnya dapat terbangun dari mimpi buruknya.


"Ara ... Ara, apa yang terjadi padamu?"


Seketika rasa cemas menyelimuti hati dan pikirannya. Mimpi buruk benar-benar membuatnya tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Ia kemudian melihat jam di dinding yang telah menunjukkan pukul tiga pagi.


"Astaga, aku bermimpi di jam seperti ini?! Ada apa sebenarnya?" Ia bertanya-tanya sendiri.


Zu bergegas keluar dari kamar untuk meminta kabar terakhir dari pasukan khusus yang ia kirim ke Angkasa. Hatinya amat tidak tenang setelah mimpi buruk menerpanya. Ia tidak lagi peduli jika masih mengenakan piyama tidurnya. Dengan segera pangeran ini menuruni anak tangga lalu menuju pintu depan kediamannya. Ia meminta kudanya diambilkan oleh penjaga.

__ADS_1


__ADS_2