
Sesampainya di danau...
Aku turun dari kereta kuda. Kulihat pemandangan indah di sekeliling. Pepohonan asri terlihat mengelilingi danau. Suara-suara angsa putih juga menyambut kedatangan kami.
Beberapa penjaga kebersihan lalu datang menghampiri. Mereka memberi hormat kepada kami. Aku merasa sangat spesial jadinya.
"Salam bahagia untuk Pangeran Cloud dan Nona Ara."
Mereka membungkukkan badannya dengan penuh hormat. Aku pun tertegun. Kurasakan semenjak berada di lingkaran Cloud, semua orang jadi hormat kepadaku. Ini benar-benar sebuah keberuntungan yang langka kudapatkan.
"Ara, mari kita duduk di sana."
Cloud lalu mengajakku untuk lebih dekat ke tepi danau. Kami berjalan menuju gazebo yang letaknya sedikit ke tengah danau.
Sepanjang perjalanan, dia menjagaku agar tidak terjatuh. Kebayaku yang bersanding dengan pakaian kerajaannya, seolah menambah kesan jika kami ini sepasang kekasih.
Udara yang begitu menyejukkan, harum bunga-bunga kasturi menemai langkah kaki kami menuju gazebo danau. Seakan-akan kami sedang berjalan menuju altar pernikahan.
Angan-anganku tiba-tiba saja mengambil alih pikiran ini. Kurasakan kedamaian saat berada bersamanya.
"Silakan, Pangeran Cloud, Nona Ara."
Sesampainya di gazebo danau, seorang pelayan perempuan telah mempersiapkan hidangan untuk kami. Cloud kemudian mempersilakanku untuk duduk di depannya.
"Bagaimana, kau menyukai pemandangan di sini?" tanyanya seraya melihat ke sekeliling.
Aku lalu memandangi keadaan sekitar. Sungguh tidak dapat kuungkapkan perasaan takjub akan dunia ini. Kulihat Cloud tersenyum padaku kemudian dia pun berdiri, berjalan ke depan menuruni anak tangga untuk meraih air danau yang sangat jernih.
"Rencana tempat ini akan dijadikan wisata alam, Ara," lanjutnya.
Cloud seolah memintaku untuk duduk di dekatnya. Akupun berjalan mendekati dan duduk di sisi kanannya.
"Ide yang bagus, Cloud. Aku pikir sayang jika tidak memanfaatkan tempat seindah ini," kataku kepadanya seraya duduk.
"Ara?"
"Hm?"
Cloud menoleh ke arahku dan aku pun melihatnya. Tatapan matanya begitu bening. Dia kemudian memegang tangan kiriku.
"Kau ingat saat pertama kali kita bertemu?" tanyanya pelan.
"He-em. Aku masih ingat."
"Saat itu aku tidak menyangka jika akan seperti ini jadinya."
"Maksudmu?"
"Aku tidak menyangka jika hatiku ini akan condong kepadamu."
Cloud ....
Cloud mengalihkan pandangannya dariku lalu melepas pegangan tangannya. Dia menghela napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Ini semua karena Tetua Agung sehingga aku dapat bertemu denganmu," katanya lagi.
"Tetua Agung? Siapa dia?" tanyaku penasaran.
"Kau tau pohon surga, kan? Yang di bukit itu, saat pertama kali kita sampai."
Aku mengangguk.
"Tetua Agung adalah penjaga pohon surga itu."
Hah? Apa?! Aku terkejut mendengarnya. Kemarin baru saja aku dan Rain dari sana. Jika pohon tin itu ada yang menjaganya, berarti semua yang kami lakukan di sana, dia melihatnya?
"Cloud, berarti ...?"
"Dia jarang sekali muncul. Hanya sesekali jika ada keperluan yang sangat penting. Aku pun tidak tahu di mana dia tinggal."
Ini seperti sebuah cerita mistis.
"Ara, kau tahu kan jika namamu sama dengan pohon surga itu?" tanya Cloud lagi.
"Em, ya. Tapi setahuku pohon itu bernama pohon tin, Cloud."
"Benar, namun nama lainnya pohon ara. Seperti namamu."
Cloud mengusap kepalaku. Dia tertawa manis, memperlihatkan gigi-gigi kecilnya. Senyumnya begitu menawan hati. Aroma tubuhnya pun menyejukkan penciumanku. Rasanya aku ingin tertidur di dekatnya.
"Sebenarnya, banyak sekali yang ingin kuceritakan padamu, Ara."
"Ceritakanlah, aku sangat suka mendengar cerita. Apalagi tentang duniamu ini," kataku yang sangat antusias.
"Ap-apa? Maksudnya, Cloud?"
"Aku takut kehilanganmu, Ara."
Cloud ....
"Dulu aku pernah menyukai seorang putri dari negeri kecil yang berada di barat negeri ini." Cloud mulai membuka tabirnya.
"Lalu?" tanyaku, tanpa peduli perasaanku yang cemburu.
"Saat itu aku masih berusia lima belas tahun dan baru pertama kalinya mengenal lawan jenis. Jadi aku tidak tahu kata-kata apa yang cocok untuk menggambarkan perasaanku waktu itu."
"Tak apa, Cloud. Aku mengerti. Masa-masa remaja itu memang masa yang paling indah. Dimana kita mulai tertarik dengan lawan jenis."
"Tapi, Ara. Seiring berjalannya waktu, kini aku mengerti perbedaannya."
"Maksudmu?" tanyaku yang mulai bingung.
Cloud lalu menarik tubuhku ke dalam dekapannya. Dagunya tepat berada di atas kepalaku. Aku pun melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya.
"Saat itu, rasaku hanya sebatas tertarik dan ingin dekat saja. Tapi denganmu berbeda. Aku ingin bersama dan merawat anak-anak kita kelak."
Cloud ....
__ADS_1
Mendengar penuturannya, membuatku seperti berada di antara dua kebun anggur yang sedang masak. Bahagia, tapi juga seperti ada beban tersangkut di hatiku.
Cloud mencium dahiku. Dia salurkan perasaannya yang penuh kasih kepadaku. Aku dapat merasakan kehangatannya.
"Aku berharap kau tidak pernah meninggalkan aku, Ara."
"Cloud ...."
"Aku begitu menyayangimu. Hanya kata-kata yang kupunya untuk menunjukkan rasa sayangku. Aku tidak bisa memberimu apapun selain rasa sayangku ini."
"Cloud ... sudah. Jangan membuatku menangis."
Aku terharu, begitu terharu. Tenyata Cloud menyimpan rasa yang sama kepadaku. Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. Aku pikir, dulu hanya aku yang membangun angan-angan untuk bersamanya. Tapi ternyata, dia sedang membangun istana hatinya untukku.
Tidak ada lagi yang bisa kukatakan. Aku pasrah. Aku menemaninya hingga matahari tenggelam di hari ini. Kami menghabiskan waktu bersama.
Satu jam kemudian...
"Kau bisa bermain biola?" tanyaku kepadanya.
"Sedikit."
"Ajari aku, ya?" kataku lagi.
"Boleh saja. Tapi ada syaratnya," katanya sambil mendayung perahu kami ke tepian.
Kami melihat matahari terbenam dari atas sampan. Aku merasa seperti kembali pulang ke desaku. Teringat saat Cloud mendayung sampan sehabis memancing ikan di laut.
"Apa itu?" tanyaku.
Cloud tidak menjawabnya. Dia hanya menepikan perahu lalu mengajak berjalan menuju kereta kuda. Seperti biasa, dia membuatku penasaran.
"Cloud, kau ini kebiasaan!"
Aku berlaga ngambek di hadapannya. Cloud pun tidak menggubris sikapku ini. Kami terus saja berjalan hingga masuk ke dalam kereta kuda. Kami bersiap untuk kembali ke istana.
Di dalam kereta, aku diam. Kutunjukkan sisi manjaku saat ngambek kepadanya. Cloud pun lalu menyandarkan kepalanya di bahu kananku.
"Sudah, jangan ngambek."
Kini dia bergantian manja kepadaku. Aku merasa seperti mempunyai tanggung jawab lain kepadanya.
"Aku kesal, kau tidak menjawab pertanyaanku," gerutuku.
"Memangnya kau bisa memenuhi syaratnya?" tanyanya menantang.
"Memang apa syaratnya?" tanyaku lagi.
"Syaratnya ...."
Cloud mengangkat kepalanya dari bahuku. Dia memegang kedua lenganku lalu menatap dalam kedua mata ini.
Cloud ....
__ADS_1
Cloud memiringkan kepalanya ke arahku. Wajah kami berhadapan begitu dekat sekali. Tiba-tiba saja detak jantungku menjadi tidak normal. Jantungku berpacu lebih cepat dibanding tadi. Perlahan, hangat napas Cloud dapat kurasakan. Aku pun memejamkan kedua mata...