Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Blood


__ADS_3

Selepas makan malam...


Aku berjalan-jalan bersama Zu di pesisir pantai dengan sengaja tidak menggunakan alas kaki. Pemandangan di sini sangat indah, tidak malam tidak juga siang. Pasirnya pun begitu terjaga. Jadi pantas saja jika Zu membeli pulau ini.


Aku berjalan di sisi kirinya, sedang dia berjalan di sisi kananku, dekat dengan laut. Kulihat dia membiarkan kakinya terkena ombak pantai malam ini. Celana panjangnya itu sengaja dia gulung hingga ke lutut. Lucu sekali melihatnya, tidak habis pikir jika dia mau menuruti permintaanku.


"Pangeran."


"Hm?"


"Aku senang sekali malam ini," kataku memulai pembicaraan.


Sedari tadi dia hanya diam saja. Entah apa yang dipikirkan olehnya itu. Aku jadi merasa tidak enak hati sendiri.


"Pangeran kau tampan, ya," kataku lagi, mencoba memancingnya agar dia mau bicara.


Seketika itu juga Zu memberhentikan langkah kakinya. Dia membiarkanku terus berjalan di depannya, entah kenapa.


"Pangeran?" Aku menoleh ke belakang, melihatnya kenapa berhenti.


"Nona, apa kau hanya ingin menghiburku?" tanyanya tiba-tiba padaku.


Eh? Kenapa dia bisa berpikiran seperti itu?


Mungkin dia merasa jika aku sedang menghiburnya, padahal aku berkata jujur. Dia memang tampan. Ditambah rambut belah tengahnya itu, membuat hatiku tak karuan, gemas sekali.


"Pangeran ...."


Dia lantas berjalan mendekatiku, memegang kedua tanganku ini. Dia juga menatapku dalam sekali, tepat di mata.


"Nona, kau tahu jika aku menyukaimu, bukan?" tanyanya seraya menatapku.


Aku mengangguk pelan.


"Ah, tidak," katanya lagi.


"Tidak?" Aku merasa heran.


"Ya, aku salah."


"Salah? Maksud Pangeran?" tanyaku yang mulai bingung.


Apa dia ingin menarik kembali kata-katanya itu? Aku bingung sendiri jadinya.


"Aku tidak hanya menyukaimu, tapi juga mencintaimu," katanya meneruskan.


Pangeran ....


"Nona, terimalah aku."


Dia lantas menjatuhkan dirinya di depanku, memohon dengan wajah penuh harap akan kepastian. Dia menekuk satu kakinya lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya itu.


"Terimalah, Nona." Dia memberiku sekuntum bunga mawar merah.


"Astaga, Pangeran!"

__ADS_1


Aku terkejut kala dia memberiku sekuntum bunga mawar yang merekah indah. Lantas saja aku mengambil bunga itu dan segera mencium aromanya.


Bunga hidup?


Ternyata Zu memberiku sekuntum bunga mawar hidup, bukan buatan. Dia juga mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya itu.


"Pangeran?"


Aku bertanya-tanya saat melihat Zu menyerahkan satu kotak kecil berwarna merah padaku. Dan ternyata ... berisi sepasang cincin.


"Pangeran, aku tidak pantas menerimanya. Ini di luar dugaanku." Aku menolaknya secara halus.


Dia lantas berdiri. "Kau masih berpikir jika aku main-main dengan perasaanku, Nona?" tanyanya dengan raut wajah yang serius.


"Eh, tidak begitu. Kita baru satu minggu berkenalan dan baru beberapa hari ini dekat, belum sampai dua minggu. Aku merasa belum pantas. Aku—"


Aku terdiam, tidak bisa meneruskan kata-kataku sendiri. Tubuhku tiba-tiba terpaku seketika. Detak jantungku pun mulai berdegup dengan kencangnya.


Pangeran ....


Zu ternyata mendaratkan ciumannya di bibirku, tidak mengizinkanku untuk meneruskan kata-kataku lagi. Kedua tanganku pun kini dipegang olehnya dan bibirnya itu mengecup lembut bibirku.


Astaga, aku ....


Aku tidak tahu apakah ini benar atau salah. Tubuhku merinding seketika, seperti ada aliran listrik yang kian tersambung di dalam tubuhku.


"Nona ...." Dia lantas menarik wajahnya dariku. "Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Ini ciuman pertamaku."


Ap-apa?!


Aku tak percaya jika dia berkata seperti itu. Dia seolah memberi penekanan jika aku adalah gadis pertama baginya.


Aku melihat ada linangan air mata di mata sipitnya. Sorot matanya begitu meluluhkan hati ini. Hatiku akhirnya berkecamuk. Haruskah aku menerimanya secepat ini?


Rain, Cloud, apa yang harus aku lakukan?


Aku bingung menghadapi situasi yang terjadi. Tiga hati kini memintaku. Lalu ke mana aku harus berlabuh?


Ara masih terdiam dan terpaku. Sedang Zu tak mampu lagi untuk membendung air matanya, ia segera memeluk Ara. Ia rengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Dan lantas saja air mata itu jatuh membasahi pundak sang gadis.


Aku telah serahkan harga diriku padamu, Nona. Aku lemah. Ya, aku lemah di hadapanmu. Aku tidak peduli jika kau sedang mengandung. Aku akan bertanggung jawab atas bayimu. Tak ada yang perlu kau khawatirkan karena ternyata aku begitu mencintaimu.


Laut kini menjadi saksi cinta Zu kepada Ara. Deburan ombak pantai pun menyambut kedatangan hati yang kian bersemi dalam nada cinta. Ara adalah cinta pertama bagi Zu. Dan telah Zu serahkan ciuman pertamanya itu untuk sang gadis, berharap Ara akan menerimanya sepenuh hati.


...


Lain Zu, lain juga Cloud. Di istana, Cloud tanpa sengaja memecahkan gelas kopinya, tersenggol saat ia ingin mengambil berkas yang ada di atas meja kerjanya itu. Ia pun bergegas membersihkan pecahannya. Namun, jarinya tanpa sengaja terluka, terkena pecahan gelas yang tajam. Sebuah firasat buruk pun muncul di benaknya.


"Ara ... apa yang terjadi padamu?"


Ia segera teringat akan gadisnya. Pikirannya tidak ada yang lain selain Ara. Cloud lalu bergegas keluar dari ruangan. Ia menuju ke ruangan Rain untuk memastikan tidak ada kabar buruk tentang gadis itu. Namun, sesampainya di sana...


"Rain tidak ada di ruangan?"


Cloud memeriksa ruangan sang adik, namun ia tidak menemukan adiknya. Ia lalu bergegas menuju barat istana untuk menemui Rain. Tapi dari kejauhan, ia melihat adiknya keluar dari istana bersama beberapa puluh pasukan berkuda.

__ADS_1


"Rain!"


Cloud mencoba memanggil adiknya, tapi sang adik tidak dapat mendengar panggilannya itu. Suara langkah kaki kuda yang melaju cepat, begitu bergemuruh. Sehingga suara Cloud tidak mampu terdengar oleh Rain.


"Cloud!"


Tak lama ia mendengar sang ayah memanggil. Cloud pun segera mendekati.


"Ayah, ada apa? Kenapa Rain meninggalkan istana malam-malam?" tanya Cloud yang khawatir.


"Dia ingin menemui Ara," jawab Sky singkat.


"Menemui Ara?" Cloud merasa bingung.


"Dia bilang Ara ada di Pulau Hati. Ayah tidak dapat menahan kepergiannya. Dia memaksa."


"Tap-tapi—"


"Sudah, kita tunggu saja kabarnya. Biarkan adikmu membuktikan sendiri kebenarannya." Sky bergegas pergi.


"Ayah, aku juga ingin menjemputnya," tutur Cloud segera.


Sang ayah lalu menghentikan langkah kakinya. "Jika kalian semua pergi, siapa yang akan menjaga istana nantinya, Cloud?" tanya Sky, lalu kembali meneruskan langkah kakinya.


Kali ini sang raja tidak mampu membendung keinginan putra bungsunya untuk pergi dari istana. Ia tampak putus asa kala menghadapi Rain.


Beberapa saat yang lalu...


Rain mendatangi ayahnya. Ia mengajukan izin untuk pergi mencari Ara. Tapi, lagi-lagi Sky tidak mengizinkan.


"Aku akan tetap pergi malam ini untuk menjemputnya!" seru Rain kepada sang ayah.


"Kau berani melawan Ayah, Rain!" Sky tampak geram.


"Ini antara hidup dan matiku. Hanya kematian yang dapat menunda kepergianku."


Rain lantas mengeluarkan pedangnya. Ia kemudian berlutut di hadapan Sky. Ia juga memberikan pedangnya itu kepada ayahnya.


"Ayah bisa membunuhku sekarang jika tidak mengizinkanku pergi ke luar istana."


Rain memejamkan matanya di hadapan Sky. Ia tampak pasrah menerima segala risiko yang terjadi. Hatinya tidak mampu lagi menahan kerinduan yang mendalam. Sky pun tampak menelan ludah melihat sikap putranya itu.


"Pergilah. Beri kabar baik untuk Ayah."


Sky membalikkan badannya. Ia akhirnya memberikan izin kepada Rain untuk pergi dari istana.


Rain lantas membuka kedua matanya, tersenyum kecil kepada ayahnya itu. "Terima kasih, Ayah."


Rain bangkit lalu mengambil kembali pedangnya, ia bergegas ke luar ruangan. Sky kemudian duduk di kursi kerjanya. Ia kini menyadari betapa besar cinta putra bungsunya itu kepada Ara.


...


Aku harap Rain dapat menemukan gadis itu. Ya, hanya gadis itu yang bisa menenangkan hati putraku.


Sky terus berjalan meninggalkan Cloud yang masih terpaku di tempatnya. Ia berharap putra bungsunya itu dapat menemukan keberadaan Ara.

__ADS_1


Ara ... apakah benar kau ada di sana?


Cloud bertanya sendiri, tanpa menyadari jika jarinya itu masih meneteskan darah karena terkena pecahan gelas tadi. Sedang Rain, melajukan kudanya dengan cepat, menuju salah satu pelabuhan di timur negeri ini. Ia akan berlayar malam ini juga untuk menjemput sang pujaan hati.


__ADS_2