Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Please...


__ADS_3

Beberapa saat kemudian...


Kedua tangan sang pangeran masih memegang erat pinggul sang gadis. Sedang kedua tangan gadisnya masih melingkar di leher sang pangeran. Baik Ara maupun Cloud masih mengatur ulang napas sambil tetap memejamkan kedua matanya.


"Sayang ...." Suara Cloud terdengar berat.


"Cloud, ini begitu melelahkan." Dada sang gadis naik-turun di hadapan pangerannya.


Cloud lantas membuka kedua matanya. Ia tatap gadisnya sambil menyingkapkan rambut Ara ke belakang telinga. Ara pun membuka kedua matanya.


"Kau berkeringat, Ara. Apa suasana tadi begitu panas?" tanya Cloud sambil menatap dalam gadisnya.


"Cloud, tubuhmu juga berkeringat. Kau terlalu bersemangat tadi," jawab Ara dengan suara yang sama beratnya.


"Keringat kita sudah menyatu seperti ini. Kau tidak akan meninggalkanku, bukan?" tanya sang pangeran seolah memohon.


"Kau masih bisa bertanya seperti itu setelah apa yang kita lakukan?" Ara balik bertanya kepada pangerannya.


Cloud lantas merebahkan kepalanya di dada sang gadis. "Aku hanya takut ditinggalkan. Aku tidak mau, Ara." Cloud memeluk Ara dengan erat.


"Aku tidak pernah ada niat untuk itu, Cloud. Hanya saja kadang terlintas kebimbangan di hatiku." Ara mencoba jujur.


"Kau masih meragukan perasaanku?" Cloud kembali menatap gadisnya.


"Bukan meragukan, hanya saja aku mencari jalan yang terbaik." Ara mengusap kepala pangerannya.


"Ara, lihat kita! Apa belum cukup hal ini untuk mengikatmu? Aku telah menyerahkan semuanya padamu. Kau menginginkan apa lagi?"


"Ssst..." Ara menutup bibir Cloud dengan jari telunjuknya. "Sudah. Sekarang mandilah. Jam makan siang hampir berakhir karena ulahmu ini. Kau tidak ingin terlambat kembali ke istana, bukan?" Ara mengingatkan.


"Ara, aku ...."


"Aku tahu, aku juga mengerti. Tapi baiknya kau mandi sekarang." Ara beranjak bangun dari pangkuan Cloud.

__ADS_1


Sang gadis lalu berdiri sambil membenarkan kembennya yang turun. Ia juga kembali menaikkan dasternya yang diturunkan oleh Cloud. Sedang sang pangeran, sibuk membersihkan apa yang ada di perutnya dengan tisu. Ia lalu menaikkan celana pendek ketatnya. Terlihat pakaian sang pangeran berserakan di atas lantai. Sepertinya telah terjadi sesuatu pada mereka.


"Sayang, kita mandi bersama, ya?" Cloud meminta.


"Duluan saja. Aku ingin menyiapkan bekal makan siang terlebih dulu," kata sang gadis.


"Hm, baiklah." Cloud akhirnya beranjak bangun.


Ara lalu melihat pangerannya pergi menuju kamar mandi. Sesaat kemudian ia merasakan sakit di bagian pinggulnya.


Aduh ... aku merasa lelah sekali. Dia benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Aku jadi kelelahan seperti ini.


Ara kemudian mengambil semua pakaian Cloud yang berserakan di lantai. Setelahnya ia menyandarkan punggung di kursi sambil memijat kepalanya sendiri.


Apa bisa aku mengurus keduanya dalam waktu bersamaan? Meladeni Cloud saja sudah kelelahan seperti ini. Apalagi jika ditambah Rain. Mungkin yang ada pinggangku copot seketika.


Ya ampun ... mereka itu sama saja. Tidak Rain tidak juga Cloud. Tidak ada bedanya sama sekali. Jika sudah seperti ini, rasanya aku ingin kembali ke duniaku saja. Mungkin akan lebih tenang dan tidak was-was saat bersama dengan salah satunya. Astaga ....


Dua puluh menit kemudian...


Cloud bergegas kembali ke istana. Tak lupa ia membawa bekal makan siang yang sudah disiapkan oleh Ara. Jam istirahat memang sudah berakhir, sehingga sang gadis mau tak mau membawakan masakannya agar Cloud bisa tetap bersantap. Dan kini sang pangeran tengah berpamitan.


"Aku berangkat kerja ya, Sayang. Jaga dirimu, jaga kehormatanmu hanya untukku." Cloud berpesan.


"Iya, bawel."


Ara lalu mencium tangan kanan pangerannya. Cloud pun terkejut dengan sikap Ara yang begitu menghormatinya, layaknya suami. Bertambahlah rasa cinta di dalam hatinya karena sikap sang gadis.


"Mmuach." Ara juga mencium pipi kiri Cloud.


Ara ....


Seketika hati sang pangeran terharu. Ia lalu mencium kening gadisnya, kedua matanya, pipinya, lalu bibirnya. Cloud membalasnya satu per satu hingga membuat Ara geli sendiri.

__ADS_1


"Banyak sekali ciumannya, Pangeran. Borongan ya?" ledek Ara kepada Cloud.


"Dasar." Cloud lalu mengusap lembut kepala gadisnya seraya tersenyum. "Aku berangkat, sampai nanti." Cloud beranjak pergi dengan tanpa lupa mengecup tangan sang gadis.


"Hati-hati, ya!" Ara pun melambaikan tangannya.


Rasanya hari ini amat berbeda bagi keduanya. Baik Cloud maupun Ara sudah seperti sepasang suami istri yang penuh dengan kemesraan dalam menjalani biduk rumah tangga. Dan hal ini membuat Cloud amat bahagia. Ia meninggalkan halaman rumah seraya tersenyum-senyum sendiri.


Ara, rasanya aku ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan dan kembali bersamamu. Kau begitu mengerti bagaimana menghargai seseorang, Sayang. Aku jatuh cinta dengan sikapmu. Tetaplah seperti ini, seperti Ara yang kukenal.


Rasa lelahku seolah tak terasa saat melihatmu. Aku akan lebih giat lagi bekerja untuk masa depan kita nantinya. Bagaimanapun akhirnya, hidupku akan berawal bersamamu. Aku mencintaimu, Ara.


Cloud melajukan kudanya dengan cepat menuju istana. Ia ingin kembali bekerja lalu cepat-cepat menyelesaikan rutinitas hariannya. Tak lain karena Ara seorang. Tak ada gadis lain di hatinya selain Ara. Cloud amat mencintai gadis yang ditemuinya di tepi laut waktu itu. Seorang gadis sederhana yang baik budi pekertinya. Dialah Ara.


Di istana Asia...


Zu mendapat kabar yang tak diinginkan. Pasukan khusus yang ia kirim ke Angkasa mengabarkan jika ternyata Ara tidak berada di istana. Seketika pikiran Zu kalut sendiri.


Dia tidak ada di istana? Lalu di mana dia sekarang?


Zu telah membayar mahal untuk mencari keberadaan sang gadis yang mencuri hatinya. Namun, sampai saat ini ia belum juga dapat memastikan di mana gadisnya berada. Sang calon raja Asia pun tampak pusing membalas pesan dari pasukan khusus yang dikirimnya.


Apa benar bukan pihak Angkasa yang menjemputnya? Lalu siapa? Aku belum tahu apa alasan dia meninggalkanku. Haruskah aku menyelidikinya sendiri?


Zu amat pusing.


Astaga ... karena seorang gadis aku bisa kalut seperti ini. Ara, andai kau tahu betapa beratnya aku menjalani hari-hari tanpamu, mungkin kau akan berpikir ulang untuk meninggalkanku.


Zu masih berharap utusannya dapat menemukan keberadaan Ara. Ia ingin segera menjemput Ara dan membawanya kembali ke istana Asia. Tapi sayang, sampai saat ini kabar baik belum ia dapatkan. Dan kembali sang calon raja harus menunggunya.


Sayang, pulanglah kumohon.


Di hadapan Ara, Zu hanyalah seorang pria biasa. Seorang pria yang ingin dicinta sepenuh hati, jiwa dan raga gadisnya. Dan hanya Ara lah yang mampu melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2