
Di vila Zu...
Entah mengapa aku merasa aneh saat berada di dekatnya. Pesonanya mampu membuat mataku tak berkedip. Tatapan matanya itu seolah menghipnotis hati ini.
Ya ampun, aku tidak boleh terus seperti ini.
Lekas-lekas aku mandi, membersihkan diri selepas berenang di pantai. Walaupun tak lama, rasanya sudah cukup untuk membuatku senang. Hatiku kini sedikit terhibur karenanya.
Selepas mandi, aku mengambil pakaian dari dalam lemari. Tapi kali ini aku mengambil pakaian yang biasa saja, bukan gaun. Toh, tidak sedang berada di istana.
Kuambil leging hitam selutut dan juga sweter merah muda panjang. Sengaja memakai celana lentur ini karena ingin lebih bebas bergerak. Lelah rasanya jika selalu memakai gaun. Apalagi gaun kerajaan yang bermekaran seperti bunga mawar, itu berat sekali.
Kuambil lipstik berwarna peach lalu kusapukan ke bibirku. Sedikit saja sepertinya sudah cukup.
"Baiklah, gunakan pelembab saja."
Aku juga tidak lagi memakai make-up minimalis. Karena kupikir, rasanya tidak perlu menggunakan make-up di depan Zu sekarang. Dia pasti sudah pernah melihat wajah polosku yang tanpa make-up.
"Parfumnya sedikit menyengat."
Entah sengaja atau tidak, parfum yang ada di dalam lemari ini harumnya seperti semerbak bunga yang begitu kuat menusuk hidung. Entah bunga apa yang digunakan dalam komposisinya, asal jangan bunga bangkai saja.
Kusemprotkan sedikit parfum ini ke bagian telapak tangan dan juga leher. Kini aku siap untuk memulai hari, lebih tepatnya sih membuat sarapan. Kebetulan aku juga sudah mulai lapar.
"Baiklah."
Aku bergegas keluar dari kamar. Dan ternyata, bersamaan dengan itu Zu juga keluar dari kamarnya. Dia mengenakan sweter panjang cokelat dan celana dasar hitam semata kaki.
"Nona?"
"Pangeran?"
"Kita bisa bersamaan seperti ini?" Dia tampak heran sendiri.
Aku berusaha tersenyum kepadanya, walaupun hati ini masih merasa tidak enak karena berusaha kabur tadi.
Sepertinya dia menutupi apa yang terjadi di tepi pantai. Tapi, ya sudahlah. Aku sudah lapar.
"Aku mau masak, Pangeran," kataku padanya.
"Baiklah, aku akan menemani."
Kuakui jika Zu selalu bersamaku. Di mana ada aku, di situ ada dirinya. Mungkin dia benar-benar dituliskan untuk menjagaku selama jauh dari kedua pangeran itu.
Cloud, apa kau sudah sarapan?
Tiba-tiba aku teringat lagi dengannya. Aku masih mencemaskan keadaan lambungnya itu. Aku tidak tahu bagaimana cara mengabarinya. Di sini tidak ada ponsel, hanya ada burung sebagai pengantar pesan. Tidak mungkin juga jika aku menggunakannya, Zu pasti tidak mengizinkanku.
Ya sudahlah ....
Kami lalu berjalan menuju tangga. Seperti biasa, Zu mengulurkan tangannya kepadaku. Tapi lagi-lagi aku menolaknya. Aku pikir sudah besar, jadi tidak perlu dituntun lagi.
Tak tahu apa yang ada di dalam pikirannya, aku melihatnya kembali tertawa. Mungkin karena lagi-lagi aku menolak uluran tangannya itu.
Maaf ya, Pangeran ....
__ADS_1
Aku masih menjaga keadaan ini agar dia tidak berharap lebih padaku. Aku khawatir dia akan salah tanggap jika aku menerima uluran tangannya itu.
"Nona, pagi ini kau ingin masak apa?" tanyanya seraya menuruni anak tangga bersamaku.
Aku berpikir. Makanan apa yang enak disantap pagi-pagi.
"Hm ...?"
"Apa kau ingin mencoba menu laut?" tanyanya kemudian.
Lantas saja aku teringat dengan sup sapi kesukaanku. Mungkin aku bisa membuatnya di sini.
"Apakah kita bisa membuat sup sapi, Pangeran?" tanyaku seraya menoleh ke arahnya.
Zu lagi-lagi tertawa. "Di sini hanya ada ikan, Nona. Apa kau ingin membuat sup ikan?" tanyanya menawarkan.
"Hah?!"
Sontak aku terbelalak dengan pertanyaannya. Lantas segera berpikir apa ada yang namanya sup ikan?
Seumur-umur aku belum pernah makan sup ikan. Kalau sup bakso ikan masih mungkin.
"Mungkin ada sesuatu yang bisa kau buat dengan bahan dasar ikan, Nona," katanya lagi.
Tak terasa kini kami sudah berada di lantai satu. Berjalan sedikit ke arah kiri, kami pun sudah sampai di dapur. Dapur minimalis yang membuatku teringat dengan rumah.
"Bagaimana jika bakso ikan? Apa kau mau mencobanya, Pangeran?" tawarku bersemangat.
Zu mengangguk seraya tersenyum.
Aku lantas segera mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat bakso ikan. Zu pun membantuku. Kami bekerja sama membuat bakso ikan ini hingga jadi dua puluh butir bakso ikan berukuran kecil.
"Akhirnya."
Segera kuracik bumbu lalu merebusnya. Zu tampak memperhatikanku dari sisi, sedang aku masih sibuk mencicipi kuah bakso ini. Tapi, tiba-tiba...
"I-itu ...?!"
Kulihat ada hewan menggelikan berjalan mendekatiku, spontan aku merinding melihatnya. Seketika itu juga aku menarik lengan kanan Zu. Zu pun menoleh ke arahku yang sedang menunjuk-nunjuk hewan itu. Semakin lama hewan itu semakin mendekat, aku pun merasa takut hingga ke ubun-ubun.
"Pangeran! Pangeran!"
Aku memanjat cepat ke tubuhnya. Aku takut jika kecoa itu naik ke badanku. Ya, hewan menggelikan itu adalah kecoa, yang sedari kecil selalu kuhindari. Zu pun menyadari ketakutanku ini. Dia segera memegang erat kedua kakiku agar tidak merosot dari pinggangnya. Sedang aku masih melihat ke mana kecoa itu lari.
"Hah, syukurlah dia pergi." Aku akhirnya bisa bernapas lega saat kecoa itu pergi menjauh.
"Nona."
Sesaat kemudian aku mendengar Zu memanggilku. Aku pun segera menoleh ke arahnya.
Astaga ini ...?
Tanpa kusadari wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Hidung kami pun hampir bersentuhan.
"Pa-pa-pangeran ...."
__ADS_1
Perlahan kuturunkan tanganku yang spontan melingkar di lehernya itu. Kuturunkan hingga ke dadanya. Sejenak, aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang. Hangat napasnya pun kian terasa, mendekat ke wajahku.
"Nona, apa kau benar-benar takut?" tanyanya seraya menatapku.
"Ma-maaf, Pangeran. A-aku benar-benar takut kecoa. Aku spontan. Bisa turunkan aku?" pintaku terbata.
Aku berusaha turun dari gendongannya ini. Tapi dia malah menahannya. Kedua kakiku masih ditahan olehnya sehingga terus mengapit pinggangnya itu.
"Pangeran, aku bukannya sengaja. Sungguh!"
Aku meyakinkan jika aku bukan sengaja melakukannya. Tapi dia malah menatapku dengan pandangan yang aneh.
"Nona ... apakah aku harus mengulang kembali tawaranku?" Dia berbicara dekat sekali.
Astaga. Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus turun dari gendongannya.
"Pangeran, tolong turunkan aku," pintaku lagi.
Aku mencoba menggerakkan tubuh agar bisa lepas dari gendongannya. Tapi semakin bergerak, Zu semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Aduh, jangan!
Aku merasa panik sendiri. Aku ingin segera lepas darinya. Zu seperti ingin menciumku.
"Pangeran, jangan! Kita belum ada ikatan!" seruku seraya menjauhkan wajahnya dengan tanganku.
Seketika itu juga Zu menjauhkan wajahnya dariku. Napasku jadi tidak beraturan karena ulahnya ini. Aku merasa tubuhku kian aneh sendiri.
"Nona, apa ini berarti kau meminta ikatan dariku?" tanyanya lagi.
Astaga, ini tidak akan selesai-selesai.
Karena kesal dia tidak juga menurunkan aku dari gendongannya, segera saja kugigit lehernya itu. Kugigit hingga dia merasa kesakitan. Di saat itulah aku baru bisa kabur, karena dia melepaskan pegangannya.
"Maaf, aku terpaksa."
Kubungkukkan badanku, meminta maaf lalu menaiki anak tangga dengan cepat. Aku tidak bisa berlama-lama seperti ini. Aku khawatir, benar-benar khawatir.
Duh, kenapa bisa aku melakukan hal sebodoh itu?
Kututup pintu kamarku lalu bersandar sejenak. Dadaku naik-turun dibuatnya, napasku pun ikut tersengal. Kejadian tadi benar-benar membuatku cemas.
Semoga dia tidak berpikiran macam-macam.
Aku berharap Zu tidak salah prasangka terhadapku. Ya, semoga saja dia mengerti jika aku benar-benar takut tadi.
Lagi dan lagi, kejadian tak terduga dialami sepasang insan ini. Zu tak percaya jika ia akan menggendong gadis itu. Ia juga lebih tak percaya jika harus menanggung rasa sakit akibat digigit sang gadis.
Gigitannya benar-benar menyakitkan. Tak bisakah dia lebih lembut menggigitku?
Zu masih memegangi bekas gigitan Ara di lehernya itu. Ia pun menemukan bekas lipstik yang Ara pakai.
Nona, aku akan mendapatkan hatimu. Aku berjanji pada diriku sendiri. Akan kuhilangkan kesedihan dan lekas kuganti dengan kebahagiaan.
Zu tersenyum seraya mengecup bekas lipstik Ara di jarinya. Ia tertawa sendiri menghadapi tingkah laku sang gadis yang begitu menggemaskan. Dan harus Zu akui jika ternyata ia benar-benar tertarik kepada gadis itu.
__ADS_1