
Beberapa menit kemudian...
Aku sudah sampai di kamar, mencoba merebahkan tubuh di atas kasur setelah lelah beraktivitas hari ini. Anganku pun melayang bersamaan dengan tenggelamnya matahari di sore hari.
"Aku jadi merasa kasihan pada Rain dan juga Cloud. Keduanya sama-sama memperjuangkanku. Tapi aku sendiri belum dapat menentukan kepada siapa hatiku ini berpaut. Hah..."
Kuhela napas sejenak di antara kebimbangan hati ini. Aku merasa bersalah kepada keduanya.
"Bisa tidak jika aku mendapatkan keduanya? Dan bisa tidak mereka saling mengalah?"
Aku jadi pusing sendiri dengan cerita ini. Rasanya ingin menyalahkan diri sendiri atas semua yang telah terjadi. Tapi di lain sisi, aku membutuhkan keduanya.
"Aduhhh!"
Kepalaku terasa pusing memikirkannya. Belum lagi tugas-tugasku yang menumpuk.
"Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh raja."
Aku masih mencoba memahami pikiran paduka raja. Melihat dari sudut pandangnya tentang hal ini. Tapi mungkin juga benar apa yang dirasakan oleh Rain, jika raja lebih memihak kepada kakaknya.
"Padahal Cloud lebih mirip ratu dibandingkan raja. Sedang Rain, mewariskan paras yang dimiliki ayahnya. Dia bagai raja kecil di istana ini."
Aku jadi heran sendiri. Entah mengapa aku merasa jika Cloud lebih condong ke ayahnya, sedang Rain lebih condong ke ibunya. Benar atau tidaknya, aku belum tahu pasti. Tapi saat aku melihat Cloud dan ratu, keduanya tampak kurang akur.
"Apa mungkin karena adanya Rain, Cloud jadi merasa tidak disayang oleh ratu?"
Mungkin ini yang dinamakan risiko menjadi orang tua. Saat mempunyai kedua putra dengan jarak lahir yang tidak begitu jauh, pasti membuat salah satunya merasa tersingkirkan.
"Hm ... mungkin aku harus mendamaikan Cloud dengan ratu. Tapi bagaimana caranya?" Aku bertanya sendiri.
Di istana, diam-diam aku memperhatikan setiap aktivitas yang terjadi dan juga gerak-gerik para penghuninya. Aku mencoba membaca pikiran mereka, ya walaupun hanya pesan tersirat yang dapat kutangkap.
Untuk saat ini, semua penghuni istana sepertinya senang dengan kehadiranku. Kecuali ratu sendiri. Sejak pertemuan pertama, aku merasa ratu risih dengan kehadiranku yang dekat dengan putranya.
"Hah, entahlah."
Di istana juga aku mendapatkan pelayanan khusus, baik dari raja maupun kedua putranya. Seluruh penghuni istana begitu santun dan juga menghargaiku. Aku jadi merasa betah di sini. Ingin rasanya tinggal lebih lama setelah pekerjaanku selesai. Tapi sayangnya, aku sendiri belum yakin jika kontrak kerjaku akan diperpanjang oleh pihak istana. Bisa saja ratu menghentikannya.
Astaga, lagi-lagi aku berburuk sangka.
Rain dan Cloud di pandanganku sama-sama tampan. Tubuh mereka tinggi tegap dengan otot lengan yang kekar. Apalagi Rain, seluruh tubuhnya terbentuk dengan sempurna. Dia bahkan mampu menggendongku hanya dengan satu tangannya.
Saat memakai sepatu hak tinggi, tubuhku ini bisa mencapai dagunya. Tetap mungil, sih. Tapi lumayanlah jika dibandingkan dengan tidak memakai alas kaki. Aku hanya sebahunya saja. Sedang saat bersama Cloud...
"Cloud juga tinggi, namun saat aku mengenakan sepatu hanya sehidungnya saja."
Cloud hanya berbeda beberapa senti dari Rain. Mungkin beda tiga atau lima senti. Namun karena Cloud menyisir rambutnya ke belakang, dia terlihat sama tinggi dengan adiknya itu.
"Apa aku mampu jika Tuhan memberiku keduanya?"
Tak bisa kubayangkan jika aku resmi menjadi istri dari Cloud dan Rain. Pasti aku akan sangat kelelahan. Jarak tempuh kediaman Rain dan ruangan Cloud juga cukup jauh. Belum lagi jika malam mereka banyak mintanya.
__ADS_1
Oh, ya ampun ....
Tapi daripada salah satunya merasa terluka atau tersakiti, lebih baik aku mengalah saja. Tak apa jika aku harus lelah karena melayani keduanya. Toh, aku memang mencintai mereka.
"Hoooaaammm."
Tiba-tiba saja rasa kantuk menerjangku. Aku tidak mampu untuk terus membuka mata ini. Mungkin tak apa jika tidur sebentar. Jam makan malam pun masih satu jam lagi.
Beberapa saat kemudian...
Udara terasa mulai dingin. Aku tidak tahu sedang berada di mana. Aku melihat pemandangan lepas pantai di hadapanku.
"Pakailah jubahku."
Tiba-tiba ada seseorang yang memakaikan jubahnya kepadaku. Aku tidak dapat melihat jelas siapa gerangan dirinya.
"Siapa Anda?"
Aku mencoba bertanya. Tapi, dia hanya tersenyum ke arahku. Dia lalu berjalan membelakangiku.
Mimpi dalam mimpi?
Aku merasa sedang bermimpi. Tapi ini seperti sungguhan. Kulihat tubuh seorang pria mengenakan pakaian kerajaan berwarna biru gelap dengan celana putih dan sepatu hitamnya.
"Maaf?"
Aku mencoba mendekatinya, menyentuh pundaknya. Dia pun menoleh ke arahku.
Kulihat wajahnya begitu bersih, putih dengan bibir merah merona. Dia seperti artis Korea.
"Siapa Anda, Tuan?" tanyaku, lalu dia berbalik ke arahku.
"Aku adalah ...."
Aku menunggu jawabannya. Tapi bersamaan dengan itu, aku merasa ada gempa bumi di sekitarku. Bayangannya pun menghilang dari pandanganku.
"Ara! Ara!"
Aku merasa ada gempa. Tapi mataku masih terasa berat untuk membuka.
"Bangun, Ara! Ayah memintamu untuk makan malam bersama."
Suara itu begitu kukenal. Akupun mencoba membuka kedua mata ini. Kulihat samar-samar Rain sedang berada di atas tubuhku.
"Rain?! Apa yang kau lakukan?!!"
Aku segera mendorongnya begitu menyadari dia tidak mengenakan baju. Rain kemudian jatuh ke lantai.
"Aduhhh..." Dia mengeluh kesakitan.
"Rain ...?" Kudengar suara tubuhnya yang jatuh.
__ADS_1
"Ara, sakit sekali." Dia memegangi bokongnya sendiri.
Astaga, apa yang telah aku lakukan?
Aku mengusap kepala dan mencoba untuk fokus kembali. Kulihat tubuhku masih mengenakan gaun yang sama dan tanpa terbuka sedikit pun.
Aku melukainya ....
"Rain."
Segera aku bangun, beranjak untuk menolongnya. Rain benar-benar tampak kesakitan.
"Rain, maaf. Aku refleks. Tubuhku spontan melakukannya." Aku merasa tidak enak hati kepadanya.
"Ara, tenagamu kuat sekali. Aku sampai tidak mampu menahannya."
Aku masih membantunya bangun, lalu kubiarkan dirinya duduk di tepi kasur.
"Kau juga aneh, mengapa tidak mengenakan baju saat membangunkanku? Aku jadi kaget, kan!" Aku membela diri.
"Aku baru saja selesai mandi. Kupikir kau sudah bangun. Tapi, ternyata belum. Ya, sudah. Aku bangunkan saja tanpa memakai baju terlebih dahulu."
"Hah, kau ini. Mana bajumu?!" tanyaku kesal.
Rain lalu menunjuk baju kerajaannya yang berwarna merah, ada di kursi tamu kamarku. Akupun segera mengambilkannya.
"Cepat pakai! Lain kali bangunkan aku yang benar. Jadi aku tidak salah paham." Aku bergegas meninggalkannya.
"Ara, bokongku sakit." Rain mengeluh.
"Aku mandi dulu. Nanti kuobati."
Karena hari sudah semakin malam, aku segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kubiarkan saja Rain di luar. Aku kembali fokus dengan tujuanku.
Beberapa menit kemudian...
Selepas mandi, aku segera mengenakan gaun yang tersisa satu di dalam lemari. Gaun berwarna kuning muda ini. Gaunnya simpel, sih. Tidak banyak pernak-pernik menghiasi. Tapi dia cukup pendek, pas selututku.
"Gaunku yang lain belum juga kembali."
Aku merasa cemas karena gaunku hanya tinggal yang ini. Kuintip Rain dari kamar ganti, kulihat dia sedang membaca-baca hasil rancanganku.
"Ya, sudah. Nanti sajalah kalau begitu. Mungkin besok mbok Asri akan membawakannya untukku."
Segera aku berdandan untuk menghadiri makan malam bersama raja. Setelah selsai, aku mengajak Rain untuk pergi bersama ke ruang makan istana.
"Ara, bokongku masih sakit." Dia menagih janjiku.
"Nanti, ya. Kita penuhi dulu panggilan raja." Aku menariknya agar berjalan cepat.
"Benar, ya?" tanyanya memastikan.
__ADS_1
Aku tidak menjawabnya, kubiarkan saja dia menunggu. Sedang aku berjalan cepat menuju ruang makan istana. Rain mengejarku lalu berjalan bersama. Dia tampak memperhatikanku.