
Beberapa saat kemudian...
Kedua penjaga istana datang dengan membawakan pesananku. Mereka tampak lelah sehabis mencari apa yang aku inginkan.
"Nona, maafkan kami. Kami hanya mampu mendapatkan sejumlah ini."
Kulihat banyak anak panah di dalam keranjang bambu. Mungkin ada sekitar tiga puluh anak panah.
"Yang lainnya terpakai dan menjadi hiasan di dinding istana. Kami tidak berani mengambilnya," katanya lagi.
"Tak apa. Mari kita pasang papan sasarannya."
Aku meminta bantuan mereka untuk memasang papan sasaran. Malam ini akan kuhabiskan waktu untuk latihan memanah di lingkungan sekitar kamarku.
"Sudah selesai, Nona. Keadaan aman."
Kedua penjaga memastikan jika tempat latihanku sudah kondusif. Aku pun mulai memanah, mencoba untuk memfokuskan penglihatan menuju papan sasaran.
Satu, dua, tiga anak melesat. Masuk ke dalam lingkaran ketiga papan sasaran. Akupun terus berlatih hingga tepat mengenai tengah. Setelahnya, kuminta penjaga untuk lebih menjauhkan papan sasaran itu dari pandanganku.
Aku begitu bersemangat berlatih. Sampai mengabaikan kehadiran Bibi Rum yang sudah tiba belakangku.
"Nona Ara!"
Kedua penjaga membungkuk melihat Bibi Rum lalu memundurkan langkah kakinya ke belakang. Tampaknya mereka khawatir dengan nasibnya sendiri.
"Bibi Rum." Aku kemudian memberi hormat kepadanya.
"Nona, sudah selarut ini Anda belum juga tidur?" tanyanya heran.
"Maafkan aku, Bibi. Aku baru saja terjaga dan tiba-tiba suasana hatiku tidak enak. Maka itu aku mengalihkannya dengan berlatih memanah," jawabku.
"Tapi ini sudah malam, Nona. Sebaiknya Anda segera tidur, udara semakin dingin," lanjutnya seakan memaksa secara halus.
"Aku sudah mencobanya, tapi tak bisa, Bi. Hatiku kesal sekali. Rasanya ingin memanah setiap orang yang menggangguku."
Sontak kata-kataku membuat Bibi Rum menelan ludahnya. Dia tampak bergidik dengan penekanan intonasi yang kubuat. Dia segera undur diri dari hadapanku.
"Baiklah. Tapi jangan sampai mengganggu penghuni istana lain yang sedang beristirahat," katanya lalu berlalu pergi.
"Baik. Terima kasih," sahutku.
Hah... Ada-ada saja.
Aku menghela napas. Kehadiran Bibi Rum mengganggu konsentrasiku untuk kembali memanah. Aku jadi malas-malasan berlatih.
"Nona, Anda tidak apa-apa?" tanya salah satu penjaga.
"Aku tidak apa-apa. Mungkin hanya butuh minum," kataku seraya duduk menyandarkan tubuh ke tiang teras.
"Nona, sebaiknya kami panggilkan Pangeran Rain untuk menemani Anda berlatih."
"Eh?! Tidak usah!"
__ADS_1
Saat mendengar nama Rain, aku segera bangkit dari rasa malasku.
"Aku bisa berlatih sendiri. Cukup kalian berdua berjaga dan memastikan tempat ini aman."
Aku segera mengambil anak panah beserta busurnya kembali, lalu kuarahkan ke papan sasaran. Aku terus mencoba agar anak panahku melesat tepat di tengah.
Semakin lama, semakin terbiasa. Walaupun tanganku lecet-lecet dibuatnya. Alhasil, aku mulai terbiasa memanah dengan jarak pandang yang lebih jauh lagi.
Akan kutunjukkan kemampuanku padanya.
Aku terus saja berlatih di malam hari dengan bantuan penerangan taman. Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Rasa kantukku kembali datang. Aku kemudian meminta tolong kepada para penjaga untuk membereskan alat latihanku.
Keesokan harinya...
Pagi ini cuaca mendung, sang surya terlihat tertutupi awan hitam. Aku meminta tolong kepada Mbok Asri untuk mengirimkan surat izin tidak masuk bekerja kepada Cloud.
Aku terserang flu, berulang kali bersin dan rasanya tubuhku ini menggigil kedinginan. Kurasakan hati berpengaruh besar terhadap kesehatan tubuhku. Aku mencoba untuk rebahan saja karena tidak mampu melaksanakan tugasku.
Seharian aku tidur, bangun, lalu tidur lagi. Sampai malam datang, aku masih terbaring lemas di tempat tidur. Tenggorokanku pun masih terasa sakit untuk menelan.
Kudapatkan kabar jika Cloud belum kembali ke istana karena masih mengadakan pertemuan dengan para saudagar kaya di selatan kota. Aku jadi benar-benar merasa sendiri.
...
Menjelang pertengahan malam, aku terbangun karena lapar. Tubuhku pun masih menggigil karena demam. Namun, aku terkejut di saat melihat banyak orang di dalam kamarku. Mereka mengenakan pakaian hitam seperti pencuri.
"Siapa kalian?!" tanyaku kepada beberapa orang yang sedang mengobrak-abrik lemari dan laci meja kerjaku.
Salah satu dari mereka mendekat dan mendekap mulutku. Aku seperti tidak dapat bernapas.
"Ayo, cepat! Cari berkasnya!" Seseorang dari mereka memperingatkan yang lain.
Aku hampir kehilangan udara. Aku mencoba untuk melawan. Kuambil gelas kaca di meja yang berada di samping tempat tidurku lalu kupukulkan ke orang yang mendekap mulutku.
"Aghhh!"
Orang itu kesakitan lalu melepaskanku, aku segera berlari keluar kamar.
Sial! Pintu tidak bisa dibuka.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk membukanya, namun tak bisa. Kucoba untuk mendobrak pintu kamarku dari dalam, tapi salah satu dari mereka segera memegangiku.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" kataku berteriak.
"Merepotkan sekali, ikat dia!"
Sepertinya pimpinan penyusup kamar ini yang sedang memerintah. Aku tidak dapat melihat wajah dibalik penutup kepala itu.
"Tolong!!!" teriakku sekuat tenaga.
Aku berharap ada yang mendengar teriakanku. Namun, sepertinya situasi luar kamarku begitu sepi. Tidak ada satupun pengawal terdengar.
Mulutku ditutup kain, tanganku diikat ke depan. Dan kakiku sedang diikat namun belum terikat sepenuhnya. Aku masih mencoba untuk melawan. Kutendang paha orang yang mengikatku lalu kudorong kuat pintu kamar agar dapat terbuka.
__ADS_1
"Dapat!"
"Ayo, cepat!"
Orang-orang itu berjalan cepat, keluar dari kamar melewati jendela yang terbuka.
Sial!
Aku kehilangan mereka. Sepertinya mereka bukan mengincarku, tapi mengincar rancangan busana yang kubuat.
Akupun terus mendobrak pintu dari dalam, namun tetap tak bisa. Tidak tahu apa yang terjadi di luar sana sehingga pintuku ini tidak dapat dibuka.
Aku berlari menuju jendela. Kulihat jika jendela kamarku cukup tinggi. Tidak ada jalan lain selain harus melompat dari jendela.
"Aduh!"
Kakiku terasa sakit saat menapaki tanah. Kulihat suasana begitu sepi. Namun tiba-tiba, terdengar pengawal berteriak.
"Ada penyusup!!!"
Ternyata benar ada penyusup di istana malam ini. Aku kemudian berlari untuk meminta pertolongan.
"Nona Ara. Astaga!"
Mbok Asri melihatku berjalan lunglai. Dia segera membantuku melepaskan ikatan di tangan dan mulutku.
"Mbok, di mana Pangeran?"
"Nona, sebaiknya jangan mencari Pangeran terlebih dulu."
"Kenapa, Mbok? Aku harus bertemu. Ada penyusup yang berusaha mengacak-acak dan mencuri berkas-berkas kita. Aku harus menemui Rain."
Aku segera bangkit, lalu berjalan untuk mencari Rain. Langkah kakiku belum dapat berjalan dengan sempurna karena masih terasa sakit.
"Nona, jangan!"
Mbok Asri berusaha menahanku, namun aku menolaknya. Aku segera mencari Rain, berlari semampuku. Namun ternyata...
...
Sesampainya di ruang tengah istana, aku melihat Rain tengah tersudutkan.
Rain dikepung?!
Kulihat banyak ujung mata pedang di arahkan kepadanya. Akupun mengintip dari balik dinding untuk melihat kondisi yang tengah terjadi.
"Jatuhkan pedangmu atau wanita tua ini akan mati!"
Seorang penyusup mengancam Rain, kulihat Bibi Rum tengah ditawan salah satu penyusup itu.
"Perintahkan anak buahmu untuk membuang senjata mereka. Cepat!"
Rain seperti memakan buah simalakama. Dia mau tak mau memerintahkan para prajuritnya untuk membuang senjata dan tidak melawan para penyusup itu.
__ADS_1