
"Nona!"
"Pa-pangeran ...."
Tubuh Ara terhuyung ke belakang. Ia terpeleset saat mencoba berdiri sendiri. Tubuhnya pun perlahan jatuh. Melihat hal itu, Zu segera menariknya agar tidak sampai terjatuh. Namun, takdir berkata lain. Zu yang ingin menolong Ara ternyata juga ikut terpleset. Ia akhirnya jatuh bersama Ara.
Pangeran ...?
Zu memeluk Ara dengan erat saat keduanya akan jatuh. Dan tak ayal, mereka pun jatuh bergulingan dari atas bukit. Zu melindungi gadis itu agar tidak terkena benturan tanah bukit yang keras. Tubuh keduanya bergulingan hingga sampai di kaki bukit pohon surga. Zu masih melindungi Ara dengan terus memeluknya.
Perasaan ini ... mengapa aku merasa sangat nyaman bersamanya?
Zu tidak mengerti. Kedua matanya masih terpejam, namun hatinya terasa sangat damai. Tubuh hangat gadis itu masih berada di pelukannya.
"Pa-pangeran ...."
Ara kemudian membuka kedua matanya. Suaranya terdengar serak karena tidak percaya dengan hal yang baru saja terjadi. Dan ia menyadari jika sedang berada di atas tubuh seorang pria yang baru saja ia kenal.
Aku merasa dejavu dengan hal ini.
Ara teringat bagaimana pertama kali ia tiba di bukit pohon surga. Ia juga jatuh di atas tubuh Cloud.
"Pa-pangeran."
Ara lantas berusaha bangun dan melepaskan diri dari pelukan Zu yang melindunginya. Zu pun perlahan membuka kedua mata, ia melihat gadis itu dari jarak yang begitu dekat. Jarak yang hanya beberapa senti saja.
Jantung Zu berdegup kencang, begitu juga dengan Ara. Wajah mereka berdekatan hingga hangat napas itu bisa dirasakan oleh keduanya. Terlebih Zu yang tertimpa tubuh Ara, aliran darahnya seketika berpacu cepat saat merasakan getaran aneh pada tubuhnya itu.
"Nona ...."
Kedua tangan Ara tepat berada di atas dada Zu, sedang kedua tangan Zu melingkar di tubuh gadis itu. Zu menatap lembut sang gadis. Dan entah mengapa, pikirannya menjadi ringan seketika. Wajah gadis itu meluluh-lantakkan hatinya.
Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Zu bertanya-tanya dalam hati.
Pangeran, apakah kau yang kulihat di dalam mimpi? Ara juga ikut bertanya di dalam hatinya.
Ara seperti pernah melihat Zu. Namun, ia belum berani memastikan jika waktu itu adalah Zu yang masuk ke dalam mimpinya. Mereka masih saling berpandangan ditemani semilir angin yang berembus.
Nona, kaulah wanita yang kucari. Zu tak henti-hentinya menatap Ara.
Pangeran Zu, mengapa aku merasa tenang saat berada di dekatmu? Ara bingung sendiri dengan kejadian menimpanya.
__ADS_1
Waktu serasa melambat saat keduanya berdekatan. Alunan merdu detak jantung Zu pun dapat terdengar jelas di telinga Ara. Pangeran itu menatapnya dalam, seolah menginginkan sesuatu darinya.
"Ma-maaf, Pangeran."
Ara segera melepaskan diri. Ia bangkit seraya merapikan gaunnya. Zu pun ikut bangkit, melepaskan pelukannya begitu Ara tersadar dari kejadian ini. Ia lalu duduk menyamping di sisi kiri sang gadis.
"Nona, keningmu!"
Zu melihat kening gadis itu sedikit berdarah karena terkena benturan tanah bukit. Ia lantas ingin mengobatinya.
"Keningku?" Ara memegang keningnya. "Da-darah?" Ara tampak panik.
"Aku akan mengobatinya."
Zu dengan sigap mengambil sapu tangan dari dalam sakunya. Ia kemudian mengusap dahi Ara yang berdarah. Sikap Zu ini tentu saja membuat hati Ara terenyuh.
Ia tidak merasa sungkan sama sekali? Apa ini hanya perasaanku saja?
Entah mengapa Ara semakin khawatir dengan hal ini. Ia takut terjadi sesuatu padanya. Ia lalu menepiskan tangan Zu.
"Ma-maaf, Pangeran. Kita kembali saja ke atas bukit."
Ara segera melepas sepatunya lalu menjinjing gaunnya itu. Ia lekas-lekas berjalan naik ke atas bukit dan meninggalkan Zu sendirian. Ia tidak ingin terjadi salah paham karena hal ini.
Seketika itu juga Zu merasa sedih dengan balasan yang Ara berikan padanya. Perhatiannya ternyata dicampakkan begitu saja. Ia lantas mengejar Ara dan mencoba bersikap biasa. Namun, di dalam hatinya ia masih menginginkan kebersamaan itu.
Dua jam kemudian...
Kini para pangeran dan putri sedang mengadakan permainan di dekat air terjun. Yang mana permainan itu berisi misi menyelamatkan seorang putri yang tenggelam. Mereka berbasah-basahan melakukan permainan ini. Namun, ada kesan tersendiri bagi pribadi masing-masing, tak terkecuali Ara.
Di bawah air terjun itu aku masih ingat bagaimana Cloud mendekatiku. Aku bisa merasakan betapa detak jantungku berdegup kencang tak menentu. Dan kini, dia menjadi milikku.
Ara tersenyum sendiri saat mengenang kejadiannya bersama Cloud. Ia masih bisa merasakan hangat napas Cloud waktu itu yang seolah ingin menciumnya.
"Pangeran Nick pemenangnya!"
Suara seruan terdengar keras dari asisten Ara saat mengumumkan salah seorang pangeran telah berhasil memenangkan lomba penyelamatan putri yang tenggelam. Kecepatan berenang para pangeran diuji di sini. Dari lima belas pangeran, terpilih tiga pangeran yang akan berlomba di sesi terakhir.
"Baiklah, kita makan dulu."
Ara tersadar dari lamunannya. Ia mempersilakan para putri dan pangeran untuk menyantap hidangan yang dibawa sebelum menuju sesi terakhir acara. Tampak para pangeran yang membuka jubah kerajaannya, sehingga tubuh-tubuh maskulin mereka itu terlihat dengan jelas. Pemandangan ini tentunya memukau mata para putri kerajaan.
__ADS_1
"Silakan dimakan, Putri."
Ara berkumpul dengan para putri dan makan bersama. Sedang asistennya berkumpul dengan para pangeran. Mereka bersantap untuk mengganjal perut agar tidak kembung saat terkena angin sore.
"Nona Ara, kau tidak ingin ikut mandi nanti?" tanya salah seorang putri kepadanya.
"Ikut saja, Nona. Tidak adil rasanya jika yang lain berbasah-basahan sedang Nona tidak," bujuk putri yang lainnya.
Ara yang menjadi pendamping dibujuk untuk ikut berbasah-basahan bersama. Dan akhirnya, ia mau tidak mau memenuhi permintaan para putri itu. Hanya ia seorang yang belum basah terkena air terjun. Lantas saja ia menjadi misi penyelamatan ketiga pangeran yang berhasil masuk ke babak final.
Astaga, ini akan sangat merepotkan.
Selesai makan, Ara berperan sebagai putri yang tenggelam. Ia mengambang di dekat air terjun menunggu pangeran datang menyelamatkannya. Para putri dan pangeran lain menjadi saksi lomba tersebut. Dari jarak sepuluh meter, ketiga pangeran sudah siap untuk menyelamatkannya.
"Bersedia ... siap ... ya!"
Asisten Ara memberi aba-aba untuk segera berenang menyelamatkannya. Ketiga pangeran pun beradu cepat untuk menyelamatkan Ara. Teriakan dan dukungan dari pangeran lain terdengar memenuhi seisi air terjun. Hingga akhirnya, salah satu pangeran berhasil menyelamatkannya.
"Pengeran Zu pemenangnya!" seru asisten Ara saat melihat Zu menyentuh tubuh Ara pertama kali.
Tepuk tangan dan sorak-sorai pun mengiringi kemenangan Zu di sore ini. Ia berhasil menjadi juara pertama adu kecepatan menyelamatkan putri yang tenggelam. Ara pun digendong Zu menuju tepi air terjun. Gendongan ala pengantin itu membuat siapapun iri melihatnya.
"Pangeran."
Ara menatap pangeran penyelamatnya dari bawah. Begitu juga Zu yang melihat Ara dengan tatapan tertariknya. Hingga akhirnya, di tepi air terjun telah menunggu piala penghargaan untuk Zu dan kedua pangeran lain. Ara pun diturunkan sebelum penyerahan piala itu.
Mengapa harus dia yang menang?
Tubuh Ara kini basah bersama gaunnya. Namun, di benaknya masih memikirkan hal ini. Ada rasa penasaran atas apa yang terjadi padanya.
Tidak mungkin jika ini sebuah kebetulan.
Penyerahan piala kemenangan akhirnya dilakukan. Para pangeran lain tampak menyalami Zu, mengucapkan selamat atas keberhasilannya karena telah memenangkan lomba ini.
Mereka tersenyum penuh sportifitas dan mengakui jika Zu memang pantas menjadi pemenangnya. Zu pun tertawa saat menerima piala kemenangannya. Diam-diam ia mencuri pandang ke gadis yang ia selamatkan tadi.
Aku bersemangat bukan karena pialanya. Namun, karena dirimu yang menjadi putri itu, Nona.
Zu memperhatikan Ara dari jauh.
"Baiklah, silakan berenang di sekitaran air terjun. Sebentar lagi para pelayan akan sampai dan membantu berganti pakaian." Asisten Ara memberi tahu para pangeran dan putri kerajaan.
__ADS_1
Mereka dipersilakan jika ingin berenang di sekitaran air terjun. Ara sendiri menjadi pengawas para putri tersebut, sedang asistennya berjaga di atas sambil menunggu para pelayan wanita datang untuk membantu para putri berganti pakaian.
Hari ini tampak keceriaan di wajah para putri dan pangeran yang menjadi tamu kehormatan istana. Mereka tampak menikmati beberapa permainan yang disuguhkan pihak Angkasa.