Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Beside of You


__ADS_3

"Sejak kecil, kakeklah yang mendidikku. Pekerjaan sebagai seorang raja tidak membuatnya lupa untuk bermain bersamaku. Ayah sangat sibuk mengurusi rakyat. Hingga kadang saat ayah pulang bekerja, aku sudah tertidur lelap. Sedang ibu mulai kewalahan mengurus Rain."


"Cloud, jangan jadikan kematian mendiang kakek sebagai beban untukmu. Tapi buatlah dia bangga akan kerja kerasmu yang melanjutkan perjuangannya."


Cloud melepaskan diri dariku. Dia mengusap air mata dengan sapu tangan miliknya. Dengan segera dia menghabiskan teh lalu memakan sebutir kue.


"Kau tahu, Ara. Hanya di hadapanmu aku berani menangis. Seumur hidup aku tidak pernah sepercaya ini kepada seseorang. Aku berharap kau tidak akan menceritakan hal ini kepada siapapun," pintanya.


"Tenang saja. Kau bisa mempercayakannya padaku."


Aku tersenyum gembul di hadapannya dan membuat dia tertawa. Malam ini kami lalui tanpa kesalahpahaman. Kini aku sedikit memahami mengapa sikap Cloud berubah waktu itu.


"Hei, waktu itu kau bilang aku berat, kan?"


Tiba-tiba aku teringat pertanyaan yang telah kusimpan lama. Segera saja kutanyakan kepadanya apa maksud dari kata-katanya itu.


"Berat? Waktu di bukit?" tanyanya.


Aku pun mengangguk. Sepertinya pengalihan ku berhasil malam ini. Cloud sudah tidak sedih lagi. Tersirat dari perubahan di roman wajahnya.


"Hm ... kau marah ya, Ara?" tanyanya seperti takut.


"Aku tidak marah, tapi hanya penasaran mengapa kau dapat berkata seperti itu, padahal aku tidak gendut!"


Sengaja intonasi ucapan kunaikkan agar Cloud yakin jika aku tidak menyukai kata-katanya waktu itu. Dan berharap Cloud dapat melupakan kesedihannya, berganti keceriaan saat bersamaku.


"Eh! Aku tidak bilang gendut. Aku hanya bilang berat, kan? Itu dikarenakan kau berada di atas tubuhku." Cloud membela diri.


"Tapi seberapa beratnya aku?" tanyaku lagi.


Cloud lalu mengajakku berdiri. Dia memintaku untuk merentangkan kedua tangan. Sedikit aneh, namun aku menurutinya.


"Ara, apa kau tidak menyadari akan bentuk tubuhmu sendiri? Kau tidak lihat pinggangmu ramping sedang pinggul dan dadamu terlihat penuh."


Cloud memegang sedikit pinggangku, sekedar memberitahu. Namun, dia tidak berani memegang di bagian pinggul dan dada. Cloud memang benar-benar sosok pria yang dapat menjaga kehormatan seorang wanita.


"Astaga, apa yang telah aku lakukan." Cloud seperti menyesali perbuatannya. "Ara, sebaiknya kita beristirahat. Aku khawatir obrolan ini akan berlanjut."


Cloud beranjak pergi meninggalkanku seraya tertawa sendiri. Aku pun tidak ingin ketinggalan darinya. Aku segera mengejar Cloud lalu berjalan di depannya.


"Jadi ternyata ... tak kusangka, ya. Malam ini tak kusangka."


Aku mencoba menggoda Cloud atas apa yang baru saja terjadi.


"Ara, jangan menggodaku." Cloud tampak risih.


"Ternyata oh ternyata ...."

__ADS_1


"Hentikan, Ara!"


Cloud seperti ingin menangkapku, namun aku segera menghindar. Aku berlari darinya, sementara dia mengejarku di jalan setapak ini. Kunang-kunang malam menjadi saksi akan aksi kejar-kejaran kami.


"Ara, tunggu aku!"


Aku melihat kebahagiaan yang tersirat di wajahnya. Namun, karena rasa lelah menerjangku, akupun berhasil ditangkap oleh Cloud. Dia lalu memelukku dari belakang. Kami pun tertawa bersama malam ini.


"Dasar!" ucapnya lalu melepaskanku.


Kami kemudian berjalan bersama menuju kamar masing-masing. Sinar rembulan yang terang terasa menghangatkan malam yang dingin.


Keesokan harinya...


Hari ini aku mendapat libur dari Cloud. Namun tidak untuknya, dia seperti masih sibuk dengan banyak pekerjaan.


Sengaja aku tidak mempedulikan ayam jantan berkokok pagi ini. Aku bangun malas-malasan lalu tidur lagi. Waktu liburku harus dinikmati dengan baik.


Aku kembali terpejam dan menikmati destinasi mimpiku. Entah sudah berapa lama aku tidur, samar-samar aku mendengar suara seseorang dari jauh. Lama kelamaan suara itu membesar.


"Ara, bangun! Kau ini malas sekali!"


Selimutku ditarik olehnya. Namun, kutarik kembali selimut itu. Aku begitu malas membuka kedua mataku, rasa kantuk masih mengunciku di tempat tidur.


"Dasar kau, ya!"


Seseorang itu kembali menarik selimutku. Kali ini selimutku dibuang olehnya ke lantai, sehingga tampaklah aku yang sedang mengenakan pakaian tidur. Berupa baju terusan sampai lutut dengan rompi yang menutupi lenganku.


Tubuhku ditarik lagi olehnya, aku didudukkan, tapi aku tidur lagi. Dia mendudukkanku lagi, namun aku tidur lagi. Seseorang itu sepertinya sangat kesal denganku.


"Ara, kalau kau tidak bangun juga ...."


Tiba-tiba aku merasa seperti melayang di udara. Pelan-pelan kusadari ternyata tubuhku sedang digendong pada pundak seorang pria yang sepertinya kukenal.


"Hei! Lepaskan aku!"


Menyadari siapa yang menggendongku, aku segera meronta minta diturunkan.


"Turunkan aku, Rain! Turunkan!" kataku setelah tahu jika Rainlah yang mengganggu mimpi indahku di pagi hari.


"Tidak. Aku tidak akan menurunkanmu sampai kau bangun."


"Kau mau membawaku ke mana, hah?" tanyaku bingung karena Rain terus saja berjalan.


"Aku akan membawamu ke kamar mandi. Aku akan memandikanmu agar kau bangun dari tidurmu," jawabnya.


"Ap-apa? Ti-tidak! Jangan! Jangan macam-macam kau, Rain!"

__ADS_1


Pintu kamar mandipun dibuka olehnya. Dia tidak mempedulikan teriakanku. Para penjaga tentunya tidak ada yang berani mengusik kami di dalam. Padahal kutahu mereka pasti mendengar teriakanku.


"Aku akan menurunkanmu jika kau berjanji akan menemaniku hari ini."


Apalah dayaku yang terdesak. Mau tak mau, aku berjanji kepadanya agar dia menurunkanku dan tidak jadi memandikanku.


"I-iya. Iya, aku janji."


Aku begitu terburu-buru mengucapkannya. Rain pun tidak jadi meneruskan langkahnya. Dia menurunkanku tepat di depan pintu kamar mandi.


"Kau ini. Susah sekali dibangunkan."


Dia mencubit kedua pipiku dengan gemas. Tampaknya dia menikmati pemandangan polos seorang gadis yang baru saja terbangun di pagi hari.


"Tanpa make-up pun kau cantik, Ara." Rain memujiku.


"Huh! Pagi-pagi sudah menggombaliku. Pergi sana, aku mau mandi!"


Aku mengusirnya, namun dia tidak mau pergi, membuatku kesal saja. Mungkin memang keahliannya membuat orang kesal.


"Aku tetap di sini," katanya.


"Hah! Apa? Kau mau mengintipku mandi, ya?!" tanyaku kesal.


"Aku tidak mengintip. Aku hanya melihatnya." Rain tersenyum nakal.


"Rainnnn!!!"


Aku benar-benar dibuat kesal olehnya. Sudah tidurku diganggu, diminta keluar kamar juga tidak mau. Mungkin aku harus mengikuti permainannya.


"Kau tidak mau keluar? Baiklah."


Aku kemudian melepas rompi baju tidurku di hadapannya. Sontak hal itu membuatnya terkejut. Aku gibaskan rambutku lalu mulai menurunkan satu tali baju tidurku. Rain tampak menelan ludahnya.


"Kau masih tidak mau keluar?"


Aku sengaja bersikap seperti ini agar dia mau keluar dari kamarku dan membiarkanku dalam ketenangan.


"Ara ... kau berlebihan."


Aku tahu ada sesuatu yang bereaksi atas aksiku kali ini. Satu tali sudah jatuh, sepertinya harus ditambah lagi. Akupun mulai menurunkan tali baju tidurku yang satunya.


"Ar-ar-ara. Cukup. Jangan dilanjutkan. Aku takut tidak dapat mengontrol diriku. Aku keluar. Aku menyerah."


Rain segera keluar dari kamarku lalu menutup pintu. Aku berlari untuk mengintipnya dari balik jendela kamar. Kulihat dadanya naik-turun seperti menahan sesuatu. Berulang kali dia mengusap kepalanya sendiri.


"Hem, rasakan! Jangan salahkan perempuan jika kami sudah beraksi."

__ADS_1


Senyum seringai penuh kemenangan tersirat dari wajah polosku. Rasanya aku ingin tertidur lagi setelah Rain keluar dari kamarku. Tapi janji sudah terucap, mau tak mau aku harus memenuhinya.


Kuambil kain dan handuk lalu segera menyegarkan tubuhku. Tak baik juga jika mandi terlalu siang, bisa membuat pembuluh darah tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik.


__ADS_2