Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
First Love


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Moon merenungi kata-kata suaminya. Ia berdiri di teras balkon lantai tiga istana seorang diri. Menatap taman depan seraya mengingat mendiang ayahnya. Tiba-tiba terbayang jika ia sedang bermain bersama cucu-cucunya di taman depan istana.


Aku telah banyak melakukan kesalahan. Apakah pintu maaf masih terbuka untukku?


Moon membayangkan kebahagiaan saat bermain bersama cucunya. Di usianya yang memasuki senja, tersirat keinginan besar untuk segera menimang cucu. Ia ingin kedua putranya memberikan cucu yang cantik jelita dan gagah rupawan. Moon berkhayal dalam lintas imajinya. Dan tanpa terasa, buliran air mata itu jatuh membasahi pipinya yang mulai keriput.


Semilir angin memasuki siang ini menemani kesedihannya akan harapan kepada sang putra, Cloud dan Rain. Ia menginginkan kebahagiaan itu segera tiba sebelum habis masa usianya.


Lain Moon, lain juga dengan Sky. Sang raja baru saja mendapat kabar dari Menteri Luar Negerinya, Shane. Sebuah kabar mengejutkan ia terima siang ini. Sky pun meminta pengawal yang berjaga di depan ruangannya agar segera memanggilkan Menteri Dalam Negeri, Count.


Beberapa saat kemudian, Count datang dan masuk ke dalam ruang kerja sang raja. Sky lalu meminta Count agar duduk di samping Shane, untuk membicarakan tentang kabar yang diterima pihak istana.


"Rain mengabarkan jika telah berhasil memenangkan peperangan. Namun, dia tidak bisa segera kembali ke istana. Saat ini dia sedang berada di Aksara." Sky menuturkan.


"Aksara?!" Count terkejut.


"Ya. Rain mengambil alih pemerintahan Aksara dan mengurung semua pejabat yang berkepentingan di sana. Dia memang nekat sekali." Sky mengusap wajahnya.


"Lalu bagaimana dengan rakyat Aksara, Yang Mulia?" tanya Count khawatir.


"Ini seperti penaklukan yang dilakukan oleh para leluhur dahulu. Dan Rain mengulanginya. Dia meyakinkan rakyat jika tidak akan terjadi pertumpahan darah dalam penaklukan Aksara." Sky menjawabnya segera.


"Lalu?" Count semakin cemas.


"Rain mengeksekusi mati Land di depan rakyatnya."


"Apa?!!" Count terkejut bukan main.


"Pangeran Rain meminta kita untuk terus waspada atas penyerangan yang terjadi kemarin. Kelima negeri sekutu Aksara mengajukan perjanjian damai kepada pangeran, namun pangeran menolaknya. Saat ini para panglima dari kelima negeri sekutu itu disekap oleh pangeran Rain di penjara Aksara." Shane menambahkan.


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Yang Mulia?" tanya Count, meminta perintah dari Sky.

__ADS_1


"Peperangan kemarin mengakibatkan banyak prajurit kita yang mengalami luka-luka. Aku ingin Angkasa menunjang semua kebutuhan keluarga prajurit sampai prajurit kita pulih dari luka-lukanya," tutur Sky kepada Count.


"Yang Mulia, apakah ada korban di pihak Angkasa?" tanya Count lagi.


"Dari surat yang kuterima, tidak ada korban dari pihak Angkasa. Ini memang sulit dipercaya. Tapi mungkin putraku sudah menyusun strategi terbaiknya untuk meminimalisir korban peperangan."


"Syukurlah." Count akhirnya bisa bernapas lega.


"Tuan Shane, tolong pastikan semua prajurit berkecukupan selama berada di Aksara. Jangan sampai mereka meminta-minta kepada rakyat karena kekurangan bahan pangan. Pastikan juga penambahan pasukan untuk melindungi pasukan yang telah bertugas. Aku khawatir mereka kelelahan dan hal ini dimanfaatkan oleh pihak yang berseberangan." Sky berpesan.


"Baik, Yang Mulia." Shane menanggapi dengan cepat.


"Dan tolong persiapkan hadiah untuk para prajurit yang sudah bertugas selama dua hari ini di istana. Beri mereka penghargaan atas pengabdiannya kepada negeri. Untuk hal yang berkaitan dengan keuangan, Tuan Count bisa memintanya kepada Cloud." Sky berpesan lagi.


"Baik, Yang Mulia." Count pun menyanggupi.


Akhirnya sang putra bungsu Angkasa berhasil menaklukkan Aksara tanpa pertumpahan darah. Cara yang digunakan oleh Rain benar-benar membuat negeri sekutu Aksara menyerah dan mengajukan perjanjian damai. Dan kini sang panglima sedang mengurus segala administrasi di negeri itu. Ia mengambil alih kekuasaan Land yang otoriter terhadap rakyatnya.


Hujan tiba-tiba turun, semakin lama semakin deras. Ara pun berteduh di bawah atap gazebo yang cukup luas. Namun karena di ruangan terbuka, angin tidak bisa berkompromi dengannya. Ara kedinginan.


"Cloud, aku kedinginan."


Hujan ini membuat Ara harus meringkuk di atas kursi rotan panjang. Kursi beralaskan busa tebal itu menjadi tempat berlindung sang gadis dari dinginnya hujan. Cloud pun segera melepas jubahnya lalu dipakaikan ke tubuh Ara.


"Apa masih terasa dingin?" Cloud duduk di samping sang gadis.


"Cloud, cuaca tiba-tiba berubah. Apakah terjadi sesuatu?" Ara mulai cemas.


"Tidak ada, Ara. Mungkin ini pertanda akan segera terjadi pergantian musim," jawab Cloud seraya melihat ke atas.


"Pergantian musim?"


"Ya, benar. Sebentar lagi musim panas akan datang. Dan kau tahu ada apa di musim panas itu?" tanya Cloud sambil mencolek hidung gadisnya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu," jawab Ara yang polos.


"Awal musim panas adalah hari di mana aku dilahirkan. Apa kau ingin merayakannya bersamaku?" tanya Cloud yang sontak membuat Ara terperanjat kaget.


"Benarkah?!" Ara membelalakkan kedua matanya.


"Ya. Saat itu usiaku nanti akan genap dua puluh tiga tahun. Dan tiba waktunya untuk menikah." Cloud tersenyum kepada gadisnya.


"Maksudmu?" Ara sedikit ragu.


"Kita akan menikah, Ara." Cloud serius dalam senyuman manisnya.


"Cloud ...." Seketika hati sang gadis terenyuh mendengarnya.


"Ara." Cloud mulai menatap dalam gadisnya. "Menikahlah denganku. Hiduplah bersamaku hingga akhir masa tuaku. Kau mau, kan?" tanya Cloud yang membuat Ara gugup.


"Ak-aku ...."


"Aku amat mencintaimu, Ara. Hanya dirimu yang bertahta di hati dan pikiranku. Terimalah aku sebagai suamimu. Jangan merasa sungkan ataupun segan kepadaku. Apa yang aku punya adalah milikmu."


"Cloud ...."


Ara seperti terhipnotis dengan kata-kata yang Cloud ucapkan. Terlebih tatapan kedua bola mata Cloud yang membuatnya menyerah tiada berdaya. Ia kemudian memeluk sang pangeran tanpa ragu.


Ara ... aku sudah merencanakan semuanya. Tolong terima aku jadi suamimu.


Kedua mata Cloud berkaca-kaca setiap mengucapkan kata per kata kepada gadisnya. Ara pun terharu dengan ketulusan Cloud. Ia bingung harus mengiyakan atau menolaknya. Ia sendiri tidak tahu akan ke mana arah cerita cinta ini.


Cloud membalas pelukan Ara dengan erat dan hangat. Hujan angin ini membuat sang pangeran harus melindungi Ara dari rerintikkan yang memasuki gazebo dengan bebasnya. Dan akhirnya, sang gadis berlindung di pelukan pangerannya dalam waktu yang lama. Sampai sang hujan berhenti terbawa angin yang berlalu.


Cloud ... maafkan aku. Aku tidak tahu harus ke mana. Aku bingung sejadi-jadinya. Maaf aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Aku harus membicarakan hal ini dengan hatiku sendiri. Aku harap kau tidak memaksaku untuk menjawabnya.


Lagi dan lagi, dilema antara cinta kedua pangeran membuat sang dewi kewalahan. Ia bingung harus mengambil langkah apa. Namun, yang ia tahu saat ini sedang berada dalam pelukan hangat salah satu pangeran yang dicintainya. Dialah Cloud, si putra sulung kerajaan Angkasa yang telah menjadi cinta pertamanya.

__ADS_1


__ADS_2