Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
We are Love


__ADS_3

"Ara, apa sebenarnya yang terjadi?"


Tatapan dari bola mata birunya itu seolah memaksaku untuk memberikan jawaban jujur. Cloud memegang kedua lenganku sambil sesekali menoleh ke arah Rain yang ada di dalam kamar mandi.


Aduh, bagaimana ini?


Aku bingung harus menjawab apa. Pastinya Cloud akan berpikiran macam-macam. Terlebih rompi gaun tidurku dipegang oleh Rain.


"Rain, apa yang ingin kau lakukan pada Ara?" Cloud berdiri, dia berjalan mendekat ke arah Rain.


"Cloud, tunggu!" Aku segera menahannya. Bersamaan dengan itu Rain keluar dari kamar mandi.


"Tidak ada yang kulakukan. Jikapun ada, itu bukan urusanmu," cetus Rain yang berjalan mendekat ke Cloud.


Tolong, jangan lagi.


Aku merasa keadaan ini kurang baik untuk kami. Akupun segera memisahkan keduanya.


"Cloud, Rain. Tolong jangan bertengkar."


Aku berada di antara keduanya yang saling menatap tajam. Kurentangkan kedua tanganku untuk memisahkan mereka. Aku khawatir jika akan terjadi keributan lagi.


"Rain, kau masih tidak mengerti jika Ara akan menjadi ratuku." Cloud berkata seraya menatap tajam adiknya.


"Hah, aku tidak peduli. Itu bukan urusanku," sahut Rain yang membuatku terperanjat.


Astaga! Dia mengulang kata-kataku tadi.


"Kau!"


"Cloud, sudah!"


Cloud tampak geram dengan adiknya itu. Akupun segera memeluknya dari samping, mencoba menahannya.


"Rain, keluarlah dari kamarku. Aku mau mandi terlebih dahulu," kataku meminta Rain untuk mengalah.


"Aku tidak akan keluar dari kamar dan membiarkanmu bersamanya, Ara." Rain menatap dingin kakaknya.


"Rain, tolong." Aku memohon.


"Aku akan keluar jika dia juga keluar," sahut Rain kepadaku.


Aku kemudian menatap Cloud. "Cloud, aku minta tolong, ya. Tolong keluar dari kamarku. Aku mau mandi terlebih dahulu."


Cloud merasa aku memihak kepadanya. Pelukanku ini memberi bukti jika aku lebih memilihnya. Dia menatapku lalu mengangguk pelan. Dengan segera kulepaskan pelukan ini darinya.


"Baiklah, aku minta jangan berkelahi. Bisa, kan?" tanyaku kepada keduanya.


Rain hanya diam, dia berjalan melewati kakaknya dengan tatapan yang dingin. Dia berlalu begitu saja sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. Rain tidak banyak bicara, sepertinya dia menahan kesal.

__ADS_1


Setelah Rain keluar dari kamar, kini giliran Cloud. Tapi sebelum itu, Cloud berpesan padaku.


"Ara, nanti kita akan makan siang bersama ayahku. Ingin kujemput atau datang sendiri?" tanyanya lembut.


"Em, aku sendiri saja," jawabku segera.


"Kau yakin?"


"Em, iya." Aku mengangguk.


"Baiklah, aku tunggu di lantai tiga. Di ruang kerja ayahku." Dia lalu mencium keningku.


Aduh, Cloud ini. Rain melihat tidak, ya?


Cloud masih sempat-sempatnya menciumku, padahal aku sudah sangat khawatir dengan hal tadi.


"Sampai nanti."


Dia tersenyum seraya berjalan meninggalkanku. Aku pun membalas senyumannya dan membiarkannya pergi. Segera kututup pintu kamar agar tidak ada yang masuk lagi.


"Astaga ... aku tidak bisa terus seperti ini. Setiap keduanya bertemu, aku merasa dunia ini akan hancur."


Kuhela napas panjang mencoba menormalkan detak jantung yang tidak menentu. Aku merasa tidak baik jika terus-menerus berada di posisi seperti ini. Kedua putra mahkota itu saling mempertahankanku.


Apa yang harus aku lakukan?


Entah sampai kapan ketegangan ini akan terus berlanjut. Aku harus mencari cara untuk menyudahi hal ini. Semoga saja segera kutemukan cara itu.


Aku baru saja selesai mandi. Sepertinya aku bangun terlalu siang hari ini. Badanku kurang bersemangat, mungkin terbawa lelah sehabis kemarin.


"Gaun ini saja."


Aku mengambil gaun berwarna putih dari lemari. Gaun yang memang sedikit terbuka. Tapi tak apa jika aku memakainya hari ini. Rambut panjangku bisa menutupi bagian bahunya yang terbuka.


Kupoleskan make-up pada wajahku. Sapuan blash on dan eye shadow orange menambah kesan ceria, sehingga aku terlihat lebih enerjik.


Mungkin lipglos warna peach saja.


Hari ini aku memang ingin kelihatan lebih ceria. Akupun tersenyum ke arah cermin setelah selesai bermake-up. Rambut pun kusisir dan kusampirkan ke bahu kanan dan kiriku. Aku membiarkannya tergerai begitu saja.


Kupakai juga mahkota kecil ini dari raja. Sebuah tiara yang sangat cantik sekali. Permata putih mengelilingi setiap sisinya.


"Baiklah, saatnya menggunakan parfum."


Kusemprotkan parfum kesukaanku ke seluruh tubuh. Aku menggunakannya lebih banyak agar dari jauh orang mengetahui kedatanganku. Sebuah parfum beraroma cokelat kental yang kata Cloud begitu menggairahkan. Aku jadi ingat kejadian di taman kecilnya itu.


Dia sangat menginginkannya.


Setelah kejadian itu, jujur saja aku merasa dimiliki olehnya. Cloud benar-benar menunjukkan hasratnya padaku. Dia tidak lagi menahan diri untuk menyalurkan semua perasaan yang ada. Aku jadi menginginkannya hal itu lagi.

__ADS_1


Cloud dan Rain memperlakukanku lebih dari seorang kekasih.


Aku tersenyum sendiri. Kedua putra mahkota ini seolah berebut untuk mendapatkan cintaku. Aku merasa beruntung karena bisa berada di antara keduanya. Andai saja Tuhan mengizinkan, aku ingin keduanya mendampingi hidupku kelak.


"Baiklah, aku sudah siap."


Kini aku telah siap untuk makan siang bersama raja. Aku tidak tahu mengapa bisa diundang makan siang bersama. Mungkin saja raja ingin lebih dekat kepada calon menantunya ini. Hahaha, aku tidak bisa membayangkan memiliki kedua putranya dalam waktu yang bersamaan.


Kulangkahkan kaki menuju lantai tiga istana. Lantai teratas dari sebuah gedung megah nan mewah yang sepertinya pernah kukunjungi. Ya, aku merasa dejavu dengan gedung istana ini.


Beberapa saat kemudian...


Setibanya di lantai tiga, kulihat dari kejauhan baik Cloud maupun Rain, tengah berdiri menyandar di sisi pintu yang berlawanan. Sepertinya mereka memang sedang menungguku. Segera saja aku mendekati keduanya.


"Ara, kau sudah datang?" Rain pertama kali menyapaku.


"Aku sudah menunggumu." Cloud melanjuti.


"Apakah aku terlambat?" tanyaku pada keduanya.


"Tidak." Mereka menjawab bersamaan.


Seketika itu juga aku menahan tawa. Kulihat keduanya saling melirik lalu kembali membuang pandangan dan beralih padaku.


"Mari kita masuk."


Rain memegang tangan kananku untuk segera masuk ke dalam ruangan. Cloud juga seperti tidak mau kalah, dia memegang tangan kiriku. Kami akhirnya masuk bersama ke dalam ruangan paduka raja.


Sesampainya di dalam, kulihat keempat menteri sudah duduk di sisi kanan sang raja. Mungkin makan siang ini akan sambil membahas sesuatu hal penting. Kulihat tidak ada ratu di dalam.


Entah apa yang akan raja bicarakan padaku. Aku mengikuti alurnya saja.


"Salam bahagia untuk Nona Ara."


Keempat menteri memberikan penghormatan, sesaat setelah melihat aku datang bersama kedua putra mahkota. Sepertinya raja telah membicarakan sesuatu kepada keempat menterinya ini.


"Silakan duduk, Ara."


Cloud menarik kursi, dia mempersilakan aku untuk duduk di dekatnya. Akupun duduk di tengah Cloud dan Rain, duduk berhadapan dengan keempat menteri kerajaan ini. Raja sendiri duduk di kursi utama yang berada di tengah kami.


Tak lama, para pelayan datang membawakan hidangan pembuka. Para pelayan begitu berhati-hati menghidangkannya.


"Silakan, Yang Mulia."


Raja terlebih dahulu mendapatkan hidangan, setelahnya barulah para menteri. Tapi anehnya, Cloud dan Rain tidak diberi.


Aku heran saat pelayan itu hanya meletakkan semangkuk besar salad buah di depanku. Seolah memberi kode agar aku yang menghidangkannya kepada kedua putra mahkota.


Baiklah, ini tidak berat untukku.

__ADS_1


Aku kemudian mengambilkan salad buah ini untuk kedua pangeran. Cloud terlebih dahulu mendapatkannya, disusul Rain. Raja dan para menteri tampak memperhatikan kami. Aku seperti sudah mempunyai dua orang suami saat ini, yang harus kulayani dengan baik.


__ADS_2