
Beberapa saat kemudian...
Hari masih gelap. Tapi kini aku dan Zu sudah berjalan bersama keluar dari kediamannya. Kami mengenakan pakaian olahraga. Dia berwarna putih, sedang aku berwarna hitam. Rencana kami akan berjalan mengitari halaman istana pagi-pagi.
Apa maksudnya mengajak ku berkeliling istana pagi-pagi ini?
Aku tidak tahu mengapa dia ingin sekali mengajak ku berkeliling istana pagi ini. Jam di dinding pun masih menunjukkan pukul lima pagi saat aku meninggalkan kediamannya. Tapi ya lagi-lagi tidak ada yang bisa kulakukan selain menuruti permintaannya itu.
"Pangeran, pelan-pelan saja larinya, ya. Sudah lama aku tidak lari pagi," kataku padanya.
Zu hanya diam, dia mengusap kepalaku seraya tersenyum. Dia pun mulai melangkahkan kakinya lebih cepat, memintaku mengikutinya.
Kami mulai berlari kecil dari kediamannya menuju halaman istana. Kulihat bintang di langit masih bersinar. Keadaan sekitar pun masih tampak sepi.
Dia adalah orang pertama yang mengajak ku lari pagi.
Kuakui jika Zu kini lebih mendekatkan dirinya padaku. Dia juga lebih berhati-hati dalam bersikap. Mungkin dia takut aku ilfeel karena sikapnya. Tapi, jujur saja hal itu membuatku merasa tidak enak sendiri. Aku ingin dia apa adanya saja, bagaimana sikap aslinya, karena tidak ingin ada hal yang ditutup-tutupi.
"Aku akan memanggilmu Ara jika kita sedang berdua. Boleh, kan?" tanyanya tiba-tiba seraya menoleh ke arahku.
Aku mengangguk cepat karena sudah mulai lelah. Zu langsung mengajak ku lari tanpa melakukan pemanasan terlebih dulu. Akhirnya, baru belasan meter seperti ini aku sudah merasa capek.
"Ara, kau masih kuat?" tanyanya yang kemudian berhenti.
"Aduh, Pangeran. Ini melelahkan, aku tidak sanggup," jawabku seraya memegangi kedua lutut.
Zu diam memperhatikanku, sedang aku segera duduk di rerumputan lalu meluruskan kedua kaki ini. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya, tapi aku merasa dia sedang berpikir yang aneh-aneh tentangku.
"Ara, bolehkah aku bertanya," katanya yang ikut duduk bersamaku di atas rerumputan.
"Tentang apa, Pangeran?" tanyaku sambil mengatur ulang napas yang terengah-engah.
"Tapi ... kau jangan marah, ya?" tanyanya lagi.
"He-em. Baiklah." Aku mengangguk.
"Em, apakah ...,"
__ADS_1
"...?"
"Apakah ...,"
"Apakah apa, Pangeran?" Dia seperti menahan pertanyaannya.
"Ara, apakah kau sedang mengandung?" tanyanya kemudian.
"Hah?! Ap-apa?!" Aku terkejut seketika.
"Aku merasa jika kau sedang mengandung. Apakah benar?" tanyanya ragu.
"Pangeran, darimana kau bisa berpikir seperti itu?" tanyaku, berusaha mengendalikan emosi.
"Kemarin-kemarin kau mual dan denyut nadimu melemah. Aku pikir kau sedang mengandung." Dia menundukkan wajahnya.
"Pangeran, aku masih perawan, tahu!" gerutuku yang menahan kesal.
Sontak Zu menatap ke arahku dengan cepat. Dia seperti terkejut mendengar hal yang kukatakan ini. Kulihat matanya berbinar-binar. Dia seperti senang sekali.
"Tapi, kau kelelahan baru berlari belasan meter saja." Zu tampak ragu.
"Maaf, Ara. Aku hanya ingin memastikan. Aku khawatir jika kau keguguran karena kuajak berlari," katanya lagi.
Oh ... jadi ini alasannya mengajak ku berlari keliling istana. Dia ingin mengetes aku hamil atau tidak. Astaga ....
Rasanya aku ingin tertawa sendiri karena ulahnya. Entah mengapa aku merasa dia begitu perhatian padaku. Senang sekali jika diperhatikan seperti ini. Ya, maklum saja. Aku anak pertama, jadi tidak tahu bagaimana kasih sayang seorang kakak. Jadi ya kuanggap saja perhatiannya ini adalah wujud kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Terlepas bagaimana perasaan Zu terhadapku.
"Pangeran, kau ingin membuktikannya?" Aku menantangnya karena gemas.
"Eh?!" Seketika dia gugup sendiri.
"Pangeran." Aku memegang tangannya. "Jika semua wanita yang kau kenal mual, apa itu berarti mereka sedang mengandung?" tanyaku lagi.
"Ara, aku hanya mencemaskanmu." Dia menatapku sedikit ragu.
"Iya-iya. Tak apa. Mungkin ini respon tubuhku karena menggigil kedinginan waktu itu. Terlalu lama di ruang bawah tanah, membuat tubuhku seperti membeku." Aku jadi teringat kejadian waktu itu.
__ADS_1
"Sudah, jangan diingat lagi." Zu menarik kepalaku agar bersandar di dadanya.
"Pangeran, aku tidak tahu jika kau tidak menolongku. Mungkin aku sudah lupa siapa diriku sendiri. Aku—"
"Ssst. Sudah, jangan diingat. Sekarang kita hadapi bersama masa yang akan datang. Aku berjanji akan menjagamu." Zu menenangkanku.
Entah mengapa saat bersandar di dadanya aku merasa nyaman sekali. Harum parfumnya yang lembut ikut menenangkan suasana hati dan pikiran ini. Dan kini tangannya mengusap-usap kepalaku.
Siapa sebenarnya jodohku?
Aku masih bingung dengan siapa nantinya akan melabuhkan bahtera kehidupan ini. Di depanku ada Zu yang setia menemani. Dan di Angkasa ada kedua pangeran yang kucintai. Haruskah aku memilih Zu agar adil untuk kedua pangeranku? Tapi sudah banyak kenangan yang tercipta antara aku dan keduanya. Tidak mudah bagiku untuk melupakannya begitu saja.
"Ara, berjanjilah untuk setia padaku. Temani aku melewati hari sampai tiba masa kita berpisah."
"Pangeran?" Aku beranjak melihatnya.
"Aku sungguh-sungguh dengan perkataanku. Ini bukanlah hasrat sesaat karena melihat semua kelebihan yang ada pada dirimu. Aku mencintaimu, sekarang, nanti, dan selamanya." Zu bersungguh-sungguh.
Segera kupeluk tubuhnya. Aku merasa tersentuh dengan ucapannya itu. Mungkin sudah saatnya bagiku untuk membuka lembaran baru bersamanya. Ya, aku akan mencoba dan akan terus mencoba. Semoga saja yang terbaik menyertaiku.
Ara mendoakan kebaikan untuk dirinya di tengah dilema dan kerinduan yang ia rasakan. Rupanya Zu memberikan apa yang Ara butuhkan saat ini. Kasih sayang, dukungan dan semangat Zu berikan kepada sang gadis. Dan tak ayal, Ara pun menerimanya dengan senang hati.
Zu pun merasa amat bahagia karena ternyata Ara tidak benar-benar mengandung. Sebuah berita baik ini begitu membuat hatinya tersanjung hingga melupakan masalah yang sedang terjadi. Zu semakin menyayangi Ara dan semakin ingin menyelesaikan serah terima tugasnya. Ia ingin segera menikahi gadisnya.
Secepat mungkin akan kuselesaikan serah terima pekerjaan raja ini. Dan setelahnya, aku akan menghamparkan altar pernikahan kita. Aku harap kau tidak lagi menghindarinya, karena aku benar-benar ingin berumah tangga bersamamu.
Ara ... jadilah ibu dari anak-anakku. Dan jadilah istri yang selalu setia mendampingiku. Karena aku akan menjadi suamimu, kini dan selamanya.
Seiring berjalannya waktu, Zu menemukan apa yang ia cari. Dan semakin sering bersama, Zu menyadari jika ia benar-benar ingin menjadikan Ara sebagai pendamping hidupnya. Yang mana tanpa Zu sadari, ia melupakan sesuatu.
"Pangeran Zu ...."
Seorang putri cantik berkulit putih melihat kemesraan yang Zu lakukan di depan kedua matanya. Putri itu sedang memegang pot bunga kecil dari kejauhan. Hatinya tiba-tiba saja merasa perih melihat apa yang terjadi.
"Jadi benar jika dia adalah kekasih pangeran?" Putri itu bertanya-tanya sendiri.
Entah mengapa rasa sesak kini melanda hatinya. Ia kemudian pergi dari tempat di mana ia berada, meninggalkan pemandangan yang tidak ingin dilihatnya. Air mata pun mulai berjatuhan dari mata sipitnya itu.
__ADS_1
Pangeran Zu, selama ini ternyata tidak benar-benar menyukaiku.
Ia berlari sambil menahan air mata yang jatuh. Hatinya terluka, tersayat oleh pemandangan pagi ini. Ia pun lekas-lekas kembali ke kamarnya, tidak mampu untuk meneruskan pagi.