Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
You and Me


__ADS_3

Menjelang malam...


Memasuki petang, aku mendapatkan informasi jika semua gaunku telah dicuci dan disetrika dengan rapi. Tapi yang anehnya, mengapa gaunku tidak ada di dalam lemari?


Aku telah menanyakan hal ini kepada semua pelayan di utara istana, namun semua jawabannya sama. Gaunnya sudah diletakkan kembali di lemari. Aku jadi bingung, di mana gaunku ini bersembunyi.


Apa jangan-jangan Rain yang menyembunyikannya?


Mau tidak mau pikiranku langsung tertuju padanya. Karena hanya dialah yang menabuhkan genderang perang denganku.


Aku harus menemuinya. Ini tidak bisa dibiarkan!


Aku segera berjalan cepat mencarinya. Perjalananku terasa panjang kali ini. Untuk menemuinya saja aku harus melewati puluhan ruangan.


Aku diarahkan seorang prajurit ke sebuah lokasi. Lokasi itu terletak di sisi barat istana. Aku memasuki lokasi itu, memasuki sebuah halaman yang cukup luas. Aku terus saja menuju pintu yang ada di hadapanku dengan penuh percaya diri. Dan ternyata, pintunya tidak terkunci.


Ini seperti masuk ke dalam sebuah rumah mewah.


Beberapa pelayan membungkukkan badannya saat melihat kedatanganku. Dan aku bertanya kepada mereka di mana gerangan Rain. Serentak mereka pun menjawab...


"Pangeran Rain sedang mandi di kolam, Nona."


"Bisakah kalian antarkan aku kepadanya?" tanyaku kepada para pelayan.


Pelayan-pelayan itu saling berpandangan. Kemudian salah satu dari mereka menjawabnya, "Maaf, Nona. Ada baiknya jika Nona masuk sendiri. Kami tidak berani."


Aku mengerti mengapa mereka menjawab seperti itu. Akupun menyetujuinya. Segera saja aku mengikuti salah satunya menuju sebuah ruang.


"Silakan, Nona."


Aku kemudian masuk ke dalam ruangan itu. Dan ternyata benar ada kolam renang yang cukup besar di dalam rumah ini.


Kulihat tidak ada siapa-siapa di sana. Kolam pun kosong, airnya tenang. Mataku mencari ke sekeliling kolam, tapi tak ada satupun yang kulihat.


"Kau mencariku?"


Suara itu mengagetkanku. Aku segera berbalik arah dan ternyata benar Rain berada di balik pintu. Sepertinya dia baru saja selesai berenang, terlihat dari celana pendeknya yang masih basah.


"Rain, cepat katakan di mana gaun-gaunku?!"


Aku tidak dapat berbasa-basi, segera saja kuutarakan tujuanku. Namun, Rain tidak menjawabnya, dia malah berjalan mendekatiku dengan tersenyum nakal.


"Rain, kau jangan macam-macam. Berhenti di situ!"


Aku memintanya berhenti agar tidak mendekat, tapi Rain semakin berani. Sedang aku sudah berada di ujung tepi kolam.


"Kau gadis yang membuatku menggelora, Nona."

__ADS_1


Rain mulai menggerakkan tangannya. Sepertinya dia ingin memegangku. Akupun berusaha mengelak, namun kakiku malah terpleset. Aku jatuh ke kolam.


Terdengar gemercak air yang kuat saat aku jatuh ke kolam. Tapi aku tidak jatuh sendiri di kolam ini. Aku bersama Rain.


"Rain ...."


Dia menatapku dengan pandangan aneh, Rain mendekapku. Tangannya mulai membuka simpul rambutku. Rambutku dibiarkan tergerai olehnya.


Kami saling berpandangan satu sama lain dengan tubuh yang basah. Aku pun berusaha untuk melepaskan diri darinya, namun tak bisa. Rain mendekapku erat sekali.


"Kau ingin gaunmu, bukan?"


Rain menarik kedua tanganku untuk melingkar di lehernya. Aku menolak, tapi tak kuasa melawan kekuatannya.


"Sudah turuti saja aku, Nona."


Rain lalu menaiki anak tangga yang berada di pinggir kolam sambil menggendong depan diriku. Hal ini benar-benar membuatku malu. Aku diperlakukannya seperti anak kecil.


"Rain, turunkan aku! Aku malu, Rain!"


Entah mengapa suaraku berubah menjadi berat. Kupejamkan kedua mataku. Tidak tahu harus bagaimana menutupi rasa maluku saat ini.


Terdengar Rain membuka pintu lalu berjalan menuju sebuah ruang. Tapi tak kudengar suara pelayan sedikit pun. Yang dapat kurasakan hanya hangat napasnya yang menyentuh permukaan kulit wajahku.


"Bukalah kedua matamu, Nona. Kita sudah sampai," ucapnya lalu menurunkanku dari gendongannya.


Entah mengapa, aku malah tidak ingin lepas saat ini. Aku masih ingin digendong olehnya.


Rain lalu membuka lemarinya, dan benar saja ternyata gaun-gaunku berada di dalam lemarinya yang besar.


"Rain, untuk apa kau lakukan semua ini?" tanyaku tak mengerti.


"Lebih baik kau segera berganti pakaian. Tak sadarkah jika dirimu basah kuyup?"


"Hei! Ini semua karena ulahmu!" cetusku.


"Sudah. Cepat berganti pakaian! Kutunggu di teras atap rumah. Jangan lama!"


Rain segera pergi meninggalkanku seorang diri di kamar. Aku berpikir Rain akan berbuat hal yang aneh kepadaku. Namun ternyata ... tidak. Ah! Aku benar-benar membenci pikiranku sendiri.


"Nona, Anda memerlukan bantuan?" tanya seorang pelayan perempuan dari luar kamar.


Aku segera membukakan pintu dan meminta bantuannya. Pelayan bilang aku diminta untuk mengenakan gaun yang berwarna merah. Sontak aku langsung berpikiran yang tidak-tidak karena gaun merah ini sedikit terbuka.


"Pangeran Rain sangat menyukai warna merah, Nona. Semoga Anda tidak salah paham."


Astaga! Lagi-lagi pikiranku ini.

__ADS_1


Aku menarik napas panjang. Ada baiknya jika aku tidak berpikiran buruk tentang Rain. Kucoba saja dulu. Jika dia macam-macam, barulah kulaporkan pada Cloud.


Aku kemudian diantar pelayan menuju teras atap rumah untuk bertemu dengan Rain. Entah apa yang akan Rain bicarakan. Aku ikuti alurnya saja.


...


Rain menungguku di teras atap rumah. Seperti biasa dia mengenakan pakaian formalnya sebagai seorang pangeran, jubah kerajaannya yang berwarna merah. Dia berdiri di pagar teras sambil memperhatikan keadaan di bawah istana.


"Kau sudah datang?"


Rain menyapaku saat suara sepatu tinggiku terdengar mendekatinya.


"Kemarilah. Kau akan melihat pemandangan istana dari atas."


Rain kemudian menarik tubuhku untuk lebih dekat ke sisinya. Caranya memperlakukanku kali ini begitu berbeda. Aku seperti terhanyut dengan sisi lain dari dirinya.


"Sampai saat ini kau belum pernah memperkenalkan dirimu padaku, Nona." Rain menoleh ke arahku.


"Baru kali ini aku merasa diabaikan oleh seseorang. Dan itu rasanya begitu sakit, ya?"


Rain tertawa kecil lalu tersenyum. Kedua matanya memandangi langit yang cerah berbintang.


"Entah mengapa aku begitu kesal. Rasanya aku ingin menculikmu saja, Nona," lanjutnya.


"Menculikku?"


Aku pun menyahuti perkataannya kali ini. Bukan karena aku tidak mendengar ucapannya sejak awal, namun aku masih melihat pemandangan indah istana dari teras atap rumahnya.


"Ya. Namun sepertinya, tidak perlu kulakukan karena kau sendiri yang datang padaku," katanya sambil menoleh ke arahku.


"Rain. Ini juga kan karena ...."


Sejenak perkataanku terjeda. Rain memberikanku sesuatu.


"Apa ini, Rain?" tanyaku.


Rain membukakan sebuah kotak berisi hadiah untukku. Sebuah kotak yang berisi...


"Kalung? Rain? Apa kau tidak salah?" tanyaku bingung.


"Tidak. Sepertinya aku tidak salah. Dan aku berharap tidak pernah melakukan kesalahan. Semua yang kulakukan bukan tanpa alasan. Dan kini kau pun sudah mengetahui alasannya, bukan?"


"Karena merasa diabaikan?"


"Menurutmu? Kau memang mengabaikan kehadiranku sejak awal. Selama ini semua orang hormat kepadaku. Segan, bahkan takut. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagimu."


"Rain—"

__ADS_1


"Ssst! Sebaiknya kau tidak menyela perkataanku."


Rain meletakkan jari telunjuknya di bibirku yang merah merona. Terasa jari jemarinya yang sedikit kasar, tidak seperti Cloud.


__ADS_2