
Petang hari di bukit pohon surga...
Setelah bermain di air terjun, kini rombongan pangeran dan putri sudah kembali ke perkemahannya. Menjelang malam, banyak pasukan khusus yang berdatangan ke bukit untuk bergantian jaga. Dan malam ini sekitar dua puluh pasukan khusus yang berjaga di sekitaran bukit.
Beberapa pelayan pria juga datang menemani kusir istana. Mereka berkemah di kaki bukit sambil menjaga kuda-kudanya. Sedang para pelayan perempuan dibiarkan kembali agar para putri bisa lebih mandiri.
"Sepertinya kayunya sudah cukup."
Malam ini akan diadakan acara api unggun. Tampak Ara yang tengah mempersiapkan kayu bakar untuk acara nanti malam. Ia dibantu oleh asistennya.
Dari kejauhan, Zu berjalan mendekati gadis itu. Ia baru saja selesai beristirahat selepas bermain di air terjun. Wajahnya tampak semringah malam ini. Terlebih ia dapat menyelamatkan Ara saat lomba sore tadi.
"Pangeran."
Asisten Ara membungkukkan badan saat menyadari kedatangan Zu. Zu pun lantas meminta asisten itu agar meninggalkannya bersama Ara. Ia sendiri yang akan membantu Ara membuat api unggun.
"Sepertinya kau selalu sibuk, ya."
Zu lekas menyusun kayu-kayu bakar itu. Ara yang baru menyadari kehadirannya, tampak terkejut saat Zu sudah berada di sampingnya.
"Pa-pangeran? Ma-maaf. Aku terlalu fokus, jadi tidak menyadari kehadiranmu." Ara terperanjat melihat kedatangan Zu.
"Tak apa, Nona. Boleh aku bantu?" Zu menawarkan diri.
Ara mengangguk.
"Aku sudah mencoba kue nastar buatanmu. Rasanya begitu enak." Zu mengawali obrolannya.
"Eh, benarkah?" tanya Ara tak percaya.
"Lain kali bisakah kita membuatnya bersama?"
"Ap-apa?"
"Em, maksudku aku ingin mengetahui cara pembuatan kue itu secara langsung."
Zu tiba-tiba gugup, ia takut salah bicara. Entah mengapa jaraknya yang begitu dekat dengan Ara membuat Zu gugup tak biasanya.
"Pangeran, maafkan aku. Aku tidak bisa memenuhinya. Jangan marah, ya?" Ara menolak seraya tersenyum padanya.
Ya Tuhan, senyumnya itu ....
Zu terpana melihat senyuman Ara. Sebuah senyuman yang mampu menggetarkan hatinya. Dan entah mengapa, hatinya merasa sangat damai sekali.
"Pangeran?"
Ara mengibaskan tangannya di depan wajah Zu Karen Zu tampak diam saja. Zu pun akhirnya tersadar.
"Em, ehem!"
Zu berdehem untuk menormalkan dirinya yang terhanyut dalam senyuman itu. Ia kemudian tertawa sendiri.
"Maaf, Nona. Tadi aku melihat sesuatu yang indah," lanjut Zu.
"Sesuatu yang indah?"
"Hem, ya. Sesuatu yang membuatku terpana melihatnya." Zu membalas cepat.
__ADS_1
"Apa itu, Pangeran?" tanya Ara penasaran.
"Senyummu."
"Hah?"
"Senyummu yang membuat hatiku terpana, Nona Ara."
Seketika raut wajah Ara memerah. Ia tersipu mendengarnya. Tak bisa membayangkan bagaimana malunya dirinya kini.
Entah mengapa aku merasa senang mendengar pujiannya. Ara tertunduk malu.
Dia gadis yang kucari. Aku tidak perlu menanyakan hal ini lagi. Aku sudah tahu jawabannya.
Kedekatan Ara dan Zu tentunya membuat Shu kesal. Ia lalu datang mengacaukan suasana.
"Kak, aku ada urusan denganmu." Shu menarik kakaknya.
"Em, maaf, Nona. Aku tinggal sebentar."
Zu seolah tidak ingin pergi dari Ara. Namun, tangannya ditarik oleh sang adik. Ara pun kembali tersenyum padanya yang membuat Zu tidak ingin melepaskan pandangan matanya itu. Tapi lagi-lagi Shu menghentakkan tarikan tangannya, sehingga Zu mau tak mau berpaling pandangan.
Di kemah Shu, beberapa saat kemudian...
"Shu, ada apa?" Zu bertanya kepada adiknya.
"Kakak, aku tidak suka kau mendekati gadis itu."
"Nona Ara maksudmu?"
"Iya, siapa lagi. Dari awal kau sudah tertarik padanya, bukan?"
"Eh, tidak. Aku hanya tidak suka kau mendekatinya," jelas Shu.
"Apa alasanmu?"
"Kau sudah tahu alasannya, Kak."
"Hei-hei! Kubilang cobalah berbaur dengan pangeran lain agar pikiranmu terbuka. Aku sudah dewasa, Zu. Wajar saja jika aku tertarik kepada seorang gadis."
"Ya, tapi kenapa harus dia?" Shu tampak kesal.
"Memangnya ada masalah apa dengannya?" Zu balik bertanya.
Terdengar embusan napas dari Shu. Ia tampak kesal kepada dirinya sendiri. Ia bingung mengutarakan isi hati yang sebenarnya. Ia khawatir jika kakaknya mengira yang tidak-tidak .
"Sudahlah, Adikku. Aku tahu mana yang benar. Jangan khawatir. Lagipula ini baru pendekatan saja." Zu mencoba menenangkan adiknya.
"Makan malam sudah siap!"
Terdengar seruan dari luar kemah jika makan malam sudah siap. Zu lantas mengajak adiknya untuk keluar.
"Kita makan malam dulu, Shu. Setelah ini akan ada permainan lagi. Ikut serta sepenuh hati, jangan malas-malasan."
Zu merangkul adiknya. Ia berjalan bersama Shu menuju ke dekat api unggun. Para putri dan pangeran akan segera melangsungkan makan malamnya kali ini.
Sementara di Negeri Aksara...
__ADS_1
"Ayah keluarkan aku dari sini!"
Andelin meminta ayahnya untuk mengeluarkannya dari kamar pengasingan. Namun, Hell diam saja. Ia kesal karena lagi-lagi putrinya tidak berhasil melaksanakan misi.
"Ayah, ini semua bukan salahku. Ini semua karena gadis itu!" Andelin membela diri.
Hell tampak tidak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia malah merasa menyesal karena telah mempunyai seorang putri seperti Andelin.
"Ayah!"
Hell terlihat menghidupkan cerutunya. Ia pusing memikirkan bagaimana cara untuk meruntuhkan Angkasa. Teriakan putrinya minta dikeluarkan pun sama sekali tidak dihiraukan.
"Paduka."
Tak lama Land datang membawakan secangkir kopi untuk Hell. Kopi itu diletakkannya ke atas meja, dekat Hell.
"Hah! Kenapa rencana kita selalu gagal, Land? Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" Hell berkeluh kesah.
"Paduka, saya rasa putri tidak bersalah. Kebetulan di istana sedang ada gadis itu, jadi rencana putri gagal."
"Maksudmu?" tanya Hell yang bingung.
"Mungkin kita harus menyingkirkan gadis itu terlebih dahulu. Rasanya selama masih berada di istana, dia akan selalu melindungi kedua pangeran Angkasa."
"Tapi Sky sudah menolak kedatangan Andelin. Kita tidak bisa masuk ke dalam istana." Hell tampak ragu.
"Paduka tenang saja. Paduka tinggal tanda tangani surat kepercayaan ini kepada saya. Maka semuanya akan beres." Land meyakinkan.
"Baiklah."
Hell kemudian menandatangani selembar surat itu tanpa membaca apa isinya terlebih dahulu. Ia sudah sangat percaya kepada Land sehingga tidak mempunyai rasa curiga sama sekali.
"Terima kasih, Paduka. Saya akan mulai bekerja. Ada baiknya jika Paduka meminum kopi ini. Saya baru saja mendapatkannya. Rasanya bisa menenangkan pikiran Paduka." Land membujuk.
Hell kemudian meminum kopi itu. Rasanya memang begitu nikmat, berbeda dari kopi-kopi lainnya.
"Ayah, keluarkan aku!"
Andelin masih mengguncang-guncang teralis besi yang menghalanginya keluar. Ia seperti berada di dalam kurungan penjara.
"Kalau begitu saya permisi, Paduka."
Land pun segera berpamitan. Ia beranjak keluar dari ruangan raja. Sementara Hell mulai merasakan pusing di kepalanya.
Kenapa kepalaku tiba-tiba terasa pusing?
Hell memegangi kepalanya. Ia merasa sangat berat dan sulit bernapas.
"Ayah! Ayah!"
Andelin pun berteriak memanggil ayahnya. Ia melihat wajah ayahnya tiba-tiba berubah.
"Andelin ...."
Hell pun berusaha berjalan mendekat ke putrinya. Ia ingin membuka gembok yang mengunci putrinya itu. Namun sebelum sampai, ia merasa sangat lemas dan udara seakan menghilang darinya.
"An-an-ande-lin ...."
__ADS_1
"Ayaaaahhhh!"
Tubuh besarnya kemudian jatuh ke lantai ruangan. Dan dari mulutnya keluar banyak busa putih. Kini ia tidak lagi dapat berbicara untuk selamanya.