Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
I Think I Love You


__ADS_3

"Pangeran, aku—"


"Aku tahu kau belum bisa melupakan kedua pangeran itu. Tapi jika ada dua pria yang bisa kau cintai, mengapa tidak bisa mencintai tiga pria sekaligus?" tanyanya padaku.


"Mak-maksudmu?" Aku pura-pura tidak mengerti.


"Aku ingin jadi pria ke-tiga yang kau cintai, Nona Ara," katanya lagi.


Dalam sekejap aku seperti tenggelam dalam perjalanan asmara ini. Zu terang-terangan memintaku untuk menjadikannya pria yang kucintai.


Dia meminta hatiku?


"Aku tidak tahu harus bagaimana mengungkapkannya. Tapi aku rasa kau cukup mengerti. Nona, aku melihatmu sebagai seorang pria melihat wanita. Dan tolong beri aku kesempatan untuk bersemayam di dalam hatimu."


"Pangeran Zu ...."


"Ini pertama kalinya bagiku berterus terang akan perasaanku sendiri. Aku tahu jika ini terlalu cepat. Tapi, aku aku tidak mampu menahan rasaku lebih lama lagi. Nona, jadilah kekasihku."


"Pa-pangeran?!"


Aku terperanjat mendengarnya. Kepalaku terasa pusing, seolah tidak bisa berpikir. Dan tiba-tiba saja dia berlutut di depanku.


"Pangeran, tolong bangun." Aku mencoba membangunkannya.


"Aku tidak akan bangun sebelum kau menerimaku."


"Pangeran!"


Astaga ... apa yang harus aku lakukan? Aku bingung sendiri.


"Pangeran, tolong jangan seperti ini," kataku lagi.


"Aku akan terus seperti ini sampai kau memberiku kesempatan, Nona." Dia menolak untuk berdiri.


Aku merasa akan percuma saja jika terus membangunkannya. Jujur aku bingung setelah mengetahui hal ini, tapi aku juga tidak bisa berlama-lama dalam ketidakpastian. Dan kini aku tahu apa alasannya menahanku kembali ke istana Angkasa.


Bagaimana, ya?


Aku bingung menanggapi ucapannya. Aku telah mempunyai Rain dan juga Cloud. Apa aku harus menambah lagi?


Pria di depanku ini masih berlutut dan menantikan jawabanku. Sedang aku bingung harus menjawab apa. Dia telah menjelaskan semua alasannya padaku.


"Baiklah. Aku terima." Lantas kucoba saja untuk menggunakan logikaku.


Entah salah atau benar, aku merasa tidak ada jalan lain selain mengiyakan perkataannya. Aku tidak bisa pulang sendiri ke Angkasa, aku tidak tahu jalan. Ini bukan duniaku.


"Nona, apa kau serius?" tanyanya yang masih belum juga beranjak bangun.


Aku mengangguk, walaupun itu terpaksa.


Seketika itu juga kulihat senyumnya mengembang. Dia melebarkan senyumannya lalu tertawa bahagia di depanku. Dia juga ingin memelukku.


"Pa-pangeran."


Aku mencoba menolaknya. Tapi dia terus saja menerobos pertahananku. Dan kini dia memelukku.


"Terima kasih, Nona. Aku bahagia sekali."


Aku merasa dia serius dengan ucapannya itu. Mungkin tidak ada salahnya jika aku memberikan kesempatan padanya. Rain dan Cloud juga pastinya bisa mengerti dengan keadaanku yang tidak bisa melakukan apapun, selain memenuhi permintaannya itu. Ya, sudahlah. Aku terima takdirku.

__ADS_1


Dua jam kemudian...


Aku sudah sarapan, tapi entah mengapa kini merasa lapar lagi. Aku jadi heran dengan diriku sendiri.


"Bisa-bisa aku gendut di sini."


Mungkin karena sedang berada di kawasan pantai, nafsu makanku bertambah drastis. Aku juga tidak mengerti mengapa sekarang begini.


Aku turun ke bawah lagi saja.


Kulangkahkan kaki keluar kamar lalu menuruni anak tangga. Kulihat Zu sedang menyandar di sofanya sambil membaca sebuah buku besar. Entah apa itu.


"Nona?"


Dia cepat menyadariku. Aku pun tersenyum ke arahnya. Aku ingin bilang jika aku lapar, tapi hatiku serasa malu untuk mengatakannya.


"Nona, kenapa diam di sana? Apa ada sesuatu yang kau butuhkan?" tanyanya segera.


Jarak kami sedikit berjauhan. Mungkin dari bawah tangga ke sofa tempatnya duduk itu ada sekitar sepuluh meter. Vila ini cukup besar dan fasilitasnya juga memadai.


"Em, aku ...."


Sungguh aku malu mengatakannya, tapi perutku sudah bunyi.


Aduh ... malunya aku jika harus bilang lapar lagi.


Aku mencoba berpikir, mencari kata-kata yang pas agar tidak malu jika mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi karena lapar, pikiranku jadi tidak fokus.


Bagaimana ini?


Kulihat dia meletakkan bukunya lalu berjalan ke arahku. Semakin lama jarak kami pun semakin dekat.


"Nona, katakan saja," pintanya yang kini sudah tiba di hadapanku.


"Pa-pangeran ... a-aku ...," Aku menunduk malu.


"Kau ingin apa?" tanyanya lembut seraya membungkukkan badannya sambil melihatku dari jarak yang lebih dekat.


Dia seperti ingin menciumku saja.


Rasa lapar yang kian menggebu, akhirnya membuatku tidak dapat menahannya lagi. Aku pun mengatakan hal yang sebenarnya.


"Pangeran ... aku ... lapar," kataku malu.


Sontak Zu membenarkan posisinya. Ia lantas tertawa sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya itu.


"Astaga, Nona. Aku tak percaya jika akan seperti ini. Aku pikir ...,"


"???"


"Aku pikir kau membutuhkan sesuatu untuk kuambilkan. Tapi ternyata, kau hanya lapar. Astaga ...."


Aku tersenyum menutupi malu sambil menyampirkan rambutku ke belakang telinga. Aku benar-benar malu dibuat perutku ini.


"Makanlah," katanya kemudian.


"Pangeran tidak makan?" tanyaku malu-malu.


"Aku sudah makan dan masih kenyang sekarang. Kau makan, ya." Dia lantas menyentuh hidungku dengan telunjuk kanannya.

__ADS_1


Pangeran ....


Seketika hatiku bergetar karena sentuhan kecil itu. Aku merasa disayang olehnya.


"Kalau begitu, aku nanti saja makannya. Aku kembali ke kamar."


Karena tidak enak makan sendiri, akhirnya aku putuskan untuk tidak jadi makan. Aku berbalik, ingin kembali ke kamar. Tapi sepertinya, Zu menyadari mengapa aku begini.


"Nona." Dia lantas menahan kepergianku dengan memegang tanganku ini.


"Pangeran?" Aku melihat ke wajahnya.


"Kau ingin aku temani?" tanyanya yang membuatku tersenyum kecil.


Aku mengangguk pelan.


Dia lantas mendekatiku, dan kini lebih dekat lagi. Dia merendahkan tubuhnya lalu berbisik di telinga kiriku.


"Apa sulitnya berkata jujur jika ingin aku temani?"


Seketika aku merasa malu saat dia berkata seperti itu. Namun, Zu mengusap-usap kepalaku.


"Mari makan, Nona."


Kali ini dia menggenggam tangan kananku lalu berjalan bersama menuju meja makan. Aku merasa aneh saat mengekor padanya. Dia begitu lembut memperlakukanku.


Aduh, hatiku ....


Dia menarikkan kursi untukku lalu mempersilakanku untuk makan. Dia kemudian duduk di depanku, mengambilkan nasi beserta lauknya.


"Kau sudah bisa makan nasi, kan?" tanyanya seraya tersenyum padaku.


Aku mengangguk.


"Makanlah yang banyak agar tubuhmu kembali sehat," katanya lagi.


Eh?! Memangnya aku sakit? Aku bertanya sendiri dalam hati.


Akhirnya aku bisa makan siang bersamanya. Zu menemaniku sambil terus memandangi wajahku ini. Sontak saja aku jadi malu dibuatnya.


"Pangeran, aku malu kau perhatikan seperti itu." Aku mencoba membuatnya mengalihkan pandangan.


"Tidak." Dia menggelengkan kepala.


"Kenapa?" tanyaku segera.


"Aku suka memandangimu, Nona. Setiap kali memandangimu, aku merasakan kedamaian," jawabnya lembut.


"Apa Pangeran merayuku?" tanyaku lagi.


"Merayu?" Dia mengalihkan pandangannya. "Aku tidak pandai merayu, Nona. Maaf, ya," katanya seraya tertawa.


Entah mengapa aku merasa jika Zu adalah perpaduan antara Rain dan juga Cloud. Entahlah, mungkin ini hanya pembiasan dari rasa rinduku pada mereka.


Zu masih menunggu dan terus menunggu keberanian Ara untuk menjalin hubungan dengannya, agar lebih dekat lagi. Ia tidak ingin memaksa sang gadis untuk menerima sepenuhnya. Zu akan perlahan-lahan membuat Ara menyayanginya, mencintainya. Karena hanya cinta Ara lah yang Zu butuhkan.


Aku yakin bisa mendapatkan hatimu. Kau sudah terlanjur mencuri hatiku dan tidak mengembalikannya. Maka aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku akan mencuri hatimu, Nona.


Putra mahkota kerajaan Asia itu tertawa sendiri. Ia tidak habis pikir jika akan merasakan sensasi yang menggetarkan hati dan jiwanya. Ternyata Zu benar-benar jatuh cinta kepada Ara.

__ADS_1


__ADS_2