
Aku tidak habis pikir. Semua yang kulewati di luar nalarku sebagai manusia. Tapi aku masih berusaha menerima hal-hal aneh yang terjadi padaku ini. Selama aku mampu, kenapa tidak?
Kuletakkan ponsel ke dalam tas hitam kecil yang kubawa, lalu kembali memasukkannya ke dalam lemari. Setelahnya, aku menyemprotkan parfum aroma mawar ini ke seluruh tubuhku, selama menunggu parfum yang biasa kupakai tersedia di istana.
"Eh, sepertinya sudah jam makan siang."
Kudengar lonceng berbunyi tanda istirahat makan siang telah tiba. Segera kurapikan meja kerjaku dan memasukkan tiga rancangan kebaya ini ke dalam map. Aku berniat menyerahkannya kepada Cloud agar cepat disetujuinya dan dibuat oleh pihak konveksi istana.
Semoga saja Cloud menyukai ketiga rancanganku ini.
...
Kulangkahkan kaki menuju ruangan Cloud dengan membawa satu map berisi ketiga rancangan busana kebayaku. Setibanya di sana, kulihat Cloud sudah menunggu.
"Apa aku terlambat?" tanyaku saat membuka pintu ruangan, dia terlihat sedang merapikan beberapa dokumen di atas meja.
"Kau sudah datang? Aku pikir kau melupakannya, Ara?" katanya, seraya memasukkan dokumen-dokumen itu ke dalam sebuah lemari khusus.
Aku kemudian masuk ke dalam ruangan Cloud, berdiri di hadapannya.
"Tunggu saja di dalam. Aku titip pesan kepada pengawal ruanganku dulu," katanya, dan memintaku untuk masuk ke dalam kamar terlebih dahulu.
Jujur saja aku mulai berpikiran macam-macam saat mendengar Cloud memintaku untuk masuk ke dalam kamarnya.
Apa mungkin dia menginginkannya? Siang hari begini? tanyaku sendiri.
Tak lama, Cloud datang lalu mengunci pintu ruangannya dari dalam. Aku yang masih menunggu dan terpaku, melihatnya terkekeh sendiri.
"Ara, belum masuk?" tanyanya seraya menahan tawa.
"Aku tidak bisa membuka pintunya," jawabku polos.
Cloud lalu membukakan pintu kamarnya. Sebuah ruang rahasia yang terkamuflase dengan dinding ruang kerjanya. Kami kemudian masuk ke dalam.
Di dalam kamar...
Aku duduk di pinggir kasur Cloud yang mewah, sedang Cloud tampak melepas jubah putihnya. Dia hanya mengenakan dalaman bajunya saja yang berwarna hitam itu.
Mungkin dia ribet, batinku.
"Cloud, ini ketiga rancanganku."
Kuserahkan ketiga rancanganku ini kepadanya. Namun, Cloud tidak membukanya, melainkan meletakkannya di atas meja kecil yang berada di samping kasurnya ini.
"Cloud?" Akupun terheran.
"Ara ...."
Cloud lalu menarikku. Dia mendekapku seraya menatap kedua mataku ini. Sontak saja aku kaget dan spontan menolaknya.
"Cloud, aku ...."
__ADS_1
"Kau tampak semakin cantik, Ara."
Dia mengusap lembut kepalaku lalu mengecupnya. Dia menciumnya dengan sepenuh perasaan. Aku merasa jika Cloud ingin menikmati momen ini.
"Cloud?"
Dia kemudian kembali menatapku lalu mengajakku melihat ke arah cermin besar yang ada di dinding kamarnya.
"Kau mau digendong depan, Ara?" tanyanya.
"Hah? Apa?!" Aku seperti salah mendengar.
"Aku ingin menggendong depan. Bolehkah?" tanyanya seraya melihat pantulan bayangan kami di cermin.
"Em, i-itu ...." Aku terbata.
"Tak apa, tidak akan ada yang melihatnya. Hari ini aku ingin memanjakanmu."
"Cloud ...."
Cloud seolah memberi tanda kepadaku. Setelah sekian lama tidak bertemu, sepertinya dia ingin melampiaskan semua perasaan rindunya itu.
"Ayolah, selagi sempat," pintanya penuh harap.
Akupun menuruti permintaannya. Seketika itu juga Cloud terlihat begitu senang.
"Baiklah," kataku lalu naik ke atas kasurnya.
Aku begitu malu kepadanya. Terlebih wajahnya tepat berada di depan dadaku. Dia pun tersenyum manis sekali, membuat hatiku ini jadi tidak menentu.
Cloud, tolong jangan seperti itu. Aku merasa sedikit aneh pada tubuhku.
Cloud melihat ke kaca saat posisiku berada di dalam gendongannya. Aku pun ikut melihatnya. Karena Cloud bilang ingin memanjakanku, ya sudah. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
Kuusap rambutnya perlahan lalu kumainkan rambutnya itu dengan kedua tanganku. Cloud tampak menikmatinya. Dia tertawa sendiri melihat tingkahku ini.
"Lakukan saja sesuka hatimu, Ara," katanya lalu mengajakku berjalan menuju suatu tempat.
Dia lalu membuka sebuah pintu yang berada di samping cerminnya. Seperti sebuah ruang rahasia. Entah mengapa, banyak ruang rahasia di balik ruang kerja Cloud ini.
Saat membuka pintu, kulihat ada ruang kecil yang begitu gelap dan ada anak tangga tepat di depan pintunya. Cloud lalu menaikinya sambil tetap menggendongku. Ternyata, kami menuju ke atap kamar ini.
"Cloud?"
Aku tidak menyangka jika ada sebuah taman kecil di atas kamar Cloud. Sebuah taman dengan bingkai kaca pada bagian sisinya termasuk atapnya juga. Cloud lalu menurunkanku di taman itu.
"Ara, ini taman yang kubuat selama dirimu kembali ke duniamu." Cloud mulai bercerita.
"Hah, benarkah?!" tanyaku tak percaya.
Cloud mengangguk, dia lalu mengajakku untuk duduk di sebuah kursi yang terbuat dari rotan. Cloud lalu mendudukkanku di atas pangkuannya.
__ADS_1
"Sekarang hanya ada kita berdua, Ara."
"Mm-ma-maksudmu?" tanyaku yang mulai berpikiran macam-macam.
"Kita bebas melakukan apa saja di sini," katanya lagi.
"Cloud, kau memancingku?" tanyaku lebih berani.
"Kau merasa terpancing?" Cloud malah balik bertanya padaku.
Aku jadi bingung sendiri. Apa yang harus kujawab atas pertanyaannya itu. Tubuhku kini sudah berada di atas pangkuannya.
Apa aku harus memulainya terlebih dahulu? Tapi aku kan perempuan, gengsiku besar-besaran. Walau tidak dapat kupungkiri jika aku pun menginginkannya.
"Cloud?"
Cloud lantas menurunkan sedikit gaunku hingga lengan atasku ini terlihat. Dia mulai mengecupnya perlahan.
"Cloud ... ini?"
Aku merasa sedikit aneh saat bibirnya itu mulai menciumi punggungku. Namun, aku berusaha untuk menikmatinya. Kedua tanganku tidak dapat bergerak karena Cloud memegangnya dengan erat.
"Mmh..."
Kupejamkan kedua mata saat merasakan sapuan bibirnya. Dia lantas menciumi tengkuk leherku dari belakang.
"Aghhh..."
Sontak saja aku melenguh di hadapannya. Cloud pintar memancing hasratku naik. Sepertinya dia sangat menginginkan hal itu.
"Cloud, sudah. Jangan ...."
Aku meminta kepadanya untuk segera menyudahi hal ini. Namun, Cloud tidak juga berhenti. Dia semakin menekan-nekan bibirnya di sekujur tengkuk leherku. Sensasi luar biasa kurasakan hingga membuat zat kimia dari dalam tubuhku ini muncul dari persembunyiannya.
"Cloud ...."
Keadaan semakin bertambah panas saat Cloud menyusuri leherku dari belakang dengan bibirnya itu. Aku tidak dapat memberontak karena kedua tanganku masih dipeganginya. Alhasil, semakin lama aku semakin menginginkan hal itu. Aku menginginkan Cloud.
"Ara ...."
Cloud lantas memanggilku. Jantungku berdegup kencang, aliran darahku seolah melaju begitu deras. Dadaku pun naik-turun dibuatnya, napasku terasa begitu berat. Aku menyerah dengan sensasi yang kurasakan ini.
"Berikan balasan kepadaku, Ara ...."
Cloud memintaku untuk membalas tindakannya itu. Aku ragu, tapi kata-katanya seolah titah bagiku. Dia kemudian mencoba memutar tubuhku. Mau tak mau, aku segera bangkit lalu berbalik menghadapnya.
"Cloud, kau yakin?" tanyaku yang ragu.
"Lakukanlah, Ara. Aku menunggunya."
Suara Cloud terdengar berat. Dia menantikanku.
__ADS_1
Kini aku sudah duduk di atas kedua pahanya. Aku mulai mencoba apa yang dimintanya itu, melakukan perlawanan atas aksinya yang membangkitkan hasratku.