Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
What is This Feeling?


__ADS_3

Perjalanan kembali ke istana...


Kami melanjutkan perjalanan kembali ke istana Angkasa. Pagi-pagi buta sudah berangkat dari dermaga, dan kini sudah memasuki ibu kota. Tepat saat matahari terbit, aku melihat betapa indah ibu kota milik negeri kedua pangeranku ini. Sekarang amat tertata rapi dengan taman-taman bunga menghiasi.


Beberapa penduduk yang melihat kedatangan ini, melambaikan tangannya kepada kami. Aku pun hanya bisa tersenyum seraya membalas lambaian tangan dari para penduduk. Sedang pangeran di belakangku terus saja melajukan kudanya menuju istana. Tidak tersenyum atau apapun, dia tidak ada ramah-ramahnya sama sekali.


"Ara, sebentar lagi kita sampai. Kau rindu, bukan?" tanyanya padaku.


Jelas saja aku rindu. Tak perlu kujawab lagi pertanyaannya itu. Bagaimanapun Angkasa adalah negeri pertamaku dan tempat memulai semua cerita. Di sini aku bisa mengenal dekat kedua putra mahkotanya. Dan bahkan aku kepincut dengan keduanya. Tapi sepertinya, aku lebih memilih Rain. Dia yang selalu berjuang untukku.


Langkah kaki kuda kami pun semakin mendekati istana. Dan tak lama kulihat istana besar di depan sana. Istana bercat putih yang kurindukan. Dan akhirnya, beberapa menit kemudian kami tiba di depan pintu gerbang istana ini.


"Pangeran Rain sudah kembali!"


Penjaga gerbang segera membukakan pintu untuk kami. Gerbang istana pun dibuka. Dan entah mengapa, jantungku berdebar tak menentu. Rasanya ingin melompat saja.


"Selamat datang, Ara. Selamat kembali, Sayangku." Kuda-kuda kami akhirnya memasuki istana.


Para pelayan yang sedang membersihkan halaman, segera melarikan diri untuk menyambut kedatangan kami. Dan betapa bahagianya saat kedatanganku ini disambut penuh suka cita oleh para pelayan istana.


"Nona Ara!"


Mereka berteriak-teriak memanggil namaku. Seketika aku jadi ingin menangis karenanya. Ya, walaupun dari mereka ada yang masih membawa sapu dan kain pel, tapi tetap saja penyambutan ini membuat hatiku terharu.


Rain kemudian meminta pasukannya menunggu di belakang istana. Dan setelah para pasukannya memasuki halaman, pintu gerbang istana pun ditutup kembali. Rain lantas membantuku untuk turun dari kudanya.


"Hati-hati, Ara."


Karena sudah terbiasa menaiki kuda, aku tidak takut lagi untuk menuruni kuda ini. Dengan cepat aku sudah menginjakkan kaki di halaman depan istana.


"Nona Ara, syukurlah Nona sudah kembali." Para pelayan tampak bahagia dengan kedatanganku.


"Terima kasih, Mbok. Aku membawa oleh-oleh untuk kalian," kataku lalu menoleh ke Rain.


"Ada berkarung-karung buah persik yang dibawa. Kalian berbagilah di belakang istana." Rain menegaskan.


"Baik, Pangeran. Terima kasih." Para pelayan pun segera berpamitan kepada kami.

__ADS_1


Aku amat senang karena bisa membawakan oleh-oleh untuk para pelayan. Setidaknya kedatanganku ini membawa kebahagiaan tersendiri di hati mereka. Lagipula apa susahnya sih membahagiakan orang lain selama mampu. Toh, kebahagiaan itu akan kembali ke diri kita juga. Dan aku amat meyakini hal itu.


Ara mempraktikkan hukum tarik-menarik dalam kehidupannya. Ia yakin apa yang ia berikan akan kembali kepada dirinya walau itu berupa hal yang tidak berwujud. Ara meyakini jika membahagiakan orang lain maka kebahagiaan itu akan kembali kepadanya. Dan ternyata benar, ia amat bahagia saat ini.


Sang pangeran memegang erat tangan Ara saat melangkahkan kaki menuju pintu masuk istana. Ara pun tak henti-hentinya menebarkan senyumannya kepada sang pangeran, yang mana membuat Rain semakin diliputi kebahagiaan.


Terima kasih, Ara. Terima kasih telah kembali.


Sang pangeran pun meneruskan langkah kakinya memasuki istana. Ia berniat untuk memberi laporan kepada sang ayah yang berada di lantai tiga. Namun, langkah kakinya terhenti saat di pertengahan taman istana, ia melihat Cloud berjalan tergesa-gesa ke arahnya.


"Ara!"


Sang pangeran sulung kerajaan ini memanggil Ara dengan riangnya. Ia berlari untuk mendekati calon ratunya itu. Dan seketika Ara pun tersadar jika Cloud lah yang memanggil namanya.


"Cloud ...?"


Sang gadis pun berlari mendekati Cloud. Ia melepaskan pegangan tangan Rain begitu melihat Cloud berlari menuju ke arahnya. Tangan Rain pun ingin menahan kepergian Ara, tapi sayang Ara lebih cepat meninggalkannya dan menghambur ke pelukan Cloud.


Ara ....


Mungkin ini memang takdirku.


Rain tiba-tiba berkecil hati karena melihat Ara memeluk Cloud dengan riangnya. Ia menundukkan wajah untuk menghindari melihat pemandangan itu. Dan kemudian ia memutuskan untuk segera pergi dari tempatnya berada, membiarkan Ara bersama sang kakak yang kini sedang berjumpa ria.


"Cloud, kau tampak kurusan?" Ara mencemaskan keadaan Cloud seraya memegang wajah sang pangeran.


"Ya, aku tidak bisa makan seperti biasanya, Ara. Aku begitu merindukanmu." Cloud masih melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang gadis.


"Ih, kau ini. Kan Lambungmu masih sakit." Ara menunjukkan perhatiannya, ia mencolek hidung Cloud.


Cloud lantas tertawa, kebahagiaannya kini telah kembali. Dipeluknya Ara sambil menceritakan kerinduannya selama ini, tanpa menyadari jika sang ayah melihatnya dari teras balkon lantai tiga istana.


Putra bungsuku mengalah kepada kakaknya. Dia pergi begitu saja dan membiarkan Cloud memeluk gadis itu. Rain, apakah kau sudah dapat menerimanya?


Sky bertanya-tanya di dalam hati. Ia melihat dengan jelas bagaimana Rain membiarkan Ara berjumpa ria dengan Cloud. Hati Sky tiba-tiba terenyuh melihat pemandangan itu. Ia merasa jika putra bungsunya sudah dapat mengalah kepada sang kakak. Sedang Ara masih bercengkrama ria bersama Cloud di depan istana. Keduanya lalu memutuskan untuk sarapan pagi bersama.


Dilema antara dua pangeran membuat Ara harus membagi hati dan perasaannya. Walaupun kini ia merasa lebih memilih Rain dibandingkan Cloud, tetapi tetap saja saat melihat Cloud hatinya kembali kepada cinta pertamanya. Ara sampai lupa jika ia sedang bersama Rain sedari tadi, yang mana hal itu membuat Rain berkecil hati.

__ADS_1


...


Aku sia-sia mencari.


Memainkan sebuah permainan.


Tidak punya orang lain selain diriku yang tersisa untuk disalahkan.


Kau datang ke dalam duniaku.


Bukan permata atau mutiara.


Yang pernah bisa mengganti apa yang telah kau berikan padaku, Gadis.


Sama seperti istana pasir.


Gadis, aku hampir saja membiarkan cinta jatuh dari tanganku.


Dan sama seperti sebuah bunga yang membutuhkan hujan.


Aku akan berdiri di sisimu melewati kegembiraan dan rasa sakit.


Kau adalah udara yang kuhirup.


Kau adalah segala yang kubutuhkan.


Kau adalah kata-kata yang kubaca.


Kau adalah cahaya yang kulihat.


Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan.


Kau adalah lagu yang aku nyanyikan.


Gadis, dapatkah kau menjadi segalanya bagiku?


Dan aku ingin berterima kasih padamu, Nona.

__ADS_1


__ADS_2