
Hari kelima Rain di rumahku...
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Hari ini sudah memasuki hari kelima pangeran bungsu itu menginap di rumahku. Banyak hal terjadi di antara kami. Kenangan indah terukir menyelimuti hati.
"Sudah siap semuanya, Yah!"
Kebetulan hari ini tanggal merah. Aku dan keluarga berniat pergi ke tempat rekreasi untuk menghibur diri dari penatnya aktivitas sehari-hari. Kumasukkan semua barang-barang yang perlu dibawa. Tak lupa bekal makan kami ikut masuk ke dalam mobil.
Sejujurnya, mobilku ini hanya cukup untuk lima orang. Tapi hari ini kami paksakan jadi enam. Ayah menyupir, di sampingnya ada ibu dan Anggi. Sedang di belakang ada Adit, Rain dan aku. Sengaja kududuk di dekat jendela agar tidak terlalu sumpek.
"Baiklah, kita berangkat."
Ayah berdoa sejenak sebelum menghidupkan mobil. Setelahnya barulah mobil dilajukan. Kulihat Rain merebahkan punggungnya di kursi. Dia kini sudah tidak canggung lagi dengan keluargaku.
"Rain, mau?"
Kutawarkan permen kepadanya agar tidak mabuk perjalanan. Diapun segera mengambil permen rasa cherry ini dariku.
"Kak Ara, minum dulu obat anti mabuknya. Nanti kau muntah lagi!"
Adit berseru dari kanan Rain, pengeran bungsu itupun menoleh ke arahku, melihatku yang sedang membaca-baca pesan di WhatsApp.
"Sudah, Dit. Berisik!"
"Ye! Adit cuma mengingatkan saja, Kak Ara."
"Iya, deh. Terima kasih," sahutku.
"Ara, jika terasa mual, rebahan saja di pundakku."
Rain tanpa segan berkata seperti itu di depan kami. Sontak saja ayah melirik dari kaca depan mobil dan kudengar ibu terkekeh kecil, sesaat setelah mendengar perkataan Rain.
"Biarkan saja, Kak Rain. Kak Ara jangan dimanja," gerutu Adit.
"Hei, kau ini! Urusi saja urusanmu!" Aku tidak terima.
"Sudah-sudah, jangan bertengkar di dalam mobil. Nanti Ayah tidak konsentrasi melajukan mobilnya." Ibu akhirnya ikut bicara.
Kulihat ayah hanya menghela napasnya saat melihat kelakuan kami. Ayah sepertinya sudah sangat malas mengomentari keributan ini.
"Kak Adit, bisa nggak sih jangan ribut?" Anggi tiba-tiba bicara.
Aku tersenyum senang. Anggi, adik bungsuku itu ternyata berpihak kepadaku. Kulihat Adit jadi tersudutkan, diapun diam seribu bahasa. Hanya embusan napasnya saja yang terdengar.
"Huft!"
Setelahnya, kami meneruskan perjalanan sambil memakan cemilan. Kuambil kerupuk kemplang berserta sambal pedasnya.
"Rain, mau coba?" Akupun menawarkan makanan ini kepada Rain.
Jujur saja, ingin sekali rasanya aku merebahkan diri di pundak Rain. Tapi ada ayah di depanku. Aku khawatir jika ayah akan marah karena melihatku bermanjaan dengannya. Sebisa mungkin aku menjaga sikap saat berada di depan kedua orang tuaku.
Sesampainya di waterboom...
Kami segera menuju pondokan yang masih kosong. Cukup luas untuk meletakkan semua barang bawaan kami. Duduk di bawah payung besar yang menghalangi dari teriknya matahari.
Kulihat jam di ponsel baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Akupun segera merapikan barang bawaan sebelum ikut masuk ke dalam kolam.
__ADS_1
"Ara, kubantu, ya?"
Rain masih di sisiku, dia tidak mengikuti Adit yang langsung berenang bersama Anggi dan ibu. Aku merasa sangat diperhatikan olehnya.
"Boleh," sahutku.
Rain ikut merapikan barang bawaan dan membiarkan yang lain masuk terlebih dulu ke area kolam. Kulihat ibu bersama Anggi sudah menceburkan diri ke kolam, sedang ayah tampak mengobrol dengan seseorang di salah satu sudut waterboom ini. Sepertinya ayah berjumpa dengan kawan lamanya.
"Rain, pakai ini dulu sebelum masuk ke kolam."
Kuberikan sunblock kepada Rain. Diapun menerimanya dengan senang hati. Rain segera melepas pakaiannya sehingga hanya mengenakan celana pendek berwarna merah.
"Rain, itu ...?"
Kulihat ada kalung berantai yang melingkar di lehernya. Baru kusadari jika Rain mengenakan kalung perak tersebut.
"Ini petunjuk arah dan waktuku, Ara," jawabnya.
"Hah?!" Aku tak mengerti.
"Kalung ini berisi petunjuk arah dan juga waktu. Kau mau melihatnya?"
Aku yang penasaran segera mengiyakan. Rain kemudian memberikan kalung itu kepadaku.
Ini ... seperti arloji. Ada batas waktu dan juga petunjuk arah utara-selatan.
"Ara, kau juga ingin melepas pakaian?" Rain bertanya saat aku masih memandangi kalungnya.
"Hm, iya. Ini kalungmu."
"Baiklah, mari kita berenang."
Rain tampak terbelalak saat melihat tubuhku yang berpakaian mini. Dia menelan ludahnya sendiri saat melihat keindahan tubuhku ini.
"Ara ... kau seksi sekali," katanya takjub.
"Iya, dong. Aranya siapa dulu," sahutku.
Rain tertawa kecil mendengar ucapanku. Dia kemudian menarikku untuk lebih dekat dengannya.
"Rain, nanti dilihat Ayah," kataku yang khawatir.
"Ara, hal yang kemarin saja masih terasa sampai saat ini. Dan sekarang kau membangkitkan gairahku kembali."
"Rain—"
"Aku tak habis pikir. Mengapa aku sampai tergila-gila kepadamu."
Rain menatapku tepat di mata. Sedang tangan kanannya menggenggam tangan kananku dan meletakkan di dadanya. Kurasakan rambut-rambut halus yang ada di dada bidangnya itu.
"Rain, jangan dilanjutkan. Ini tempat umum."
Aku mencoba memperingatkan Rain untuk menjaga sikap saat berada di muka umum. Dia kemudian melepaskan tanganku.
"Baiklah. Tapi nanti kita lanjutkan ya di rumah," ucapnya.
"Rain!"
__ADS_1
Lama-lama aku gemas dengan sikapnya yang selalu memancing ini. Kucubit saja lengannya dan diapun menjerit kesakitan.
"Ara, sakit!"
"Makanya jangan memancingku!" seruku.
"Aku tidak memancing, aku hanya menginginkannya," katanya tanpa merasa bersalah.
"Kak Ara, ayo!"
Tiba-tiba saja kudengar suara Anggi memanggil. Akupun segera mengajak Rain untuk segera masuk ke dalam kolam.
"Ayo, Rain. Anggi sudah memanggil."
Setelah memakai sunblock di seluruh tubuh agar terlindung dari sengatan matahari, aku lalu berjalan bersama Rain menuju kubangan air yang besar ini. Dia juga tidak malu untuk menggenggam tanganku di muka umum.
Rain, kau ini.
Kulihat dia tersenyum sambil menoleh ke arahku. Tak kusangka saat tidak memakai alas kaki, tinggiku hanya sebahunya saja. Aku begitu mungil di hadapannya.
Astaga, aku pendek sekali.
Rain sama sekali tidak malu mencintai seorang gadis mungil sepertiku. Mungkin memang hal inilah yang dia harapkan.
Kami lalu berenang bersama, mencoba semua arena permainan yang ada di waterboom ini. Tampak keceriaan yang tersirat di wajah kami. Rain pun tidak segan menggendong Anggi di bahunya saat berada di dalam kolam. Dia begitu mengasuh adik bungsuku itu, membuat ayah dan ibu kepincut dengan sikapnya.
Dia memang pintar membaca situasi.
Harus kuakui baik Rain maupun Cloud adalah pria yang pintar merebut hati seseorang. Tidak terkecuali hati kedua orang tuaku, apalagi aku yang anaknya. Jadi wajar saja jika aku mencintai keduanya.
Berberapa jam kemudian...
Setelah puas bermain di kolam, aku lalu kembali ke pondokan. Kuambil minuman isotonik untuk mengisi ion tubuhku yang cukup banyak terkuras saat berenang. Rain pun mengikutiku dari belakang.
"Ara, aku mau juga." Rain duduk di hadapanku.
Aku segera memberinya minuman, namun Rain meminta aku untuk menuangkan ke dalam mulutnya.
"Dasar manja!" gerutuku.
Kutuangkan minuman ke dalam mulutnya seraya berdiri di hadapannya. Bersamaan dengan itu, kedua tangan Rain merangkul pinggulku.
"Rain, lepaskan tanganmu!"
Aku risih dengan sikapnya. Aku khawatir jika ayah dan ibu melihatku seperti ini.
"Ah, segarnya."
Rain lalu melepas tangannya dari pinggulku. Dia kemudian membuka kotak bekal makanan kami.
"Sini, Ara. Kusuapi dengan kue ini." Rain ingin menyuapiku.
"Rain, aku bisa sendiri," tolakku.
"Hm, tidak. Biar aku menyuapimu, Sayang."
Sontak ucapannya membuatku tersipu. Dia benar-benar tidak takut menunjukkan kemesraannya di depan banyak orang.
__ADS_1