Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Meeting


__ADS_3

Keesokan harinya...


Pagi ini sepertinya aku kurang enak badan. Semalam sesampainya di kamar, aku segera berbilas diri. Kini badanku demam. Pagi ini pun aku tidak berani mandi, aku hanya mencuci muka saja lalu segera mencari gaun yang berlengan panjang dan tertutup bagian atasnya.


Dengan make-up minimalis dan parfum yang kusemprotkan ke sekujur tubuh, kuharap dapat menutupi keadaan diriku yang tengah demam. Aku kemudian berjalan menuju ruang rapat.


Apa aku terlambat?


Sesampainya di ruang rapat, terlihat semuanya sudah menunggu. Ada Rain, Cloud dan empat orang menteri kerajaan. Aku lalu duduk di depan Rain sedang Cloud duduk di kursi utama.


Meja rapat itu memanjang. Ada dua belas kursi di sana yang terukir indah dengan tembaga kuning pada bagian sisinya. Aku duduk di kursi barisan pertama bersama Rain sedang keempat menteri itu memilih duduk di barisan ketiga dan keempat.


Beberapa pelayan masuk membawakan minuman hangat dan kue khas kerajaan ini. Dan pelayan yang lain memberikan lembaran-lembaran laporan kepada kami, satu per satu.


Cloud memimpin rapat. Dia membuka rapat dengan meminta kepada keempat menterinya untuk memperkenalkan diri kepadaku. Ada menteri luar negeri, dalam negeri, menteri pertahanan dan menteri perdagangan. Keempatnya adalah orang-orang kepercayaan raja.


Seusai memperkenalkan diri kepadaku, Cloud tidak memintaku untuk memperkenalkan diri kepada para menteri. Cloud hanya berkata jika aku adalah seorang ahli tata kota dari negeri lain. Aku merasa tenang karena ternyata hanya Cloud yang mengetahui asal-usulku.


Keempat menteri itu diminta Cloud untuk melaporkan hasil kinerjanya selama seminggu terakhir, yang berarti rapat ini diadakan setiap seminggu sekali. Sebuah sistem yang membuatku kagum. Sehingga para menteri dapat dipantau dengan maksimal oleh Cloud.


Cloud sendiri memegang jabatan sebagai sekretaris negeri ini, dia juga seorang diplomat handal. Terlebih administrasi negeri semuanya berada di bawah pimpinannya.


Pantas saja Cloud selalu sibuk. Dia selalu bermain dengan kertas di setiap harinya.


Rain tampak memperhatikanku dari seberang meja rapat. Sepertinya aku tidak dapat menutupi demamku di hadapannya, mungkin karena ikatan batin di antara kami sudah terjalin kuat. Dia memintaku untuk segera meminum teh dan memakan kue selagi menteri-menteri istana melaporkan kegiatan dalam seminggu terakhir.


Rain bersikap sangat berwibawa di istana. Kudengar dari Mbok Asri jika dia sangat ditakuti oleh para penghuni istana. Dia tidak segan-segan mencabut pedangnya jika ada orang yang berani melanggar aturan kerajaan. Tapi di hadapanku, Rain berbeda sekali. Aku tersenyum jika mengingat tingkah konyolnya.


Rain menjabat sebagai panglima tinggi di kerajaan ini. Seluruh prajurit dan persenjataan kerajaan di bawah pengawasan dan kekuasaannya. Tidak ada yang berani membantah apa katanya. Dia juga merupakan seorang ahli strategi perang. Rain sangat pintar membaca situasi.


Ternyata aku dikelilingi oleh pangeran-pangeran yang luar biasa.


Rain dan Cloud mempunyai perbedaan yang cukup mencolok. Cloud begitu bersahaja dan pintar bernegosiasi dengan orang lain. Cloud juga amat murah senyum kepada orang di sekitarnya. Sedang Rain, disegani bahkan ditakuti oleh kawan maupun lawan. Dia mempunyai wibawa yang begitu besar di hadapan orang.

__ADS_1


Keduanya pun sama-sama tampan. Namun, Rain berambut hitam tidak seperti Cloud yang berambut pirang. Tinggi mereka juga sedikit berbeda, Cloud sekitar 175cm sedang Rain 180cm.


Tubuh Rain begitu nyaris sempurna di mataku, sangat atletis. Mungkin karena sejak remaja dia sudah masuk ke dunia militer sehingga tubuhnya terbentuk menakjubkan. Tapi bukan berarti Cloud tidak sempurna, dia juga bertubuh maskulin. Hanya saja untuk postur tubuh, Rain mengungguli Cloud.


"Ara." Cloud memanggil namaku.


"Saya, Pangeran," aku menjawabnya.


"Kau sudah membaca isi dari berkas putih?" tanyanya kepadaku.


"Sudah, Pangeran. Namun, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan."


"Tanyakanlah di sini."


Cloud mempersilakanku untuk bertanya kepadanya. Aku segera menjelaskan bagian mana yang belum kumengerti sepenuhnya.


Di hadapan para menteri dan juga Rain, Cloud menjelaskan tujuannya mengapa memintaku untuk memberikan saran dan pendapat. Akhirnya, aku mengerti. Cloud ingin pemasukan di negeri ini bertambah atau bahkan berkali lipat dari sebelumnya.


Beberapa pelayan datang membawakan sebuah papan dan aku diminta untuk menjelaskan alur yang akan kulakukan untuk kemajuan negeri ini. Terlihat mereka begitu antusias menanggapiku.


Aku berencana untuk menambah pemasukan dari sektor busana dan juga pariwisata. Aku ingin negeri ini ditata ulang dimulai dari pusat kota lalu ke pelosok negeri. Tentunya hal ini membutuhkan biaya yang sangat besar.


Aku lalu menyarankan untuk membuat sebuah panggung pertunjukkan busana, yang mana aku sendiri yang akan merancangnya. Kulihat ada peluang bisnis yang sangat besar di sektor ini.


Rain, Cloud dan keempat menteri memberikan tepuk tangannya padaku. Namun, aku bersikap biasa saja. Bagiku, dipuji tidak akan terbang, dicaci tidak akan mati. Aku hanya tersenyum lalu kemudian meneruskan semua saran dan pendapatku.


"Kita dapat meningkatkan pemasukan dari sektor perkebunan dan pertanian di negeri ini. Kita juga bisa mempergunakan seperlunya kayu-kayu hutan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.


"Untuk peternakan, aku rasa kita harus membuka lahan yang lebih luas lagi. Kita akan menjadikan lahan tersebut sebagai tempat peternakan berbagai macam hewan. Seperti ayam, kambing, sapi dan kerbau.


"Untuk peternakan ikan sendiri, aku sarankan bersamaan dengan pertanian. Kita bisa beternak ikan di sawah-sawah, sehingga hasilnya dapat berlipat ganda."


Rain berdiri, bertepuk tangan. Cloud juga kulihat tersenyum senang mendengar presentasi ini. Sepertinya, apa yang kulakukan saat ini dapat mengobati kemarahannya semalam.

__ADS_1


"Anda luar biasa, Nona."


Keempat menteri ikut berdiri seraya memberikan tepuk tangannya padaku. Akupun menundukkan badanku sedikit ke arah mereka lalu tersenyum dan berucap terima kasih.


Semua saran dan pendapatku disetujui oleh Cloud. Rain siap menurunkan pasukannya untuk membantu. Para menteri segera membuat surat keputusan untuk disebarkan ke seluruh negeri, agar para penduduk dapat berikut serta atas berjalannya pembaharuan ini. Cloud menandatanganinya, begitupun dengan Rain.


Rapat selesai. Keputusan telah ditetapkan.


...


Seusai rapat, Cloud memintaku untuk menunggunya menghitung anggaran awal pekerjaanku. Dia berjanji setelah selesai akan segera menemuiku. Kini tugasku adalah merancang busana yang akan dijual di pertunjukan busana nanti. Semua sarana dan prasarana sudah kupikirkan baik-baik. Tinggal mencari ahlinya saja.


"Ara."


Aku mendengar suara Rain memanggil. Aku lalu menoleh ke arahnya.


"Ara, kau sakit?" Rain memegang keningku.


"Tidak, Rain. Aku baik-baik saja," jawabku seraya tersenyum.


"Kau jangan bohong kepadaku. Aku antarkan ke tabib istana." Rain segera menarik tanganku.


"Rain ...." Aku menahannya.


Kutatap Rain penuh arti. Kuusap pipi kirinya lalu memberikan senyum termanis yang kubisa.


"Aku baik-baik saja. Aku hanya perlu beristirahat. Kau tidak perlu khawatir."


"Tapi, Ara—"


"Ssst. Jangan membuatku menciummu saat ini, ya!" godaku kepadanya.


Rain pun diam tidak berkutik, namun masih terlihat kecemasan dari raut wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2