
Esok harinya...
Pagi-pagi sekali aku bangun. Aku mulai mengetik naskah untuk sayembara nanti. Kudengar dari dalam kamar, ibu sedang sibuk di dapur. Sedang Adit sepertinya masih terlelap di tempat tidur, sehingga Anggi main sendiri di ruang TV.
Jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Sengaja aku mengetik naskah di pagi hari agar pikiranku lebih cemerlang. Karena pagi hari adalah waktu terbaik untuk memulai sesuatu. Setelah tidur semalam tentunya, bukan malah begadang tak karuan.
"Ara, nanti bisa ke desa ambil sayuran?"
Ayah berkata kepadaku dari depan pintu kamar. Dia tampak sudah siap berangkat ke pasar untuk menjaga toko.
"Bisa, Yah. Nanti selepas beres-beres, Ara ke sana," jawabku.
Ayah lalu bergegas menuju meja makan setelah mendapat jawaban dariku. Ditemani Anggi, ayah dan ibu sarapan pagi bersama. Sedang aku, masih sibuk mengetik naskah. Kalau bisa, hari ini sepuluh ribu kata itu selesai.
"Ara, sarapan dulu," kata ibuku.
"Iya, Bu. Tanggung, bentar lagi."
Beberapa saat kemudian, kudengar mobil pick-up kami dihidupkan. Sepertinya ayah sudah mau berangkat ke pasar.
"Ara, jangan lupa pesan Ayah."
"Baik, Yah."
Aku kemudian mengantarkan ayah sampai di depan rumah. Ayah bersama ibu dan Anggi berangkat ke pasar pagi ini.
"Hati-hati, Dek."
"He-em."
Aku berkata kepada adik kecilku, dia pun mengangguk. Senyum gembulnya membuatku begitu gemas.
Anggi, adikku ini sekarang sudah menginjak kelas tiga SD. Semenjak sekolah, dia menjadi lebih kalem. Entah apa yang membuatnya seperti itu, mungkin karena pergaulan dengan teman-teman sekolahnya.
"Aku lanjutkan sedikit lagi."
Setelah mengantar ayah bersama ibu dan Anggi, aku kembali ke meja belajarku. Aku meneruskan mengetik naskah hingga sampai di tiga ribu kata. Kebetulan dalam sejam aku bisa menulis hingga seribu kata. Tapi itu hanya menulisnya saja, belum dengan membaca ulang dan mengeditnya.
Aku pasti bisa!
Aku menyemangati diriku sendiri di dalam hati.
Tiga jam kemudian...
Setelah menulis, aku segera mandi lalu merapikan rumah. Dan kini aku sudah berada di dapur, masih sibuk menyiapkan bekal untuk di bawa ke kebun. Rencananya aku akan memetik sayuran di sana sesuai pesan ayah.
Tiba-tiba, bel rumahku berbunyi. Adit yang sedang menonton TV, segera bangun dan membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang. Aku sendiri masih menyiapkan bekal makan siang.
"Kak Ara, ada yang mencarimu!" teriak Adit dari ruang tamu.
"Siapa, Dit?" tanyaku kepadanya.
"Sudah cepat, Kak!" serunya.
Adit tidak berkata siapa yang datang. Dia malah memintaku untuk segera ke ruang tamu.
Sepertinya ada yang tak beres.
Karena khawatir, aku segera bergegas menuju ruang tamu untuk melihat siapa gerangan yang datang. Adit sendiri masih terpaku di belakang pintu sambil menungguku.
"Adit?"
__ADS_1
"Kak Ara."
Adit menunjuk seseorang yang berada di depan pintu. Aku segera menuju pintu ruang tamu dan kulihat ada seseorang yang sedang membelakangi kami. Dia mengenakan kemeja dan celana panjang berwarna putih.
"Em, maaf," kataku kepada sosok itu.
Sosok itu menyadari kehadiranku, dia lalu membalikkan badannya ke arah kami.
"K-k-kau ...?"
Tak percaya ini terjadi. Sosok yang kurindukan selama ini, kini berada di depan kedua mataku. Senyumku pun mengembang karena merasa bahagia.
"Ara ...."
Sontak hatiku terenyuh melihat kedatangannya. Bulir-bulir kristal bening itupun berlinangan di kedua mataku. Dia datang seraya tersenyum. Hatiku benar-benar bahagia melihatnya.
"Rain ...?"
Rain ternyata datang ke rumahku. Aku tak percaya dengan yang kulihat. Aku segera mendekati dan berniat untuk memeluknya.
"Kak Ara, kenal?"
Belum sempat aku melangkahkan kaki untuk memeluk Rain, Adit menegurku. Aku jadi membatalkan niatku ini untuk memeluknya.
"A-adit, ini Kak Rain."
Aku mencoba memperkenalkan adikku kepada Rain walaupun dengan suara terbata.
"Rain, apa kabar?" tanyaku sambil berusaha menahan tangis.
"Aku baik, Ara. Bolehkah aku masuk terlebih dahulu?" tanyanya yang sontak membuatku malu.
"Em, iya. Silakan masuk."
"Adit, tolong ambilkan air minum," pintaku.
"Baik, Kak."
Adit lalu segera ke dapur, dia membuatkan air minum untuk Rain. Sedang aku, segera beralih kepadanya, pangeranku.
"Rain, aku ... tidak percaya kau datang," kataku sambil duduk berdekatan dengannya.
Air mataku tanpa terasa menetes di pipi. Rindu yang telah lama kupendam seakan terbalas saat melihat kedatangannya.
"Ara, aku datang untuk menjemputmu."
Hatiku tersentak begitu mendengar kata-katanya. Ini seperti di dalam mimpiku.
"Rain ...."
Aku sangat ingin memeluknya untuk melampiaskan rasa rindu yang menggebu ini. Tapi tak mungkin kulakukan karena pasti adikku akan melihatnya. Hampir saja aku tidak dapat berkata karena rasa tak percaya dengan kedatangannya ke dunia ini.
"Ara, rambutmu?"
Rain sepertinya terkejut melihat warna rambutku yang hitam. Cat rambut pirangku ternyata dapat luntur sendiri seiring dengan berjalannya waktu. Dan kini aku kembali ke warna alami rambutku.
"Ah, ya. Rambut asliku memang berwarna hitam, Rain," kataku seraya tersenyum.
"Ini minumnya, Kak. Silakan."
Adikku lalu memberikan segelas teh hangat kepada Rain dan Rain pun segera meneguknya dengan perlahan.
__ADS_1
"Kak Rain pacar Kak Ara, ya?" tanya Adit tiba-tiba.
Sontak Rain hampir tersedak mendengar hal itu. Aku pun jadi tidak enak hati sendiri.
"Adit! Tidak sopan bertanya seperti itu," kataku mengingatkan.
"Em, tidak apa-apa, Ara. Aku justru senang mendengarnya."
Rain meletakkan cangkir tehnya lalu mengajak Adit berjabat tangan.
"Adit, kenalkan. Aku Rain. Aku ... calon kakak iparmu," kata Rain kepada Adit.
Adit segera menoleh ke arahku, sedang aku menutup wajah dengan kedua telapak tanganku sendiri. Aku pikir Rain akan terkejut mendengar pertanyaan Adit. Namun ternyata, dia malah menjadi-jadi. Menyebut dirinya sebagai calon kakak ipar untuk adikku.
"Kak Ara?"
"Hm, Adit. Jangan dengarkan kata Kak Rain," pintaku.
Adit menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia lalu duduk di depan kami seraya menyilangkan kedua tangan di dada.
"Harusnya Kak Ara cerita kepada kami jika sudah mempunyai calon. Jangan diam saja," gerutunya.
"Adit, sudah sana!"
Aku memintanya untuk pergi meninggalkan kami. Aku merasa tidak enak hati sendiri kepada Rain atas sikap adikku ini.
"Ya, ya, ya. Tapi jangan lama-lama. Kita akan pergi ke kebun."
Adit lalu meninggalkan kami sambil berpesan, mengingatkan tugas yang harus kulakukan hari ini.
"Rain, maaf," kataku kepada Rain.
"Tak apa, Ara. Aku senang mendengarnya. Itu adikmu?" tanyanya.
"Iya. Adit adikku. Aku anak pertama di sini."
"Hm, begitu. Boleh aku lebih dekat dengan adikmu?"
"Eh, buat apa?" tanyaku kaget.
"Aku ingin mengetahui tentang dirimu darinya."
"Rain?"
"Ara, masihkah berniat membohongi perasaanmu sendiri?"
Rain tiba-tiba bertanya seperti itu. Kata-katanya seolah menyudutkanku. Sejujurnya aku hanya tidak ingin terburu-buru. Aku ingin memastikan hatiku terlebih dahulu.
"Ara, aku berharap kedatanganku ini bisa menjadi bukti akan keseriusanku padamu."
"Tapi, Rain—"
Rain segera memegang tangan kiriku. Dia lalu mengecupnya lembut.
"Kak Ara, jangan lama!"
Bersamaan dengan itu, Adit berteriak dari dalam. Aku pun segera melepaskan pegangan tangan Rain. Sepertinya Adit melihat kami.
"Rain, maaf. Aku harus ke kebun. Mungkin kau mau ikut?" tanyaku kepadanya.
Rain mengangguk, dia tidak menolaknya sama sekali. Rasa lelah sehabis melakukan perjalanan, sepertinya tidak membuat Rain terlihat letih. Dia masih saja bersemangat.
__ADS_1
Setelah semua bekal sudah siap. Kami akhirnya pergi ke desa untuk mengambil sayuran sesuai pesanan ayah. Dengan hati riang, aku melajukan mobilku menuju desa tercinta.