Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Shake it Off


__ADS_3

...All That I Need...


...Disclaimer...


...Artist : Boyzone...


...Pencipta : Rodgers / Sturken...


...Album : Where We Belong...


...Label : Polydor...


...Released : 20 April 1998...


...


Gitaris band Mozart mulai memetik sinar gitarnya. Ia melakukan intro sebelum Ara mulai bernyanyi. Ara pun menarik napasnya, bersiap menyanyikan lagu itu.


Petikan gitar indah terdengar di telinga para hadirin. Sang gadis pun mulai bernyanyi.


"I was lost and alone ... Trying to grow ...


Making my way down that long winding road..."


Suara lembutnya menghiasi ruang utama istana, membuat Cloud terpana dengan penampilan sang gadis. Ia tersenyum manis sambil memandangi gadisnya itu.


"How could I be such a fool ... To let go of love and break all the rules..."


Cloud tidak dapat menahan dorongan hatinya. Ia lantas ikut bernyanyi dari tangga kerajaan. Hatinya penuh dengan cinta.


"You're the air that I breathe ... Girl, you're all that I need ... And I wanna thank you, Lady..."


...You're the words that I read....


...You're the light that I see....


...And your love is all that I need......


Ara membawakan lagu itu dengan penuh penghayatan. Menciptakan sebuah nada yang selaras dengan perasaan hatinya. Perasaan kedua pangeran kerajaan ini tampak semakin dalam. Rain dan Cloud berlinang air mata kala mendengar penghayatan lagu yang Ara nyanyikan.


"I was searching in vain, playing a game ... Had no-one else but myself left to blame..."


Zu sendiri kembali bersemangat untuk mendekati gadis itu. Entah mengapa hasratnya kembali berkobar. Ia menepiskan duka karena hal yang dilihatnya di taman. Zu kembali menaruh perasaannya ke Ara.


Para pangeran dan putri kerajaan tampak ikut bersenandung bersama. Mereka juga menikmati lagu ini. Beberapa di antara putri ada yang bertepuk tangan pelan sebagai ekspresi ikut terhanyut dalam lagu.


Para backing vokal menjadi suara dua di lagu ini. Mereka menambah penghayatan lagu. Alhasil para tamu undangan terpukau dengan lagu akustik yang Ara bawakan. Hingga tak terasa lagu sudah hampir selesai.


...You're the song that I sing...


...Could you be my everything?...


...And I wanna thank you, Lady......

__ADS_1


Mendekati akhir lagu, Cloud mendekati Ara dengan membawa sekuntum mawar putih yang didapatkannya dari pot bunga di dekat tangga. Disusul Rain yang juga membawa sekuntum mawar merah. Keduanya tampak mempersembahkan mawar itu kepada sang gadis saat lagu selesai dinyanyikan.


"Terima kasih."


Ara merasa hal ini tidak ada dalam skenarionya, ia lantas tersenyum-senyum sendiri saat menerima kedua bunga mawar itu. Dan tentu saja hal yang terjadi di depan panggung menjadi perbincangan para raja dan ratu.


"Raja Sky, tampaknya kedua putra Anda menyukai gadis itu?" tanya seorang ratu kepada Sky.


Sky hanya tersenyum tipis.


"Betapa beruntung ratu Moon bisa mendapatkan menantu sepertinya. Dia gadis yang sangat berbakat," puji ratu lain.


Sky lagi-lagi hanya tersenyum.


"Mungkin putri kita bisa belajar darinya, Ratu." Seorang raja menimpali perkataan istrinya.


"Itu benar, Baginda. Kalau begitu mari kita buat kesepakatan untuk hal ini." Sang ratu tampak setuju.


"Bagaimana Raja Sky?" tanya raja itu.


"Em, aku akan memikirkannya. Jangan khawatir." Sky tersenyum kepada sepasang suami istri itu.


Sky mengakui bakat dan kemampuan yang Ara miliki. Sehingga ia sama sekali tidak melarang kedua putranya untuk menyukai gadis itu. Terlebih sifat Ara yang ramah dan juga hangat, mampu membuat semua orang merasa nyaman bila berada di dekatnya.


Nona, siapa yang akan kau pilih? Kedua putraku menggantungkan harapannya padamu. Sky berkata dalam hati.


Beberapa saat kemudian...


"Ara, aku ingin bicara padamu."


Ara kaget saat mengetahui jika Rain mengikutinya. Dan tanpa menunggu persetujuan, putra mahkota itu segera menarik sang gadis agar mengikuti langkah kakinya.


"Rain, ada apa?" tanya Ara yang bingung.


Rain tidak banyak bicara. Ia terus saja melangkahkan kaki sambil tetap memegang tangan sang gadis. Dan ternyata, langkah kakinya menuju ke barat istana, lebih tepatnya ke kediamannya sendiri.


"Rain, lepaskan!" Ara berontak setelah tahu ke mana langkah itu menuju.


"Kau main-main denganku, Ara."


"Main-main?" Ara bertambah bingung.


Setelah memasuki halaman rumahnya, Rain menggendong gadisnya itu. Ia memanggul Ara di pundak kanannya.


"Rain, turunkan aku!"


Rain tidak menggubris perkataan Ara. Ia malah menuju kamarnya, masuk lalu mengunci pintu dari dalam. Wajahnya tersirat keinginan lebih malam ini.


"Kau berani membantahku, Ara."


Rain menurunkan Ara di atas kasurnya. Ara pun kaget dengan hal yang dilakukan oleh sang pangeran. Ia lalu memundurkan tubuhnya ke belakang.


"Rain, apa yang akan kau lakukan?" tanya Ara yang khawatir.

__ADS_1


"Menurutmu apa yang akan dilakukan seorang pria jika di dalam kamar bersama kekasihnya?"


"Rain ...?"


"Sekarang aku akan memberimu hukuman karena telah berani membantah perkataanku." Rain mulai melepas jubahnya.


"Rain, tolong. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan." Ara mencoba bernegosiasi.


"Aku sudah memperingatkan agar tidak mengenakan pakaian yang terbuka. Tapi nyatanya, kau berani mengenakan gaun merah ini. Kau membuatku kesal, Ara." Rain menjatuhkan jubahnya ke lantai kamar.


Astaga, apa benar dia akan melakukannya padaku?


Ara menelan ludahnya. Ia merasa khawatir dengan dirinya sendiri. Rain pun melepas dalaman jubahnya itu, dan kini ia bertelanjang dada di depan Ara. Sehingga terlihatlah tubuh atletisnya yang memukau pandangan sang gadis.


"Jika kau ingin mengenakan pakaian yang terbuka, maka sekarang adalah saatnya."


Rain melepas atribut kerajaannya, sepatunya hingga kaus kakinya. Dan kini hanya tersisa celana panjang hitamnya itu. Ia lantas menaiki tubuh Ara.


"Rain, jangan. Kumohon ...." Ara memelas.


"Maaf, Ara. Malam ini biarkan aku menghukummu." Rain juga melepaskan sabuk celananya.


Astaga. Ini gawat! Dia benar-benar ingin melakukannya. Ya, Tuhan. Hanya karena aku mengenakan gaun ini dia akan memberikan hukuman seperti ini? Lebih baik aku mengitari istana saja.


Ara lantas memejamkan matanya saat Rain mulai menurunkan resleting celananya itu. Tubuh kekar Rain mengapit tubuh Ara yang terlentang di atas kasur. Gadis itu tidak berdaya. Ia tahu persis jika mencoba melawan, ia tidak akan mampu melakukannya.


"Rain, aku belum siap. Tolong ...."


Sebisa mungkin Ara melakukan negosiasi. Namun nyatanya, Rain benar-benar ingin menghukum gadisnya. Jari jemarinya mulai menyusuri pergelangan tangan hingga ke lengan atas sang gadis. Ara pun tampak menggigit bibirnya sendiri.


"Tubuhmu begitu menggodaku, Ara."


Rain mulai menelusuri bahu Ara dengan jarinya yang nakal, hingga ke leher berlanjut ke telinga. Ara pun menahan suaranya. Tak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain menyerah kepada sang pangeran. Sesaat kemudian, Rain mulai mendaratkan ciumannya itu.


"Rain, mmh!"


Rain memciumi bahu Ara yang terbuka, menelusuri dengan bibirnya hingga sampai ke telinga sang gadis. Ara pun melenguh karena ulah sang pangeran. Ia tidak lagi bisa menghindarinya. Perlahan Rain menurunkan gaun yang Ara pakai.


"Ja-jangan ...."


Suara Ara terdengar berat, dadanya pun naik-turun merasakan kecupan-kecupan yang Rain berikan. Hingga akhirnya gaunnya itu sudah turun hingga ke pertengahan dada.


"Indah sekali di sini. Boleh aku menurunkannya lebih ke bawah lagi?" tanya Rain yang nakal.


"Jangan, Rain. Kumohon ... ah!"


Rain kemudian menggelitik dada atas sang gadis dengan jemari tangannya. Hal itu tentu saja membuat Ara meracau.


"Hentikan, Rain!"


Kedua tangan Ara tidak dapat bergerak sama sekali. Rain mengapitnya kuat dengan kedua pahanya. Dan tinggal sedikit saja diturunkan, buah ranum itu akan terlihat tanpa ada penghalang sama sekali.


"Aku menginginkanmu," bisik Rain di telinga kiri sang gadis.

__ADS_1


__ADS_2