
Satu jam kemudian...
Rain dan Cloud sedang disidang oleh ayahnya. Keduanya tampak berseteru di depan meja kerja sang raja. Sedang sang raja terlihat kesal karena kedua putranya tidak kunjung berhenti beradu mulut.
"Diaaam!!!"
Akhirnya Sky beranjak dari duduk lalu menggebrak mejanya sendiri. Sontak baik Rain maupun Cloud kaget lalu menghentikan perseteruan mereka.
"Kalian ini! Apa kalian tidak sadar jika sudah dewasa?!" Sky kesal kepada kedua putranya.
"Tapi, Yah. Dia yang memulainya dulu. Dia yang mengajak ku bertarung." Rain membela diri.
"Dia yang membuatku darah tinggi, Yah. Tidak juga mengerti jika Ara adalah calon ratuku."
"DIAAAAMM!!"
Kali ini Sky benar-benar marah. Ia tidak lagi dapat menahan amarah kepada kedua putranya. Baik Rain maupun Cloud terdiam seketika.
"Astaga ...."
Sky kembali duduk lalu segera meneguk tehnya. Sedang Rain dan Cloud menunduk takut di hadapan sang ayah.
"Selama ini kalian dididik untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan kehormatan. Tapi di mana semua itu? Di mana kehormatan dan harga diri kalian?! Kalian bertengkar di halaman istana tanpa ada rasa malu sedikitpun. Ayah benar-benar heran, kenapa kalian bisa sampai seperti ini?!" Sky tidak habis pikir dengan kedua putranya.
Rain dan Cloud hanya diam, mereka tidak berani menjawab.
"Ayah sudah membuat keputusan. Bahkan pesta pernikahan juga sudah ayah persiapkan. Kalian hanya tinggal menunggu waktunya saja. Tapi kenapa kalian malah ribut sampai bertarung pedang? Di mana martabat kalian sebagai seorang pangeran?!" tanya Sky lagi.
Baik Rain maupun Cloud masih diam, menunduk. Tidak berani menjawab pertanyaan ayahnya.
"Ayah tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi. Kalau begini terus, lebih baik biarkan Ara kembali ke negerinya." Sky pusing menghadapi kelakuan kedua putranya.
__ADS_1
"Tidak, Ayah. Tidak." Keduanya menolak.
"Lalu, apa kalian akan terus-terusan seperti ini?" tanya Sky lagi.
"Ak-aku ...." Rain dan Cloud sama-sama terbata.
Sky memahami bagaimana perasaan kedua putranya. Namun, ia juga tidak dapat memutuskan hanya Rain atau Cloud saja yang menikah dengan Ara. Ia khawatir terjadi sesuatu di masa mendatang selepas kepergiannya.
Astaga ... kedua putraku ini amat mencintai gadis itu. Keduanya tidak ada yang mau mengalah sedikitpun, masih bersikeras mempertahankan. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku memihak kepada Cloud dan membiarkan Rain?
Sky pusing sendiri.
Tapi, bagaimana jika suatu hari selepas peninggalanku mereka bertengkar? Dan aku tidak dapat lagi memberikan jalan tengah untuk keduanya? Aku khawatir Rain melakukan pemberontakan terhadap kakaknya sendiri. Aku khawatir hal itu terjadi.
Sky dilema.
Tapi bagaimana jika aku menikahkan Rain dengan Ara? Apakah Cloud bisa menerimanya? Dia memegang administrasi penting negeri ini. Aku khawatir akan membuatnya membocorkan rahasia negeri. Dan akhirnya terjadi pemberontakan terhadap Rain. Astaga ... kenapa hal ini terasa rumit bagiku?
Sebagai orang tua pastinya Sky menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Ia tidak ingin kecemasannya terjadi dikarenakan timbang pilih terhadap salah satu putranya. Karena bagaimanapun ia bertanggung jawab atas Angkasa, baik di masa sekarang maupun yang akan datang. Sky tidak ingin sisa usianya dihabiskan dengan gemuruh perseteruan kedua putranya.
Sementara itu...
Di balkon teras lantai tiga istana, Ara sedang duduk bersama ratu negeri ini. Moon datang bersama pelayan setianya yang menunggu di belakang pintu teras. Ratu dan calon ratu Angkasa itu tampak segan memulai pembicaraannya.
"Ehem." Ara akhirnya berdehem setelah menunggu terlalu lama.
"Minumlah jika suaramu serak sehabis berteriak." Moon akhirnya membuka percakapan.
"Terima kasih, Yang Mulia," sahut Ara segera.
Pemandangan menjelang makan siang ini tampak begitu berbeda. Atmosfer keadaan sekitar pun ikut-ikutan berubah drastis. Seolah terjadi pergantian musim yang ekstrem. Baik Ara maupun Moon terlihat kaku memulai pembicaraannya. Ara yang takut salah ucap, dan Moon yang tidak enak hati karena telah melakukan kesalahan besar terhadap Ara.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya kita duduk bersama, Nona." Moon baru saja meneguk tehnya.
"Benar, Yang Mulia," sahut Ara segera.
"Aku sudah melihat bagaimana kegilaan kedua putraku padamu. Andai saja bisa menghentikannya, tentu aku yang akan menghentikan kegilaan mereka." Moon mulai bicara.
Ara diam, mendengarkan.
"Harus kuakui jika memang lebih dekat kepada Rain ketimbang Cloud. Aku merasa kewalahan saat itu. Cloud baru saja berusia dua tahun dan tak lama Rain lahir mewarnai kehidupan. Aku menyesal karena lebih banyak menghabiskan waktu bersama putra bungsuku. Mungkin hal itulah yang membuat Cloud menjauh dariku." Moon mengenang masa lalunya.
Ara masih diam.
"Kini keduanya telah dewasa. Cloud yang sudah cukup umur dan sebentar lagi akan disusul adiknya. Ada kekhawatiran dalam hati jika pernikahan ini benar-benar terjadi," tutur Moon lagi.
Ara bingung harus berkata apa. Otaknya seakan tidak bisa berpikir.
"Nona, aku berharap setelah menikah kau tidak hanya menjadi seorang istri, tapi juga seorang ibu." Moon mengungkapkan harapannya kepada Ara.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Yang Mulia." Ara menanggapinya segera.
"Suamiku pastinya sudah memberi tahu tentang apa yang boleh dan tidak boleh kau lakukan setelah menikah nanti. Aku harap kau mematuhinya," kata Moon lagi.
"Baik, Yang Mulia." Ara pun mengangguk.
"Aku tidak akan berbicara panjang lebar kali ini karena masih merasa asing dengan kehadiranmu. Tapi, aku titip kedua putraku. Tolong berlaku adil kepada keduanya dan jangan sakiti mereka." Moon beranjak dari duduk.
"Baik, Yang Mulia."
Ara pun berdiri. Ia membungkukkan badan saat sang ratu memutuskan untuk segera menyudahi pembicaraannya. Moon hanya ingin menitipkan kedua putranya kepada Ara. Dan Ara pun menyanggupinya. Kesenggangan di antara keduanya masih amat terasa, hingga membuat Ara harus berhati-hati dalam bersikap dan bertutur kata. Karena bagaimanapun Moon akan menjadi mertuanya.
Huuftt ... aku merasa amat tegang saat berhadapan dengan ratu. Aku tidak menyangka jika dia akan menemuiku dan mengajak berbicara. Astaga jantungku.
__ADS_1
Tidak dapat dipungkiri detak jantung Ara berpacu tak karuan saat Moon datang menghampiri dan mengajaknya berbincang. Ara pun mengambil napas dalam-dalam untuk menormalkan detak jantungnya.
Sang gadis merasa seperti bermimpi bisa duduk bersama Moon, seseorang yang pernah ingin mencelakainya. Sedang Moon sendiri masih mencoba untuk menerima keputusan suaminya, yang akan menikahkan kedua putranya dengan Ara. Dan siang ini menjadi saksi perbincangan antara calon ratu dan ratu Angkasa.