
Satu jam kemudian...
Zu telah kembali ke ruang kerjanya. Pagi ini mau tidak mau ia harus tetap menyelesaikan pekerjaan walaupun suasana hatinya sedang tidak menentu. Ia sudah memasang target untuk dirinya sendiri. Dan ia yakin bisa menyelesaikan serah terima jabatan ini secepatnya.
Di antara kesibukannya, bayangan sang gadis belum juga bisa lepas sepenuhnya. Terkadang ia melihat sofa yang ada di seberang meja kerjanya, membayangkan seolah Ara tengah berada di sana. Setelahnya, ia kembali bekerja dan mencoba menepiskan keinginannya untuk bertemu sang gadis.
Zu merindukan gadisnya. Tidak dapat ia pungkiri walau baru satu hari tak bertemu, ia sudah merasa gundah-gulana. Tapi ia juga mempunyai pekerjaan yang tidak bisa ditinggal begitu saja. Terlebih sang adik memberinya saran untuk menyelesaikan masalah dari pihak dalam istana dahulu. Dan akhirnya, Zu mencari tahu sendiri kebenaran yang selama ini disembunyikan.
"Pangeran."
Tak lama seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya, dan Zu pun mempersilakannya masuk. Seorang pria paruh baya datang menghadapnya.
"Pangeran, Anda memanggil saya?" tanya pria berseragam putih itu.
"Ya, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan mengenai istana ini." Zu lugas menuturkan.
"Baik, Pangeran. Saya siap menjawabnya." Pria itu lalu duduk di depan Zu.
Zu mulai menyelidiki hal yang sebenarnya terjadi di keluarga utama istana. Ia merasa ada hal janggal antara ratu dan ayahnya. Pria paruh baya itu kemudian meminta jaminan keamanan atas dirinya dan keluarganya kepada Zu, sebelum menceritakan hal yang sebenarnya. Zu pun mengiyakannya.
"Paman, kau adalah orang kepercayaan ayah sejak dia memegang jabatan sebagai raja. Tapi aku tidak mengerti mengapa ada orang yang sampai tega meracuni ayahku." Zu mulai menyelidiki.
Pria itupun menundukkan kepala. "Mohon maaf, Pangeran. Sebenarnya saya berat untuk menceritakannya, terlebih saya sudah dipensiunkan dari penasehat raja. Saya merasa kurang pantas menceritakannya." Pria itu ternyata adalah bekas penasehat raja yang sudah dipensiunkan.
"Paman Bee, aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa lagi selain kepadamu. Selama ini keadaan istana dirahasiakan dariku. Tolong ceritakan apa yang kau ketahui agar aku tidak salah mengambil langkah," tutur Zu kemudian.
Pria itu menunduk.
"Hanya Paman yang bisa aku bisa percaya saat ini. Terlebih Paman sudah mendampingi ayah sejak masa jabatannya sebagai raja. Katakanlah apa yang Paman ketahui. Aku akan menjamin keselamatan Paman dan keluarga." Zu meyakinkan.
Pria itu akhirnya menuturkan.
__ADS_1
"Mohon maaf, Pangeran. Selama ini keadaan istana baik-baik saja. Tapi, setelah kedatangan ratu semuanya menjadi berubah," tutur pria yang bernama Bee itu.
"Hm, ya. Aku juga merasa seperti itu. Sejak kutinggal wajib militer tiga tahun lamanya, ayah benar-benar banyak berubah. Bagaimana menurut Paman tentang hal ini?" tanya Zu lagi.
Bee terdiam sejenak. "Mohon maaf, Pangeran. Saya tidak ada niat untuk menuduh seseorang atas perubahan yang terjadi pada paduka. Tapi jujur saya mempunyai kecurigaan terhadap ratu. Pekerjaan paduka banyak terbengkalai sejak menikahi ratu, namun saat itu saya tidak berani untuk mengungkapkannya," tutur Bee yang ragu.
Zu mengangguk. "Lalu di mana letak kecurigaan Paman terhadap ibu suri?" tanya Zu serius.
"Waktu itu..."
Bee mulai menceritakan apa yang diketahui olehnya. Ia menceritakan dengan gamblang awal perubahan sikap ayah Zu dalam memimpin negeri ini. Zu pun terkejut mendengar hal yang disampaikan oleh Bee, ia terlihat memijat dahinya sendiri.
Peristiwa demi peristiwa Bee ceritakan selengkap mungkin kepada Zu, yang mana membuat Zu memiliki satu pemikiran dengan gadisnya, jika selama ini ratu telah banyak bermain di dalam istana. Namun, ia belum dapat mengambil tindakan tegas atas ulah ratu tersebut, karena tidak ada bukti yang menguatkan.
"Aku mengerti, Paman. Aku akan berdiskusi dengan Shu untuk hal ini. Sepertinya memang sudah saatnya kami mengetahui kebenaran yang selama ini disembunyikan. Terima kasih atas kerja samanya." Zu menutup pertemuan ini.
Pria paruh baya itu pun segera berpamitan setelah Zu selesai menanyakan beberapa hal kepadanya. Dan kini Zu mulai merenungi setiap kata yang Bee ceritakan tadi.
Zu ingin masalah ini cepat selesai, karena masih banyak hal yang belum sempat terjawabkan. Dan hal itu membuatnya diliputi rasa penasaran yang begitu besar. Ia juga merasa hanya Ara lah yang mampu membantunya untuk memecahkan masalah ini. Namun sayang, sang gadis sudah pergi dari istana. Zu lalu memanggil Shu untuk berdiskusi atas hal yang didengarnya.
Sementara di Angkasa...
Waktu sudah memasuki awal siang. Dan kini sang gadis kembali ke kediaman Rain setelah sarapan pagi bersama Cloud. Ia memasuki halaman depan kediaman Rain seorang diri dan melepas Cloud yang mulai menjalani aktivitas hariannya.
"Akhirnya aku kembali ...."
Sang gadis masuk ke dalam kediaman Rain dan mencari keberadaan sang pangeran. Keadaan rumah pun tampak sepi, membuat Ara harus mencari Rain sendiri.
"Rain?"
Ara mengetuk pintu kamar Rain berulang kali, namun tidak ada jawaban. Ia lalu segera masuk untuk melihat keadaan kamar yang ternyata memang kosong.
__ADS_1
"Dia ke mana, ya?"
Ia lalu beralih ke halaman belakang kediaman Rain untuk mencari keberadaan sang pangeran. Tapi, ia tidak juga menemukannya.
"Ke mana sih, dia?"
Ara lantas menuju kolam renang yang ada di samping halaman belakang rumah Rain ini. Namun, lagi-lagi ia tidak menemukannya.
"Hah ... dia itu, bikin kesal saja!"
Sang gadis akhirnya kesal sendiri karena tidak kunjung menemukan keberadaan sang pangeran. Ia lalu menaiki anak tangga untuk mencari Rain di lantai dua. Namun, lagi-lagi sang pangeran tidak ada di sana.
"Mungkin dia di teras atap."
Tiba-tiba muncul inisiatif di dalam dirinya untuk mencari keberadaan Rain di teras atap kediaman ini. Ia menaiki beberapa anak tangga agar sampai di teras atap. Dan ternyata, sang pangeran tengah merenung sambil memandangi halaman depan rumahnya.
"Rain!"
Ara pun menghambur mendekatinya. Ia tersenyum kepada Rain, tapi ... Rain tampak diam saja. Ia hanya berbalik menghadap Ara yang sudah tiba di sisinya.
"Rain, kau sudah sarapan?" tanya Ara dengan riangnya.
Rain diam. Ia hanya menatap gadisnya itu tanpa berkata apapun, membuat Ara menyadari sesuatu.
"Rain ... kau marah padaku, ya?" tanya Ara dengan roman wajah yang tiba-tiba berubah sendu.
Rain lantas tersenyum. Ia mengusap pipi gadisnya. Sebuah usapan penuh arti untuk seorang gadis yang dicintai. Ara pun memegang tangan Rain, ia mencium tangan pangerannya.
"Rain, aku tahu kau marah. Maafkan aku. Aku hanya—"
Belum sempat Ara meneruskan perkataannya, Rain segera mencium bibir gadisnya. Ciuman tulus yang tanpa Ara sadari air mata Rain jatuh membasahi pipi. Dan pagi ini burung-burung berterbangan menjadi saksi atas hati yang terluka.
__ADS_1