Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Special Guests


__ADS_3

Esok harinya...


Cloud sudah kembali beraktivitas seperti biasa, begitu juga dengan Rain. Kebetulan hari ini Rain mendapat jatah libur dari ayahnya, bergantian dengan Cloud.


Penjagaan ruang kerja Cloud lebih diperketat. Raja memerintahkan langsung untuk melarang siapa saja yang datang ke ruangannya selain pihak keluarga dan juga para menteri. Tentunya aku mendapat izin khusus untuk keluar-masuk ruangannya itu.


"Kau yakin akan ikut menari, Ara?" tanya Rain yang menemani geladi kotor di belakang istana.


Aku bersama para penari dan juga peraga busana sedang melakukan geladi kotor untuk acara pertunjukan busana nanti. Dan esok rencananya kami akan melakukan geladi resik, sebelum para tamu undangan datang.


"Memangnya tidak boleh? Aku nanti mengenakan pakaian yang tertutup, Rain." Aku kesal dengan pertanyaannya itu.


Kami duduk-duduk sambil melihat para penari berlatih. Sedang para peraga busana, latihan berjalan menggunakan sepatu hak tinggi di lantai teras belakang istana.


"Masalahnya bukan itu, Ara. Aku hanya khawatir," katanya menjelaskan.


"Khawatir kenapa sih, Rain. Acara sebentar lagi. Lusa para tamu sudah mulai berdatangan, lho."


"Huh, kau ini kurang peka. Nanti bagaimana jika ada yang menaksirmu?" lanjutnya.


"Hah?"


"Ara, istana ini sudah lama tidak ada penari. Tidak ada tari-tarian semenjak ibuku menikah dengan ayah. Dan kau akan menari di depan banyak pangeran. Apa kau masih juga tidak mengerti maksudku?" tanyanya kesal.


"Ya ampun, Rain." Aku memegang kedua tangannya. "Mana mungkin aku berpaling darimu. Kita sudah melewati semuanya bersama." Aku berusaha menenangkannya.


"Tapi tetap saja, Ara. Aku takut ada pangeran yang tertarik padamu."


"Tidaklah, Rain. Mereka belum tahu saja kalau aku ini hanya seorang gadis desa."


"Ara, lelaki tidak mempermasalahkan dari mana asal wanitanya, apalagi jika dia sudah serius."


"Sepertimu contohnya?" godaku.


"Iya. Aku tidak peduli darimana kau berasal."


"Cup cup cup."


Aku bisa merasakan kegelisahan yang melanda hatinya. Tapi aku juga tidak bisa menuruti permintaannya itu. Semua rencana sudah tersusun dengan baik dan sempurna, tinggal pelaksanaanya saja. Mana mungkin aku membatalkan atau menguranginya.


"Maaf, ya. Aku janji tidak akan nakal," kataku seraya meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku.


"Ara, kau tahu. Bersaing dengan kakakku saja sudah menguras emosi dan tenaga. Apalagi jika harus bersaing dengan pangeran dari kerajaan lain. Aku tidak sanggup, Ara," keluhnya.

__ADS_1


"Iya, iya. Aku mengerti. Dasar bawel!"


"Tolong, ya. Jaga hatiku," pintanya memelas.


"Siap, Pangeran!" kataku bersemangat.


Rain mencubit pipiku. Dia tersenyum lalu menciumi tanganku ini. Aku tidak tahu apalagi yang harus kukatakan padanya. Aku hanya bisa berjanji untuk setia. Tidak akan nakal kepada selain dirinya dan juga Cloud tentunya.


Hah ... Rain kini berubah jadi overprotektif, sedang Cloud selalu ingin ditemani. Andai saja aku bisa seperti Naruto yang punya jurus seribu bayangan, pastinya bisa berbagi di waktu bersamaan tanpa harus repot bolak-balik istana.


Beberapa hari kemudian...


Para tamu undangan mulai berdatangan ke istana kerajaan Angkasa. Kulihat banyak hadiah yang dibawa untuk raja dan ratu, aku jadi iri melihatnya.


"Nah, itu raja dari Negeri Bunga."


Aku bersama Rain berdiri sejajar dengan para pejabat istana. Namun, sengaja berada di ujung bersamanya. Melihat para tamu undangan datang dengan membawa banyak barang bawaan.


"Sepertinya istana bakal ramai, Rain."


"Ya, tapi ingat. Jangan nakal!" bisiknya di telinga kiriku.


Rain berdiri di sisi kiriku. Dia berada di pojok barisan. Katanya sih biar cepat bertindak jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Pandangan matanya begitu tajam melihat ke segala arah.


Prajurit senior diturunkan Rain di sekitaran istana. Sedang para prajurit baru menyambut kedatangan tamu dari mulai perbatasan negeri hingga tiba di ibu kota. Rain mengaturnya agar tidak ada cela sedikitpun untuk para penjahat. Taktik penjagaannya patut kuacungi jempol.


Aku melihat seorang putri berbando mawar merah turun dari kereta kuda. Dia tampak begitu mewah dengan busananya yang glamor. Aku jadi iri melihatnya.


Jangan sampai kedua mata pangeranku jelalatan. Awas saja!


Kulihat Cloud menyambut di muka teras ruang tamu istana. Dia tersenyum semringah menyambut kedatangan para undangan. Tapi uniknya, Cloud tidak berjabatan tangan dengan para putri yang datang. Dia juga tidak mencium tangan putri itu sebagai penghormatan. Cloud meletakkan tangan kanannya di dada saat putri-putri itu mengajaknya bersalaman.


Sepertinya Cloud menjaga dirinya hanya untukku.


Setelah para putri turun dan masuk ke dalam ruang tamu kerajaan, kini giliran para pangeran yang memasuki halaman istana. Mereka semuanya menunggangi kuda.


Tampannya ....


Spontan aku mengagumi ketampanan mereka hingga tidak menyadari jika sedari tadi Rain memasang wajah kesal. Dia kemudian menutup kedua mataku ini dengan tangannya.


"Hei, Rain. Apa-apaan, sih?!" Aku mencoba melepaskan tangannya yang menutupi kedua mataku.


"Kau ini, sudah kubilang jangan nakal. Tapi masih saja!" gerutunya.

__ADS_1


"Rain, gunanya mata itukan untuk melihat. Apa salahnya aku melihat para pangeran itu?" tanyaku membela diri.


"Iya, tapi jangan seperti itu melihatnya. Kau tidak memandangku apa yang sedari tadi berada di sampingmu?!"


Astaga, Rain.


Aku kesal dengan sikap Rain yang sekarang. Terpaksa aku gigit saja tangannya agar lepas dan tidak menutupi mataku lagi.


"Aw!" Dia tampak kesakitan. "Kau ini mainnya gigitan, Ara." Dia menghempas-hempaskan tangannya.


"Biar saja, kau terlalu protektif tahu!" gerutuku menahan kesal.


"Ini juga kan demi kebaikanmu!" Dia membela diri.


Para pejabat istana tampak menahan tawa saat melihat kami. Hingga mereka pun tidak fokus melakukan penyambutan.


Kenapa sih dia berubah seperti ini?


Aku lalu berdiri di belakang pohon yang ada di dekat tembok istana, agar dapat melihat tamu yang datang tanpa harus bergelut kata dengan Rain. Namun yang namanya Rain, mau lari ke mana juga akan dikejarnya.


Dasar hujaaaaaan!!!


Beberapa hari ini kami habiskan waktu untuk menyambut para undangan. Raja mengundang empat puluh negeri ke acara pertunjukan busana nanti. Dan kini sudah hampir seluruh perwakilan negeri yang datang.


Rute kedatangan yang terbagi, membuat penyambutan berjalan dengan lancar. Hari pertama kami menyambut sepuluh negeri. Hari ke dua, lima belas negeri. Dan hari terakhir, lima belas negeri akan segera datang. Aku jadi tidak sabar melihat semua putri dan pangeran yang datang.


Semoga acaranya berjalan lancar.


Aku berdoa untuk kebaikan negeri ini dan juga para penduduknya. Semoga situasi tetap aman dan terkendali. Ya, hanya doa yang bisa kulakukan setelah usaha dilakukan semaksimal mungkin. Karena bagaimanapun kita hanya makhluk yang hanya bisa berencana, sedang Tuhan menentukan.


"Ara, kemari."


"Tidak mau!"


"Ara!"


"Nanti kau tutup mataku lagi." Aku menolak di dekatnya.


"Ara, sini! Jangan buat kesabaranku habis!"


Rain tidak bisa jika tidak dituruti kemauannya. Begitulah sifat putra bungsu kerajaan ini.


Sabar, Ara. Sabar. Aku akhirnya mengalah lagi.

__ADS_1


...


Bagian Keempat Tamat


__ADS_2