Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Don't Know


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Hangat napasnya masih bisa kurasakan. Kulihat dia begitu lelah sampai merebahkan diri di sampingku. Aku pun segera menutup tubuh ini dengan selimut. Sedang dia, kembali mengenakan celana pendek ketatnya itu.


Tak tahu setan apa yang merasuki, malam ini aku seperti kehilangan kendali. Aku telah menyerahkan diri kepadanya, kepada pangeran cinta pertamaku. Mungkin setelah ini aku tidak pantas lagi untuk bertemu dengan Rain kembali.


Astaga ... apa yang telah aku lakukan?


Kuusap kepalaku lalu mencoba bangun sambil terus menutupi tubuh ini dengan selimut. Rasanya menyesal sekali telah melakukan hal ini bersamanya. Aku pun melepas kalung pemberian dari Rain. Karena merasa tak pantas lagi untuk memakainya.


"Sayang, kau tampak gelisah. Apa ada sesuatu yang dipikirkan?" tanya Cloud padaku.


Dia bangkit, mendekatiku. Rasanya ingin menangis saja malam ini. Dan mungkin ... berteriak sekencang mungkin.


"Sayang?"


"Cloud, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanyaku yang masih membelakanginya.


"Tentu saja aku akan menikahimu, Sayang." Dia menjawab cepat pertanyaan dariku.


"Cloud, seharusnya kita tidak begini, bukan?" Aku menyesal sendiri.


"Sayang, kau menyesalinya?" Cloud memutar tubuhku agar menghadapnya.


"Cloud, mungkin lebih baik jika aku kembali saja ke duniaku," kataku menahan sesal di hati.


"Apa?! Kau ingin kembali ke duniamu dan meninggalkanku?" Dia terkejut mendengar perkataanku. "Ara, aku tidak mengizinkanmu kembali. Kita sudah seperti ini dan kau ingin pergi? Lalu apa gunanya hal yang kulakukan ini?" Dia tampak amat kesal.


"Cloud, aku merasa bukan gadis yang baik untukmu. Kau bisa mendapatkan yang lebih baik dariku." Aku berbicara sambil melihat ke arahnya.


"Astaga ...." Dia mengusap kepalanya.


Tidak tahu apa yang harus kukatakan lagi. Aku diam saja lalu mulai mengambil gaunku yang jatuh berserakan di lantai. Aku pun mulai mengenakannya kembali. Sedang Cloud...


"Cloud, apa yang kau lakukan?!" Aku berteriak saat melihatnya mengambil pedang dan ingin menusukkan pedang itu ke dirinya sendiri.


"Cloud, hentikan!" Aku meminta sambil mencoba menahan ulah gilanya itu.


"Kau ingin meninggalkanku, Ara. Percuma aku menjalani kehidupan ini jika kau pergi. Aku merasa semua hal yang kulakukan hanya sia-sia. Aku putus asa!" Cloud terlihat lemah di depanku.


"Cloud, maafkan aku. Tolong masukkan kembali pedangmu, kumohon," pintaku padanya.

__ADS_1


"Tidak. Sebelum kau berjanji untuk tetap bersamaku." Dia seperti mengancamku.


Astaga, Cloud. "Baiklah-baiklah. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Tapi tolong jangan seperti ini." Kembali aku meminta kepadanya.


Kulihat Cloud mulai tenang. Dia juga memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung. Dengan segera kuambil pedang itu lalu kuletakkan jauh-jauh. Kupeluk erat tubuhnya tanpa peduli apa yang telah terjadi.


"Ara ... aku amat menyayangimu. Dan aku tahu jika kau pun menyayangiku. Tolong jangan pergi. Aku tidak ingin ditinggal lagi. Malam ini telah kuserahkan semuanya padamu. Aku tidak peduli lagi dengan siapa diriku. Biarlah aku menjadi pelayan cintamu seumur hidup."


Dia meneteskan air matanya di pundakku. Aku bisa merasakan kesungguhan dari intonasi bicaranya. Aku menyesal telah membuatnya putus asa. Mungkin lain kali aku tidak boleh mengucapkan kata perpisahan padanya.


"Cloud, maafkan aku. Aku hanya merasa kita sudah melampaui batas. Aku malu," kataku berusaha jujur padanya.


"Sayang."


Dia melepaskan pelukan lalu memegang pipiku dengan kedua tangannya. Dia menatapku dalam sekali.


"Aku hanya melakukannya denganmu. Dan aku juga tahu jika kau baru pertama kali melakukannya. Aku amat yakin itu. Walau tidak sepenuhnya, aku bisa merasakan jika kau adalah milikku. Begitupun aku yang merasa jika jiwa dan raga ini hanya milikmu."


"Cloud ...."


"Sayang, aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk meyakinkanmu. Aku sudah gila karena cinta ini. Aku tidak mampu menampungnya sendiri. Tolong aku!"


"Cloud, sudah."


"Aku benar-benar berharap bisa menghabiskan masa bersamamu, Ara. Kau segalanya bagiku. Tolong mengertilah," katanya lagi yang membuatku meneteskan air mata.


Aku tidak tahu hal yang kulakukan ini benar atau salah. Aku hanya mencoba menjaga semuanya. Aku merasa jika masih berada di dekatnya, akan selalu terbawa hasrat manusiawi. Aku amat khawatir jika hal itu sampai terjadi. Tapi, malam ini dia sudah melihatnya. Aku merasa bersalah sekali.


Beberapa saat kemudian...


Kami membersihkan kasur. Cloud membantuku mengganti sprei lalu mencuci sprei lama sendirian. Dia tidak mengizinkanku untuk lelah malam ini.


Kutahu jika dia juga lelah, tapi dia memintaku hanya menunggunya selesai mencuci. Aku jadi terharu sendiri dengan sikapnya. Padahal dia adalah calon raja negeri yang besar. Tapi, di depanku dia layaknya suami idaman.


Cloud ... aku jadi ingin segera menikah saja.


Seakan tak peduli dengan hati yang lain, aku ingin segera menikah agar merasa lebih nyaman dan tentram menjalani kehidupan ini. Tentunya aku bisa memberikan semua yang dia inginkan dariku, tidak tertahan seperti sekarang. Ya, aku masih menahan hartaku satu-satunya. Hanya saja malam ini dia sudah melihatnya.


"Selesai."


Kulihat Cloud baru saja menjemur sprei kasurnya. Dia terlihat lucu sekali.

__ADS_1


"Cloud, aku sudah menyiapkan makan malam. Kita makan dulu, ya." Aku tersenyum padanya.


"Baiklah. Tapi apa tidak ada upah untuk calon suamimu ini?" tanyanya yang membuatku tersentak.


"Upah?" Aku jadi berpikir.


Saat aku berpikir apa maksudnya, kulihat dia berjalan mendekat lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggulku. Dia pun memajukan bibirnya seolah minta dicium. Sontak aku tertawa lalu segera mengecup bibirnya.


"Mmuach!" Kukecup sekali bibirnya.


"Hanya sekali?" godanya seraya menatapku.


"Cloud, nanti bisa keterusan," kataku memperingatkan.


"Sayang, kau tidak perlu malu lagi padaku. Sebentar lagi kita akan menikah. Ayah sudah bilang padaku."


"Apa?!" Aku pun terkejut mendengarnya.


"Ya, ayah sudah bulat untuk menikahkan kita."


"Cloud, tapi bagaimana dengan—"


"Hah ...."


Belum sempat kuteruskan kata-kata, Cloud mengembuskan napasnya dengan berat. Seperti ada beban besar yang dia pikul. Aku lalu memegang wajahnya, menatapnya dalam.


"Apa terjadi sesuatu?" tanyaku padanya.


Cloud tampak ragu menjawabnya. Tapi akhirnya, dia menjawab pertanyaanku, yang mana membuatku terkejut seketika.


"Kau tidak berbohong kan, Cloud?" tanyaku memastikan.


Cloud menggelengkan kepalanya.


Entah hal ini kabar baik atau buruk. Tapi aku merasa senang mendengarnya. Aku bisa menikah dengan kedua putra Angkasa sekaligus. Ya, walaupun tidak tahu bagaimana nantinya. Tapi, jika raja sudah memutuskan seperti ini, tentunya besar kemungkinan akan terjadi. Tinggal akunya saja yang bersiap-siap lelah mengurus keduanya.


Akhirnya, tidak akan ada yang tersakiti.


Aku gembira dan mungkin amat gembira menyambut kabar ini. Kulihat Cloud tampak bingung dengan ekspresiku. Tapi kubiarkan saja dia seperti itu. Nanti juga reda sendiri.


"Sayang?"

__ADS_1


"Sudah, mari makan."


Aku segera menarik tangannya agar mengikuti langkah kakiku ke dapur. Dan akhirnya, kami makan malam walau di waktu yang sudah lewat seperti ini.


__ADS_2