
Seolah ada aliran listrik yang tersambung di dalam tubuh. Aku tidak tahu harus bagaimana mengungkapkannya. Rain seperti sedang menyalurkan energi dari hatinya untukku. Aku tidak kuasa menolaknya. Kubiarkan energi itu terus mengalir di dalam setiap aliran darahku.
"Ara, kau tidak menyesal melakukan perjalanan bersamaku, kan? tanyanya sambil terus mengendalikan laju kuda.
Mana mungkin aku menyesal, Rain. Aku malah merasa bahagia saat ini.
"Ara? Apa yang sedang kau pikirkan?"
Aku terhanyut dalam suasana hatiku sendiri, sampai-sampai pertanyaan dari Rain tidak kuindahkan.
"Ma-maaf. Aku mencoba untuk menyesuaikan diri, Rain," jawabku.
"Menyesuaikan?" tanyanya heran.
"Hm, iya. Aku seperti bermimpi dapat berjalan berdua denganmu," kataku malu.
"Hahaha."
Rain tertawa, kulihat tawanya begitu renyah, melunakkan hati. Di jarak yang sedekat ini, aku dapat mendengar setiap hela napasnya, detak jantungnya bahkan merasakan suasana hatinya. Rasanya kami begitu dekat.
"Suatu hari nanti kau akan selalu melihatku, Ara," lanjutnya.
"Hm? Maksudmu?" tanyaku bingung.
"Nanti kita akan membahasnya. Kalau sekarang, aku khawatir tidak konsentrasi mengendalikan laju kuda ini."
Rain menutup awal perbincangan kami dan meninggalkan tanda tanya untukku. Kutatap dirinya yang begitu gagah perkasa. Pikiranku mulai ke mana-mana saat berada dekat dengannya.
Andai aku dapat memilikimu, Rain. Betapa bahagianya aku...
Kembali aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Kunikmati perjalanan ini bersamanya. Kuhirup udara segar di sekitar. Sesekali aku meliriknya yang sedang berkonsentrasi melajukan kuda. Kuhilangkan pikiran buruk tentangnya. Kini kenyamanan itu mulai menyelimuti jiwaku. Rain memaksaku untuk membuka lebar pintu hatiku sendiri.
...
Cuaca siang ini tidak terlalu cerah. Ada awan-awan hitam kecil yang lalu lalang di langit seolah memberikan tanda jika hujan akan turun hari ini.
Kini kami sudah menuruni kuda. Rain mengajak kudanya berjalan sedang aku berjalan di sisi kirinya.
"Ini adalah tempat favoritku, Ara."
Tak lama berselang, kulihat ada pohon besar dengan daun yang sangat rimbun menutupinya. Hanya berjarak beberapa meter saja dari kami.
Ini kan pohon waktu itu ....
Rain segera menggulung tali kudanya lalu membiarkan kudanya pergi.
"Rain, kudamu?"
"Tak apa, Ara. Dia sudah terlatih. Kau jangan khawatir."
Rain melepas kepergian kudanya. Kuda hitam yang berbadan besar. Entah pergi ke mana, beberapa saat kemudian kuda hitam itu sudah tidak terlihat lagi.
"Sepertinya kuda hitam itu sudah sangat terlatih, ya?" tanyaku sambil berjalan menuju pohon rimbun itu.
__ADS_1
"Hm, iya. Sejak kecil aku sudah bermain bersamanya," jawab Rain.
"Berarti kuda itu punyamu sendiri?" tanyaku lagi seraya menoleh ke arahnya.
"Iya, punyaku. Kakek yang memberikannya padaku."
"Luar biasa. Kau sudah bersama kudamu sedari kecil. Berarti kalian mempunyai ikatan yang sangat kuat." Aku meneruskan.
"Tentu saja. Kadang hewan bisa lebih setia dari manusia, Ara." Rain menoleh ke arahku.
Eh...? Kata-kata dari Rain seolah menusuk jantungku. Apakah Rain sedang menyindirku atau dia hanya menceritakan kisahnya?
"Berarti kau dan Cloud mempunyai kuda masing-masing?" tanyaku mengalihkan.
"Benar. Kami masing-masing diberi satu kuda," jawab Rain.
Tanpa terasa kami telah sampai di bawah pohon rimbun ini. Aku lalu duduk disusul Rain di sebelah kiriku.
"Tapi punyamu lebih besar, Rain."
"Tentu saja. Punyaku lebih besar, Ara. Kau mau melihatnya?" tanyanya menggoda.
"Hah?! Ap-apa?"
Aku segera berdiri begitu mendengar pertanyaan dari Rain. Apakah dia memancingku?
"Rain, kau bilang apa?"
Aku kini berdiri di depannya meminta penjelasan.
Rain merebahkan dirinya di depanku, di atas rerumputan bukit seraya meletakkan kedua tangannya ke belakang kepala.
"Rain, jangan macam-macam!" seruku.
Dia kemudian bangkit lalu duduk di depanku, sementara aku memundurkan langkah kakiku ke belakang.
"Macam-macam bagaimana?" Rain seperti pura-pura bingung. "Hei, mau ke mana? Kenapa memundurkan langkahmu? Kau berniat kabur?"
Aku terdiam.
"Memangnya mau kabur ke mana? Bisa pulang sendiri? Sedang di sini cuma ada kita berdua," katanya melanjutkan.
Aku menarik napas panjang.
Benar apa yang dikatakannya. Tidak ada gunanya juga aku melarikan diri. Aku tidak tahu jalan pulang. Mungkin Rain sudah merencanakan ini semua, membiarkan kami berduaan di sini. Buktinya, kudanya saja dilepasnya. Aku pasrah sajalah. Tidak ada yang bisa kulakukan.
Aku kemudian berjalan mendekatinya. Terdengar riuh tawa Rain melihat tingkahku.
"Kau ini sangat lucu. Tenggelam dalam pikiran sendiri. Mengapa tidak sekali-kali gunakan perasaanmu?"
"Maksudmu?" tanyaku sedikit kesal.
"Maksudku, kau bisa sedikit bersantai dan mempercayakan semuanya padaku. Aku bukanlah orang jahat, Ara. Aku bersikap angkuh hanya saat berada di lingkungan istana saja. Tapi di depanmu aku berbeda, bukan?"
__ADS_1
Rain benar. Sudahlah, mungkin sudah saatnya aku membuka hati. Menutup hati terlalu lama bisa membuatnya membeku.
"Tenanglah. Sini duduk di dekatku."
Rain menawarkan, akupun duduk di dekatnya. Dengan gemas Rain merangkulku. Kini kepalaku bersandar di dadanya.
"Kau lihat itu! Langit sebenarnya berwarna gelap tapi cahaya matahari membuatnya menjadi berwarna biru. Begitupun denganku, Ara. Kau bagai cahaya untukku."
Rain kemudian mencolek hidungku. Dia mulai berani sedang aku tidak melawannya. Aku nikmati saja alur ceritanya.
"Semenjak kedatanganmu, ada satu hal yang aku sadari ...." Rain terdiam sejenak.
"Apa itu?" Aku menoleh kepadanya.
"Aku membutuhkan seseorang sebagai tempat berlabuh."
"Rain ...?" Aku terkesima.
"Sejak usia dua belas tahun, aku sudah masuk akademi militer istana. Bisa kau bayangkan bagaimana aku saat itu?"
Aku menggelengkan kepala.
"Delapan tahun akhirnya aku dapat memegang jabatan penting di istana ini."
Rain terlihat mengepalkan tangan kirinya. Seperti ada kesungguhan di dalam hati.
"Walaupun aku anak seorang raja dan cucu dari seorang raja, tetap saja harus berusaha sendiri untuk mencapai semua ini. Ayah, ibu ... hanya memberi jalannya saja. Saat seleksi pun aku diperlakukan seperti calon prajurit pada umumnya."
"Rain ...."
Aku mengusap dadanya. Kurapatkan lagi telingaku ke dadanya. Sepertinya dia tidak berbohong. Terdengar dari irama detak jantungnya yang stabil.
"Baru tiga bulan aku di istana. Aku seperti kehausan kasih sayang. Aku mencarinya, namun tak kutemukan. Aku pun tidak mungkin bermanja diri dengan posisiku sekarang ini."
"Aku mengerti, Rain."
Aku tersenyum padanya. Kupeluk dirinya dari samping. Kuberikan kehangatan diriku padanya, Rain pun tersenyum. Dia kemudian menjatuhkan diri ke rerumputan bukit. Kini kami memandangi langit sambil merebahkan diri.
"Dan di saat itulah aku menemukanmu, Ara. Aku merasa hanya dirimu yang mampu mengerti aku."
Rain mengusap kepalaku. Aku tidak menjawabnya, hanya tersenyum. Kunikmati suasana indah ini bersamanya. Kucoba untuk membuka hatiku.
"Ara?"
"Hm?"
"Boleh kucium kepalamu?" tanyanya.
Aku mengangguk. Aku sudah merasa nyaman dan aku juga tidak ingin melawan. Apa yang terjadi, terjadilah. Energi yang dialirkan Rain begitu kuat kepadaku. Aku pasrah menerimanya.
Tak lama kurasakan kepalaku dikecup oleh Rain lalu dia mengusap-usapnya. Tanganku yang berada di dadanya, dia pegang dengan tangan kirinya lalu dia pun mengecup tanganku.
"Hei! Kau bilang tadi hanya kepala?!" ucapku.
__ADS_1
"Hanya? Tidak. Aku tidak berkata seperti itu." Rain membela diri.
Sejujurnya aku hanya pura-pura kesal saja. Padahal aku ingin lebih dari ini. Tapi aku kan perempuan, sukanya dikejar. Biar dia mengejarku dahulu.