
Kau adalah udara yang kuhirup.
Kau adalah segala yang kubutuhkan.
Kau adalah kata-kata yang kubaca.
Kau adalah cahaya yang kulihat.
Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan.
...
Sesampainya di istana, Cloud segera kembali ke ruangannya. Ia tampak terkejut karena kini di depan ruangannya telah ada dua pengawal kerajaan yang menjaga.
"Pangeran Cloud."
Menteri Dalam Negeri membungkuk hormat saat Cloud masuk ke dalam ruangan. Ia begitu sopan kepada pangeran sulung di kerajaan ini.
"Tuan Count, di depan kulihat ada yang berjaga."
"Maafkan saya, Pangeran. Saya memang sengaja menyuruh kedua pengawal berjaga di depan ruangan Anda, untuk mengantisipasi jika terjadi hal yang tidak diinginkan."
"Anda begitu peduli, Tuan Count." Cloud tersenyum menanggapi.
"Sudah sepantasnya saya melakukan hal itu, Pangeran," balas Count.
"Hm, baiklah. Apa terjadi sesuatu selama aku tinggal pergi?" tanya Cloud kemudian.
"Tidak ada, Pangeran. Semuanya berjalan dengan baik."
Cloud menghela napasnya.
"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih telah membantuku, Tuan Count."
Count mengangguk. Ia segera undur diri dari hadapan Cloud seraya membungkuk hormat. Pria paruh baya itu lekas meninggalkan ruangan Cloud dan bergegas kembali ke ruangannya.
"Mungkin lebih baik aku membersihkan diri terlebih dahulu."
Cloud bergegas masuk ke dalam kamar pribadinya, ia segera mandi. Membersihkan tubuh sebelum kembali ke aktivitas hariannya.
Tampak dirinya kini tengah berendam dalam bak air hangat seraya menyandarkan punggung di tepi bak. Suasana hatinya kini mulai membaik.
Ara ... lekaslah kemari.
Ia berharap pertanda yang diberikan oleh pohon itu benar, jika Ara akan segera datang ke dunianya ini.
Sementara itu di belakang istana...
Angin sore menyapu helaian rambut pangeran bungsu di kerajaan Angkasa. Ia tampak sedang menikmati secangkir teh hangat bersama putri kerajaan Aksara, Andelin.
"Pangeran, hari esok sepertinya cerah. Mungkin Pangeran mempunyai waktu luang dan dapat menemani saya berkeliling ibu kota." Andelin mendekati Rain.
"Jam kerjaku tidak menentu, Putri. Aku khawatir jika ada pekerjaan dadakan," tolak Rain secara halus.
__ADS_1
Andelin tampak murung. Ia seperti menemui jalan buntu. Kedua pangeran baik Cloud maupun Rain tidak memberinya cela sedikit pun untuk mendekat.
"Sepertinya kedatanganku memang belum tepat." Andelin murung.
Rain menjadi tidak enak hati kepada putri kerajaan Aksara itu. Namun, ia juga tidak ingin mengkhianati Ara. Walaupun sebenarnya bisa saja ia menemani putri itu berjalan-jalan melihat ibu kota.
"Maaf, Putri. Mungkin lain waktu," kata Rain seraya tersenyum tipis.
"Tidak apa, Pangeran. Saya mengerti."
Andelin segera undur diri dari hadapan Rain. Putri itu tampak bersedih dengan penolakan-penolakan yang ia terima.
Andelin lekas pergi meninggalkan Rain dan pangeran itu sama sekali tidak menahannya. Rain benar-benar ingin menjaga komitmen yang telah dibuat bersama Ara.
Hampir saja Andelin menangis. Ia merasa gagal menjadi seorang putri karena tidak dapat mendekati kedua pangeran ini. Langkah kakinya terdengar cepat kala berjalan menuju kamar pribadinya yang berada di lantai dua istana. Ia tampak kesal.
"Hah!"
Andelin segera menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Dilihatnya langit-langit kamar yang berwarna putih susu itu.
"Kenapa aku tidak dapat mendekati keduanya? Jangankan keduanya, salah satunya pun aku tidak bisa. Apakah mereka sudah mempunyai kekasih?" Andelin bertanya sendiri.
Putri itu menarik napas panjang. Ia merasa kedatangannya ke istana ini tidak menghasilkan apapun. Iapun beranjak bangun lalu menulis sepucuk surat untuk sang ayah, Raja Hell di Negeri Aksara.
"Tolong sampaikan surat ini kepada ayahku," pinta Andelin kepada burung merpati yang ada di kamarnya.
Utusan Negeri Aksara memang membawa burung merpati saat kedatangannya ke istana ini. Burung itu diletakkan di dalam sangkar emas milik kerajaan Aksara. Burung yang sudah terlatih untuk mengirim surat dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Tak ayal, surat itupun sampai di tangan sang raja.
Di Negeri Aksara...
"Kurang ajar!" Hell geram.
"Paduka, apa yang terjadi?"
Seorang menteri yang menjabat sebagai sekretaris negeri bertanya kepada rajanya.
"Kedua pangeran itu tidak memberi cela sama sekali kepada putriku untuk mendekat." Hell menggulung surat dari putrinya.
"Apakah benar, Paduka Raja?" Menteri itu tampak heran.
Hell kemudian memberikan surat tersebut kepada menterinya. Dan diketahui isinya adalah...
Yang Mulia Ayah...
Tugasku sepertinya kurang berhasil. Kedua pangeran Angkasa tidak menginginkan kehadiranku di sini. Aku telah mencoba untuk mendekatinya. Namun, baik pangeran sulung maupun pangeran bungsu, mereka acuh tak acuh dengan kehadiranku.
Apa yang harus aku lakukan? Waktuku hanya tersisa esok hari di sini.
Andelin
...
Menteri itu tampak mengernyitkan dahi. Ia merasa ada sesuatu yang menghalangi putri Aksara mendekati kedua pangeran.
__ADS_1
"Paduka, apa kita harus menggunakan sihir untuk melunakkan hati kedua pangeran itu?" tanya sang menteri.
Raja Hell kembali duduk di atas singgasananya. Ia tampak berpikir.
"Jumlah pasukan kita tidak sebanding dengan Negeri Angkasa. Terlebih pasukan itu dipimpin oleh pangeran bungsu yang terkenal akan tangan dinginnya. Bagaimana jika kita—"
"Aku kurang yakin dengan saran darimu, Land," sela Raja Hell.
"Mengapa Paduka bisa berkata demikian?" tanya menteri itu lagi.
"Angkasa mempunyai penghalang mistis yang sulit untuk tertembus. Aku tidak yakin jika menggunakan sihir akan berhasil." Hell tampak ragu.
Land berpikir keras. Ia mencari cara agar dapat menerobos pertahanan Angkasa.
"Bagaimana jika kita meminta putri Andelin untuk menjebak salah satu pangeran?"
"Menjebak?"
"Ya, dengan begitu salah satu dari mereka akan terperangkap dalam rencana kita."
"Apa ini tidak terlalu memaksa?"
"Tidak, Paduka. Aku rasa masih ada jalan lain untuk membuat Angkasa tunduk kepada kita."
"Hm, baiklah. Aku mengikuti saran darimu."
Raja dan menteri merencanakan sesuatu untuk membuat salah satu dari pangeran itu terjebak lalu mau menikahi putrinya. Hal licik itu ditulis sebagai balasan surat dari sang putri. Burung merpati kemudian mengantarkan surat itu hingga sampai di tangan Andelin. Putri itupun menerima suratnya.
"Ayah?"
Ia tidak menyangka jika harus melakukan hal yang disebutkan ayahnya. Namun, ini semua demi negerinya. Tanpa penolakan, Andelin segera bersiap untuk melaksanakan titah sang ayah.
Malam harinya...
Jam makan malam tiba. Keluarga utama kerajaan makan malam bersama. Andelin tampak memperhatikan kedua pangeran yang sedari tadi berdiam diri dan tidak saling menyapa.
Sepertinya ada peluang di sini.
Andelin terus memperhatikan gerak-gerik kedua pangeran yang tampak bersinggungan. Ia kemudian melancarkan rencananya itu.
"Yang Mulia Ratu, Paduka Raja."
Ia menyapa raja dan ratu yang tampak menunggu hidangan makan malam selesai disediakan.
"Silakan Yang Mulia."
Beberapa pelayan segera menyelesaikan hidangan makan malam dengan sangat hati-hati.
"Ada apa Putri Andelin?" Moon menyahuti Andelin.
"Yang Mulia, esok adalah hari terakhirku di istana. Bolehkah aku memohon sesuatu?" tanya Andelin dengan wajah penuh harap.
"Sesuatu, apa itu?" Moon bertanya kembali.
__ADS_1
"Yang Mulia, bolehkah saya berjalan-jalan ditemani salah satu pangeran?" tanya Andelin lagi.
Sontak saja hal itu membuat Cloud maupun Rain menelan ludahnya. Keduanya terkejut dengan permintaan Andelin.