
Kutelusuri pusarnya dengan kedua jari tanganku. Kuputari perlahan lalu mulai bergerak ke bawah. Cloud terdengar melenguh kecil. Dia tampak menikmati sentuhan ini.
"Cloud ...."
Aku kemudian mendekatinya. Merebahkan kepala di atas dadanya yang bidang. Kudengar detak jantungnya berpacu cepat. Hasrat Cloud berkobar dalam sekejap.
"Ara ...?"
Dia membuka kedua matanya, memandangiku yang masih mengusap-usap dadanya. Cloud lantas menggenggam tanganku.
"Sayang, kenapa berhenti?" tanyanya lembut dengan napas yang terdengar berat.
"Aku khawatir, Cloud," jawabku pelan.
"Khawatir?"
Aku mengangguk. "Aku belum siap untuk melepaskannya. Jika diteruskan, aku takut kelabasan," kataku lagi.
Cloud tersenyum, dia lantas mencubit hidungku. "Aku mengerti, Ara."
Akupun bangun dari dadanya. Kupandangi wajahnya yang rupawan, tersirat keinginan untuk memilikinya semakin besar.
"Bisakah kita terus seperti ini?" tanyaku padanya.
Cloud membelai rambutku yang jatuh. Ia beranjak bangun untuk lebih dekat denganku.
"Kau tau, Ara. Kau adalah wanita pertama yang berani menjatuhkan jubah kerajaanku."
"Cloud?"
"Kau harus bertanggung jawab atas hal itu."
"Ma-maaf. Maafkan aku." Aku merasa bersalah.
"Kau harus menjadi istriku sebagai hukuman atas perbuatanmu."
"Cloud?!"
Aku pikir dia akan menghukumku dengan hukuman yang berat karena telah berani menjatuhkan jubahnya ke atas lantai. Namun ternyata, dia malah memintaku untuk menjadi istrinya.
"Kali ini aku tidak memaksamu. Tapi aku menuntutnya."
Dia tersenyum lalu meraihku ke dalam pelukannya yang hangat. Rasanya begitu senang sekali mendapat perlakuan seperti ini.
"Cloud, aku mencintaimu." Aku mencoba mengatakan hal itu untuk pangeran pujaanku.
"Aku juga, Ara. Jangan pernah tinggalkan aku," pintanya.
Aku memeluknya. Memeluk tubuh pangeranku dengan erat. Aku pun tidak mau meninggalkannya. Jangankan untuk meninggalkan, terbesit untuk menjauh pun tidak pernah terlintas di benakku.
Tak lama, lonceng pergantian waktu terdengar. Kini tiba saatnya bagi kami untuk segera berpisah. Walaupun berat, mau tak mau aku merelakannya. Pekerjaan Cloud begitu banyak dan aku harus memaklumi hal itu.
__ADS_1
"Ara, aku tinggal, ya?" Cloud memakai dalaman jubahnya.
Aku segera bangun lalu mengambilkan jubahnya yang jatuh. Kupakaikan kembali ke tubuhnya, tercium harum parfum sejenis blue sky dari tubuhnya itu. Kuhirup dalam-dalam aroma parfumnya, kurasakan memenuhi seluruh denyut nadiku.
"Semangat, ya!" Aku memberikan semangat kepadanya.
"Laksanakan perintah, Ratu." Cloud mengiyakan seraya menyebutku ratu.
Aku tersenyum, lantas mengantarkannya sampai ke depan pintu kamar. Kulihat matahari mulai terbit di pagi ini. Sepertinya hari bahagia itu akan segera tiba. Ya, hari dimana aku akan resmi menjadi seorang istri. Melayani suami dengan sepenuh hati.
Beberapa jam kemudian...
Enam hari lagi para tamu undangan akan segera berdatangan ke istana. Segala kebutuhan pun telah dipersiapkan dengan baik. Dan kini aku berada di dapur istana, sedang membuat kue kering sebagai sajian para tamu yang akan datang.
"Nona, apakah ini cukup?" tanya seorang koki kepadaku.
Kulihat selai nanas satu panci besar sudah tersedia untuk kedua kalinya. Aku kemudian mulai mencampur semua bahan kue, membuat kue nastar untuk disajikan kepada para pangeran dan putri kerajaan yang akan menjadi tamu kehormatan istana.
"Em, enak. Tidak kemanisan."
Kucicipi adonan kue ini dan rasanya pas, tidak terlalu kemanisan. Dengan dibantu lima koki istana, aku membuat kue nastar yang lebih banyak lagi. Pekerjaan sudah kami mulai sejak pagi, sehingga sekarang tinggal memanggangnya saja.
Habis ini buat kue apalagi, ya?
Aku berniat membuat banyak kue kering dengan menggunakan resep rahasia ibuku. Ya, anggap saja ini sebagai pengobat rinduku. Ada kenangan tersendiri saat membuat kue ini bersama keluargaku.
"Nona, loyang pertama sudah matang."
"Nona Ara begitu pintar. Kami tidak menyangka akan mempunyai ratu yang serba bisa."
"Benar, Nona. Pasti pangeran sangat beruntung mempunyai istri seperti Nona."
Aku tersipu mendengar perkataan mereka. Padahal aku merasa biasa-biasa saja. Ini sih belum seberapa dari pekerjaanku. Masih ada hal yang bisa kulakukan selain ini. Bukannya sombong, tapi memang daya takar duniaku dan dunia ini jauh berbeda. Mereka belum tahu saja jika aku sudah terbiasa dengan kehidupan keras dunia.
"Sempurna!"
Kami terus menyelesaikan pembuatan kue nastar ini hingga puluhan loyang besar sudah siap tersaji. Aku merasa bahagia karena bisa berbagi resep dengan para koki. Mereka juga mengajariku bagaimana memasak ala istana. Sungguh langka bagi gadis desa sepertiku ini.
Malam harinya...
Aku dipanggil Cloud ke belakang istana untuk menemaninya. Aku pikir ada pekerjaan untukku, namun ternyata...
"Tuan Mozart?!"
Aku begitu senang saat melihat musikus asing itu sudah berada di halaman belakang istana. Dia terlihat bersama sembilan personil lainnya.
"Salam bahagia untuk Nona Ara." Dia menyapaku.
"Terima kasih. Salam bahagia untuk Tuan Mozart dan yang lain."
Aku tersenyum, kemudian berkenalan dengan para personil band-nya. Tentunya dengan tanpa bersentuhan tangan. Cukup meletakkan tangan kanan di dada seraya menyapa.
__ADS_1
"Baiklah, Ara. Aku tinggal dulu." Cloud berniat pergi. "Tuan Mozart, mohon bantuannya," lanjut Cloud yang beralih ke musikus itu.
"Baik, Pangeran. Saya akan kerahkan seluruh kemampuan kami untuk acara ini." Musikus itu menyanggupi.
"Cloud!"
Sebelum Cloud benar-benar pergi, aku memanggilnya. Kutinggalkan sebentar musikus itu lalu berjalan bersama Cloud.
"Kenapa, Ara?" tanya Cloud padaku.
"Kau masih ada rapat?" Aku mencoba untuk mencari tahu kegiatannya malam ini.
"Iya, Sayang. Kau rindu padaku?" Dia tersenyum.
"Em, aku ingin kita bernyanyi bersama untuk acara dansa nanti. Apa kau bisa?" tanyaku lagi.
"Lagu yang biasa?"
"Bukan, lagu yang lain."
"Yang mana?" tanyanya segera.
"No matter what. Kita bisa berduet mengiringi sesi dansa."
Cloud tampak berpikir.
"Hem, baiklah. Besok pagi aku akan ke kamarmu untuk mendengarkan lagu itu. Tapi untuk sekarang, aku rapat dulu. Tak apa, ya?" Cloud mengusap poni rambutku.
Aku mengangguk.
"Sampai jumpa, Ratu."
Cloud?!
Aku terkejut sesaat setelah kecupan itu mendarat di sudut bibirku. Cloud mencium sudut bibirku. Dia tanpa malu melakukan hal ini di hadapan para personil band pengiring.
Astaga, Cloud. Dia semakin berani saja. Namun entah mengapa, aku malah menyukainya.
Dia lantas pergi, bergegas menuju ruangan rapat untuk membicarakan perihal pertunjukan busana nanti. Aku pun melepas kepergiannya lalu kembali fokus dengan tugasku.
Semangat, Cloud!
Aku kembali ke band pengiring lalu menjelaskan tentang rencana acara nanti. Betapa senang hatiku karena Tuan Mozart dan para personil band-nya cepat mengerti atas apa yang aku jelaskan.
Tinggal menari diiringi langsung oleh band Tuan Mozart.
Musikus bernama Mozart ini membawa sembilan personil band-nya. Dua diantaranya backing vokal yang terdiri dari wanita dan pria. Dan tujuh personil lainnya ahli alat musik.
Ada dua pemain biola, satu piano, dua gitar, satu drum dan satu saksofon. Tampaknya acara nanti akan berlangsung dengan sangat meriah.
Semoga saja Tuhan merestui acara ini. Demi kejayaan negeri yang berkahi, Angkasa Raya.
__ADS_1