Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Mistery


__ADS_3

Keesokan harinya...


Aku terbangun di pagi hari. Jam di dinding istana pun telah menunjukkan pukul enam pagi. Kulihat mentari sudah terbit dari singgasananya. Dan kini aku sedang berjalan bersama Zu menuju pintu depan istana. Tapi sebelum sampai, aku bertemu dengan ratu.


"Kau pulang tanpa memberi tahu Ibu, Zu. Apakah itu pantas dilakukan olehmu?" tanya ratu, menghadang jalan kami.


"Aku tidak perlu izin padamu." Zu menjawab dengan singkat.


Eh?!


Entah mengapa aku merasa tiba-tiba mual saat ratu itu berjalan semakin mendekat ke arahku. Aku pun segera menutup hidung agar rasa mualku tidak kelihatan olehnya.


"Dewi, kau tak apa?" Namun, Zu segera menyadarinya.


Ratu itu berjalan semakin mendekat dan kini hanya berjarak tiga langkah saja dariku. Aroma tubuhnya sangat menyengat, entah parfum jenis apa yang dipakai olehnya.


"Kau membawa seorang gadis ke istana dan sepertinya dia sedang mengalami sesuatu. Apa yang telah kau perbuat padanya, Zu?" tanya ratu itu lagi.


Zu mendengus kesal. Ratu bergaun krim itu sepertinya benar-benar membuat pangeran Zu marah. Nada bicaranya seolah merendahkan.


"Bukan urusanmu apa yang kulakukan pada kekasihku. Permisi." Zu lantas menarikku agar pergi dari hadapan ratu.


Segera saja aku buru-buru membungkukkan badan ke arahnya sebelum beranjak pergi. Aku tidak ingin kesan pertama membuat ratu itu curiga padaku. Jadi sebisa mungkin bersikap biasa saja kepadanya.


"Pangeran, apa itu tidak terlalu berlebihan?" tanyaku seraya berjalan bersamanya menyusuri koridor istana.


"Dia bukan ibu kandungku. Aku tidak mempunyai urusan dengannya." Zu menjawab dengan nada datar.


Pikiranku semakin menjadi-jadi kala mengetahui Zu tidak akur dengan ibu tirinya. Aku semakin curiga jika ada keterkaitan ratu dengan penyakit yang diderita oleh raja. Mungkin suatu saat aku akan mengetahuinya sendiri.


"Sekarang naiklah."


Kini kami telah sampai di pintu depan istana, yang mana kuda putih Zu sudah menunggu. Kulihat istana pagi ini masih tampak sepi. Atau mungkin karena istana dan halamannya yang begitu luas, sehingga aku tidak dapat melihat keseluruhannya? Entahlah.


Satu jam kemudian...

__ADS_1


Tepat pukul tujuh pagi, Zu sudah bersiap untuk kembali ke istana. Sedang aku masih sibuk berdandan sekedarnya. Hari ini dia memintaku untuk menemaninya bekerja.


Hah, baiklah. Ini bukan pertama kalinya bagiku. Jadi sepertinya tidak terlalu merepotkan.


Tak lama aku pun selesai berdandan. Mengenakan gaun berwarna cokelat muda panjang hingga semata kaki dengan make up minimalis. Sengaja hari ini kupadukan blash on, lipglos dan eye shadow berwarna orange agar tampak lebih ceria. Zu lantas mendekatiku yang sedang bercermin.


"Ara, entah mengapa aku merasa sudah menjadi suami sahmu." Dia tertawa sendiri di belakangku.


"Eh? Benarkah?" Aku pun berbalik menghadapnya.


Zu mengangguk. "Kini aku mempunyai kewajiban untuk membahagiakanmu. Jadi jika ada sesuatu yang kau butuhkan, tinggal bilang saja kepadaku," katanya lagi.


Aku tersenyum menanggapinya. Kutahu jika Zu membutuhkan kasih sayang lebih dari seorang wanita. Tapi, aku masih takut untuk memberikannya, khawatir jika hatiku sampai berpindah kepadanya.


Pangeran, kau begitu tampan. Jika menuruti ego, aku juga menginginkanmu. Tapi, aku sudah mempunyai kedua pangeran yang kucintai. Maaf jika aku tidak bisa memperlakukanmu sama seperti mereka.


"Kau lupa mengaitkan satu kancing atas jubahmu, Pangeran." Aku lalu membantu mengancingi jubah hitamnya itu.


Zu lantas tersenyum, dia memelukku. "Ara, tetaplah di sini. Temani aku," pintanya dengan nada yang terdengar sungguh-sungguh.


Segera kutarik tangannya agar keluar dari kamar ini, Zu pun mengikutiku. Kami berjalan menuruni anak tangga menuju lantai satu kediamannya. Dan sesampainya di lantai satu, kulihat kuda putihnya sudah menunggu di depan pintu. Aku pun segera mempercepat langkah kakiku.


Aku akan menolong semampuku, sebisaku. Tak ada salahnya mencobanya terlebih dahulu. Hitung-hitung ini tabungan buat hari nanti. Ya, semoga saja berhasil.


Ara bertekad menolong raja yang sedang tertimpa penyakit tak biasa. Kehidupannya dulu di desa bisa sedikit membantu pengobatan raja, karena ia mengetahui jenis-jenis obat herbal dari alam. Ara merasa curiga dengan penyakit yang diderita oleh ayah Zu itu. Terlebih ia sendiri mengalami peristiwa aneh saat melangkahkan kaki, masuk ke dalam kamar raja. Perasaannya amat peka terhadap keadaan sekitarnya, ia bisa merasakan energi negatif yang sedang menyelimuti.


Di Istana Aksara...


Land menerima kabar mengejutkan dari mata-matanya. Ia tersenyum tipis kala mengetahui jika Angkasa telah kehilangan gadis pemilik nama yang sama dengan pohon surga itu.


"Apa kau yakin jika dia telah pergi dari istana?" tanya Land dari atas singgasananya.


"Benar, Paduka. Gadis itu kini tidak lagi berada di Angkasa. Sepertinya ini kesempatan baik untuk kita menyerang negeri itu," tutur mata-mata Land.


"Tunggu! Kita tidak boleh gegabah. Bisa jadi jika gadis itu sengaja disembunyikan atau ada hal lain yang terjadi di istana?" Land ingin memastikan.

__ADS_1


"Untuk hal itu saya belum mengetahuinya lebih lanjut, Paduka. Tapi sepertinya, gadis itu berperan penting bagi kedua pangeran Angkasa."


"Maksudmu?"


"Saya mendengar kabar saat makan di kedai jika gadis itu dicintai oleh kedua pangeran Angkasa."


"Apa?!" Land terkejut mendengarnya.


Bagaimana bisa kedua pangeran itu menyukai gadis yang sama? Apa jangan-jangan dia ...?


Land kembali mengingat misteri penyebab kematian penyihir sewaannya dulu. Penyihir itu sempat menuliskan jika ada seorang gadis bercahaya ungu melindungi istana Angkasa. Ia mempunyai sudut pandang lain tentang hal ini.


"Aku pernah mendengar riwayat tentang negeri itu. Tapi bukankah itu hanya sebatas dongeng belaka?" Land beranjak dari singgasananya.


"Maksud Paduka?" tanya mata-mata itu.


"Jauh sebelum Aksara ada, aku pernah mendengar dari kakek buyutku jika ada sebuah negeri yang diberkahi. Negeri itu akan dijaga oleh seorang dewi yang cantik jelita. Dewi itu mempunyai kemampuan di luar nalar manusia. Dan selain cantik, dia juga pintar menyenangkan hati orang lain. Sehingga negeri itu aman tentram di bawah naungannya. Tapi ...," Land memikirkan hal ini baik-baik.


"Tapi apa, Paduka?" tanya mata-mata itu lagi.


"Tapi apa benar yang dimaksud dewi itu adalah gadis yang dicintai kedua pangeran Angkasa?" Land bertanya sendiri.


Dahi Land seketika berkerut. Ada rasa cemas yang melandanya saat ini. Namun, sebisa mungkin ia tepiskan.


"Paduka, jika benar gadis itu adalah dewi. Mengapa kita tidak mencoba mengujinya terlebih dahulu?" kata mata-mata itu lagi.


"Maksudmu?" Land berbalik menghadap mata-matanya.


"Kita kirimkan sihir untuk ratu Angkasa. Jika sihir berhasil, berarti dia memang benar-benar dewi penjaga itu. Saat ini dia tidak berada di istana, tentunya amat mudah bagi sihir kita menembusnya." Mata-mata itu memberikan saran kepada Land.


"Kau benar. Tapi jika dia memang dewi itu, maka kita harus berhati-hati dengannya. Aksara bisa hancur di tangannya." Land mencoba berhati-hati.


Land tidak ingin sembarangan bertindak karena hikayat yang pernah ia dengar sewaktu kecil. Kakek buyutnya pernah menceritakan jika ada seorang dewi yang menaungi sebuah negeri. Entah itu hanya sebatas dongeng atau hanya perumpamaan semata. Land juga belum mengetahui kebenarannya.


Semoga saja cerita itu hanya dongeng belaka.

__ADS_1


Land tidak percaya dengan kisah itu. Sebuah kisah misteri yang menyelimuti negeri yang diberkahi. Dan negeri itu bernama Angkasa.


__ADS_2