Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
My Cinderella


__ADS_3

Beberapa saat kemudian...


Ara kini telah berada di ruang ganti. Ia sedang didandani oleh pihak penata rias dengan warna make up yang lembut. Sehingga gadis itu terlihat sangat cantik, namun tidak melepas kesan alami kecantikannya.


"Nona jadi mengenakan gaun yang berwarna putih ini?" tanya seorang penata busana.


"Iya. Sebentar lagi aku akan bernyanyi bersama pangeran. Jadi sepertinya lebih cocok jika menggunakan warna gaun yang sama dengannya."


Ara sengaja memilih gaun berwarna putih agar sama dengan warna jubah kerajaan Cloud. Ia lalu memakainya, dan tampaklah keanggunan sang gadis saat mengenakan gaun berdasar sutra itu. Terkesan lembut dengan bagian bahu yang sedikit terbuka, namun tetap berlengan panjang. Hiasan kalung pemberian dari Rain pun tampak menambah kesan jika dialah sang putri sebenarnya.


Ara juga mengenakan anting mutiara pemberian dari Cloud dan mahkota dari raja. Ia benar-benar terlihat seperti seorang putri, bahkan mungkin seperti ratu. Polesan make up warna pink mendominasi wajahnya, sehingga kesan cantik alami didapatkan. Terlihat imut dan juga menggemaskan.


Gelang bergantung awan dan hujan masih setia dipergelangan tangan kirinya. Sedang di jari manis tangan kanannya masih memakai cincin permata pemberian dari Cloud. Ara sama sekali tidak ingin melepas pemberian dari kedua putra mahkota ini.


...


Sementara itu, di ruang utama sedang diadakan permainan oleh pihak istana untuk menghibur para tamu undangan. Count dan Shane memilih secara acak pasangan untuk acara dansa nanti. Dan akhirnya, terpilihlah lima belas putri dan pangeran yang akan berdansa bersama.


"Untuk raja dan ratu, kami mohon maaf tidak dapat mengikutsertakannya."


Count mencandai para raja dan ratu karena tidak dapat mengikuti acara pemilihan pasangan dansa ini. Sontak saja para ratu tertawa mendengar candaan dari Count. Sementara Shane membantu mengurutkan nama putri dan pangeran yang terpilih untuk acara dansa nanti.


"Baiklah, kita sudah mendapat lima belas pasangan untuk acara dansa." Shane mengumumkan pasangan terpilih malam ini.


Di rombongan keluarga Nenek Sun, terlihat Rain dan Star sedang berbincang. Keduanya tengah duduk di barisan paling depan, dekat dengan tiang penyanggah ponsel Ara.


"Kau yakin tidak ikut, Rain?" tanya Star kepada Rain.


"Aku tidak tertarik," jawab Rain singkat.


"Masih tersisa sepuluh putri lagi. Kau bisa mengambil bunga dari atas meja ini lalu pergi ke sana."


Star menunjuk meja yang ada pot bunga kecil di atasnya. Ia membujuk Rain agar mengajak putri lain untuk ikut berdansa, dengan memberikan setangkai bunga terlebih dahulu sebagai tanda ajakannya.


"Tidak."


"Mereka tak kalah cantik dari Ara," bujuk Star lagi.


"Diamlah, berisik!" Rain tampak kesal kepada sepupunya itu.


"Hahahaha."


Star lantas tertawa mendengarnya. Ternyata ia tidak dapat menggoyahkan hati sang putra bungsu kerajaan ini.

__ADS_1


Sementara itu di panggung...


"Sesi acara kali ini diminta langsung oleh adik mendiang raja. Kami persilakan kepada Nenek Sun untuk memberikan sepatah dua patah kata sambutan." Count mempersilakan.


Nenek Sun bersama rombongan duduk terpisah di lantai dasar. Tepat di belakang Rain merekam pertunjukan ini. Kursi-kursi dan meja khusus disediakan untuk keluarga rombongan. Dan ditemani Star, Nenek Sun naik ke atas panggung untuk memberikan sambutannya sebelum acara dansa dimulai.


Kembali ke ruang ganti...


Cloud menghampiri Ara yang baru saja selesai di make-up. Para penata rias pun memberi hormat kepadanya.


"Ara, kau sudah siap?" tanya Cloud, sesaat setelah membalas sapaan para penata Rias.


Ara pun menoleh ke belakang, melihat Cloud yang datang. Dan betapa terkejutnya sang pangeran saat melihat kecantikan calon ratunya itu.


"Astaga, Ara ...."


Cloud terpana. Angannya tiba-tiba melayang jauh saat melihat Ara mengenakan gaun putih dengan mahkota yang menghiasi. Ditambah polesan make up girly membuatnya tampak begitu mempesona. Tak ayal, sang putra sulung kerajaan Angkasa ini terkesima dengan gadisnya.


"Cloud?"


Ara mendekati Cloud, ia mengusap pipi sang pangeran. Seketika Cloud tersadar lalu segera mencium tangan sang gadis yang mengusap pipinya.


"Kau cantik sekali, Ara. Oh, Tuhan. Aku merasa ...,"


"Merasa apa?" tanya Ara dengan lembutnya.


"Kau ... benar-benar seorang dewi, Ara. Kau bukan gadis biasa. Aku—"


"Cloud, jangan! Kau tidak malu apa dilihat mereka?"


Tiba-tiba saja Cloud ingin memeluk Ara. Tanpa menyadari jika sedang berada di tengah-tengah penata rias istana.


"Astaga, aku sampai lupa. Maafkan aku." Cloud akhirnya menyadari.


"Dasar, kau ini. Baiklah, kita ke ruang utama. Tunjukkan kemampuan kita, Pangeran!" Ara menyemangati.


Ara lalu menggandeng lengan kiri Cloud, menuju ruang utama. Sontak hal itu menjadi perbincangan para penata rias yang ada di ruang ganti.


"Mereka sangat serasi, ya."


"Iya, benar. Pasti cantik sekali jika nona Ara melahirkan seorang putri."


"Hei, mereka belum menikah." Salah satu penata rias membantahnya.

__ADS_1


"Sebentar lagi juga pasti akan menikah," sahut penata rias yang lain.


"Kau sangat yakin. Bagaimana dengan pangeran Rain?" tanya penata rias itu.


"Ah, iya. Hampir saja aku melupakannya." Penata rias itu menyadari.


"Hahahaha."


Para penata rias itu tertawa saat membicarakan kedua pangeran dan Ara. Mereka juga tidak sabar menunggu hasil keputusan raja di hari penentuan yang telah ditetapkan.


Di ruang utama istana...


"Baiklah, Hadirin. Kini saatnya sesi acara dansa. Kepada pangeran dan putri yang terpilih, silakan berkumpul di depan panggung bersama pasangan dansanya." Count membuka sesi dansa.


"Dan mari kita sambut pengisi acara dansa malam ini, Pangeran Cloud dan Nona Ara!" Shane mempersembahkan.


Cloud dan Ara datang disambut tepuk tangan yang meriah. Star tampak bahagia melihat keduanya berjalan bersama. Namun, tidak dengan Rain. Ia duduk kesal di samping sepupunya itu dan Star pun menyadarinya.


"Hei, ini hanya pertunjukan. Tidak perlu sekesal itu, Rain," goda Star.


"Hah, diamlah! Aku tidak ingin bicara saat ini," balas Rain dengan ketus.


"Hahaha." Star lagi-lagi tertawa saat melihat raut wajah sepupunya itu.


Sementara di atas panggung, Ara dan Cloud sudah bersiap untuk bernyanyi bersama. Mereka tampak sedang mengecek nada dasar.


Dia akan bernyanyi?


Zu di bawah panggung yang sudah mempunyai pasangan dansa sendiri, tidak dapat mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Sebisa mungkin ia mencuri pandang saat Ara tidak melihat ke arahnya. Namun sepertinya, hal itu segera disadari oleh Rain.


Tatapan pangeran itu sangat berbeda saat melihat Ara. Jangan-jangan dia punya niatan lain. Rain berbicara sendiri.


"Selamat malam." Ara melakukan sambutan, sementara Cloud berbicara dengan Mozart.


"Selamat datang di pertunjukan busana malam ini. Terima kasih telah datang ke istana kerajaan Angkasa." Ara tersenyum lalu membungkukkan badan menghadap ke arah hadirin.


Cloud kemudian memberi tanda jika sudah siap bernyanyi.


"Dengan tanpa mengurangi rasa hormat, izinkan kami untuk mengisi sesi acara dansa ini dengan sebuah lagu." Ara melanjutkan.


Cloud lalu berdiri bersama Ara. Ia ikut tersenyum ke arah para hadirin.


"Baiklah. Inilah persembahan dari kami, No Matter What."

__ADS_1


Ara penutup kata sambutannya. Bersamaan dengan itu irama lagu pun mulai dimainkan.


__ADS_2