Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
I Don't Know


__ADS_3

Beberapa saat kemudian...


Setelah selesai makan siang, aku mengantarkan Cloud kembali pergi bekerja. Dia juga seperti tadi pagi, mencium semua yang ada di wajahku. Dimulai dari kening, kedua mata, pipi, hingga ciuman terakhirnya mendarat di bibirku. Aku pun hanya bisa pasrah menerimanya. Ya, daripada dia banyak curiga, kuturuti saja kemauannya. Tapi ada satu hal yang membuatku ingin tertawa, lagi-lagi Cloud menyodorkan tangan kanannya agar aku menciumnya.


Dasar ....


Setelah kucium tangannya, dia pun beranjak pergi meninggalkan halaman depan rumah bersama kuda putihnya. Akupun melambaikan tangan seraya tersenyum ke arahnya. Dan kulihat dia membalas senyuman dan lambaian tanganku ini.


Hah ... akhirnya ....


Setelah melepas keberangkatan Cloud kembali ke istana, aku segera mengunci pintu lalu melangkahkan kaki menuju teras atap rumah. Sedari tadi aku memikirkan bagaimana perasaan Rain yang menungguku. Sungguh aku amat tidak enak hati padanya. Tapi mau bagaimana, Cloud menahanku.


Sesampainya di teras atap rumah. Kulihat Rain sedang tiduran di ayunan sambil menatap langit siang yang menyilaukan. Dia sama sekali tidak menghiraukan panas yang menerpa. Aku kemudian berjalan mendekat ke arahnya, lalu duduk di pinggir ayunan.


"Sudah?" tanyanya setelah menyadari kehadiranku.


"Rain, maaf. Aku—"


"Tak apa, Ara. Aku harus membiasakan diri dengan keadaan ini," katanya lalu menarik tubuhku.


"Rain?" Wajah kami begitu berdekatan, aku sampai bisa merasakan hangat napasnya.


"Asal kau tetap di sini, aku akan sekuat tenaga melawan rasa kesal di hati."


"Rain ...."


Dia tersenyum lalu menarikku agar merebahkan kepala di atas dadanya. Aku pun memeluknya sambil mendengarkan alunan merdu jantungnya.


"Sayang, aku masih berharap bisa memilikimu seutuhnya. Aku juga masih berharap bisa hidup bahagia bersama anak-anak kita kelak." Dia menuturkan harapannya.


"Rain, sudah! Aku tidak ingin sedih seperti ini." Aku beranjak bangun.


"Ara!" Rain menahanku, dia segera bangkit lalu memegang tanganku. "Kau begitu berharga bagiku. Namun, tidak hanya bagiku, tapi juga baginya."


Rain ....


"Mungkin orang lain akan menilaimu macam-macam karena situasi ini. Tapi tidak aku, tidak juga dia. Kami mencintaimu dan kau tahu itu."


Rain ....


Aku segera berbalik menghadapnya. Kulihat dia berdiri tegar di hadapanku.


"Mungkin kau sudah ditakdirkan untuk kami. Aku akan mencoba menerimanya. Asal ... kau tidak pergi lagi."


"Rain!"


Aku segera menghambur ke pelukannya, tak tahu apa yang harus kuucapkan saat ini. Rain seperti bisa menerima keputusan ayahnya. Dan ini berarti pernikahanku sudah amat dekat.


"Rain, aku berjanji akan mengabdi dengan baik. Tolong jangan membuatku sedih dengan kata-katamu," pintaku padanya.

__ADS_1


Rain mengusap kepalaku. "Maafkan aku, Ara. Aku masih belajar menerima. Bagaimana jika kita berenang untuk mendinginkan pikiran?" tanyanya seraya mengangkat wajahku.


"Siang-siang begini?"


"He-em." Dia mengangguk. "Tadi kan tidak jadi karena sang putri ngambek." Dia mencolek hidungku.


"Ih, dasar!" Kucubit saja perutnya.


"Ara, sakit tahu!" Dia menggerutu.


"Kau ini bisa saja merayu," gumamku sambil menahan tawa.


"Anggap saja aku ini suamimu, jangan anggap pacar."


"Eh?!"


"Bukankah tidak ada lagi yang patut kita tutupi?" godanya seperti mengingatkan.


"Dasar!" Aku pun tersenyum tak jelas di depannya.


"Ara, kau segalanya bagiku. Aku tidak peduli apa yang sudah terjadi. Yang kutahu, aku mencintaimu. Titik," katanya lalu memelukku erat.


"Terima kasih, Pangeran," sahutku lalu menggigit dadanya.


"Aw!" Seketika Rain kesakitan dan memegang dadanya.


"Awas, ya!" Rain seperti mengerti maksudku.


Kami akhirnya tertawa bersama, bergandengan tangan menuruni anak tangga, menuju halaman belakang rumah untuk melepaskan kepenatan.


Aku sama sekali tidak merasa risih padanya. Toh, dia akan menjadi suamiku juga nantinya. Baik Cloud atau Rain, aku akan menerimanya dengan senang hati. Apalagi keduanya. Serakah, ya? Tapi bagaimana jika takdir sudah berkehendak atas cerita ini?


Sepuluh menit kemudian...


Aku sedang mengoleskan tabir surya pada tubuh pangeranku sambil memijatnya. Rain pun merasa keenakan dengan pijatanku ini. Katanya sih yang nomor satu. Dia bisa saja menghibur hatiku.


"Saat pelatihan militer, kami diminta berlari di tengah terik matahari tanpa alas kaki, Ara." Dia bercerita.


"Hah, benarkah?" Aku tak percaya.


"Bukan hanya itu. Kadang malah lomba lari di bawah terik matahari dan yang kalah harus membersihkan asrama selama satu minggu." Rain bersemangat sekali menceritakan kisahnya.


"Menyeramkan sekali, Rain." Aku bergidik sendiri.


"Ya, begitulah kami. Mungkin orang-orang akan memandang kami kuat, tapi kami juga manusia biasa." Dia berbalik badan menghadapku. "Saat cinta mengetuk pintu hati, kami juga bisa tidak berdaya." Rain menatapku dalam.


"Rain ...."


Dia membelai wajahku sambil terus menatap kedua bola mata ini. Dia merendahkan tubuhnya, berniat untuk menciumku. Tapi...

__ADS_1


"Ara!" Kudorong dia ke kolam dan dia pun tercebur.


"Hahaha. Tidak kena, wee!" Kujulurkan lidahku, mengejeknya.


"Awas, ya!" Dia pun kesal lalu beranjak dari kolam. "Hari ini tidak akan kubiarkan kau lepas!" ancamnya.


"Oh, benarkah?" Aku meledeknya.


Kulihat Rain semakin bersemangat untuk menangkapku. Tapi karena aku yang selalu bisa menghindar, membuatnya semakin kesal. Dan akhirnya, akupun tertangkap olehnya. Dia memelukku dari belakang lalu menjatuhkan diri bersama ke kolam. Kami akhirnya berbasah-basahan.


"Lepaskan aku!" teriakku yang ingin lari darinya.


"Tidak, Ara. Sudah terlanjur," katanya yang membuatku curiga.


Kami berada di kolam yang tidak terlalu dalam. Dan Rain masih memelukku erat dari belakang, seolah tidak ingin melepaskanku. Dan mungkin karena aku hanya mengenakan kemben dan leging pendek, membuat fantasinya mulai ke mana-mana. Aku bisa merasakan sesuatu menyembul dari tubuhnya.


"Hei, Rain! Jangan macam-macam!" Aku memperingatkannya.


"Tak apa, Ara. Sedikit saja."


"Ish, kau ini."


Kuinjak saja kakinya sambil mencubit perutnya. Akhirnya aku bisa terlepas darinya. Kulihat dia lagi-lagi kesakitan terkena cubitanku.


"Rasakan! Nakal, sih!" Aku berenang menjauh darinya.


"Ara, kau harus bertanggung jawab!" Dia ikut berenang mengejarku.


Di dalam kolam kami menghabiskan waktu bersama. Melepaskan penat dan rasa gundah yang melanda jiwa. Rain sepertinya tidak ingin terlalu memikirkan keputusan ayahnya. Berbeda dengan Cloud yang seperti amat tertekan. Entahlah, sifat keduanya memang berbanding terbalik dengan apa yang dilihat kebanyakan orang. Dan mungkin hanya aku saja yang mengetahuinya.


"Kena kau, ya!" Rain akhirnya berhasil menangkapku.


"Ampun, Pangeran. Jangan hukum aku!" pintaku yang menyerah saat Rain berusaha menggelitik pinggangku.


"Tidak-tidak. Hari ini aku tidak akan melepaskanmu," katanya dengan semangat menyala.


"Hah, baiklah. Lalu apa yang kau inginkan dariku, Pangeran?" tanyaku sambil menoleh ke arahnya.


"Inginku?"


"He-em."


"Kau pasti tahu, Sayang. Tidak perlu kukatakan, bukan?"


"Ish, dasar mesum!"


"Hahahaha. Biar saja. Hahaha."


Tawanya renyah sekali, membuat hati ini tenang. Secara tidak langsung dia memberikan semangatnya untukku. Andai saja aku bisa memilih, mungkin pilihanku akan tetap jatuh padanya. Tapi ternyata, aku tak berdaya untuk meninggalkan Cloud begitu saja. Dan keputusan akhir juga sudah ditetapkan oleh raja.

__ADS_1


__ADS_2