
Esok harinya...
Pagi hari aku terbangun dari mimpi buruk, mimpi yang membuatku tidak ingin mengingatnya lagi. Akupun lekas-lekas memakai sendal untuk bergegas mandi. Rasanya tidak enak jika belum mandi pagi. Ya, walaupun suhu tubuhku belum kembali normal sepenuhnya.
Semalam badanku panas, entah mengapa. Aku juga merasa mual sekali. Apa mungkin masuk angin atau kelelahan. Entahlah, mungkin lebih baik aku pergi ke rumah kecantikan istana. Siapa tahu aku bisa kerokan di sana.
Tak lupa kuambil pakaian ganti lalu segera melangkahkan kaki menuju ke sana. Di pertengahan jalan aku melihat pangeranku sedang membariskan prajuritnya. Dia memang gagah sekali, otot-otot di tubuhnya nyaris sempurna. Rainku memang tidak ada duanya. Dan aku amat mengaguminya.
Terus saja kulangkahkan kaki ini setelah melihat Rain yang masih sibuk bersama prajuritnya. Dan tak lama, aku pun tiba di rumah kecantikan istana. Karena hari masih pagi, belum banyak pelayan yang berjaga. Hanya ada beberapa orang saja.
"Salam bahagia untuk Nona Ara." Seorang pelayan wanita menyapaku.
"Salam bahagia, terima kasih," sahutku seraya tersenyum.
"Ada apa gerangan Nona Ara pagi-pagi sudah ke sini?" tanya pelayan itu.
"Em, begini. Bisakah aku minta tolong agar tubuhku ini dikerok, Mbok?" tanyaku langsung.
"Dikerok?"
"Iya. Menggunakan logam untuk mengeluarkan angin dari dalam tubuh. Aku merasa mual dan pusing semalam. Suhu tubuhku juga panas. Apakah bisa membantuku?" tanyaku lagi.
"Oh, Nona sudah periksakan kandungannya?" tanya pelayan itu padaku.
"Kandungan?!" Aku pun terkejut.
"Ya, kandungan. Mungkin sesuatu terjadi di rahim Nona," kata pelayan itu lagi.
"Mbok, aku belum pernah melakukannya. Apa Mbok mengira jika aku ini hamil?" Aku balik bertanya padanya.
"Mohon maaf, Nona. Saya tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja rasa mual itu bisa terjadi jika sedang ada masalah di dalam rahim. Yang Mulia ratu bisa membantu Nona. Tapi jika Nona ingin dikerok, mari saya antarkan ke terapis." Pelayan itu menjelaskan padaku.
Sejenak aku memikirkan kata-katanya. Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan olehnya itu. Terlebih kemarin aku sempat jatuh karena memisahkan kedua bayi besar. Mungkin ada baiknya jika aku memeriksakan kandunganku. Tapi, ya sudahlah. Hari ini aku terapi saja sekalian minta kerok agar angin di tubuhku keluar.
Aku sih sebenarnya percaya enggak percaya dengan mitos kerokan. Tapi anehnya, setelah kerokan badan memang terasa enteng. Ya, apa salahnya dicoba, namanya juga usaha.
__ADS_1
Sebelum matahari terbit sempurna sang gadis sudah berada di rumah kecantikan istana. Pelayan di sana juga menyarankan agar Ara memeriksa kandungannya terlebih dahulu. Namun, sang gadis lebih memilih untuk melakukan terapi sebelum memeriksakan kandungannya. Ia beranggapan jika dengan terapi gosokan logam bisa membuat tubuhnya baikan.
Lain Ara, lain pula dengan Cloud. Sang putra sulung kerajaan Angkasa ini baru saja tiba di halaman depan istana. Kedatangannya disambut suka cita oleh prajurit yang berjaga, tak terkecuali Rain. Si bungsu pun segera menghampiri kakaknya yang tampak memegang beberapa dokumen di tangan.
"Ternyata kau pulang lebih cepat, kenapa tidak lama saja di Aksara?" Rain berjalan bersama kakaknya, masuk ke dalam istana.
"Itu keinginanmu, tidak inginku," balas Cloud segera.
"Ya, ya, baiklah. Kau sudah mengantongi semuanya berarti?" tanya Rain lagi.
"Tenang saja. Aksara bukanlah negeri seperti Asia yang besar. Mungkin jika yang kutangani ini Asia, butuh waktu berminggu-minggu untuk mencari kejanggalannya." Cloud mulai menaiki anak tangga, menuju lantai dua istana bersama Rain.
"Ayah pasti senang mendengar kau sudah kembali," kata Rain lagi.
"Memangnya ayah di mana?" tanya Cloud seraya menoleh ke adiknya.
"Dia ke Asia," jawab Rain yang sontak memberhentikan langkah kaki Cloud.
"Ke Asia?" Cloud pun terkejut dalam keheranannya.
"Ada hal yang ingin kuceritakan padamu. Karena hal ini tidak hanya berkaitan dengan Ara, tapi juga negeri kita." Rain melanjutkan.
"Satu jam lagi kutunggu di teras balkon lantai tiga. Aku ingin membicarakan sesuatu hal yang amat penting denganmu. Jangan terlambat."
Rain menepuk pundak kakaknya. Mereka pun berpisah arah. Rain menuju ruang kerjanya, sedang Cloud masih tertegun di tempatnya. Ia merasa khawatir akan hal yang diceritakan oleh adiknya nanti.
Satu jam kemudian...
Cloud memenuhi undangan adiknya untuk berbincang bersama di teras balkon lantai tiga istana. Keduanya lalu disajikan hidangan sarapan pagi oleh para pelayan. Dan untuk yang pertama kalinya, kakak-beradik itu sarapan pagi bersama setelah belasan tahun terlewati. Baik Rain maupun Cloud menempatkan dirinya sebagai putra mahkota.
"Kau bertemu dengan Andelin di sana?" tanya Rain sambil mengoles rotinya dengan selai cokelat.
"Ya, aku bertemu dengannya. Dan dia ingin ikut ke Angkasa." Cloud meneguk teh hangatnya.
Pagi ini tampak cerah, sinar matahari terasa menghangatkan tubuh keduanya yang baru saja selesai mandi. Rambut keduanya pun masih tampak basah. Harum segar dari parfum keduanya tercium hingga ke luar area teras.
__ADS_1
"Dia juga ingin ikut ke sini. Tapi aku menolaknya," cetus Rain sambil menyuap roti ke mulutnya.
"Hah, entahlah. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Aku tidak bisa percaya dengannya lagi." Cloud bergantian mengoles rotinya dengan selai cokelat.
"Beberapa jam setelah kepergianmu dari istana, Zu datang kemari." Rain mulai menceritakan.
"Apa?!" Seketika Cloud terkejut, roti yang ditangannya pun terjatuh. "Lalu?" tanya Cloud serius.
"Dia meminta untuk berbicara empat mata dengan Ara. Dan ayah pun mengizinkannya."
"Astaga ...." Seketika Cloud tidak jadi makan.
"Tapi kau tenang saja, Kak. Ara sudah memilih Angkasa." Rain tersenyum tipis kepada kakaknya.
"Hah, aku pikir Zu macam-macam kepada Ara." Cloud memijat dahinya sendiri.
"Dia tidak macam-macam, hanya saja mengancam Ara," kata Rain lagi.
"Mengancam?!" Cloud menatap adiknya segera.
"Ya, karena hal itu aku ingin membicarakan masalah ini denganmu. Kau bersedia mendengarkannya, bukan?" tanya Rain yang masih memakan rotinya.
"Katakan saja jika ini berkaitan dengan Ara." Cloud melanjutkan sarapan paginya.
"Baiklah, aku akan menceritakannya padamu."
Rain segera menyelesaikan sarapan paginya sebelum menceritakan hal yang sesungguhnya kepada Cloud. Ia pun membiarkan Cloud menghabiskan sarapan paginya terlebih dahulu. Tampak Cloud yang lekas-lekas menghabiskan sarapan paginya.
Sementara itu...
Sky telah tiba di istana kerajaan Asia. Ia datang bersama seratus pasukan khusus Angkasa. Kedatangannya tentu saja membuat sang raja Asia terkejut. Ia mau tak mau menyambut Sky walau tanpa ada persiapan sedikitpun.
"Salam bahagia Yang Mulia." Sky memberi salam kepada raja Asia dengan amat santun.
"Salam Raja Sky. Silakan masuk ke dalam istana."
__ADS_1
Kedua raja itu lalu masuk ke dalam ruang tamu istana. Sky tampak membawa banyak oleh-oleh untuk raja Asia. Ia begitu santun kepada tuan rumah. Beberapa pelayan istana pun segera datang membawakan hidangan khas Asia untuk Sky dan pasukannya. Keduanya lalu berbasa-basi sebentar sebelum masuk ke inti pembicaraan.
Sky harus turun tangan langsung untuk membicarakan masalah kedua putranya dengan ayah dari sang putra mahkota Zu. Ia tidak ingin salah langkah jika memendam masalah ini sendirian. Sebagai orang tua tentunya menginginkan hal yang terbaik untuk anak-anaknya. Walaupun sudah memasuki usia senja, sama sekali tidak menyurutkan semangat juangnya. Begitulah perjuangan seorang ayah untuk anak-anaknya.