
Esok harinya, H-20 pernikahan...
Aku bangun setelah tidur nyenyak semalam, dan kulihat jam di dinding kamar masih menunjukkan pukul 4.30 pagi. Tapi, di sisi kananku Zu sudah tidak ada.
Eh? Apakah dia sudah berangkat ke istana?
Aku mencoba bangun lalu mengambil sandal, bergegas keluar kamar untuk mencarinya. Dan ternyata, Zu sudah bersiap untuk berangkat ke istana.
"Sayang, kau sudah bangun?" Dia menyapaku sambil mengancingi jubah kerajaannya.
"Pangeran, kenapa tidak membangunkan aku?" tanyaku yang tidak enak hati.
"Aku tidak tega membangunkanmu. Kau ingin ikut ke istana atau melanjutkan tidur?" tanyanya seraya berjalan mendekatiku.
"Em, aku ikut ke istana saja. Tapi ... aku belum mandi," kataku malu.
"Hahaha. Mandilah, Sayang. Aku akan menunggu."
"Benarkah?"
"Benar." Dia mencubit kedua pipiku.
Aku senang dengan sikapnya ini, dan entah mengapa terasa lebih dekat dengannya. Akupun segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi, sedang Zu menungguku di luar.
Kamar mandi ini begitu luas, mungkin ada dua kali dari kamar mandiku dulu di istana. Lantainya, dindingnya, semuanya berkeramik putih. Sehingga membuat orang betah di dalamnya. Apalagi kamar mandi ini menggunakan aroma jeruk alami, amat menyenangkan.
"Baiklah, saatnya mandi."
Segera kuhidupkan keran air lalu mulai membasuh tubuh ini. Airnya pun terasa begitu sejuk, membuatku betah berlama-lama mandi di dalamnya.
Lima belas menit kemudian...
Kini aku sedang mengenakan gaun berwarna hijau. Tapi, aku kesulitan saat menaikkan resetling belakang gaun ini, sehingga mau tak mau meminta bantuannya.
"Pangeran ...."
Zu yang sedang duduk sambil membaca-baca buku, segera datang menghampiriku. Dan tanpa diminta dia membantuku untuk menaikkan resetling gaun ini. Seketika hatiku berbunga-bunga karena pengertiannya.
"Rambutmu indah, Sayang."
Dia juga membantuku menyisiri rambut dari belakang. Dia melakukannya dengan baik. Namun sepertinya, hari ini aku ingin menyanggul rambutku saja.
"Sayang, apakah kau sengaja?" tanyanya, saat aku menggulung rambut ini.
"Sengaja?" Aku jadi bingung sendiri.
"Iya," katanya, lalu...
"Pangeran? Ah!"
Dia ternyata memelukku dari belakang lalu mengecup lembut punggungku. Seketika bulu kudukku jadi merinding dibuatnya. Dia juga melingkarkan kedua tangannya di perutku lalu memintaku untuk melihat pantulan bayangan kami di cermin. Aku merasa jadi tak karuan sendiri.
"Lihatlah, Sayang. Kita sangat serasi, bukan?" tanyanya seraya menopang dagu di bahu kananku.
"Pangeran, kau ini."
"Hei, tunggulah kedatanganku."
"Eh?!"
__ADS_1
Dia mengusap-usap perutku, membuat hatiku meleleh karena sikapnya. Dan entah mengapa aku merasa telah menjadi miliknya. Perlakuannya benar-benar membuatku merasa nyaman sekali.
"Sayang, beri aku bayi." Dia tiba-tiba berbicara manja kepadaku.
"Ish!" Aku risih sendiri.
"Aku ingin," katanya lagi.
"Pangeran!" Aku mencoba melepaskan diri.
"Hei, jangan menghindar." Dia membalikkan badanku, menghadapnya.
"Pangeran, jangan nakal," gerutuku kesal.
"Nakal? Aku tidak nakal, hanya saja ...."
"Mmmhh?" Pangeran ....
Dia menciumku. Zu menciumku di pagi buta seperti ini. Bibirnya terasa begitu lembut dan hangat. Aku jadi lemah jika dia sudah begini.
Pangeran, kau ini ....
Tangan kirinya memegang pinggangku, sedang tangan kanannya memegang tanganku. Dia memberiku kecupan-kecupan yang amat lembut. Aku jadi terbawa suasana yang ia ciptakan.
"Pangeran, sudah."
Aku menyudahi ciumannya sebelum kehilangan kendali, memalingkan wajah darinya. Namun, dia tidak menggubrisku. Dia kembali menarik wajahku lalu menghujami bibirku dengan daging lembutnya. Dan akhirnya, hasratku pun naik dibuat olehnya.
Pangeran ....
Perlahan kukalungkan kedua tangan ke lehernya lalu mulai menggelitik telinganya itu. Sontak tubuhnya menggeliat sendiri. Deru napasnya pun mulai tidak beraturan.
"Hah ...." Aku segera melepas bibirku.
"Pangeran, aku takut." Kupalingkan wajahku darinya.
"Takut?"
"Iya, aku khawatir jika lepas kendali. Sudah, ya. Kita ke istana saja," kataku seraya ingin beranjak pergi.
"Sayang, tak apa jika itu terjadi. Aku siap melayanimu." Dia menahanku.
"Ap-apa?!"
"Aku akan memberikan pelayanan yang memuaskan untukmu, Sayang. Kau mau, kan?" tanyanya dengan tatapan penuh harap.
"Tapi ...."
"Nanti saja ke istananya. Kita selesaikan dulu yang sempat tertunda."
"Pangeran, ah!"
Zu mulai melancarkan serangannya. Entah mengapa kali ini aku dibuatnya pasrah begitu saja. Dia merebahkanku di atas sofa lalu mulai menciumku, menyusuri telinga hingga tengkuk leherku dengan jemari nakalnya. Aku pun pasrah dibuatnya.
Pangeran, kau harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padaku.
Dia mulai melepas kancing jubahnya sendiri seraya terus menciumiku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tubuhku terhimpit kedua pahanya sehingga tidak dapat bergerak. Dan sambil memejamkan kedua mata, aku pasrah dengan apa yang dilakukan olehnya. Aku tidak mampu untuk melihat wajahnya saat ini.
Beberapa saat kemudian...
__ADS_1
Kami menikmati semilir angin pagi yang berembus masuk dari jendela. Dan Zu kini masih memelukku, sepertinya dia kelelahan sendiri.
"Pangeran, mentari sudah terbit. Bangunlah."
Zu masih betah menyandarkan kepalanya di dadaku. Dia seperti enggan beranjak dari suasana ini. Napasnya pun mulai beraturan, tidak seperti tadi yang begitu memburu. Dan kusadari jika dia begitu manja kepadaku.
"Aku libur saja, ya. Aku ingin bersamamu." Suaranya terdengar manja sekali.
"Hei, tidak boleh! Pekerjaanmu masih banyak, lho." Aku mengingatkan.
Kuusap lembut rambutnya lalu menyuruhnya untuk bangun. Dan dia akhirnya bangun walau dengan malas-malasan.
"Astaga. Kenapa aku bisa seperti ini?" Dia mengusap wajahnya.
"Kau menyesal, Pangeran?" tanyaku terus terang.
"Maaf. Bukan begitu maksudku, Sayang. Hanya saja setiap dekat denganmu, tubuhku selalu bereaksi aneh." Dia mengambil baju kerajaannya yang ada di tepi sofa.
"Kau tidak ingin mandi terlebih dahulu?" tanyaku padanya.
"Haruskah aku mandi lagi?" Dia bertanya dengan polosnya.
"Mandi lagi sana! Biar lebih segar." Aku pun beranjak bangun lalu menaikkan kembali gaunku ini.
"Em, baiklah." Zu akhirnya menurut padaku.
Aku lalu pergi ke dapur kecil yang ada di sudut ruangan ini, ingin membuatkan teh untuknya. Sedang kejadian tadi biarlah hanya kami saja yang tahu.
"Sayang." Dia bergelayut manja di belakangku.
"Pangeran, apa lagi?" tanyaku sambil mencampur gula ke cangkir teh.
"Aku mau lagi," pintanya manja.
"Ish, kau ini! Sudah sana!" Aku menggerutu kesal.
"Baiklah-baiklah. Tapi lihat aku dulu." Dia memintaku agar menghadapnya.
Akupun menuruti permintaannya itu, kubalikkan badanku menghadap ke arahnya. Namun...
"Aaaaaaa!!! Pangeran, apa yang kau lakukan?!!"
Segera kututup mata ini. Dia ternyata melepaskan semuanya di depanku. Benar-benar tak tahu malu.
"Hahahaha."
Tanpa merasa bersalah, dia malah tertawa lepas di depanku. Aku sendiri segera membalikkan badan untuk meneruskan membuat teh ini. Tak kusangka jika akan melihat semuanya.
Ya Tuhan, terlalu banyak dosaku. Tolong cepat pilihkan yang terbaik untukku.
Aku tidak mengerti mengapa Zu seberani ini. Tanpa merasa berdosa dia memperlihatkan semuanya. Untung saja jantungku ini tidak copot dibuatnya. Dia benar-benar nakal sekali.
Astaga ... dia itu ....
Terlepas dari ulahnya, entah mengapa aku merasa semakin dekat dengannya, sama seperti kedekatanku dengan kedua pangeran Angkasa. Aku jadi bingung sendiri harus bagaimana, khawatir apa yang dikatakannya waktu itu benar-benar terjadi. Tapi, aku juga sudah terlanjur membuat janji dengan Rain hari ini.
Astaga, bagaimana ini ...?!
Ara telah membuat janji temu dengan Rain pagi ini. Namun, ia tidak mungkin bisa pergi begitu saja dari istana. Ia akan membuatkan ramuan terlebih dahulu untuk raja, barulah setelahnya ia akan menjumpai pangerannya.
__ADS_1
Ara tidak tahu hal yang dilakukannya ini benar atau salah. Ia hanya mengikuti kata hatinya saja. Dan kini entah mengapa hatinya itu lebih condong ke Zu. Tapi, lagi-lagi janji temu sudah terlanjur ia berikan. Mau tak mau Ara harus memenuhinya, karena khawatir Rain akan nekat memasuki istana jika ia tidak datang.
Ara dilema, ia kebingungan. Hatinya kini telah terisi nama Zu, padahal kemarin sudah memutuskan untuk menemui Rain dan bahkan terbesit untuk kembali ke Angkasa. Tapi, kejadian pagi ini membuatnya kembali kehilangan arah. Ia bingung menentukan pilihan hatinya.