Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Pray


__ADS_3

Setengah jam kemudian...


Napasku terengah-engah, dadaku pun naik-turun karena lelah berlari. Tadi itu adalah hal yang sangat mengkhawatirkan. Aku tak habis pikir Zu akan senakal ini padaku. Aku cemas sendiri jadinya.


Apa yang harus aku lakukan? Aku seperti sedang diburu olehnya.


Kini aku sudah tiba di depan kediamannya, tak jauh dari pintu masuk. Aku pun berjalan pelan menuju pintu masuk rumahnya.


"Putri, Anda tidak apa-apa?"


Salah satu pelayan menghampiriku. Dia sepertinya melihat aku lari terbirit-birit tadi. Ya, napasku saja masih tidak beraturan seperti ini.


"Em, tidak apa, Bi. Aku baik-baik saja." Aku mencoba tersenyum.


"Putri, jika ada yang Putri inginkan, katakan saja kepada kami. Kami sudah diminta oleh pangeran Zu untuk melayani Putri sebaik mungkin. Jadi, jangan sungkan untuk meminta bantuan kami." Pelayan menjelaskan padaku.


"Terima kasih, Bi. Mungkin aku ingin beristirahat dulu sekarang," kataku seraya bergegas masuk ke dalam rumah.


Pelayan itu pun berpamitan setelah meninggalkan pesan, sedang aku berjalan masuk ke dalam rumah si pangeran nakal ini, Zu.


Aduh, rasanya ingin tidur.


Tubuhku terasa lelah sekali karena ulah nakalnya. Seharusnya aku tidak perlu sampai lari begini. Tapi, aku khawatir. Benar-benar khawatir tidak dapat mengendalikan diri jika terus bersamanya. Dia terus saja memancingku, tanpa memedulikan bagaimana perasaanku.


"Hei, kau tampak sangat lelah." Seseorang menegurku.


Aku tersadar jika ada yang sedang berbicara kepadaku. Lantas saja segera kucari asal suara itu dan kutemukan seorang pangeran berdiri di dekat tangga. Dia mengenakan pakaian kerajaan yang sama seperti Zu, berwarna hitam.


"Pangeran Shu?" Aku kaget karena dia bisa ada di sini.


Pangeran itu berjalan mendekat sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Seperti biasa dengan wajah juteknya dia berbicara. Tak ada manis-manisnya sama sekali.


"Ada yang ingin aku bicarakan padamu," katanya dengan nada yang congkak.


Eh?! Aku terkejut. Tak biasanya dia seperti ini.

__ADS_1


Sejujurnya aku sangat lelah, aku ingin segera beristirahat. Tapi kurang sopan rasanya jika menolak permintaannya itu. Terlebih Shu jarang sekali berbincang denganku.


"Tentang apa ya, Pangeran?" tanyaku sopan.


"Ikut aku ke taman belakang," katanya seraya memalingkan wajah.


Aku tidak tahu apa tujuannya mengajakku berbincang. Mungkin ada sesuatu hal penting yang ingin dia katakan. Jadi ya, aku menurut saja. Kuikuti langkah kakinya ke taman belakang kediaman Zu ini.


Beberapa saat kemudian, di taman belakang kediaman Zu...


Aku bisa sedikit bernapas lega karena melihat bunga-bunga bersemi di taman. Ditambah juga bisa menikmati manisnya jeruk cangkokan yang ada. Tanpa menghiraukan Shu yang duduk di sampingku, tak terasa sudah tiga buah jeruk berukuran besar kuhabiskan sendiri.


"Kau ini lapar atau haus?" tanyanya sambil tetap menyilangkan kedua tangan di dada.


Kami memang duduk bersampingan. Dia duduk di samping kiriku dengan meja kecil yang memisahkan. Aku sih biasa-biasa saja kepadanya. Tapi sepertinya, dia mencuri pandang saat aku tidak melihat ke arahnya.


"Aku lapar sekaligus haus, Pangeran," kataku memasang wajah yang sedih.


"Eh?!" Seketika dia terkejut. "Memangnya kau tidak makan dan minum di sini apa?" tanyanya cepat.


"Em ...," Aku menunduk. "Aku tidak ingin menjadi beban istana, Pangeran. Ada seseorang yang bilang padaku jika aku hanya beban bagi istana ini." Aku berpura-pura sedih di hadapannya.


Kulirik Shu mengusap kepalanya sendiri. Dia lalu menyandarkan punggungnya di kursi yang diduduki.


"Aku minta maaf jika telah berbicara seperti itu padamu."


Eh?! Dia meminta maaf?


"Aku khawatir jika masalah akan bertambah karena kedatanganmu ke istana," katanya lagi.


"Maksud Pangeran?" tanyaku, menoleh ke arahnya.


"Hah ...." Dia menghela napasnya.


Sepertinya permasalahan di istana ini sangat berat. Tak kusangka jika akan melihat raut wajahnya sekusut ini.

__ADS_1


"Ayahku sudah menderita sakit yang lama. Mungkin ada sekitar sepuluh tahun belakangan. Dan selama itu ayah selalu meminum obat dari tabib istana. Dan kau tahu sendiri apa komposisi obat itu." Shu memalingkan pandangan dariku.


Aku menunduk.


"Aku merasa bersalah karena telah menganggap enteng penyakit ayah. Dan ternyata semua di luar dugaanku."


Aku masih mendengarkan.


"Aku sudah mencoba menginterogasi semua orang yang berkaitan dengan pengobatan ayah. Dan kau tahu apa yang kutemukan?" Shu menoleh ke arahku.


Aku menggelengkan kepala.


"Para tabib istana dan pelayan yang mengantarkan obat, ternyata tidak bergerak sendiri, melainkan ada yang menyuruhnya. Tapi mereka tidak mau membuka mulut." Shu tampak kesal.


"Pangeran, sebenarnya aku tidak ingin ikut campur masalah ini karena bukan ranahku. Aku khawatir jika ucapanku disalahartikan. Tapi, aku mempunyai hati nurani, sehingga meminta pangeran Zu untuk menghentikan pengobatan. Karena aku merasa ada yang tidak beres di sini." Aku menanggapi keluh kesahnya.


"Kau bisa merasakan sesuatu keanehan yang terjadi?" tanya Shu padaku.


"Em, mohon maaf. Aku tidak mempunyai kemampuan seperti itu. Aku hanya menggunakan perasaanku saja. Atau mungkin lebih tepatnya insting perasaanku," jawabku segera.


Kulihat Shu mengamati baik-baik apa yang kukatakan padanya. Sepertinya dia sedang berpikir untuk mengajak ku berdiskusi.


"Besok, aku akan menemui tabib Fu di gunung Fuji. Kau mau ikut?" tanyanya padaku.


"Eh?!" Aku terkejut.


"Tidak hanya kita, tapi juga ayah bersama beberapa puluh pasukan khusus untuk berjaga-jaga. Tempatnya kebetulan jauh, membutuhkan waktu sekitar empat jam perjalanan dari istana. Jika kau ingin ikut, datanglah pagi-pagi. Karena besok aku akan berangkat pagi." Shu menjelaskan padaku.


"Em, baik. Nanti akan kubicarakan kepada pangeran Zu," kataku sambil tersenyum padanya.


Seketika Shu terdiam, entah apa yang dia pikirkan. Tapi aku merasa dia mulai sedikit demi sedikit berubah. Mungkin saja dia malu untuk berterus terang mengajak ku, karena awal pertemuan kami di istana kurang begitu menyenangkan.


Ara sebisa mungkin berbaik sangka kepada Shu walaupun pangeran muda itu telah berkata ketus padanya. Alhasil, Shu pun mulai menyadari kesalahannya. Dia mulai mengajak Ara untuk menemaninya bertemu Tabib Fu. Seorang tabib yang bertempat tinggal di bawah kaki gunung Fuji, yang mana jaraknya cukup jauh dari istana.


Shu sendiri merasa jika Ara datang bukan tanpa alasan. Ia percaya jika gadis itu didatangkan ke istana untuk membantunya menyelesaikan permasalahan yang ada. Yang selama ini selalu ia sembunyikan dari siapapun.

__ADS_1


Aku berharap dia bisa membantuku menyelesaikan masalah yang ada. Ya, mungkin aku memang harus mempercayainya. Shu berkata dalam hati.


Entah bagaimana nantinya, Shu akan berusaha untuk menyembuhkan ayahnya terlebih dahulu. Berharap keadaan Asia dapat kembali seperti masa di mana sang ayah sehat bugar dalam menjalankan tugas sebagai raja. Shu berdoa untuk kesembuhan ayahnya.


__ADS_2