
Satu jam kemudian...
Aku melangkahkan kaki menuju gazebo istana dengan mengenakan gaun berwarna hijau berdasar jatuh yang panjang. Tak lupa berdandan minimalis dan menyemprotkan sedikit parfum agar lebih percaya diri. Rencana pagi ini aku akan menuju gedung konveksi Paman Rich untuk memilih gaun pengantin.
Aku tidak tahu bagaimana cara menikah di sini. Tapi mungkin tidak jauh berbeda dengan di duniaku. Di sini juga aku tidak perlu repot-repot untuk mengukur gaun terlebih dahulu, tinggal pilih saja. Mungkin Paman Rich sudah paham dengan ukuran tubuhku.
Aku menggunakan sepatu hak tinggi yang juga berwarna hijau, selaras dengan gaunku. Di istana kuakui jika tidak pernah kekurangan sesuatu apapun, serba tercukupi. Bahkan aku selalu menolak jika kedua pangeranku memberikan uang jajan. Ya, aku tidak membutuhkan uang di sini. Mungkin karena hatiku merasa tercukupi jadi tidak membutuhkan uang lagi.
Pagi ini keadaan istana kembali ke rutinitas seperti biasanya. Tapi pangeran sulungku belum juga kembali. Entah kenapa aku sangat merindukannya. Kelembutan yang dia berikan membuatku ketagihan.
"Non Ara!"
Dari jauh kulihat Mbok Asri melambaikan tangannya ke arahku. Aku pun segera mendekatinya yang sudah menunggu di gazebo. Dengan cepat langkah kakiku menujunya, dan tak lama akhirnya sampai. Kulihat kereta kuda juga sudah menunggu. Kami akhirnya segera berangkat menuju gedung konveksi istana.
Rain ke mana ya?
Aku belum juga melihat Rain. Istana yang seluas ini tidak mungkin untuk mencarinya sendiri. Tapi sepertinya, perkataan Mbok Asri bisa sedikit menenangkan pikiranku, jika Rain sedang berada di ruang raja. Ya sudahlah, mungkin ada hal yang sangat penting sampai dia tidak kembali untuk menemuiku.
Di perjalanan menuju gedung konveksi istana...
Di dalam kereta kuda, aku memakan anggur dan juga pisang. Mbok sengaja membawakan sekeranjang buah untukku. Kebetulan aku memang belum sarapan. Jadi kusantap saja buah-buah surga ini.
"Non, selamat ya. Akhirnya cerita sudah sampai di penghujung." Mbok memberikan selamat padaku.
"Hahaha. Mbok bisa saja. Bagaimana keadaan keluarga, Mbok?" tanyaku berbasa-basi.
"Baik, Non. Saya sudah meminta izin kepada pihak istana untuk membawa anak-anak saya di hari pernikahan Nona. Anak-anak saya ingin sekali melihat Nona." Mbok menceritakan padaku.
Sepertinya aku cukup terkenal di sini ya? Aku geli sendiri.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka jika raja akan menikahkan kedua putranya denganku. Ini seperti mimpi, Mbok." Aku tersenyum semringah pada Mbok.
"Mungkin memang sudah ditakdirkan, Non. Lagipula setahu saya tidak aturan yang melarangnya di sini. Entah jika itu di negeri asal Nona." Mbok menjelaskan padaku.
Kalau di negeriku, pasti sudah didemo besar-besaran, Mbok.
Aku berbicara dalam hati. Tidak mungkin kuungkapkan terang-terangan perihal asal-usulku. Cukup hanya kedua pangeranku saja yang tahu. Ya, walaupun Paman Rich juga sudah mengetahuinya.
"Nona jangan khawatir saat mengurus keduanya. Raja sudah memerintahkan sepuluh pelayan untuk membantu Nona menjalani kehidupan rumah tangga. Jadi Nona hanya fokus kepada keduanya. Sedang pekerjaan rumah tangga, biar kami yang mengurusnya." Mbok tersenyum padaku.
"Terima kasih, Mbok." Aku menepuk pelan tangannya.
Jelas sudah akhirnya, bahwa di sini tugasku hanya melayani kedua pangeran saja. Untuk pekerjaan rumah tangga, para pelayan yang akan mengurusnya. Secara gamblang aku hanya melayani kebutuhan keduanya. Mungkin hal itu tidak terlalu sulit, terlebih raja sudah mengatur jadwal untuk kami.
Kami pun meneruskan perjalanan menuju gedung konveksi istana. Selang belasan menit kemudian, akhirnya aku bisa sampai di gedung tua ini. Kedatanganku pun disambut meriah oleh para pekerja di gedung konveksi. Aku bak ratu yang amat dihormati.
Sepuluh menit kemudian...
Aku bersama Paman Rich dan Mbok Asri mengobrol di teras depan gedung. Paman Rich terlihat semakin menua, tapi dia masih berusaha membuatkan gaun pengantin untukku.
"Saya sangat senang bisa bertemu kembali dengan Nona Ara. Dan akhirnya berita gembira saya dengar. Selamat Nona, akhirnya Nona menjadi gadis yang terpilih untuk kedua pangeran." Paman Rich mengucapkan selamat padaku.
"Terima kasih, Paman. Aku juga tidak menyangka akan diberi anugerah seperti ini," kataku seraya melihat Paman Rich yang duduk di depanku.
"Ya, katakanlah jika ini memang takdir yang sudah tertulis. Pastinya Yang Mulia juga sudah memikirkan hal ini baik-baik. Aku percaya jika Yang Mulia mempunyai maksud baik dari pernikahan ini," katanya lagi.
"Ya, semoga saja." Aku menganggukkan kepala.
Mbok Asri masih setia menemaniku dan dia hanya mendengarkan pembicaraan kami. Aku kemudian diajak untuk melihat gaun pengantin di sebuah ruangan khusus. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat gaun pengantin itu.
__ADS_1
"Astaga!"
Dua gaun pengantin disiapkan untukku lengkap dengan aksesorisnya. Gaunnya ternyata mekar seperti bunga mawar. Aku jadi menelan ludah, apa bisa mengenakan gaun yang berat seperti ini?
"Ini adalah dua gaun pengantin karya saya, Nona. Nona bisa milih salah satunya. Tapi jika menginginkan keduanya, tak apa. Karena pesta pernikahan akan memakan waktu lama. Jadi yang lain bisa menjadi gaun gantinya." Paman Rich menjelaskan.
"He-em, baiklah." Aku hanya bisa mengangguk.
"Bagian bahunya memang terbuka. Semenjak saya membuat gaun pengantin, bagian bahu dan lengan memang motifnya seperti ini. Tapi jika Nona risih, saya bisa membuatkan rompi sehingga bisa tertutupi," kata Paman Rich lagi.
"Em, baik. Kalau begitu saya meminta dibuatkan rompi saja Paman untuk berjaga-jaga. Karena pangeran bungsu tidak menyukai saya mengenakan pakaian yang terbuka." Aku tersenyum tak karuan mengingat Rain.
"Hahaha. Baiklah, nanti akan saya buatkan." Paman Rich menyanggupi.
Akhirnya persiapkan pernikahan benar-benar sudah mencapai akhir. Dalam hitungan hari aku akan menjadi istri kedua pangeranku. Rasanya tidak percaya, ini seperti sebuah mimpi.
Selepas membicarakan pernikahan, aku diberi buah tangan oleh Paman Rich. Satu karung besar ubi ungu dibawakan dari belakang gedung konveksi. Yang mana katanya mendiang raja sangat menyukainya. Aku jadi punya ide untuk membuat cemilan dengan ubi ungu ini.
"Terima kasih, Paman. Sehat selalu dan bahagia menyertai." Aku pun berpamitan.
Lekas-lekas aku masuk ke dalam kereta kuda yang sudah menunggu. Perjalananku pun dilanjutkan hingga tiba di istana Angkasa. Tempat di mana segala cerita dimulai dari sini. Aku berharap semesta mengizinkanku untuk menikah dengan keduanya. Ya, dua pangeranku mempunyai satu cinta yang sama. Dan cinta itu adalah aku.
...
Kau adalah udara yang kuhirup.
Kau adalah segala yang kubutuhkan.
Kau adalah kata-kata yang kubaca.
__ADS_1
Kau adalah cahaya yang kulihat.
Dan cintamu adalah segala yang aku butuhkan...