Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Funny


__ADS_3

"Rapatnya sudah selesai?" tanyaku seraya menoleh ke arahnya.


"Sudah, Ara. Tinggal besok mengecek lokasi kedatangan saja," jawabnya.


"Lama?" tanyaku lagi.


"Mungkin sehabis sarapan aku langsung berangkat."


"Pulangnya?"


"Aku belum bisa memastikan. Kenapa? Kau ingin berduaan denganku?" tanyanya dengan senyum menggoda.


"Ish!" Kucubit saja pinggangnya itu.


"Sakit, Sayang!" Rain menggerutu.


"Apa tidak apa-apa aku tinggal di rumahmu untuk sementara waktu, Rain?" tanyaku sambil terus berjalan bersamanya.


"Tak apa, Ara. Lagipula aku memang jarang di rumah. Ya, daripada kau tinggal bersama kak Cloud, lebih baik bersamaku." Rain berbangga diri, dia merasa menang banyak dari kakaknya.


"Huh, dasar!" Aku jadi tertawa mendengarnya.


"Andelin akan dipulangkan lusa esok. Ayah sudah tidak dapat memberinya kesempatan lagi," tutur Rain kemudian.


"Benarkah?" tanyaku lagi.


"Dia itu nekat sekali. Ada ya wanita seperti dia?" Rain tak habis pikir.


"Mungkin dia mendapat tekanan dari ayahnya, Rain." Aku mencoba memahami situasi.


"Entahlah, aku tidak tahu. Tapi aku kasihan saja dengan nasibnya. Dia seperti boneka kayu, tidak punya kebebasan untuk hidupnya sendiri."


Aku terdiam mendengarkan.


"Aku sebenarnya siap saja jika harus meratakan Aksara, tapi ayah masih melarangku. Ayah meminta agar bertahan sampai pihak Aksara dulu yang menyerang kami."


Aku tertegun.


"Ara, besok kau akan sendirian di rumah. Bisa jadi aku pulang malam. Apa kau tidak ada kegiatan?" tanya Rain padaku.


"Em, entahlah. Mungkin aku akan menemani kakakmu saja," jawabku.


"Hah! Dia sekarang seperti pria tua loyo yang tidak berdaya."


"Rain, tidak boleh begitu."


"Kadang aku kagum padanya. Kadang juga aku merasa jengkel dengan sifat perfeksionisnya itu."


"Maksudmu?"


"Kau tahu, Ara. Aku dilahirkan dengan sikap dan sifat yang bertolak belakang darinya. Memang aku akui jika dia lebih tenang dalam menghadapi masalah apapun. Keputusannya bijak. Tapi menurutku, itu terlalu lama menyita waktu. Dia sangat tidak cocok dalam berperang." Rain curhat.


"Dan maka dari itu paduka raja memberinya tugas di bidang administrasi negeri," sahutku cepat.


"Kau benar, Ara. Hahahaha."


Rain tertawa. Tawanya gurih sekali. Kami pun terus berjalan bersama menuju kediamannya yang berada di barat istana ini.


"Tidak apa-apa Cloud ditinggal sendirian?" tanyaku lagi.


"Tak apa. Aku sudah memerintahkan pengawal untuk melarang masuk siapapun yang datang. Ya, terkecuali ayah tentunya."


Aku tersenyum.

__ADS_1


"Ara."


"Hm?"


"Bagaimana kalau malam ini kita bercinta?"


"Hah?!"


"Istana sudah sepi. Ayolah, Sayang," rayunya manja.


"Tidak-tidak." Aku menolak.


"Bagaimana kalau sedikit saja," tambahnya.


"Tidak!" Aku masih menolak.


"Huh! Kasihannya dirimu, Rain. Berulang kali ditolak oleh calon istrimu sendiri." Rain berbicara sendiri.


Jelas saja aku tertawa karena sikapnya ini. Segera aku memutar, berjalan ke belakangnya lalu memanjat tubuh tingginya itu. Aku minta digendong olehnya.


"Ara?"


"Gendong aku, cepat!"


Dengan tersenyum, Rain pun menggendongku. Kami terus saja bersama hingga masuk ke halaman rumahnya. Rain begitu memanjakan aku.


Esok harinya...


Aku sarapan bersama Rain. Tak lama Mbok Asri datang mencariku.


"Salam bahagia untuk Nona Ara dan Pangeran Rain."


"Salam bahagia, Mbok. Mari makan." Aku mengajaknya makan.


"Maaf, Non. Ada kabar yang harus saya sampaikan," kata Mbok kepadaku.


"Sebentar ya, Mbok." Aku meminta Mbok untuk menungguku.


Mbok mengangguk. Ia kemudian menungguku di ruang tamu.


"Rain, aku tinggal tak apa, ya?" tanyaku padanya.


Rain tidak menjawab. Dia hanya menunjuk dahinya.


Astaga, dia minta dicium. Dasar manja.


Segera aku mencium dahinya. Kukecup hingga suaranya terdengar. Dia lalu tersenyum kecil padaku. Aku ini sudah seperti menjadi istrinya saja.


Ada apa, ya? Kelihatannya penting.


Kulangkahkan kaki menuju ruang tamu rumahnya. Kulihat Mbok Asri sudah menunggu. Dia duduk di lantai.


"Mbok, di kursi saja," pintaku.


"Tidak apa, Non. Saya di sini saja," jawabnya.


Aku mengerti kenapa Mbok Asri menolak permintaanku. Terlebih ini di rumah Rain. Aku lalu duduk di kursi yang berada di dekatnya.


"Ada apa, Mbok?" tanyaku segera.


"Non, maafkan saya yang baru bisa menemui Nona. Saya dilarang ratu untuk mendampingi Nona lagi."


"Apa?!!"

__ADS_1


Aku terkejut, tapi segera kututup mulutku agar suaraku tidak terdengar oleh Rain karena hal ini menyangkut ibunya. Seketika aku merasa cemas sendiri.


"Ratu yang meminta kamar Nona dikosongkan,"


lanjut Mbok Asri.


"Untuk apa sebenarnya, Mbok?" Aku jadi heran.


"Sepertinya ratu telah termakan ucapan putri Aksara itu, Non."


"Hah?! Maksud Mbok?!" Aku semakin bingung.


"Kemarin saya lihat ratu berbicara dengan putri itu di balkon istana lantai tiga. Saya tidak sengaja melihatnya sehabis mengantarkan keperluan ratu. Saya mendengar mereka membicarakan Nona."


"Lalu?"


"Sepertinya putri Aksara itu menghasut ratu untuk membenci Nona. Dia bilang Nona adalah seorang gadis penyihir."


Apaaaa?!!!!!


Seketika aku terkejut mendengar kabar ini. Jantungku berpacu cepat, menahan emosi yang tiba-tiba mau membeludak. Rasanya aku benar-benar ingin memberi pelajaran kepada putri itu.


Bisa-bisanya dia bilang aku ini seorang penyihir. Apa ini alasannya mengapa tasku hilang? Apa ratu mencari sesuatu di dalam tasku? Astaga. Sungguh keji fitnah yang dituduhkan kepadaku.


"Mbok, apakah ini benar?" Aku mencoba bertanya untuk memastikannya.


"Benar, Non. Saya berani bersumpah. Dari kemarin saya mencoba mencari tahu sendiri. Sakit hati saya saat Nona dituduh yang tidak-tidak."


Aku terharu mendengar Mbok Asri mengatakan hal itu kepadaku.


Ya Tuhan, Mbok Asri begitu peduli padaku. Aku jadi terharu dengan kepeduliannya ini.


"Baiklah, Mbok. Terima kasih atas kabarnya. Sementara waktu, Mbok bisa menjaga jarak denganku. Aku akan menyelidiki hal ini sendiri."


"Baik, Non. Tapi mohon berhati-hati. Ratu bisa saja mengeluarkan titah di luar kendali."


"Iya, Mbok. Terima kasih."


Mbok Asri segera berpamitan padaku. Bersamaan dengan itu Rain juga datang, dia berjalan mendekatiku. Mbok juga berpamitan kepadanya.


"Ara, wajahmu tampak pucat. Apa kau sakit?" tanya Rain yang menyadari perubahan roman wajahku.


Aku ingin sekali mengatakan hal yang sejujurnya kepada Rain. Tapi aku khawatir dia tidak akan percaya dengan kabar yang kuterima. Bisa-bisa dia malah salah paham, apalagi ini menyangkut ibunya.


Lebih baik aku selidiki dulu.


Aku bertekad untuk mencari tahu sendiri tentang hal ini. Aku ingin penyambutan tamu nanti berjalan tanpa ada masalah yang tersisa. Sehingga aku bisa fokus melaksanakan tugas dan tanggung jawabku. Ya, sepertinya aku tahu apa yang harus kulakukan.


"Em, tidak. Aku baik-baik saja. Kau sudah mau berangkat?" tanyaku mengalihkan.


"Iya. Aku berangkat sekarang, Ara. Kali ini jangan tunggu aku."


"Maksudmu?" tanyaku yang tiba-tiba merasa kesal.


"Hahaha. Aku tidak tahu kapan akan pulang. Mengecek jalur kedatangan itu sangat lama. Jadi lebih baik kau bersama kak Cloud dulu."


"Benar, nih? Tidak cemburu?" tanyaku menggodanya.


"Iya, tak apalah. Terpaksa," jawabnya.


"Hahahaha."


Kami akhirnya tertawa. Bisa-bisanya dia menghibur hatiku yang sedang kalut ini. Sifat jenakanya begitu aku sukai. Sepanjang hari saat bersamanya, dia selalu saja membuatku tertawa.

__ADS_1


Tapi, jangan sekali-kali membantah atau menolak permintaannya. Karena pidato panjangnya tidak akan berujung sebelum mengiyakan apa yang diminta olehnya.


Rain-rain, kau memang hujan yang menghidupkan hatiku.


__ADS_2