
Di tengah keheningan malam, Ara mencoba menyeduh teh hijau beraroma melati. Ia merelaksasikan diri sebelum sidang skripsi dimulai. Tampak dirinya yang sedang menyandarkan punggung di kursi meja makan.
"Kalau dipikir-pikir, aku menang banyak, ya?"
Ara terkekeh geli. Ia mengingat bagaimana perjalanannya selama ini. Sama sekali tidak menyangka jika akan mengalami takdir dengan bertemu dengan kedua pangeran itu.
"Hahh ... andai saja aku dapat memiliki keduanya," katanya lagi.
Ia mengaduk teh lalu meneguknya perlahan. Ara tampak merindukan kedua pangeran itu. Ia tersenyum sendiri.
Malam yang semakin larut membuatnya ingin segera merebahkan diri di atas kasur. Ara beranjak bangun lalu mematikan semua lampu di rumahnya. Ia masuk ke dalam kamar lalu segera tidur.
Gadis pemilik hati kedua pangeran ini tampak begitu menikmati hari-harinya menjelang sidang skripsi. Kini mimpi buruk itu tidak lagi menghantui malam-malamnya yang sunyi. Ara mendapatkan kebahagiaannya.
Lusa kemudian...
Hari yang dinanti tiba. Ia tampak bersiap-siap menuju kampusnya. Hari ini Ara akan segera menghadapi sidang skripsi. Terlihat dirinya mengenakan kemeja putih dibalut almamater hitam dan rok hitam sebatas lutut. Ia bersemangat menghadapi perjuangan terakhirnya ini.
"Aku pasti bisa!"
Sengaja ia berangkat lebih awal agar dapat mengulas kembali skripsinya. Tak lupa doa sang ibu menyertai kepergiannya di pagi ini.
"Ara pamit, Bu."
"Hati-hati, Nak. Jangan lupa berdoa."
Sang ibu mengantarkan kepergian anaknya. Ia tampak tersenyum bahagia sambil mendoakan dalam hati.
Semoga sukses, Anakku. Doa sang ibu membumbung tinggi ke angkasa.
Ara menikmati setiap detik perjalanannya ke kampus. Ia tidak akan menyia-nyiakan momen mendebarkan ini. Setelah hampir empat tahun berjuang, kini saatnya ia unjuk gigi di hadapan para dosen penilai.
Sesampainya di kampus...
Ara memarkirkan mobilnya di halaman parkir kampus. Bersamaan dengan itu, Baim juga turun dari motornya. Keduanya bertemu di parkiran.
"Wow, Nona Ara tampak begitu menawan, ya." Baim memuji temannya.
"Baim? Aku tidak melihatmu tadi." Ara bergegas keluar dari mobil lalu menguncinya.
"Sebesar ini tidak kelihatan? Sungguh terlalu."
"Maaf, Baim. Aku sibuk dengan diriku sendiri sehingga tidak sempat mengurusi orang lain," sahut Ara kemudian.
"Hahaha. Kata-katamu itu begitu menyudutkan. Nanti ada yang mendengarnya jadi tersinggung, lho." Baim tertawa.
"Biar saja. Biar mereka sadar jika tidak baik mengurusi hidup orang lain. Hahay." Ara menabur canda di pagi ini.
"Bagaimana hari ini? Sudah siap?" tanya Baim seraya berjalan bersama.
Pemuda mengenakan almamater biru itu tampak bersemangat. Energi positif bertebaran di sekitarnya.
"Tentu, aku yakin aku pasti bisa!" sahut Ara dengan semangat 45 yang membara.
"Gitu, dong. Ini baru Ara." Baim merangkul temannya itu.
__ADS_1
"Hei, jangan begitu. Nanti orang salah prasangka," kata Ara.
"Biar saja salah prasangka, asal jangan salah kostum," sahut Baim seraya tersenyum gembul.
"Hah, ada-ada saja kau ini."
Keduanya lalu berjalan bersama menuju gedung fakultas masing-masing. Mereka akan berjuang sampai di titik darah penghabisan.
Semoga aku dapat menghadapi para dosen penilai dengan baik. Ara berdoa di dalam hati.
Beberapa jam kemudian...
Gadis itu tampak murung saat keluar dari ruang sidang. Ia berjalan lemas menuju parkiran kampus. Tak lama, ponselnya berdering. Lagu All That I Need milik Boyzone itu terdengar di antara rasa kesalnya. Sambil menjinjing tas berisi laptopnya, Ara mengangkat telepon itu.
"Halo?"
"Ara di mana?" tanya suara dari seberang.
"Di kampus, Kak Dara. Kakak di mana?" tanya Ara kepada yang menelepon.
"Kakak lagi di coffee shop, nih. Ara ke sini, ya. Nanti Kakak kirim denahnya."
"Oh, baiklah. Kebetulan sekali, Kak."
"Ya, sudah. Sampai nanti."
Percakapan itu begitu singkat. Ara pun mengiyakan. Ia kemudian masuk ke dalam mobil lalu meletakkan tas di kursi sampingnya. Iapun membaca peta dari pembimbing LOA-nya, Dara.
"Tidak jauh dari sini."
Ia menghidupkan mobil lalu bergegas menuju tempat yang dituju. Ara kemudian bertemu Dara di sebuah kedai kopi, tak jauh dari kampusnya itu.
"Matamu berkaca-kaca, Ara. Jangan bilang habis menangis."
Dara menyambut kedatangan Ara. Gadis itu pun segera duduk di depannya.
"Belum sampai menangis sih, Kak. Tapi hampir saja," sahut Ara seraya menghela napasnya.
"Lho, kenapa?" tanya Dara yang bingung.
"Ada satu dosen yang begitu menyecarku saat sidang," gerutu Ara yang kesal.
Dara tertawa mendengarnya. "Bukannya memang begitu, ya?"
"Iya, sih. Tapi pertanyaannya seolah mempunyai dendam padaku."
"Hahaha. Ara-ara. Ada-ada saja. Kau tenanglah. Gadis sepertimu pasti lulus dengan nilai terbaik." Dara memberi semangatnya.
"Aamiin." Ara pun mengaminkan.
"Oh, iya. Kakak mau bertanya berkaitan dengan buah tin yang kau bawa waktu itu."
"Hah? Memangnya ada apa dengan buah tinnya, Kak?" tanya Ara segera.
"Buah tin itu seperti mempunyai serat berwarna pelangi."
__ADS_1
"Hah?! Masa, Kak?" tanya Ara lagi.
"Kakak juga bingung. Biasanya serabut merah, kan? Tapi ini berwarna-warni," kata Dara.
Ara terdiam, ia tampak berpikir.
Mungkin serabut pelangi itu dihasilkan karena buah tinku terhubung dengan pohon tin di bukit surga.
Ara bergumam sendiri. Ia tampak berpikir.
"Ara, kau tidak apa-apa?" tanya Dara yang memperhatikan.
"Eh, iya. Aku baik-baik saja, Kak," sahut Ara.
"Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu." Dara mulai curiga.
"Tidak, Kak. Aku mungkin sedikit lelah saja." Ara menutupi.
"Baiklah kalau begitu. Kakak hanya ingin memberi tahumu sesuatu hal."
"Apa itu?"
"Nanti di saat kau merasakan energi negatif di sekitarmu, cobalah untuk fokus. Biarkan semesta menuntunmu."
"Lho, kenapa tiba-tiba Kakak bicara begitu?" tanya Ara yang heran.
"Entahlah. Semalam Kakak bermimpi melihatmu menjadi perisai di sebuah tempat yang Kakak juga tidak tahu apa itu."
"Perisai?" Ara tampak bingung.
"Iya. Kakak bermimpi kau mempunyai kekuatan untuk menetralkan energi negatif di sekitarmu."
"Ah, Kakak bisa saja."
"Ini serius, Ara." Dara menatap serius gadis itu .
Entah mengapa, bulu kuduk Ara merinding mendengarnya. Ia merasakan sesuatu akan terjadi pada dirinya itu.
"Semoga semuanya baik-baik saja."
"Aamiin. Kakak juga berdoa yang sama. Kamu tetap semangat, ya!"
Dara mencoba memberikan semangatnya. Ia seperti merasakan jika Ara akan mengalami sesuatu yang di luar nalar manusia. Entah apa itu.
Keduanya lalu minum kopi bersama sambil membuat kenangan indah dengan berfoto selfie. Baik Dara maupun Ara sudah saling menganggap satu sama lain seperti kakak-beradik.
Sementara itu di salah satu pelabuhan Angkasa...
Terlihat seorang berjubah hitam menginjakkan kakinya di kawasan pelabuhan negeri kedua pangeran. Ia diantar oleh seorang nelayan yang sedang mencari ikan.
Sosok berjubah hitam itu tampak kesulitan menginjakkan kaki ke kawasan negeri ini. Angin kencang dan gempa bumi menghalanginya masuk.
Rupanya negeri ini yang memiliki pohon surga itu.
Ia bergumam dalam hatinya. Dihentakkannya tongkat yang ia pegang itu ke bumi. Seketika bumi terdiam dan tidak memunculkan gempa lagi. Angin kencang pun perlahan-lahan menghilang.
__ADS_1
Aku masih harus menempuh satu hari perjalanan untuk sampai di istana. Sebaiknya beristirahat sejenak di sekitar sini.
Ia kemudian mencari tempat menginap setelah lelah melakukan perjalanan. Tak lama, ia menemukan sebuah penginapan tak jauh dari pelabuhan Negeri Angkasa. Ia kemudian bermalam di tempat itu.