
Ara datang membawakan minuman. Secangkir teh hangat dan sepiring kue bulan untuk temannya, Baim. Ia meletakkan sajian itu ke atas meja teras.
"Silakan, Baim."
"Terima kasih, Ara."
Ia kemudian duduk di samping kiri Baim dengan meja teras sebagai pemisah di antara keduanya. Ara kemudian membuka percakapan.
"Berita apa yang kau maksud di pesan itu, Baim?" tanya Ara tanpa berbasa-basi.
"Oh, ya. Ini."
Baim lalu menyerahkan selembar surat dari dalam tas kecilnya. Gadis itupun menerimanya.
"Dinas Kesenian Daerah?"
Ara terkejut saat melihat kepala surat itu. Ia kemudian membukanya segera.
"Selamat! Naskah Dua Pangeran Satu Cinta Anda berhasil ...,"
Tiba-tiba saja degup jantungnya terasa melambat kemudian melaju begitu cepat. Kedua matanya terbelalak melihat kelanjutan isi surat pemberitahuan tersebut.
"Ara, kau tak apa?" tanya Baim.
"Ba-ba-baim ...,"
Ia menutup mulut dengan tangan kanannya. Tak percaya jika karyanya itu ternyata...
"Aku berhasil, Baim!" Ara berteriak senang.
Baim ikut gembira mendengarnya. Keduanya bersama-sama melihat isi surat pemberitahuan itu.
"Benar apa kataku, kan? Selamat, Ara."
"Hm, iya. Terima kasih. Aku tak menyangka akan diundang ke balai kota karena karyaku ini."
Ara berhasil mendapat juara favorit atas naskah yang ia buat. Tentu saja hal itu membuatnya senang. Ia tidak menyangka jika akan mendapatkan hadiah ini dari Tuhan. Ara girang bukan main.
"Hasil itu tidak akan pernah mengkhianati usaha."
"Aku tahu, Baim. Jangan sampai terbalik, ya. Beda kata, beda arti," sahut Ara.
"Dasar penulis! Begitu teliti dengan kata," ujar Baim.
"Tentu. Kata saja aku teliti, apalagi untuk hati."
"Cie ciee yang udah punya gebetan, sombong sekali."
"Hush! Apaan sih, Baim!"
"Hahahaha."
Keduanya lalu tertawa bersama sambil menikmati secangkir teh hangat yang Ara buatkan. Tampak wajah Ara yang berseri-seri saat mengetahui kabar ini.
Ternyata, Baim datang untuk memberi tahu jika karya temannya itu berhasil menjadi juara favorit dan mendapat undangan khusus dari pihak pemerintah daerah. Ara begitu senang menerimanya.
__ADS_1
Esok harinya...
Hari ini Ara pergi ke butik untuk membeli kebaya. Rencananya, kebaya itu akan dipakai saat menghadap Bapak Wali Kota. Ia kemudian menemukan kebaya berwarna cokelat muda yang sepertinya cocok untuk dipakai esok malam.
"Ini saja."
Ara kemudian ke kamar pas untuk mencoba kebaya itu. Terlihatlah keanggunan yang terpancar dari gadis kepunyaan pangeran bungsu ini. Ia kemudian memutuskan untuk membeli kebaya tersebut.
Saat membayar ke kasir, Ara dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita berblus putih. Perutnya tampak besar seperti sedang mengandung.
"Ara, ya?" tanya wanita itu seraya mencolek lengan kiri Ara.
Ia kemudian menoleh ke arah wanita tersebut. "Hm, maaf. Apakah aku mengenalmu?" tanya Ara yang bingung.
"Astaga, Ara! Inikah dirimu yang sekarang?!" tanyanya takjub.
Wanita itu segera memeluk Ara di depan kasir dan khalayak ramai yang sedang berkunjung ke butik pakaian. Sontak Ara menjadi semakin bingung.
"Ara, ini Kak Rina. Pelatih balet dulu," katanya seraya tersenyum semringah.
"Kak Rina?" Ara tampak mengingat.
"Kau masih tidak ingat?" tanya wanita itu lagi.
"Kak Rina di sanggar balet Desa Suban, ya?" tanya Ara lagi.
"Nah, itu kau ingat."
"Astaga, Kakak!"
Ara bergantian memeluk wanita itu. Ia tampak kegirangan.
Rina adalah seorang pelatih balet di desa Ara dulu. Ia membuka sanggarnya di sana beberapa tahun yang lalu saat Ara masih duduk di bangku SMA.
"Kau ini! Kakak sedang hamil tahu!" seru wanita yang diketahui bernama Rina tersebut.
"Hah?! Kakak sudah menikah?!" tanya Ara tak percaya.
"Sudahlah. Ini malah anak ketiga. Kakak tiap tahun melahirkan anak, Ara," jawab wanita itu.
Buset! Udah kayak ngejer setoran aja, ya? batin Ara.
"Ara, kita ngobrol sebentar, yuk. Kebetulan suami Kakak sedang bersama anak-anak di rumah neneknya."
"Berarti Kakak sendiri ke sini?" tanya Ara.
"Enggak, Kakak diantar. Nanti kalau mau pulang bisa telepon suami. Deket juga dari sini."
"Oh, baiklah. Kebetulan aku juga lagi senggang."
Ara segera menyelesaikan pembayarannya. Ia kemudian berjalan bersama Rina menuju sebuah kedai es. Sesampainya di sana, mereka banyak bertanya kabar dan bertukar cerita.
Ara tidak menyangka jika akan bertemu dengan pelatih baletnya itu. Ia memang pernah berlatih balet selama satu tahun di sanggar milik Rina. Namun, karena keterbatasan biaya, Ara tidak melanjutkan pelatihan baletnya itu.
Ya, Ara adalah seorang balerina kelas dasar yang sangat menggemaskan.
__ADS_1
Esok malamnya...
Ara mengenakan kebaya cokelat bermanik kristal yang terlihat mewah. Dipadukan rok batik berwarna terang, membuat dirinya terlihat anggun saat memasuki sebuah ruangan, tempat di mana Wali Kota berada.
Isi ruangan yang tersusun rapi dengan bendera merah putih di sudut ruangan, membuat ruangan milik Dinas Pemerintah Daerah ini terlihat berkelas nan cinta negeri. Tampak beberapa foto yang terpajang di dindingnya.
Ara kemudian duduk di kursi dengan meja memanjang bersama keempat penulis lain yang berasal dari kampus berbeda. Sayembara itu ternyata dimenangkan oleh lima orang penulis dari berbagai kampus. Juara 1, 2 dan 3, juara harapan dan juara favorit. DPSC atau Dua Pangeran Satu Cinta milik Ara berhasil menjadi juara favorit karena kisahnya yang ringan dan juga sedikit lucu. Kelima dewan juri begitu tertarik dengan kisahnya ini.
"Selamat datang, Pejuang!"
Seorang pria paruh baya mengenakan jas hitam datang menghampiri kelimanya. Ia adalah Wali Kota di kota itu. Ara bersama yang lain kemudian bersalaman dengan Bapak Wali Kota tersebut.
Mereka kemudian membahas rencana penyelenggaraan drama untuk menarik wisatawan yang datang. Sekaligus menyambut duta negara lain yang akan berkunjung dalam waktu dekat. Ara mulai disibukkan dengan kegiatan sosialnya.
Sepulang dari balai kota...
Sesampainya di rumah, gadis manis ini segera berganti pakaian tidur. Ia berniat untuk beristirahat. Jam di dinding kamar pun sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ara langsung saja merebahkan tubuhnya di atas kasur. Namun, sesuatu terjadi...
"Ara ...." Terdengar suara memangilnya.
"Ara ...." Suara itu terdengar kembali.
"Ara ...."
Ara kemudian membuka kedua mata. Ia melihat Cloud duduk di pinggir kasurnya.
"Cloud?"
"Ara, aku datang."
"Cloud, ini—"
Ara tampak bingung saat melihat kedatangan Cloud. Pangeran itu mengenakan pakaian kerajaan berwarna putih, sama seperti yang biasa ia kenakan.
"Ara, istana membutuhkanmu. Kembalilah segera sebelum semuanya terlambat."
"Cloud ...."
Tiba-tiba Cloud menghilang begitu saja dari pandangannya. Ara pun terjaga.
...
"Cloud!"
Napasnya tersengal, dadanya naik-turun mengalami peristiwa yang baru saja terjadi.
"Tadi itu apa, ya?" tanyanya sambil mengusap wajah dengan tangan kanan.
Entah mengapa perasaan Ara menjadi tidak enak. Batinnya mencemaskan keadaan Cloud.
"Cloud ... apa kau baik-baik saja di sana?" tanyanya sendiri.
Ara merasakan sesuatu akan terjadi pada Cloud. Rasa cemasnya itu datang setelah mengalami hal tersebut. Seperti bermimpi, namun terasa begitu nyata. Ara jadi bingung sendiri.
"Apakah ini efek dari LOA?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Ara adalah pengguna LOA atau Law of Attraction. Sebuah hukum tarik-menarik di alam semesta yang sudah ia tekuni lebih dari satu tahun lamanya, sebelum ia pergi ke negeri Cloud. Tepatnya, saat masuk di perguruan tinggi.
Ia mulai tertarik mencoba hukum itu setelah melihat-lihatnya dari jejaring sosial. Dan entah kebetulan atau tidak, Ara dipertemukan dengan Dara, master LOA di kampusnya saat sedang seminar.