Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Special Gift


__ADS_3

Selesai makan malam...


Para pangeran dan putri kerajaan diminta Count untuk beristirahat sejenak sebelum masuk ke dalam kelas seminar yang akan ia adakan bersama Menteri Luar Negeri. Tampak di sudut ruang utama, Zu sedang memperhatikan gadis bergaun biru itu.


Aku seperti pernah melihatnya. Tapi di mana, ya?


Ada hasrat dalam dirinya untuk menemui sang gadis. Tapi, tiba-tiba seseorang menahan keinginannya itu.


"Kakak, kau tidak ingin beristirahat di luar?" tanya seorang pemuda bermata sipit dengan tinggi yang sama seperti Zu.


"Kau duluan saja. Aku ada urusan," jawab Zu.


"Urusan?"


Pemuda itu tampak bingung, namun saat melihat ke mana sepasang mata Zu tertuju, ia segera mengetahui urusan tersebut.


"Kau tertarik dengan gadis itu?" tanya pemuda itu kepada Zu.


"Entahlah. Aku seperti pernah melihatnya. Tapi tidak tahu di mana," jawab Zu dengan pandangan yang belum lepas dari Ara.


"Sudahlah, Kak. Kau bisa mendapatkan putri lain yang lebih berkelas. Dia sangat sederhana sekali. Kau tidak pantas dengannya."


Pemuda itu lalu menarik Zu keluar dari sudut ruang tamu. Meninggalkan sang gadis yang sedang sibuk menata kembali meja makan sehabis dibersihkan.


Sementara itu...


"Hah, akhirnya selesai juga."


Ara baru saja selesai menata ulang meja makan bersama para pelayan istana. Ia tampak kelelahan malam ini.


"Saatnya untuk beristirahat."


Setelah urusannya selesai, ia lekas berjalan meninggalkan ruang utama istana menuju kediaman Rain. Untuk sementara waktu, ia tinggal di kediaman sang pangeran bungsu kerajaan ini. Maklum saja, semua barang-barang di kamarnya tidak ada. Kosong melompong dibawa orang.


"Beberapa hari ini aku disibukkan sehingga belum mendapat jatah libur. Sudah lima hari aku bekerja tanpa henti, dan itu membuatku kelelahan."


Ara terus saja berjalan menuju kediaman Rain. Namun, di pertengahan jalan ia bertemu dengan kedua pangerannya.


"Rain? Cloud?"


Keduanya tampak sedang membicarakan sesuatu. Ara lantas mendekati mereka.


"Hei, kalian sedang membicarakan apa?" tanya Ara mengagetkan.


"Ar-ara?!" Keduanya tampak terkejut melihat kedatangan gadis itu.


"Kami tidak sedang membicarakan apa-apa, kok."


"Yang benar?"


Cloud dan Rain mengangguk.


"Kalau tidak mau jujur, aku tidak akan mau dekat-dekat lagi dengan kalian," ancam Ara.


"Eh, jangan!" Cloud keberatan. Ia melirik adiknya.


"Baiklah-baiklah. Kami hanya sedang membicarakan ini." Rain menyerah.

__ADS_1


Baik Rain maupun Cloud segera menyerahkan kotak kecil kepada Ara. Ara yang tidak tahu menahu tampak keheranan sendiri.


"Pilihlah yang kau suka," kata Rain kepadanya.


Ara lantas membuka isi dari kotak kecil tersebut. Dan ternyata isinya adalah...


"Anting?"


"Ya, benar. Rasanya ada yang kurang, maka itu aku memberikannya padamu," jawab Rain seraya tersenyum lebar.


"Pilihlah punyaku, Ara." Cloud meminta, ia tidak ingin kalah dari adiknya.


Ara berpikir. Di pandangan matanya, anting pemberian Rain lah yang ia sukai. Bentuknya sederhana sekali. Sedang punya Cloud, lebih cocok dipakai untuk acara pesta.


"Apakah aku harus memilih?" tanya Ara kepada keduanya.


"Jika kau ingin keduanya, tak apa." Rain menjawabi.


"Em, baiklah."


Karena tidak enak, akhirnya Ara mengambil anting dari keduanya. Ia lalu segera memakai pemberian dari Rain.


"Sebenarnya aku lebih suka yang ini, tanpa ada gantungannya." Ara melanjutkan.


"Jadi kau tidak menyukai anting pemberian dariku?" tanya Cloud yang terlihat lesu.


"Bukan tidak suka, sih. Tapi anting ini lebih cocok untuk acara pesta. Tidak mungkin aku memakainya saat menjalani aktivitas harian. Terlalu mewah, Cloud." Ara menerangkan.


"Hahaha. Aku menang, Kak. Kau kalah. Kau sama sekali tidak mengerti selera perempuan." Rain mengejek kakaknya.


"Eh, sudah-sudah. Nanti aku pakai juga saat acara malam, ya. Jangan bertengkar!"


Ara segera menengahi. Ia lalu menggandeng keduanya.


Biar adil aku gandeng keduanya saja. Daripada ribut dan aku ditarik-tarik lagi. Itu menyakitkan!


Di telinganya kini sudah terpasang anting bermata satu yang simpel nan elegan. Tapi, Ara tidak tahu batu apa yang ada pada anting tersebut.


Tidak sia-sia aku mencari permata untuknya. Dia menyukai anting pemberian dariku.


Rain tampak senang karena ternyata Ara lebih menyukai anting pemberian darinya.


Kenapa aku harus selalu kalah dari Rain?! Padahal aku sudah bersusah payah mencari kerang mutiara untuk anting itu.


Anting pemberian dari Cloud terlihat lebih mewah karena mutiara yang tergantung. Sedang Rain, lebih simpel dengan hiasan batu permata. Sehingga Ara lebih menyukai pemberian dari Rain. Tapi yang namanya lelaki, pasti berbangga diri jika pemberiannya lebih disukai sang gadis pujaan. Sedang yang tak terpilih, merasa kesal dan juga malu sendiri.


Sementara itu di kamar raja dan ratu...


Hari semakin gelap, mungkin sudah memasuki awal pertengahan malam. Tampak Moon yang gelisah saat mengetahui Andelin dipulangkan oleh suaminya. Ia tidak habis pikir jika suaminya berlawanan arah dengannya. Ia kesal dan juga menahan amarah.


"Kau belum tidur, Ratu?" tanya Sky saat masuk ke dalam kamarnya.


Moon duduk di depan kaca rias sambil melihat pantulan suaminya di cermin. Ia juga sudah mengenakan gaun tidur. Namun, wajahnya malam ini tidak mengenakkan bagi Sky.


"Ratu, apa ada masalah padamu?" tanya Sky seraya menghampiri istrinya.


Moon diam saja.

__ADS_1


"Baiklah, jika kau masih ingin diam." Sky pun beranjak pergi.


"Suamiku, mengapa kau memulangkan Andelin ke negerinya?" tanya Moon memberanikan diri.


"Hem, jadi hal itu yang membuatmu mendiamkanku beberapa hari ini?" Sky meletakkan mahkotanya ke atas meja.


"Aku tak habis pikir. Bagaimana bisa kau melepas seorang putri kerajaan demi gadis biasa seperti Ara?!"


Moon berdiri. Ia berbicara menghadap ke arah suaminya yang sedang melepas jubah kerajaan.


"Hah, banyak hal yang tidak kau ketahui, Ratu." Sky mencoba mendinginkan hati istrinya.


"Tapi aku menyukai Andelin. Dia baik padaku." Moon tetap bersikeras.


"Yang baik bagimu, belum tentu baik untuk orang lain."


"Maksudmu?"


"Sudahlah, lebih baik kita tidur. Jangan berlama-lama memikirkan sesuatu di keluar kendalimu." Sky bergegas tidur.


Moon semakin kesal dengan suaminya. Ia merasa suaminya itu lebih memihak kepada Ara. Sayangnya, Sky belum menceritakan apa yang terjadi pada Cloud akibat ulah Andelin. Sky masih merahasiakannya.


Dia memang gadis penyihir. Suamiku saja lebih memihak kepadanya daripada aku yang istrinya. Aku harus cepat-cepat mengusirnya sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Perbedaan sudut pandang membuat perpecahan di pihak dalam istana. Moon yang buta politik hanya bisa menyakini apa yang telah ia dengar dari Andelin.


Beberapa waktu lalu di teras balkon lantai tiga...


"Yang Mulia, aku merasa aneh dengan kedua pangeran." Andelin memulai percakapan.


Keduanya tengah duduk sambil meminum teh di teras balkon lantai tiga istana.


"Maksudmu, Putri?" tanya Moon kepada Andelin.


"Yang Mulia pasti bisa menyadari perubahan sikap kedua pangeran semenjak kedatangan Ara."


"Gadis pekerja itu?"


"Benar, Yang Mulia. Tidak mungkin jika tanpa sihir kedua pangeran bisa sedekat itu dengannya. Dia hanyalah seorang gadis biasa. Tidakkah Yang Mulia menyadarinya?" tanya Andelin, mencoba memperkeruh suasana.


Moon tampak berpikir. Ia teringat dengan sikap kedua putranya. Cloud yang berani melawan perkataannya dan Rain yang tidak menuruti permintaannya. Apa yang diucapkan Andelin seketika bisa diterima oleh akal pikirannya.


"Aku juga kurang begitu menyukai gadis itu. Tapi aku tidak ingin ambil pusing." Moon menanggapi.


Tersirat kemenangan di wajah Andelin karena mengetahui jika ratu tidak menyukai Ara. Bertambah semangat dirinya untuk menjatuhkan gadis itu.


"Yang Mulia bisa mengusirnya perlahan dari istana ini sebelum semuanya terlambat."


"Maksudmu?"


"Yang Mulia bisa membongkar kamarnya sehingga dia merasa tidak lagi mempunyai tempat tinggal di istana."


"Hah, kau benar, Putri. Kalau begitu aku akan menyuruh pengawal untuk mengosongkan kamarnya hari ini juga."


"Lebih cepat lebih baik, Yang Mulia. Sebelum paduka raja ikut tersihir olehnya."


Percakapan itu sontak membuat Moon bertambah khawatir. Ia sangat mencintai Sky di usia senjanya dan tidak ingin kehilangan suaminya itu. Ia akhirnya terhasut oleh kata-kata Andelin untuk membenci Ara.

__ADS_1


__ADS_2