Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Carefully


__ADS_3

Sore hari di istana Asia...


Aku baru saja membekam raja untuk yang kedua kalinya. Darah yang keluar kali ini pun berangsur-angsur berubah warna, tidak sehitam bekam pertama. Dan setelahnya, kuberikan ramuan yang telah kubuat.


Aku ditemani Zu dan juga Shu. Sengaja meminta keduanya menemani agar tidak menimbulkan fitnah di waktu mendatang. Shu dan Zu pun sekarang sudah tampak tenang. Sepertinya Zu telah menceramahi adiknya itu.


"Yang Mulia, untuk sementara waktu jangan mandi terlebih dahulu. Dan usahakan tidurnya miring ke kanan agar tidak merasa sakit." Aku menyarankan.


"Ayah, apa yang Ayah rasakan?" tanya Zu pada ayahnya. Dia duduk di sisi kanan kasur.


"Ayah merasa lebih baik dan tidak kaku seperti dulu," jawab sang raja kepada putranya.


"Ayah, kita pergi ke tabib Fu saja agar lebih cepat sembuh." Shu menimpali.


"Tabib Fu?" tanya raja yang kaget.


"Iya, tadi saat di pasar..."


Shu mulai menceritakan kejadian di pasar kepada raja. Raja pun tampak melirik ke arah Zu, entah mengapa.


"Benar, Ayah. Shu telah bercerita kepadaku. Mungkin lebih baik jika kita segera menemui tabib Fu agar penyakit Ayah lebih cepat sembuh." Zu mengiyakan saran dari adiknya.


"Baiklah. Tapi Ayah masih merasa sakit. Rasanya belum mampu untuk melakukan perjalanan jauh." Raja menanggapi.


"Tidak apa, Yah. Untuk sementara waktu Shu akan menjaga Ayah sampai Ayah merasa lebih baik." Zu tersenyum kepada ayahnya.


Shu pun mengangguk, mengiyakan perkataan kakaknya. Zu lalu memerintahkan kepada prajurit khususnya agar melarang siapapun yang masuk ke kamar raja, termasuk ratu sekalipun. Zu hanya memfokuskan pengobatan ayahnya padaku.


"Dewi, kita kembali ke kediamanku dulu. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan." Zu meminta seraya menoleh ke arahku.


"Baik, Pangeran." Aku pun mengiyakan.


Lantas saja aku berpamitan kepada raja dan raja pun mengiyakannya. Aku berharap penyakit yang dideritanya bisa lekas disembuhkan. Ya, semoga saja.


Akhirnya, aku kembali bersama Zu ke kediamannya dengan menaiki kuda putihnya ini. Di sepanjang perjalanan, Zu tampak diam, tidak bicara sepatah katapun. Sepertinya dia sedang kelelahan, jadi aku biarkan saja.


Sesampainya di kediaman Zu...

__ADS_1


Aku tidak tahu mengapa Zu hanya diam sedari tadi. Timbul niatan di hatiku untuk menanyakannya. Tapi, aku masih segan sekali.


Mungkin kubuatkan teh dulu.


Aku berinisiatif untuk membuatkannya teh. Teh hijau beraroma melati dengan sedikit tambahan gula. Ya, sedikit saja jangan banyak-banyak. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, bukan?


"Pangeran, mari minum teh."


Dua cangkir teh kini tersedia dan segera saja aku mengajaknya minum bersama. Kulihat dia sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa. Kami juga belum sempat berganti pakaian. Sesampainya tadi dia langsung merebahkan diri di atas sofa. Mungkin hari ini dia amat kelelahan.


"Terima kasih."


Dia segera bangkit lalu duduk bersamaku. Kami duduk sedikit berjauhan karena aku tidak ingin mengganggu ruang geraknya. Dan sambil memandangi lukisan di dinding, kuteguk teh buatanku ini.


Rasanya memang sedikit berbeda. Tidak seperti teh hijau melati yang ada di duniaku. Ini lebih pekat, aromanya pun begitu sedap.


"Nona." Zu kemudian menyapaku.


"Ya, Pangeran." Segera kuletakkan cangkir tehku ke atas meja.


"Maksud Pangeran?" tanyaku memastikan.


"Em ... aku khawatir jika kau tidak menyukai sikapku tadi terhadap Shu." Zu meneruskan.


Astaga! Jadi dia diam sedari tadi karena merasa bersalah padaku?


"Aku berharap perasaanmu tidak hilang padaku." Dia memegang tangan kananku ini.


Aku memang duduk di sisi kirinya dengan jarak yang sedikit berjauhan. Dia duduk di pojok kanan sofa, sedang aku duduk di kiri sofa yang menghadap ke dinding ruangan ini. Tapi walaupun begitu, Zu masih bisa meraih tanganku dan menggenggamnya erat.


"Pangeran, aku mengerti tugasmu. Jangan cemas, aku ada di sini menemani," kataku seraya tersenyum, mencoba menenangkannya.


Kulihat senyum kecil dari wajah tampannya itu. Dia lalu menggeser duduknya, lebih mendekat ke arahku.


"Ara ... aku memang tidak salah memilihmu. Terima kasih." Zu pun memelukku.


Aku tahu keadaan hatinya sekarang sedang tidak stabil, karena menghadapi kenyataan yang terjadi pada ayahnya. Dan sebisa mungkin aku menghiburnya. Setidaknya bisa sedikit meringankan beban pikirannya.

__ADS_1


"Pangeran, jika ada yang ingin kau ceritakan, ceritakanlah padaku. Aku siap mendengarkannya. Jangan sungkan." Aku menanggapi seraya mengusap-usap punggungnya.


Entah mengapa pelukannya semakin lama semakin erat. Zu pun membenamkan wajahnya di pundak kiriku. Aku seperti bisa merasakan sesuatu yang sedang berkecamuk di hatinya itu.


"Ya, sudah. Kita minum dulu tehnya, ya."


Lantas kulepas pelukannya, kuambilkan secangkir teh yang sudah kubuatkan untuknya. Zu pun meminum teh pemberian dariku ini. Dia lalu mengusap kepalaku dengan lembut. Dan kuberikan saja senyum gembulku. Sontak sang putra mahkota kerajaan Asia ini tertawa melihat tingkahku.


"Terima kasih." Zu tersenyum lembut padaku.


Ara sebisa mungkin menghibur hati Zu yang sedang dilanda masalah pelik tentang ayahnya. Ia pun mulai memperlakukan Zu sebagaimana memperlakukan kedua pangerannya. Walaupun belum sepenuhnya, tapi perubahan sikap Ara ini sangat berarti untuk sang pangeran Asia.


Aku telah yakin memilihmu, Nona. Entah mengapa hatiku merasa tenang saat bersamamu. Dan aku ingin selalu bersamamu. Bisakah kau berjanji untuk selalu setia kepadaku?


Sore ini keduanya asik minum teh bersama. Setelahnya Zu pun menyanyikan sebuah lagu untuk Ara. Sebuah lagu romantis penuh dengan sejuta kenangan. Instrumen All That I Need pun dimainkan oleh Zu melalui harmoni pianonya.


Malam harinya...


Selepas mandi dan makan malam, aku mengobrol kembali bersama Zu. Dan kini kami duduk di sofa sambil menikmati angin malam yang masuk melalui jendela yang dibiarkan terbuka.


Aku dan Zu membicarakan hal serius tentang hal yang kudapati tadi di pasar. Kuceritakan saja apa adanya kepada Zu, dan Zu pun mendengarkan dengan saksama apa yang kuceritakan. Kulihat roman wajah Zu berubah, bertekuk dua belas dalam sekejap kala mendengarkan ceritaku.


"Selama ini pengobatan ayah memang ditangani oleh tabib istana. Tapi aku tidak mengerti mengapa mereka setega itu kepada ayah. Jikalau ini memang benar, aku tidak akan segan memberikan hukuman berat kepada para tabib dan pelayan istana itu." Zu tampak serius.


"Pangeran, seperti yang pernah aku sarankan sebelumnya, aku menaruh sedikit kecurigaan kepada ratu. Bukan maksudku untuk menuduh, tapi yang kutemukan malam itu membuat pikiranku menuju ke sana. Dan aku berharap, Pangeran masih mau membatasi ratu agar tidak menemui raja selama proses penetralan ini." Aku menjelaskan.


"Aku tahu. Dan aku minta tolong padamu untuk mengawasi ayahku dan juga ibu tiriku." Zu memegang tanganku.


"Tapi, Pangeran. Apakah ini tidak akan menimbulkan masalah baru? Aku khawatir jika ratu curiga kepadaku." Aku berpikir panjang.


"Kau tenang saja, Ara. Ada aku di sini. Semua kendali kerajaan di bawah kendaliku. Aku juga tidak tinggal diam. Jadi tetaplah bersamaku," katanya lagi.


Aku tersenyum menanggapi permintaannya. Zu pun segera menarikku ke dalam pelukannya. Dia memelukku sambil mengusap-usap rambutku yang panjang. Aku pun mulai membiasakan diri menghadapi sikapnya ini.


Jikalau memang benar, aku tidak akan tinggal diam begitu saja. Dia sudah meracuni ayahku. Tapi apa tujuannya? Mengapa dia sampai tega melakukan hal ini kepada suaminya sendiri?


Zu bertanya sendiri dalam hatinya, ia merasa geram dengan kabar yang didengarnya. Ia tidak menyangka jika ini semua adalah ulah ibu tirinya. Terlebih hubungan mereka memang kurang baik sejak dulu, sehingga bertambahlah kebencian yang melanda hatinya. Ya, Zu membenci ibu tirinya. Ada sesuatu yang membuatnya bisa sampai seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2