Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
First Day


__ADS_3

Kristal salju mulai mencair terkena hangatnya sinar mentari pagi. Sehangat hatiku yang dapat bertemu dengan Cloud dan melihatnya dalam keadaan baik-baik saja. Jujur, di dalam hatiku tidak terima saat bermimpi Cloud dijebak gadis lain. Ada perasaan marah, cemburu dan juga kesal yang terpadu menjadi satu. Egoku meninggi dan ingin dirinya hanya menjadi milikku.


Semalam aku terlelap dengan selimut tebal yang Cloud berikan padaku. Sebuah kecupan hangat pun mendarat di keningku ini. Aku merasa nyaman dan juga lebih menginginkannya. Namun, Cloud memintaku untuk beristirahat terlebih dahulu.


Pagi ini aku baru saja selesai mandi. Masih mengenakan handuk tebal berwarna putih yang menutupi tubuh, sebatas dada hingga ke pertengahan paha. Kulihat tubuhku di cermin besar yang ada di kamarku ini. Sepertinya wajahku mulai bertambah dewasa.


Aku masih tidur di kamarku yang dulu. Saat semalam tiba, kamarku tampak rapi dan juga bersih. Sepertinya Cloud menyuruh pelayan untuk tetap menjaganya sampai kedatanganku ke istana.


Dalam bimbang kadang aku berpikir, bagaimana akhir dari ceritaku ini. Tapi andai aku mengetahui akhir dari ceritanya, pasti tidak akan seseru yang kualami. Aku hanya menjalani hari-hariku seperti biasanya. Sebagai seorang Ara yang mandiri dan juga manja.


Ya, sebenarnya aku ini manja. Tapi hanya dengan Cloud saja. Aku merasa jika dia itu begitu mengasuhku. Kalau dengan Rain sepertinya tidak perlu karena selama ini dia yang selalu menyerangku dulu.


Siapa sih perempuan yang tidak ingin dimanja? Apalagi dimanja oleh kedua pangeran tampan. Selama ini aku hanya menyelam dalam delusiku sendiri. Berkhayal jika dapat bermanja ria dengan pangeran-pangeran yang tampan. Dan ternyata keberuntungan tengah berpihak kepadaku, mewujudkan hal yang selama ini aku impikan. Jadi tidak ada salahnya jika aku menikmati kesempatan yang langka ini, bukan?


"Gaun putih dengan bahu terbuka?"


Kulihat ada gaun berwarna putih di dalam lemariku, tapi di bagian bahunya terbuka hingga lengan bagian atas terlihat. Gaun ini tampak berani. Entah mengapa aku tidak menemukan gaun lain di lemariku ini.


Kini lemariku tidak terdapat banyak pakaian. Mungkin sengaja dikosongkan terlebih dahulu selama menunggu kedatanganku. Mau tak mau, akupun mengenakan gaun putih dengan bagian bahu yang terbuka.


"Untung saja dadanya masih tertutup."


Aku masih mengenakan kalung pemberian dari Rain. Ke manapun dan kapanpun. Ini adalah kalung kenang-kenangan atas permintaan maafnya waktu itu. Entah mengapa, aku jadi merindukannya sekarang.


"Rain ke mana, ya?"


Aku bertanya sendiri. Dari semalam aku tidak melihat ataupun mendengar tentangnya. Mungkin Cloud menginginkan aku hanya fokus kepadanya, tidak dengan yang lain. Aku mencoba memahami hal itu karena kulihat Cloud begitu merindukanku.


"Kau tampak cantik, Ara."


Aku terkejut mendengar suara itu. Tiba-tiba saja ada yang berbicara kepadaku. Aku segera mencari asal suara, dan kutemui jika Cloud sudah berada di belakangku.


Astaga, apa tadi dia mendengarku?


"Cloud?"


"Gaun putih ini aku yang memilihkannya untukmu. Aku meminta paman Rich untuk membuatkannya."

__ADS_1


Cloud berjalan mendekatiku. Dia tersenyum manis dan kemudian memegang kedua lenganku ini.


"Berbaliklah menghadap cermin," pintanya.


Kututup lemari lalu melihat ke arah cermin. Posisi Cloud tepat berada di belakangku. Dia merangkulku dari belakang.


"Cloud?"


"Kau lihat bayangan kita di cermin, Ara. Aku begitu bahagia melihatnya," katanya seraya mengambil sisir.


Cloud lalu menyisiri rambutku. Ia melakukannya dengan amat baik. Aku memperhatikan wajahnya dari kaca cermin, terlihat dirinya yang melakukan sepenuh hati.


Dia begitu sayang kepadaku...


Setelah menyisiri rambut, Cloud lalu menyampirkan rambutku ke pundak kanan. Dia kemudian mengecup mesra pundak kiriku ini.


"Cloud?!"


Seketika itu juga aku merasa seperti tersengat aliran listrik. Tubuhku merinding sekaligus geli dibuatnya. Cloud menciumi pundak kiriku. Dia mengusapkan bibir peach-nya itu dengan amat perlahan.


"Cloud ...."


Cloud ... tolong jangan diteruskan...


Cloud lalu memelukku dari belakang. Kedua tangannya melingkar di dadaku.


"Ara ...."


Suara Cloud terdengar sedikit berat. Dia lalu menyandarkan kepalanya di pundak kiriku. Jantungku berdegup kencang mendapat perlakuan seperti ini darinya. Tubuhku merespon dengan cepat.


"Jam makan siang datanglah ke kamarku," pintanya yang sontak membuat kedua mataku terbelalak karena kaget.


Apakah dia menginginkannya?


Aku merasa Cloud menginginkan sesuatu dariku. Tapi aku belum berani untuk memastikannya. Aku berusaha bersikap biasa saja.


"Tapi ... aku harus menyelesaikan pekerjaanku," kataku beralasan.

__ADS_1


"Ara ...."


Cloud lalu membalikkan tubuhku hingga menghadap ke arahnya. Dia memegangi kedua pipiku ini.


"Kerjakan sebagian dulu. Aku begitu merindukanmu. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu," pintanya dengan raut wajah penuh harap.


Aku jadi sedikit bingung dengan perubahan sikapnya. Dia kini jadi lebih berani padaku. Apakah ini pembiasan dari rasa rindunya? Entahlah, aku tidak ingin menduga-duga.


"Em, baiklah. Aku kerjakan sebagian dulu. Tapi ... apakah tidak ada orang yang curiga?" tanyaku yang khawatir.


Cloud lalu mengusap kepalaku. Tangannya kemudian membelai rambutku ini.


"Tenang saja. Tidak akan ada yang mengetahuinya. Jangan khawatir, Ara."


Dia memberikan kepastian padaku. Aku kini jadi tidak khawatir lagi, aku percaya padanya.


"Baiklah. Aku kembali ke ruanganku. Ada beberapa pekerjaan yang harus kukerjakan kembali. Selamat bekerja, Ara."


Cloud lantas mencium tangan kiriku. Dia mengecupnya berulang kali. Aku jadi heran sendiri.


Mengapa dia tidak mengecup bibirku saja? Bukankah kecupan di bibir itu lebih terasa, ya?


Hah, aku benci hasratku ini yang tidak tahu waktu. Semenjak Rain selalu menggodaku, aku jadi semakin penasaran dengan semua hal yang berkaitan tentang itu.


"Baik, Cloud."


Tak ingin berlama dalam angan, aku segera mengantarkan Cloud hingga ke depan pintu kamar. Kamipun berpisah dengan senyuman manis yang ia berikan sebelum pergi dari hadapanku ini.


"Baiklah. Sudah saatnya untuk melanjutkan pekerjaan."


Semangatku kembali. Kini aku berniat melanjutkan rancangan busanaku. Sepuluh rancangan lagi akan kucicil hari ini. Semoga saja bisa selesai dengan baik dan tidak ada kesalahan sedikit pun.


Semangat, Ara. Kamu pasti bisa!


Kuambil lembaran kertas yang sudah tersedia di atas meja kerja. Aku mulai merancang busanaku. Sengaja aku tidak keluar kamar karena belum siap untuk bertemu dengan raja dan ratu negeri ini. Ada baiknya jika aku menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu.


Coretan pensil mulai tergambar di atas lembaran kertas putih. Kupompa alam bawah sadarku untuk memberikan desain terbaik.

__ADS_1


Semoga saja hasil rancanganku dapat terjual dengan amat mahal sehingga dapat membantu perekonomian di negeri ini.


Aku berharap dengan kehadiranku di istana dapat membawa ke arah perubahan yang lebih baik lagi. Semoga saja Tuhan merestui niat baikku ini.


__ADS_2