
"Pangeran, aku ingin bertanya serius padamu." Aku menatapnya dingin.
"Tanyakan saja, apapun yang kau suka. Asal tidak diam seperti ini." Zu segera menanggapiku.
"Hm, sepertinya kau dan putri Mine mempunyai hubungan khusus saat remaja," selidikku.
"Apa?!" Dia tampak terkejut.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi putri itu menyukaimu."
"Ara, aku sudah menjelaskannya padamu. Aku tidak mempunyai hubungan apapun dengannya."
"Ya, tapi ... putri Mine menyukaimu."
"Lalu karena dia menyukaiku, aku harus menyukainya?" tanyanya dengan nada kesal.
"Pangeran, aku hanya minta pengakuanmu saja."
"Pengakuan apa?" Dia seperti bertambah kesal.
"Apa kau pernah dekat dengannya? Atau mungkin tanpa sengaja pernah melakukan sesuatu?"
Seketika itu wajah Zu berubah drastis.
"Ara! Berapa kali harus kubilang padamu?! Astaga ...." Ternyata dia benar-benar kesal.
Entah mengapa aku malah senang melihatnya kesal seperti ini. Rasanya bahagia gitu. Apa pikiranku sedang tidak lurus, ya?
"Kau gadis pertama bagiku. Ciuman pertamaku, pelukan pertamaku. Bahkan kau juga yang pertama melihat semuanya!" Zu berseru, melampiaskan rasa kesalnya.
Upss, aku jadi teringat yang semalam. Begitu mengerikan.
"Aku tidak pernah berbicara panjang kali lebar untuk meyakinkan seseorang. Baru denganmu saja aku seperti ini."
"Pangeran—"
"Kau suka sekali membuatku kesal. Dan kau pikir cara ini bisa membuatku menjauh darimu?"
"Eh?!"
"Aku tidak peduli kau mau bicara apa. Aku tetap menyukaimu."
"Hanya menyukai saja?" tanyaku lagi.
"Hah, salah lagi." Zu mengusap kepalanya. "Ara ...," Zu memegang kedua lenganku. "Aku tidak hanya menyukaimu, tapi juga menyayangimu, mencintaimu. Apa aku harus mengatakannya berulang kali?" Dia menatapku.
"Pangeran, boleh aku menciummu?" tanyaku kemudian.
"Ap-apa?!" Zu terkejut.
"Aku ingin menciummu," kataku lagi.
"Apa kau demam, Ara?" Dia lantas memegang dahiku.
"Aku sehat, Pangeran. Memangnya aku sakit apa?" Aku jadi heran padanya.
"Em ... tidak biasanya kau seperti ini. Apa kau menginginkan sesuatu?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Aku jadi heran dengannya. Biasanya dia selalu minta cium dan aku juga selalu menghindar darinya. Tapi kenapa saat aku yang minta, dia malah memperlambat, ya? Kadang-kadang aku suka bingung dengan pria.
"Ya, sudah. Tidak jadi kalau begitu."
Kupalingkan pandangan darinya, mencoba melihat pemandangan jalan dari balik kaca jendela kereta. Sepertinya Zu menyesal karena telah memperlambat keinginanku.
"Sayang ...." Nada suaranya melembut.
"Jangan dekat-dekat!" seruku yang menghindar darinya.
"Em, maaf. Aku tidak ada maksud untuk menolak atau menunda permintaanmu. Hanya saja ... aku sedikit kaget. Sekarang ciumlah aku." Dia mendekatkan dirinya padaku.
Kubiarkan saja dirinya menunggu. Aku masih asik melihat pemandangan dari balik kaca jendela ini. Dan sepertinya Zu jadi kesal sendiri.
"Kau ini!"
"Pangeran—"
Dia menarikku lalu segera mencium bibir ini. Seketika jantungku berdetak tak karuan. Zu sangat agresif padaku.
"Pangeran, hentikan!"
Aku mencoba mengambil napas yang seolah lenyap ditelan olehnya. Zu terus saja menghujami bibirku dengan bibirnya sehingga aku kesulitan untuk bernapas. Kudorong saja dia ke pojokan.
"Sayang?!"
"Aku tidak suka kau begini!" kataku sedikit berteriak.
"Bukannya tadi kau ingin menciumku?" Dia jadi bingung.
"Iya, tapi tidak begini!" kataku lagi.
Entah setan apa yang merasuki. Di dalam kereta aku segera naik ke atas pangkuannya. Tanpa ada rasa takut atau malu sedikit pun.
"Ar-ara ...?"
Tentu saja hal ini membuatnya lebih terkejut. Aku kini lebih berani kepadanya. Kulihat dia terbelalak melihat sikapku.
"Kenapa? Kau kaget?" tanyaku yang kini sudah berada di atas pangkuannya.
Zu menelan ludahnya. Dia seperti tidak percaya dengan hal yang kulakukan ini. Dia pun tampak pasrah, mungkin sudah tidak sabar akan hal selanjutnya. Entahlah, aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"Perlakukan aku dengan lembut, bukan seperti tadi." Aku bicara sambil membelai wajahnya dengan satu jari tanganku.
"Ar-ara ...."
Kudekatkan bibirku ke telinganya, lalu berbisik lembut. "Semalam kenapa?" tanyaku pelan.
Seketika itu juga aku bisa merasakan detakan jantung Zu yang begitu kuat. Sepertinya dia kaget dengan pertanyaanku ini.
"Em, aku ... semalam ...,"
"Hm?" Kubelai lagi wajahnya.
"Sudah delapan puluh persen, Ara."
"Apa?!"
__ADS_1
"Hem, iya. Sudah delapan puluh persen. Tapi kau tiba-tiba pingsan." Zu tampak malu.
Delapan puluh persen saja sudah sebesar dan sepanjang itu? Bagaimana jika berkekuatan penuh?!
Tiba-tiba aku jadi lemas membayangkannya. Aku khawatir akan kesakitan jika malam pengantinku tiba. Lekas saja aku beranjak dari pangkuannya ini.
"Eh, Ara? Kenapa bangun?"
Zu kutinggalkan begitu saja. Aku lalu duduk di pojokan kursi sambil membayangkan malam yang akan segera kulalui. Tapi sepertinya, Zu tidak ingin melepaskanku.
"Ara, jangan seperti ini. Ini menyakitkan sekali." Zu duduk mendekat ke arahku.
"Pangeran, sempit!" Aku berusaha mendorongnya.
"Kalau begitu duduklah di atas pangkuanku lagi."
"Pangeran!"
Di dalam kereta kuda, dia melancarkan aksinya. Keegoisannya pun muncul tanpa mengenal tempat. Aku didudukkan di atas pangkuannya lalu tubuhku ditarik agar menyandar padanya.
"Pangeran, apa yang akan kau lakukan?!" Aku merasa cemas.
"Aku ingin menunjukkan tegangan seratus persen."
"Hah?! Apa?!"
"Kau harus melihatnya, Ara."
"Tidak, Pangeran!"
Seketika aku jadi takut sendiri. Aku berniat pergi darinya. Tapi kedua tanganku ini dikunci oleh tangannya, dan kemudian dia menurunkan resleting celananya.
"Pangeraaaannn!!!"
Seketika itu juga aku merasa kehilangan udara. Rasa panik melanda cepat ke sekujur tubuh. Dan setelahnya, aku tidak ingat apa-apa lagi.
"Ara?"
Zu mencoba menunjukkan kepada gadisnya sesuatu yang selama ini ia sembunyikan. Tapi, lagi-lagi sang gadis pingsan karena ulahnya. Kedua tangan Ara yang terkunci lengan Zu, perlahan lemas tak bertenaga. Zu pun segera menyadari apa yang terjadi.
"Astaga, Sayang. Kenapa selalu begini?"
Dengan segera Zu menaikkan kembali resetling celananya. Ia lalu menyandarkan sang gadis di kursi. Ia juga mengambilkan minyak aromaterapi untuk Ara, berharap sang gadis akan segera tersadar.
Dia benar-benar ketakutan. Bagaimana cara agar tidak membuatnya takut? Apa aku harus selalu memperlihatkannya agar dia terbiasa?
Entah mengapa sepasang insan ini mulai menggila. Perjalanan kali ini pun membuat sang kusir istana harus menggigit jarinya. Percakapan aneh terdengar dari belakang, sang kusir pun sebisa mungkin menutup telinganya agar tidak mendengar hal yang terjadi.
Tak kusangka pangeran Zu seagresif itu. Tapi wajar saja, dia kan lelaki. Dan memang sudah sepantasnya untuk menikah. Semoga saja pangeran Zu segera menikah agar penghuni istana bertambah ramai.
Sang kusir berdoa untuk pangerannya. Sedang sang pangeran masih sibuk mengipasi gadisnya di kursi belakang kereta.
"Ara, bangunlah ...."
Zu berulang kali mengipasi Ara dan memberi minyak aromaterapi agar sang gadis lekas tersadar dari pingsannya. Ia tampak cemas dengan keadaan Ara yang mudah pingsan itu.
Nanti sesampainya di sana, dia juga harus diobati agar tidak mudah pingsan seperti ini. Zu bertekad dalam hati.
__ADS_1
Perjalanan ini akhirnya diteruskan hingga sampai di kaki gunung Fuji. Sebuah gunung yang mana terkenal dengan berbagai macam tanaman obat berkhasiat. Dan raja Asia akan segera memulai pengobatannya di sana.