Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Pick You Up


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Aku baru saja tersadar dari tidurku, tidur yang menurutku amat sebentar. Dan kini mencoba membuka kedua mata.


Eh? Bukannya tadi di ayunan, ya?


Kulihat samar-samar tubuhku masih mengenakan pakaian yang sama, tapi bukan di ayunan tepi pantai, melainkan sudah di atas kasur kamarku. Dan tiba-tiba saja aku terkejut saat melihat sisi kiri kasurku ini.


"Pangeran?!"


Aku terkejut melihat Zu ada dan memandangiku sambil terus menahan tawa. Aku merasa ada hal aneh yang terjadi, tapi aku tidak tahu apa itu.


Apa wajahku terlihat lusuh ya?


Aku mencoba merapikan diri sambil mengingat kembali mimpi yang kualami tadi. Aku bermimpi melihat Rain di bukit pohon surga.


Rain, kau baik-baik saja, bukan?


Mimpiku tadi membuat rasa rindu ini semakin menggebu. Aku ingin segera kembali ke Angkasa.


"Pangeran, kenapa kau ada di sini?" tanyaku kepada pangeran Asia itu.


"Aku menunggumu terbangun, Nona. Aku suka melihat wajahmu saat tertidur, " jawabnya dengan mata yang berbinar.


Dia tidur tengkurap di samping kiriku. Bantal guling pun menjadi sandaran dadanya. Dia tampak manis sekali. Terlebih rambut hitamnya yang disisir belah tengah itu, kalau terkena angin helaian rambutnya membuatku gemas sendiri.


"Aku ...," Aku memegangi kepalaku. "Jam berapa sekarang, Pangeran?" tanyaku mengalihkan.


Dia lantas melihat jam yang ada di dinding lalu memberi tahuku. " Pukul enam sore," jawabnya cepat.


"Hah?! Enam sore?!" Aku terperanjat kaget.


"Kenapa kau seperti terkejut, Nona?" tanyanya heran.


Aku tadi bermimpi melihat Rain di bukit pohon surga, dia menanyakan keberadaanku. Pertemuan kami pun singkat. Tapi mengapa saat kubangun hari sudah petang? Apa perbedaan waktunya cukup jauh?


"Nona?"


Zu kembali menegur. Ia masih menunggu jawaban. Lantas saja kujawab sebisanya.


"Pangeran, berarti tidurku lama sekali, ya?" tanyaku padanya.


"Hm, lumayan," jawabnya singkat.


"Lalu kau yang memindahkanku ke sini?" tanyaku lagi.


"Tentu saja, Nona. Memang ada orang lain di sini?" Dia balik bertanya seraya menopang pipi dengan tangan kanannya.


Sepertinya Zu mulai menunjukkan sisi asli dirinya. Dia tampak lebih terbuka sekarang, dan juga ... menggemaskan.


"Pangeran, apa kau tidak risih berada di atas kasur bersamaku?" tanyaku lagi.


"Memangnya kenapa?" Dia balik bertanya.

__ADS_1


Aku lantas bangun, menyandarkan punggung di kepala kasur. Kulihat Zu pun ikut bangun dan menyandarkan tubuhnya, sama seperti yang kulakukan.


"Pangeran, ini sedikit kurang pantas. Kita berada di atas kasur yang sama." Aku mencoba mengutarakan rasa tidak enak di hati.


"Kau merasa risih?" tanyanya lagi.


"Hm, aku merasa tidak enak saja, Pangeran." Aku menjawab jujur.


"Em, baiklah." Dia lantas bergegas bangun.


"Satu jam lagi aku menunggumu untuk makan malam bersama," katanya seraya berjalan menuju pintu.


"Apakah ada hal istimewa, Pangeran?" tanyaku polos.


"Hm, tidak ada. Tapi, berdandanlah secantik mungkin. Itu saja."


"Pangeran?"


"Pilih gaun yang menurutmu pantas untuk makan malam nanti. Aku tunggu, ya?" Dia tersenyum lalu segera keluar dari kamar.


Apakah ini makan malam istimewa? Aku bertanya sendiri.


Aku pikir jika malam biasa tidak perlu memberi pesan sebelumnya. Tapi kini ia memberi pesan agar tampil cantik saat makan malam bersamanya. Ya, sudahlah. Kuturuti saja permintaannya itu, mau bagaimana lagi.


Zu meminta Ara berdandan secantik mungkin untuk makan malam nanti. Sang gadis pun tidak dapat menolak karena keadaan yang mendesak. Ia tidak berdaya untuk menolak permintaan sang pangeran. Terlebih ia menyadari bagaimana situasinya saat ini.


Zu sendiri sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk makan malam bersama Ara. Ia berdandan bak pria jantan yang ingin melamar sang kekasih. Mengenakan jas hitam dengan sekuntum mawar merah yang telah disiapkan. Zu tidak sabar melihat Ara tampil cantik malam ini.


Ini adalah hari bahagiaku. Aku tidak boleh grogi di hadapannya.


Di waktu yang bersamaan, di istana Angkasa...


Rain sudah tiba di istana. Kini ia berjalan cepat menuju lantai dua. Langkah kakinya terdengar tergesa, para pelayan pun tampak menunduk dan menyingkir saat berpapasan dengannya.


Rain segera menaiki anak tangga, menuju lantai dua istana, tempat di mana para menteri berada. Ia lalu melangkahkan kakinya menuju ruang Menteri Luar Negeri, Shane.


"Pangeran Rain."


Menteri itu memberi hormat saat Rain masuk ke dalam ruangannya. Ia sendiri sedang beristirahat sebelum jam makan malam tiba.


"Tuan Shane, ada yang ingin kutanyakan padamu." Rain berbicara segera.


"Pangeran, silakan duduk." Shane mempersilakan Rain untuk duduk terlebih dahulu.


Rain lantas duduk di depan meja kerja Shane. Shane pun mulai menanggapi putra bungsu kerajaan Angkasa ini.


"Ada yang bisa saya bantu, Pangeran?" tanya Shane kemudian.


"Tuan Shane, aku ingin menanyakan mengenai pulau yang ada di timur Angkasa," cetus Rain kemudian.


"Di timur Angkasa?" Shane memastikan.


"Ya, benar. Apakah ada pulau yang berbentuk hati di sekitaran timur negeri ini?" tanya Rain lagi.

__ADS_1


Shane terdiam, ia tidak melanjutkan perkataannya. Shane lantas mengambil peta negeri Angkasa untuk ditunjukkan kepada Rain.


"Pangeran, kita memang mempunyai banyak pulau kecil di timur negeri ini. Tapi jika boleh saya tahu, mengapa Pangeran menanyakan pulau berbentuk hati?" tanya Shane berhati-hati, ia takut Rain salah paham padanya.


"Aku merasa jika Ara ada di sana, tapi aku belum tahu pasti. Apakah benar Angkasa mempunyai pulau berbentuk hati?" Rain meminta kepastian.


"Benar, Pangeran. Pulau itu memang ada," jawab Shane segera.


Apa?! Rain terkejut seketika.


"Pulau itu pulau paling kecil yang kita miliki dan bentuknya memang seperti hati, berbeda dari pulau lainnya." Shane melanjutkan.


Seketika Rain terkejut, degup jantungnya pun melaju dengan cepat. "Lalu?"


"Tapi sekarang sudah menjadi milik putra sulung kerajaan Asia. Dia yang membeli pulau itu," tutur Shane lagi.


Sontak Rain berdiri. Ia benar-benar kaget mendengar hal ini.


Jadi benar jika pulau itu memang ada? Berarti selama ini firasatku tak salah. Dia yang telah membawa Ara pergi dari istana.


Rain kemudian bergegas keluar dari ruangan menterinya. Ia terburu-buru.


"Pangeran Rain, Anda mau ke mana?" tanya Shane cepat, sebelum Rain benar-benar pergi.


"Aku akan menjemput Ara di sana," jawab Rain singkat.


"Pangeran, Anda tidak dapat memasuki wilayah itu," kata Shane lagi.


Rain pun berbalik. "Tidak bisa?" Rain merasa heran.


"Benar, Pangeran. Pulau itu sudah dibeli pihak Asia. Dan kini sudah menjadi teritorial wilayah negerinya. Kita tidak bisa masuk ke pulau itu tanpa izin." Shane menjelaskan.


Astaga.


Wajah Rain tampak kusut mendengarnya. Ia lalu mengusap wajahnya itu.


"Apa tidak ada cara lain untuk memasuki wilayah itu?" tanya Rain lagi.


"Jika hal ini sangat mendesak, saya akan mengirimkan surat permohonan untuk memasuki wilayah itu." Shane menuturkan.


"Baik. Kalau begitu cepat kirim suratnya ke pihak Asia. Malam ini juga aku akan berangkat ke sana."


"Baik, Pangeran."


Rain segera pergi dari ruangan menterinya. Ia bergegas menuju ke barat istana, menemui pimpinan prajurit yang berjaga.


Sesampainya di barat istana...


"Tolong siapkan dua puluh prajurit berkuda untuk menemaniku malam ini. Kita akan berpergian jauh," perintah Rain kepada pimpinan prajurit itu.


"Baik, Pangeran." Pimpinan prajurit itu pun menuruti.


Rain akan menjemput gadisnya malam ini juga. Ia tidak lagi peduli akan kondisi tubuhnya itu. Ia hanya ingin cepat-cepat bertemu dengan Ara, gadis pujaan hatinya.

__ADS_1


Ara, tunggulah. Aku akan datang menjemputmu.


Rain kemudian mempersiapkan diri sebelum berangkat menuju pulau hati. Ia tampak amat serius malam ini.


__ADS_2