Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Dizzy


__ADS_3

Beberapa menit kemudian...


Sehabis makan, aku dipanggil raja untuk masuk ke dalam ruang kepala balai kota ini. Akupun masuk bersama Rain dan Cloud. Kami duduk sejajar di atas kursi yang ada di hadapan raja.


Rain duduk di sisi kananku, sedang Cloud di sisi kiri. Jarak kami satu sama lain sekitar setengah meter, sedikit berjauhan.


"Baiklah, kalian sudah berkumpul. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan." Raja memulai pembicaraannya.


Aku tidak tahu apa yang akan dibicarakan paduka raja kepadaku. Kulihat Rain maupun Cloud duduk diam dan mendengarkan. Entah mengapa, aku merasa khawatir dengan diriku sendiri. Aku khawatir jika raja akan memintaku untuk memilih.


Aduh, aku belum siap. Aku masih bingung.


"Ayah, mengapa tidak di istana? Mengapa harus di sini?" Cloud tiba-tiba bertanya, sedang Rain tampak diam.


"Aku tidak ingin ibu kalian mendengar hal ini." Raja menuturkan.


"Memangnya kenapa, Yah?" Rain akhirnya ikut bertanya.


"Hah..." Raja mengembuskan napasnya. "Ibu kalian tidak menyukai hal ini," lanjut paduka raja.


"Ibu tidak menyukai, maksudnya?" Rain tampak bingung.


"Nanti kau akan tahu sendiri, Rain. Sekarang Ayah akan menanyakan sesuatu kepada kalian." Raja meminta Rain untuk mendengarkan.


Mungkin ratu tidak menyukaiku. Maka dari itu raja membicarakannya di sini. Tidak ada hal lain yang kupikirkan selain itu. Dari awal perjumpaan, ratu memang seperti kurang menyukaiku. Terlebih saat Cloud berani mempertahankanku di hadapannya. Kurasa ratu semakin tidak menyukaiku.


"Nona Ara." Raja kemudian memanggilku.


"Iya, Yang Mulia," jawabku segera.


"Kudengar Nona yang mengambil buah dan juga dedaunan pohon surga. Apa itu benar?" tanya raja padaku.


"Benar, Yang Mulia," jawabku sambil melihat ke arahnya. Sedang Cloud dan Rain tampak diam, mendengarkan.


"Baiklah. Aku merasa telah menemukan juru kunci pohon surga. Mulai saat ini, aku bebaskan Nona untuk merawat pohon surga." Raja menuturkan.


Aku kaget mendengarnya. Raja seperti memberi tugas baru untukku. Padahal tugas lama saja belum kulakukan dengan baik. Kedua putranya ini tidak ada yang mau mengalah sama sekali.


"Terima kasih, Yang Mulia." Aku menjawab sekedarnya.


Raja tampak mengangguk. Dia kemudian melanjutkan pembicaraannya, menatap kedua putranya bergantian.


"Cloud, Rain."


"Iya, Ayah." Cloud dan Rain menjawab bersamaan.


"Ayah dengar kalian berkelahi kemarin. Apa itu benar?" Raja menanyakan kedua putranya.


Sontak aku menundukkan wajah karena tidak ingin melihat raja. Aku merasa arah pembicaraan ini sesuai dengan dugaan awalku.

__ADS_1


Astaga, sepertinya sudah dimulai.


Aku merasa cemas dengan pembicaraan selanjutnya. Sedang Cloud maupun Rain tampak diam, seolah berpikir untuk menjawab pertanyaan ayahnya itu.


"Kami ... tidak berkelahi, Yah."


Rain akhirnya menjawab pertanyaan ayahnya seraya menoleh ke arahku. Sepertinya Rain tahu jika aku mulai mencemaskan keadaan ini.


"Tidak berkelahi, namun kau sampai jatuh tersungkur terkena pukulan Kakakmu?" Sky bertanya lagi.


"Maafkan aku, Yah. Aku yang salah." Cloud akhirnya mengakui.


Raja beranjak dari duduknya. Dia meletakkan kedua tangan ke belakang lalu berjalan ke sisi jendela ruangan.


"Ini yang aku khawatirkan. Untung saja hanya Star yang melihatnya. Bagaimana jika ada orang lain dan kabar ini sampai menyebar ke luar istana?" Raja bertanya kepada kedua putranya.


Baik Cloud maupun Rain tampak terdiam. Keduanya tidak ada yang berani menjawab hal ini.


"Nona, kau adalah kunci dari perselisihan ini. Bagaimana menurut pendapatmu?" Raja kemudian beralih padaku.


"Em, ak-aku ...," Aku jadi bingung sendiri.


"Kau tinggal memilih salah satu dari kedua putraku. Tidak sulit, bukan?" tanya raja lagi.


Tuh kan benar perasaanku. Pasti raja akan menanyakan hal ini. Aduh ... aku jadi pusing.


"Ayah, Ara punyaku. Akulah yang membawanya ke sini." Cloud ikut bicara.


"Tidak, Ayah. Ara sudah resmi menjadi kekasihku. Dia milikku." Rain juga bersuara.


"Tidak! Aku lebih berhak atasnya." Cloud menolak perkataan Rain. Ia menatap tajam ke arah adiknya itu.


"Tapi dia sudah resmi menjadi kekasihku. Kau tidak ada hak atasnya lagi." Rain membalas Cloud.


"Bagaimana pun aku orang pertama baginya."


"Aku tidak peduli."


"Aku juga tidak peduli dengan perkataanmu!"


"Aku apalagi."


"Jangan menikung, Rain!"


"Jangan mengambil Ara dariku!"


Kedua kakak-beradik ini malah ribut di depanku. Aku jadi pusing sendiri mendengarnya. Mereka terus saja beradu mulut tanpa memedulikan perasaanku. Jiwa emak-emakku pun akhirnya muncul.


"Diaaamm!!!"

__ADS_1


Aku berteriak. Seketika itu juga Cloud dan Rain diam dan tidak lagi berseteru. Emosiku tiba-tiba memuncak, dadaku naik-turun karena menormalkan laju napas yang memburu. Aku kesal dengan keduanya. Terlebih raja seperti menuntutku.


"Maaf. Maafkan saya, Yang Mulia. Saya ... tidak bisa menahan kesal. Maafkan saya."


Aku berdiri di hadapan raja lalu membungkukkan badan. Aku berharap hal ini tidak terus berlanjut.


"Sepertinya saya butuh istirahat sejenak. Saya belum bisa memberikan jawaban. Maafkan saya, Yang Mulia. Permisi."


Aku berpamitan kepada raja karena tidak ingin hal ini terus berlanjut. Bersamaan dengan itu Rain menahanku.


"Ara, kau mau ke mana?" Rain memegang tangan kananku.


"Hei, lepaskan tanganmu itu darinya, Rain!" Cloud melepaskan tangan Rain dariku.


"Ara kekasihku, tidak ada urusannya denganmu, Kak!" Rain berseru.


"Ara akan menjadi ratuku. Jangan mengambil hakku!" Cloud bergantian memegang tanganku.


Rain lalu menarik tanganku. "Tidak! Ara milikku." Akupun tertarik ke arah Rain.


"Milikku!" Cloud menolak dan menarikku ke arahnya. Akupun tertarik ke arah Cloud.


"Milikku, Kak!" Rain menarikku lagi.


"Tidak!" Cloud menarikku kembali.


Entah kapan adegan tarik-menarik ini akan berakhir. Aku yang menjadi korban hanya bisa pasrah saat kedua putra mahkota ini saling tarik-menarik diriku.


Ya Tuhan. Apakah ini mimpi? Kuharap ini hanyalah mimpi.


Raja tampak tertawa melihat tingkah kedua putranya. Dia sama sekali tidak menolongku yang menjadi bahan tarik-menarik kedua putranya.


"Beginilah kedua putraku, Nona. Aku berharap Nona dapat berlaku adil."


Raja duduk memijat dahinya sambil menertawakan ulah kedua putranya. Aku sendiri mulai merasa sakit karena ditarik-tarik oleh kedua putra mahkota ini.


"Lepaskan aku!" Aku berontak. "Lepaskan!!"


Sekuat tenaga aku melepaskan diri dari Cloud maupun Rain. Mereka tampak tertegun melihatku. Aku lalu bergantian menarik tangan mereka. Keduanya kugandeng saja menuju pintu keluar.


"Maaf, Yang Mulia. Keduanya saya bawa keluar dulu," kataku kepada raja.


"Ya, ya. Baiklah. Bawa pergi saja kedua putraku itu." Raja tampak mengusap wajahnya seraya menahan tawa.


Akhirnya, kubawa keluar ruangan kedua putra mahkota ini. Kugandeng keduanya biar tidak ribut lagi. Namun karena pintunya kecil, kami terpaksa berjalan miring agar bisa keluar dari ruangan. Sontak saja para penduduk tertawa melihat kami.


Hanya ini yang bisa kulakukan. Ya, hanya ini.


Keduanya kubawa ke mana-mana agar tidak terjadi keributan lagi. Rain dan Cloud tampak menurut denganku, mereka tidak banyak bicara saat kugandeng. Keduanya hanya mengikuti ke mana langkah kakiku pergi. Hari ini pun kami habiskan waktu untuk membantu menyelesaikan pengobatan para penduduk di ibu kota.

__ADS_1


__ADS_2