
Di istana Angkasa...
Moon sedang berbincang bersama Count di ruang kerja putra sulungnya. Count banyak menceritakan kejadian yang berkaitan dengan Cloud, juga tentang kesengajaan Andelin yang ingin menjebak calon raja Angkasa ini. Seketika Moon terkejut bukan main mendengar kenyataan yang terjadi.
"Kenapa Sky tidak menceritakan hal ini kepadaku?" Moon kesal sendiri.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Mungkin Yang Mulia raja merahasiakan hal ini agar tidak membebani Yang Mulia Ratu sendiri." Count membela Sky.
"Tapi ini sudah keterlaluan. Berani-beraninya Andelin berbuat seperti itu kepada putraku." Moon geram saat mengetahui perihal yang terjadi.
"Sepertinya Yang Mulia tidak perlu menyesalinya. Putri Andelin juga sudah mendapatkan balasan dari perbuatan buruknya."
"Maksud Anda?"
"Dia terperangkap dalam jebakan tangan kanan ayahnya sendiri. Yang mana ingin mengambil alih kekuasaan ayahnya."
"Astaga ...." Sesaat Moon tersadarkan.
"Ucapan itu memang selalu membekas di hati, Yang Mulia. Maka dari itu kami selalu berhati-hati dalam berbicara. Mungkin jika dengan sebuah tamparan rasa sakit akan cepat hilang, tapi tidak dengan ucapan yang akan selalu teringat sepanjang masa." Count berusaha mengetuk hati sang ratu agar lebih bijak dalam menerima setiap perkataan orang lain.
"Selama ini aku selalu berprasangka buruk tentangnya. Aku tak percaya jika dia yang menyelamatkan putraku dari tipu daya Andelin. Dia juga telah menyelamatkanku." Moon mulai menyadari kekeliruannya.
"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, Yang Mulia. Namun, lebih baik lagi jika tidak terlambat sama sekali. Yang Mulia raja ingin menikahkan kedua putranya dengan nona Ara pasti ada alasan yang jelas. Dan saya meyakini jika Yang Mulia telah memikirkan hal ini baik-baik."
Perbincangan panjang terjadi di sofa tamu ruang kerja Cloud. Pengawal pribadi Moon pun masih setia mendampingi sang ratu. Ia ikut bersyukur karena akhirnya sang ratu dapat menyadari kekeliruannya.
"Aku tidak tahu harus bagaimana. Saat ini aku merasa malu kepada diriku sendiri. Aku terlalu egois dan tidak memikirkan kebahagiaan kedua putraku." Moon memijat dahinya sendiri.
"Yang Mulia, semua belum terlambat. Yang Mulia bisa memperbaiki hal ini selama hayat masih dikandung badan. Mendiang raja pastinya amat bahagia jika kedua cucunya juga bahagia. Apalagi kedua pangeran adalah penerus kerajaan ini." Count menambahkan.
"Ya, Anda benar, Tuan Count. Mungkin sudah saatnya aku memercayakan pilihan kepada kedua putraku. Terima kasih banyak telah menceritakan kejadian yang sebenarnya padaku." Moon beranjak berdiri.
__ADS_1
"Kembali, Yang Mulia." Count ikut berdiri lalu membungkukan badannya.
Moon memutuskan untuk kembali ke lantai tiga istana. Ia bersama pengawalnya diantarkan oleh Count sampai di depan pintu ruang kerja Cloud. Count tampak bahagia karena akhirnya sang ratu mulai dapat menerima sang gadis pujaan hati kedua pangeran kerajaan ini.
Aku sudah menganggap pangeran Cloud seperti anakku sendiri. Dan aku tahu persis bagaimana perasaannya kepada nona Ara. Semoga saja setelah ini keadaan bertambah baik dan mereka bisa segera menikah.
Count tersenyum. Ia kembali menutup pintu ruang kerja Cloud lalu melanjutkan pekerjaan sang pangeran.
Di air terjun...
Ara dan Cloud asik berenang di air terjun. Mereka bergantian menikmati pijatan alam dari jatuhan air terjun yang membasahi punggungnya. Namun, tanpa sengaja Ara terpleset batu kali yang mana membuat Cloud segera menariknya. Dan kini kedua tubuh mereka berdekatan tanpa batas.
"Cloud ...."
Kedua tangan pangeran melingkar di pinggang Ara, sedang kedua tangan Ara melingkar di leher pangerannya. Sepasang insan ini berdiri di atas batu kali di dekat air terjun. Mereka saling bertatapan dengan jarak yang dekat sekali.
"Ma-af, tadi aku terpeleset." Ara merasa tidak enak hati karena kecerobohannya sendiri.
Cloud ....
Sang gadis berusaha menahan Cloud agar tidak melanjutkannya. Namun, sang pangeran terus saja berusaha meraih bibir ranumnya. Dan akhirnya, Ara memejamkan mata saat bibirnya dikecup lembut oleh Cloud. Ia tidak dapat melawan kehendak sang pangeran. Apalagi posisinya menggantung di pinggir batu kali. Sang pangeran pun semakin memperdalam ciumannya.
Tubuhku ....
Ciuman itu semakin lama semakin menuntut. Cloud berulang kali menekan-nekan bibir Ara, seolah mengetuk pintu agar saliva mereka bertemu. Sensasi yang Ara rasakan membuatnya mulai kehilangan kendali. Begitu juga dengan sang pangeran yang melakukannya dengan sepenuh hati. Mereka menikmati ciuman ini sambil terus merasakan semilir angin. Perlahan tapi pasti, keduanya terbawa dalam suasana. Hingga akhirnya kedua daging lunak itu saling beradu, berpadu dalam hasrat yang kian menggebu.
Cloud, tubuhku ....
Cloud mulai menyusuri lengan Ara hingga ke tengkuk lehernya. Sang pangeran menggelitik telinga gadisnya untuk memunculkan sensasi yang luar biasa. Sontak sang gadis menggeliat saat jemari tangan pangerannya menari-nari di sekitaran telinganya.
Cloud ... sudah.
__ADS_1
Napas keduanya memburu, seperti pemburu yang bersemangat mengejar buruannya. Cloud kemudian menyandarkan tubuh Ara pada tepi kolam agar leluasa bergerak. Momen ini sudah dinantikannya sejak lama, ia tidak akan menyia-nyiakannya.
Ara ... hari ini aku akan mengikatmu. Aku tidak lagi peduli dengan siapa diriku. Aku hanya pria biasa yang ingin dicintaimu sepenuh hati. Ara ... miliki aku seutuhnya.
Tak ada satupun orang yang tahu apa yang mereka lakukan di sana. Cloud sudah mengondisikan tempat ini dari segala kesibukan dan orang-orang yang akan datang. Hanya sang kusir istana yang masih setia menunggunya di atas bersama kereta kudanya. Dan akhirnya, sang pangeran benar-benar mengikat gadisnya.
"Hah, hah, hah."
Ara melepaskan bibirnya saat jari-jemari Cloud mencoba untuk menurunkan kembennya. Ia menahan dada sang pangeran agar tidak melanjutkan hal ini. Tapi Cloud sudah terhanyut dalam angannya. Iapun segera menyingkirkan tangan Ara dan mulai menciumi leher gadisnya.
"Cloud ... jangan, ah!"
Ara tak berdaya. Cloud mencengkram pinggulnya dan memegangi tengkuk lehernya agar berserah diri, tidak melawan. Kecupan-kecupan lembut akhirnya mendarat di sekujur lekuk leher sang gadis. Ara pun mengigit bibirnya sendiri.
"Mmmm..."
Desahan tertahan dari bibir Ara mampu membuat api di dalam tubuh Cloud semakin berkobar. Sang pangeran mulai menjelajahi apa yang ada di tubuh gadisnya. Bibirnya, lehernya, lengannya, hingga dada sang gadis. Membuat Ara tak mampu lagi menahan hasratnya sendiri.
"Aahhh ...."
Ia memejamkan kedua mata saat merasakan setiap sentuhan dari daging lembut itu. Tubuhnya bergetar kecil kala bibir Cloud terus saja bergerilya di tubuhnya.
Sayang, aku milikmu.
Cloud akhirnya menghentikan aksinya. Ia mengangkat tubuh Ara agar duduk di tepi kolam. Ia pun ikut naik lalu merebahkan Ara di pinggirannya.
"Cloud ... sudah." Ara tak kuasa.
Cloud tidak menjawab. Ia meneruskan kelembutannya dengan melebarkan kedua paha sang gadis. Sontak Ara terkejut dengan ulah pangerannya. Namun, Cloud lagi-lagi tidak menghiraukan permohonannya agar berhenti. Ia terus saja bergerilya di lekuk indah tubuh sang gadis.
Sayang, aku tidak tahu cara apa lagi yang harus kulakukan untuk mendapatkan hatimu. Hari ini kuserahkan semuanya padamu. Di tempat ini, tempat di mana aku memohon bak pengemis kepadamu. Biarlah aku menjadi pengemis cintamu, asalkan kau tetap bersamaku.
__ADS_1
Air terjun menjadi saksi atas kedua insan yang sedang memadu kasih. Dinginnya udara menambah keintiman di antara keduanya. Ara tidak dapat melakukan apapun selain menikmati apa yang Cloud berikan padanya. Dan untuk kesekian kalinya, Cloud menyingkirkan siapa dirinya di hadapan sang gadis. Cinta itu membutakan calon raja Angkasa ini.