Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
No Hearing


__ADS_3

Di teras belakang...


Aku duduk di sofa panjang bersama Rain. Ditemani secangkir teh hangat dan juga kue bulan.


"Ara, sepertinya ada motif lain dibalik hal ini." Rain mengawali.


"Maksudmu?" tanyaku bingung.


"Ayah tidak tahu dengan keadaan kamarmu yang kosong. Dia juga terkejut mendengar hal ini."


"Apa?!"


"Setelah meminta salah satu prajurit memeriksa, memang benar kamarmu telah dikosongkan. Namun, belum diketahui siapa yang menyuruhnya." Rain tampak berpikir.


"Rain, jangan-jangan—"


"Aku sudah mencoba untuk menemui putri itu. Tapi, dia menolak kedatanganku. Ini semakin aneh saja." Rain seperti mencurigai Andelin.


"Apakah ayahnya sudah pulang?" tanyaku lagi.


"Raja Hell sudah kembali. Sedang Andelin tidak juga ingin kembali ke negerinya. Dia malah membayar mahal agar tetap berada di istana sampai acara pertunjukan busana selesai."


"Hah?!"


Entah mengapa firasatku menjadi tidak enak. Sepertinya akan terjadi sesuatu dalam waktu dekat ini. Pikiranku tiba-tiba saja terfokus dengan perkataan Andelin siang tadi. Dia bilang akan segera menikah dengan calon raja negeri ini. Ya, siapa lagi kalau bukan Cloud.


Ini berarti tujuan utamanya adalah Cloud. Apakah yang kulihat dalam mimpi dahulu itu benar?


Aku menggelengkan kepala berulang kali. Tidak ingin pikiran buruk ini mengambil alih alam sadarku. Rain tampak memperhatikan.


"Ara, kau tidak apa?" tanyanya seraya memegang bahuku.


"Rain, aku merasa Andelin sedang merencanakan sesuatu."


"Sesuatu?"


"Sasaran utamanya adalah Cloud."


"Hah?!"


"Tadi siang dia bilang padaku jika akan menikah dengan calon raja negeri ini. Itu berarti ...,"


"Astaga! Kak Cloud!" Rain menoleh ke arahku. "Dia tidak bisa mempengaruhiku. Jadi dia mempengaruhi kak Cloud?"


Aku mengangguk. "Ini hanya spekulasi aku saja. Benar atau tidaknya, aku belum bisa memastikan. Tapi, kita tetap harus berhati-hati." Aku menerangkan.


"Kau benar, Ara. Aku juga sudah menceritakan kejadian waktu itu pada ayah. Ayah semakin curiga kepada Andelin. Tapi, ayah belum bisa mengusirnya dari istana. Dia meminta waktu hingga pertunjukan busana selesai."


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanyaku yang mulai mengkhawatirkan Cloud.


"Aku akan pergi menemui kak Cloud. Kau tunggulah di sini. Jika aku bisa, aku akan membawanya ke sini. Kita selesaikan secepatnya." Rain beranjak berdiri.


"Rain, apakah ponselku sudah ditemukan?" tanyaku lagi.

__ADS_1


Rain tampak merogoh sakunya. Dia lalu mengambil sesuatu dari sakunya itu.


"Ini ponselmu?"


Kulihat Rain memperlihatkan ponselku. Dan dengan segera aku mengambilnya.


"Hah, ya. Ini ponselku. Tapi di mana tas hitamku?" tanyaku lagi.


"Kau meletakkan ponsel di dalam tas?"


"Iya."


"Tapi tasmu tidak kutemukan, Ara. Hanya ini saja."


Mendengar penuturan Rain rasanya sedikit aneh. Ponselnya ketemu tapi tasku raib. Namun, aku cukup bersyukur karena ponselku telah kembali.


"Tak apa, Rain. Terima kasih telah membantu." Aku tersenyum padanya.


"Iya, Ara. Aku menemui kak Cloud dulu. Aku akan segera kembali." Rain kembali pergi.


Aku mencoba duduk lalu mengecek ponselku. Kulihat foldernya satu per satu dan kutemukan semuanya masih utuh.


Ini sedikit aneh. Siapa sebenarnya yang telah mendalangi kejadian ini? Apakah putri itu?


Aku masih terus berpikir atas keanehan yang terjadi. Tiba-tiba saja hasratku menginginkan untuk bermeditasi. Mungkin dengan menyatu dengan alam, sebuah jawaban akan segera kutemukan.


Lantas saja aku duduk di lantai teras dengan menghadap ke taman kecil kediaman Rain. Aku jadi bisa melihat keadaan langit yang gelap berbintang tanpa penghalang. Kutarik perlahan napasku lalu mengembuskannya pelan. Aku mencoba mengaktifkan Law of Attraction. Aku fokus dengan suara-suara di sekeliling.


Napasku stabil, pendengaranku juga tajam. Di saat ini aku melihat gambar buram yang terlintas di benakku. Aku seperti melihat putri itu mendatangi Cloud, dia seakan sedang membicarakan sesuatu. Entah apa yang dikatakan, aku tidak dapat mendengarnya.


Beberapa detik kemudian, aku seperti melihat putri itu bersama ayahnya sedang membicarakan hal lain. Dan lagi, aku tidak tahu apa isi pembicaraan itu. Tapi, tampaknya mereka serius.


Aku mencoba semakin mendekat, kufokuskan pikiranku untuk mengetahuinya. Tapi, hanya suara deruan yang kudengar, tak ada selain itu.


Kutarik napas lalu kubuang perlahan. Aku masih mencoba menyatu dengan alam.


I-itu?!


Sesaat kemudian, tiba-tiba saja aku melihat putri itu memasukkan serbuk ke dalam minuman Cloud. Seketika itu juga aku tersadar.


"Cloud!!" Aku berteriak memanggilnya.


Napasku terengah-engah dalam sekejap, dadaku pun naik-turun tidak beraturan. Seketika aku tersadar setelah melihat hal itu.


"Astaga, apa itu benar?"


Aku mengusap wajahku, memegangi kepala. Aku terperanjat melihat gambaran tadi.


"Aku harus menemui Cloud."


Segera aku berdiri dari meditasiku. Aku berjalan cepat, keluar dari kediaman Rain. Aku berlari untuk menemui Cloud. Aku khawatir jika hal itu benar terjadi, aku khawatir sesuatu terjadi padanya.


Aku harus cepat. Jangan sampai terlambat.

__ADS_1


Terus saja aku berlari. Tidak peduli lagi dengan gaunku yang terbuka. Aku menuju ruangan Cloud, menaiki anak tangga lalu menyusuri koridor di lantai dua. Hingga akhirnya, aku sudah tiba di depan pintu ruangannya.


"Cloud!"


Kubuka pintu ruang kerjanya dan kutemukan Cloud bersama putri itu. Cloud terkejut dengan kedatanganku yang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Akupun segera menghampirinya.


"Ara?!"


Keduanya tampak sedang berbincang dengan meja kerja yang memisahkan. Kulihat putri itu menggenggam sesuatu.


"Apa itu?!"


Segera aku menghampirinya lalu memegang tangan putri yang seperti menggenggam sesuatu. Sontak saja keributan akhirnya terjadi.


"Ara, apa yang kau lakukan?!" Cloud bertanya padaku dengan intonasi yang tinggi.


Aku tidak peduli dengan pertanyaannya. Aku hanya fokus dengan sesuatu yang digenggam putri ini.


"Hei, lepaskan tanganku!" Putri ini menolak untuk kubuka tangannya.


Bersamaan dengan itu, Rain datang dan melihat apa yang terjadi. Rain memintaku untuk melepaskan putri itu.


"Ara, tenangkan dirimu."


"Rain, kau harus tahu siapa dia. Dia memegang sesuatu."


"Ara, tenanglah."


Rain memelukku. Hal itu tentu saja membuat wajah Cloud merah padam, tapi dia tampak diam saja.


"Keluar dari ruanganku, Ara!" Cloud malah marah kepadaku.


"Cloud, putri ini ingin mencelakaimu!" seruku.


"Bawa Ara keluar, Rain!"


Cloud tidak memberiku cela sama sekali untuk memberi tahunya. Dia malah meminta Rain untuk membawaku keluar dari ruangannya ini.


Tidak ada jalan lain.


Karena tidak ada jalan lain untuk membuktikan kebenarannya, aku segera menyikut perut Rain lalu melepaskan diri darinya. Kupegang cepat tangan kiri putri itu lalu kuputar ke belakang. Tubuhnya terkunci olehku, sehingga sesuatu yang sedang digenggamnya itu jatuh...


"Ini?" Rain kemudian mengambil sesuatu berbentuk tabung kecil itu.


"Rain, cepat periksa apa itu! Dan pinta pengawal mengurung putri ini!" seruku.


"Kau tidak bisa melakukan itu padaku, Nona! Kau bukan siapa-siapa!" Andelin mencoba melepaskan diri dari kuncianku.


"Pengawal, masukkan putri ini ke ruangan pengasingan. Cepat!"


Rain cepat tanggap dengan hal yang kupinta. Dia keluar ruangan lalu meminta kedua pengawal yang berjaga membawa putri ini. Sedang Cloud, dia tampak diam dan terpaku. Aku merasa sangat aneh karena Cloud seolah-olah tidak bisa berbuat apa-apa.


Cloud, ini demi dirimu. Apapun konsekuensinya, akan kuterima. Walaupun hal yang kulakukan karena berusaha menolongmu.

__ADS_1


__ADS_2