
"Cloud, apa maksudmu dengan semua ini?!" tanya ratu yang tampak marah.
"Ibu, aku tidak mengerti apa yang Ibu maksud," kata Cloud kepada ibunya.
"Cloud, kau tidak bilang jika gadis ini adalah calonmu!"
"Ya, aku memang tidak memberitahukannya. Karena kutahu, pasti Ibu tidak setuju dengan pilihanku."
"Cloud, jangan begitu," kataku berusaha meredakan ketegangan yang terjadi.
Aku jadi tidak enak sendiri. Aku berada di antara ibu dan putranya yang sedang bertengkar, terlebih karena aku. Rasanya ingin berlari saja, aku khawatir akan terjadi keributan di sini.
"Kau berani membantah Ibumu sekarang karena gadis ini? Gadis yang hanya seorang asisten itu?!" Ratu marah besar.
"Ibu, Ara memang asistenku sekarang. Tapi dia akan menjadi pendamping hidupku selamanya," kata Cloud lagi.
Cloud benar-benar menunjukkan perlawanan kepada ibunya.
"Ibu tidak setuju dengan gadis ini. Kau harus menikah dengan seorang putri dari kerajaan lain," cetus ibunya yang sontak membuat hatiku lirih.
"Apakah itu syarat mutlak untuk menjadi seorang raja, Bu?" tanya Cloud kepada ratu.
"Itu sudah menjadi tanggung jawabmu sebagai putra mahkota. Dan kau harus melaksanakannya, suka atau tidak!" seru ratu.
Aku hanya menunduk sedih. Tidak mampu melihat keduanya. Hatiku begitu lirih, entah mengapa seperti tercabik-cabik. Cloud juga menyadari perubahan sikapku. Dia lalu menutup pembicaraan ini.
"Jika memang syarat menjadi raja seperti itu, aku mundur." Cloud berkata tegas kepada ibunya. "Ayo, Ara." Dia lalu menarikku untuk berjalan bersamanya.
"Cloud ...." Aku menunduk sedih.
Aku tahu ratu pasti marah besar karena hal ini. Namun, patut kuacungi jempol akan keberanian Cloud yang mempertahankanku. Sepertinya dia ingin lebih terbuka tentang apapun padaku.
"Ara, kita teruskan langkah ini. Jangan patah semangat." Cloud berusaha menghiburku.
Jujur saja, jantungku masih berdetak kencang, hatiku diliputi rasa khawatir yang membuat kalut pikiran. Aku takut kehadiranku membuat ibu dan putranya bersitegang.
Ya, Tuhan. Masalah apa lagi ini?
Cloud masih menggenggam tangan kananku dan terus berjalan bersama menuju ruangannya. Dia tidak mengindahkan ratu sama sekali. Sungguh, aku tidak enak hati. Rasanya aku hanya menjadi hambatan saja.
Sesampainya di depan pintu ruangan, Cloud segera membukakan pintu untukku.
"Masuklah, Ara."
__ADS_1
Dia tersenyum, mencoba meringankan kegelisahan yang melanda hatiku. Akupun mengangguk, menurutinya.
Sementara itu...
"Beraninya dia membantah ibunya sendiri, pasti karena gadis itu yang telah menghasutnya!"
Moon tidak terima jika putranya menolak apa yang menjadi kehendaknya. Ia memang menginginkan agar Cloud segera menikah, namun bukan bersama Ara, melainkan dengan putri kerajaan lain.
Raja dan ratu itu mempunyai cara pandang yang berbeda dalam menentukan kriteria pendamping hidup untuk kedua putranya. Moon bersikeras agar Cloud menikah dengan putri kerajaan lain, berlawanan dengan Sky yang membebaskan kedua putranya untuk memilih. Dan tanpa Moon sadari, jika Sky melihat pertengkaran ini.
"Mungkin sudah saatnya."
Sky tampak memijat dahinya kala mengetahui pertengkaran yang terjadi. Ia berbalik lalu masuk ke dalam ruangan dan membiarkan istrinya sendirian. Sky memberi waktu kepada sang istri untuk menenangkan diri terlebih dahulu.
Di ruangan Cloud...
"Ara maafkan ibuku."
Cloud memegang tanganku. Kami duduk bersampingan di depan jendela ruangannya yang menghadap ke arah gazebo istana.
"Sedari kecil aku memang luput dari kasih sayangnya. Ibu lebih mementingkan Rain daripada aku."
"Cloud, jangan begitu." Aku berusaha menafikan rasa kecemburuannya.
"Cloud ...."
"Aku merasa mendapatkan kasih sayang itu darimu."
Tiba-tiba saja Cloud berubah menjadi murung. Aku segera mendekati lalu mencoba untuk menghibur putra mahkota ini.
"Kupijat ya kepalamu."
Aku beranjak dari duduk lalu berdiri di belakangnya. Kurebahkan kepala Cloud di kursi empuk ini lalu kupijat perlahan. Cloud tampak menikmati.
"Kau memang calon istri yang sempurna, Ara," katanya seraya tersenyum.
"Terima kasih, Pangeran," ucapku, dan tanpa sengaja rambutku ini menutupi wajahnya.
"Harum sekali rambutmu. Bolehkah aku memilikinya?" tanyanya.
"Hah? Maksudnya?"
"Maksudku sekalian dengan yang punya."
__ADS_1
Cloud lalu menarik wajahku untuk lebih dekat ke wajahnya. "Ara, terima kasih." Ia berucap sambil tersenyum kepadaku.
"Aku juga berterima kasih, Cloud."
Segera saja kupeluk dirinya dari belakang. Cloud pun memegang tanganku yang melingkar di dadanya.
Setelah ketegangan ini menghilang dari hatiku, kami segera membahas rencana selanjutnya. Aku berniat membuat sepuluh rancangan busana lagi, yang mana jika terjual uangnya akan dialokasikan untuk pengobatan gratis para penduduk di ibu kota.
Secara kebutuhan sandang dan pangan, penduduk negeri ini memang tidak kekurangan. Namun, jika didera sakit berkepanjangan, uang mereka juga akan habis sehingga tidak dapat membeli obat ataupun berobat di tabib. Aku berinisiatif memberikan sumbangsihku untuk negeri ini. Dan Cloud pun menyetujuinya.
Sore harinya di istana...
Aku masih bersamanya. Tapi kini sedang mandi di dalam kamarnya. Cloud memintaku untuk tidak kembali ke kamarku sendiri karena khawatir ibunya akan datang lalu mencecarku. Akupun menurutinya.
Selepas mandi, aku segera mengenakan gaun berwarna hijau. Dan seketika itu juga aku teringat dengan jepit kupu-kupu yang dulu sering kupakai.
"Ke mana ya jepit itu?"
Entah mengapa, aku ingin memakainya kembali. Ya, walaupun kini sudah ada mahkota kecil di kepalaku.
"Cloud belum selesai, kah?"
Aku ingin keluar dari kamar untuk melihat Cloud yang sedang bekerja. Namun, aku khawatir jika ada yang mengetahuinya. Cloud berpesan untuk tidak keluar dari kamar sebelum dia masuk. Ini seperti sedang bersembunyi saja.
"Mungkin kuteruskan saja rancanganku."
Satu rancangan sudah jadi. Masih ada sembilan rancangan lagi yang harus kubuat. Aku begitu bersemangat untuk menyelesaikannya karena ingin para penduduk mendapatkan pengobatan gratis dari usahaku.
"Baiklah."
Setelah menyisiri rambut, aku berjalan menuju taman kecil yang ada di atap kamar Cloud. Saat tiba, kenangan bersamanya pun teringat jelas di benakku. Aku masih ingat benar wajahnya kala itu, benar-benar menggairahkan sekali.
"Cloud, aku tak menyangka jika kau akan seberani ini."
Aku lalu duduk di kursi rotan dan mulai menorehkan pensil di atas lembaran kertas putih. Kubuat sebaik mungkin rancangan gaun kebayaku, berharap dapat terjual dengan sangat mahal nantinya.
Perlahan, sketsa kasarku sudah jadi. Aku lalu menambahkan hiasan pada bagian dada dan lengan kebayaku ini. Rencana kristal putih akan dipadukan agar kebayaku terlihat begitu glamor.
"Bagaimana jika warna hitam saja?"
Aku lalu menulis keterangan jika kebaya ini mengenakan bahan dasar berwarna hitam. Selama ini warna-warna terang selalu kubuat, jadi tidak ada salahnya jika mencoba warna yang gelap. Tentunya dipadukan dengan kain batik terang untuk bagian roknya.
"Sempurna!"
__ADS_1
Kebaya ke duaku kini sudah jadi. Aku begitu cepat menyelesaikannya. Sepertinya pikiranku lebih cemerlang sekarang.